"Ayahmu."
________________
"Kenapa papaku?"
"Dia telah membunuh ayahku. Dia membuatku hidup tanpa ayah dari umurku tujuh tahun Aretha." lirih David.
"Tidak, tidak mungkin papaku membunuh ayahmu. Jika pun iya, pasti ada alasannya."
"Tidak Aretha. Sampai saat ini aku belum menemukan bukti jika papamu tidak bersalah." bantah David. Seketika genggaman tangan David lepas.
"Dan...ini saatnya aku melenyapkan mu, karena nyawa harus dibayar dengan nyawa. Ayahmu sudah tiada, maka kau yang akan menanggung semua ini." David mendekat, wajah Aretha tertepa hembusan nafas David.
"Jangan, aku mohon." pinta Aretha bersungguh-sungguh.
"Sayangnya aku tidak bisa Aretha. Nyawa harus dibalas dengan nyawa." tegas David. Ia berdiri dan langsung menodongkan pistol tepat ke kepala Aretha.
Ternyata David keluar hanya untuk mengambil pistol.
"Aku mohon jangan David." derai tangis Aretha semakin deras.
"Maaf Aretha. Dari pada kau aku siksa terus menerus, lebih baik aku melenyapkan mu." belum sempat David berbicara lagi. Aretha berdiri dari duduknya, dan langsung memeluk erat tubuh David.
"Jangan David, aku mohon jangan lenyapkan aku. Aku..ak..aku hamil." ucap Aretha terbata diakhir kalimat.
David tidak bergerak sama sekali, ia masih diam mematung dengan Aretha yang masih memeluknya. "Aku mencintaimu David."
Habis sudah sisa harga diri Aretha. Ia benar-benar tidak tahu malu, mengungkapkan perasaan dihadapan David. Bahkan pria itu sama sekali tak merespon ucapannya.
"Gugurkan kandungan mu atau kau mati bersama anakmu." kata David menusuk.
"Itu juga anakmu." tambah Aretha dengan lirih.
"Tidak. Aku tidak akan pernah menganggapnya." balas David dan melepaskan pelukan Aretha secara kasar.
"Apa kau ingin membunuh bayi yang belum lahir lagi David? Jika iya, maka ini ke tiga kali nya." David mengernyitkan keningnya.
"Aku tidak melakukan pembunuhan." bantah David, tangannya mencengkram erat pergelangan tangan Aretha.
"Lepaskan David." David melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Menatap nyalang ke arah Aretha.
Sifat lembut David tiba-tiba hilang. Aretha merasa sedang berhadapan dengan iblis, padahal tadi dirinya berhadapan dengan malaikat yang sangat tampan.
"Sudahlah Aretha, aku ucapkan selamat tinggal untuk kau dan.. anak..ku." ucap David. Tangis Aretha reda, kala David menyebut anak yang dikandungnya. Adalah anak David.
Terpaksa! Iya terpaksa. Sbenarnya David tidak rela mengakui anak itu anaknya. Meskipun hanya mengucapkan, David tetap tidak rela. Ia tak ingin memiliki anak dari anaknya pembunuh.
"Coba ucapkan sekali lagi." Aretha memohon.
"Apanya?" jawab David datar.
"Ucapkan kata perpisahan tadi, yang jelas David."
David mendecak kesal, ia meremas rambutnya frustasi, "Aku ucapkan selamat tinggal untuk kau dan anakku."
Aretha mengembangkan senyumnya, walaupun air matanya masih mengalir turun, "Terima kasih."
Setelah mengatakan itu, tangan mungil Aretha sendiri, yang menuntun tangan David mengarah ke kepalanya. "Ayo tembak lah, biarkan aku hidup sendiri dengan anak kita disana. Dan terima kasih sudah menghadirkan dia disini." Aretha menyentuh perutnya yang masih datar.
"Dan aku berterima kasih juga, karena kau sudah membuat aku jatuh cinta kepadamu. Dengan itu, aku tidak akan kesepian disana, aku akan bahagia nantinya. Karena ada anak kita dan juga cinta untukmu, dariku. Walaupun kau tak pernah mencintaiku. Mungkin berfikiran kau akan mencintai ku, itu sangat tidak mungkin."
David bergeming, bahkan saat mengucapkan kata 'anakku' hatinya menghangat. Entah perasaan apa yang ia rasakan, intinya dia merasa bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tidak, apa yang aku rasakan ini. Kenapa rasanya ada yang mengganjal. Kenapa aku tak bisa langsung membunuhnya? Kenapa aku tak rela jika Aretha dan anak dikandungnya mati. Ada apa ini? Kenapa aku menjadi seperti ini. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Batin David. Saat ini otak dan hatinya berkerja dua kali lipat.
Hatinya tak tega membunuh Aretha dan kandungannya, tapi dilain sisi otaknya berkata lain. Egonya terlalu tinggi.
"Ayo lakukan David."
David sadar dari lamunannya, ia segara menurunkan tangannya yang menodongkan pistol, kearah Aretha.
"Apa kau benar mencintaiku?" mata David memincing serius.
"Iya."
"Sejak kapan?"
"Aku tidak tahu, yang pasti cinta itu datang karena terbiasa. Dan aku juga tak menyangka jika aku bisa menaruh hati kepada pria seperti mu." tangan Aretha mengepal kuat, menahan gejolak aneh dari tubuhnya.
"Tapi maaf, hidup mu dan bayi itu harus berakhir hari ini." David bersiap dengan pistolnya. Ia berjalan mundur seraya menodongkan pistol.
Aretha yang melihatnya hanya menganggukkan dan tersenyum, "Semoga ini yang terbaik." gumamnya.
Peluh keringat membasahi wajah Aretha, hembusan nafasnya pun tidak teratur. Melainkan tersengal-sengal, ia pun menghitung hingga terdengar suara pintu terdobrak.
Brakkk
Pintu terbuka dengan sangat keras. David langsung menoleh dan menatap tajam pria didepannya. Pria yang dengan beraninya mendobrak pintu ruangannya.
"Siapa kau?"
"Elton." gumam Aretha yang masih bisa didengar oleh David.