DUA PULUH TIGA

769 Words
David menatap sejenak rumah dihadapannya, sebelum melangkah masuk ia terpikir sesuatu. Tiba-tiba pikirannya terlintas wajah Aretha yang kesakitan. Oh sungguh David rindu menyiksa Aretha. Ia rindu sangat rindu. David kembali dari Los angeles sejam yang lalu. Pikirannya terus saja tertuju pada Aretha. Entah mengapa ia ingin sekali cepat pulang dan menyiksa Aretha. Sungguh psychopath sekali David. Bahkan urusan Redrick ia selesaikan sangat cepat. Dan itu hanya demi Aretha. Ya, hanya demi Aretha. Hanya demi untuk menyiksanya. "Albet." teriakan David menggemah. "Ah iya tuan." Albet berlari tergopoh-gopoh menuju kearah tuannya. "Dimana jalang ku?" tanya David blak-blakan. Dan menyebut Aretha jalang. "Dia didalam kamar tuan, disana juga ada Lea." David tak menjawab apa yang Albet katakan. Ia langsung menerobos masuk, dan dengan cepat berjalan kearah kamar Aretha. "Keluarlah Lea!" pinta David dengan tatapan membunuh. Aretha tersentak melihat kedatangan David. Apakah secepat inikah David kembali? Sungguh Aretha belum siap untuk disiksa lagi. "Hai jalang, bagaimana kabarmu?" "Oh rupanya kau bisu ya, sehingga untuk menjawab pun tak bisa." David tertawa sinis melihat keterbungkaman Aretha. "Tolong jangan siksa aku." pinta Aretha lirih. Bahkan David belum berniat menyiksanya, Aretha sudah terlebih dahulu berbicara. "Memangnya kenapa?" "Aku takut." Aretha tak berani menatap mata David. Ia terus saja menunduk saat tatapan mata tajam David. Menatap matanya dengan tatapan membunuh. "Rupanya kau takut denganku." kata David dan memangut mangut sendiri. Aretha diam tak menjawab, sedetik kemudian ia dibuat terkejut ketika David mendekatinya, dan tanpa aba-aba langsung menggendong Aretha dipundaknya. "Ahhhh, David turunkan aku!" pekik Aretha nyaring digendang telinga David. David tak menghiraukan pekikan Aretha. Meskipun pekikan itu membuat telinganya berdengung sakit. Ternyata David membawa Aretha keluar kamar, dan masuk kesalah satu ruangan. Ruangan itu sangat gelap, membuat Aretha tak sadar, jika ia memegang ujung jas David dengan erat. "Kau takut gelap?" tanya David. Suaranya berubah melembut. Aretha sempat ternyuh mendengar nada bicara David. Baru kali ini ia mendengar David berkata dengan lembut. "I..ya." ucap Aretha gugup. "Tak perlu takut, ada aku disini." sekali lagi Aretha terenyuh. Kenapa David berubah seperti ini? Dan ini membuat pertahanan Aretha runtuh. Aretha kembali luluh dengan David. Padahal dari semalam ia berusaha melupakan perasaannya terhadap David. Tapi apa sekarang? David merubah nada bicaranya, dan itu membuat Aretha luluh. David menurunkan Aretha diatas meja kosong. Ruangan itu sangatlah gelap. Bahkan Aretha tidak bisa melihat wajah David meskipun samar. "Tunggu disini aku akan kembali." bagaikan anak kecil. Aretha mengangguk menuruti apa kata David. Pintu ruangan itu terdengar tertutup kembali saat David keluar. Sudah cukup lama Aretha menunggu kedatangan David. Namun, yang ditunggunya tak kunjung datang. "Dimana David. Dia meninggalkan ku sendirinya ditempat gelap ini." Aretha mulai gelisah, ketakutan. Wajahnya dipenuhi oleh peluh keringat. Sungguh berada di ruangan gelap sendirian pula. Membuat dirinya ketakutan. Aretha turun dari atas meja. Telapak kakinya merasakan rasa dingin dari lantai. Ia berjalan dengan hati-hati, takut tersandung sesuatu. Sekitar 5 menit Aretha berjalan. Tapi, ia tak menemukan pintu untuk keluar. Perasaan tadi suara pintu tertutup terdengar sangat jelas, dan pasti keberadaan pintu tak jauh dari tempatnya. Jelas-jelas tadi Aretha sudah meraba-raba ketika ia berjalan. Dan tetap saja ia tak menemukan pintu keluar. Bahkan ia mencari secercah cahaya pun tak ada. Ruangan itu benar-benar gelap. Setetes air mata jatuh dari mata Aretha. Ia merasa ketakutan. Tangisnya perlahan menjadi sebuah isakan yang cukup keras. Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Dan Aretha merasakan ada tangan kekar yang melingkari perutnya, dari belakang. "Hey, kenapa kau turun? Kenapa kau sampai disini?" tanya David lembut. Ya, yang membuka pintu dan memeluk Aretha dari belakang adalah David. David sudah cukup mengenali letak ruangan gelap ini. Jadi ia tak akan sulit bagi ia untuk berjalan di ruangan itu. Dan ia melihat seulet wanita yang berdiri memunggunginya. Seulet itu tercipta karena pancaran cahaya dari luar ruangan saat ia belum menutup pintunya. "Aku takut gelap." cicit Aretha. "Kenapa takut. Sudah aku bilang bukan, jika ada aku disini. Maka kau tak perlu takut." kata David. Ia menyusuri leher jenjang Aretha. Aretha berusaha mati-matian menahan desahan karena ulah David. "Ayo." David menuntun Aretha untuk berjalan, tanpa melepaskan pelukannya. Dengan susah payah Aretha berjalan. Hinggah David menyuruhnya duduk disebuah kursi. Tangan kekar David menggenggam tangan mungil Aretha. "Entah kenapa aku berperilaku lembut seperti kepadamu. Niatnya aku kembali hanya ingin untuk menyiksamu. Tapi kenyataannya lain." David mengembuskan nafas kasar. "Ketika kau mengucapkan 'jangan siksa aku' disitu niatku untuk menyiksamu kandas." "Sebenarnya aku dendam kepada papa mu. Dan dendam itu beralih menuju dirimu. Rasanya aku ingin menghabisi seseorang yang membunuh ayahku. Dan orang yang patut aku habisi adalah dirimu." papar David masih dengan setia menggenggam tangan Aretha. Bahkan genggaman tangannya semakin erat. "Sekarang akan aku jelaskan, mengapa selama ini aku menyebut kau anak pembunuh." "Ayahmu..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD