Sudah tujuh hari ini Aretha dirawat di rumah sakit. Ditemani oleh Karen, mereka berdua semakin akrab. Hingga membuat David semakin membenci Aretha.
Meskipun Aretha dirumah sakit, David tak pernah absen untuk menjenguknya. Bukan menjenguk layaknya semua orang, tapi setiap kali David datang. David selalu menunjukkan ke bencinya terhadap Aretha, begitupun kepada bayi yang Aretha kandung.
Setiap kali David datang, Aretha selalu mendapatkan tamparan dan k*******n fisik lainnya. Tentu saja Karen tidak tahu, dan Aretha tak berniat mengadu.
"Aretha." panggil David yang baru saja datang.
Wajah Aretha terangkat, menatap manik mata David. "Ada apa?"
"Hari ini kau sudah boleh pulang. Kau itu merepotkan." ujar David dengan menjambak rambut Aretha.
"Sakit David, lepaskan." pinta Aretha lembut.
"Sakit?"
Jambakan David semakin kencang, membuat Aretha mengeluarkan air mata menahan sakit.
"Bersiap lah cepat." setelah mengatakan itu, David pergi.
"Hiks..ya Tuhan aku sudah tak sanggup. Daddy tolong aku." isakan Aretha terdengar memilukan.
Tangan Aretha bergerak menyentuh perutnya, "Mama akan selalu kuat demi kamu sayang. Dan juga rahasia yang ingin mama ketahui."
Ya, Aretha sudah mulai menerima bayi yang dikandungnya. Semua itu berkat Karen, bahkan Aretha sekarang sangat mencintai bayi yang dikandungnya.
Aretha kembali merasakan gejolak aneh diperutnya. Aretha segera berlari menuju kamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya.
Huek
Huek
Huek
Cairan bening terus dimuntahkan Aretha. Wajahnya sudah basah dengan keringat, rambutnya juga lepek karena keringat.
"Ini menyiksaku." gumam Aretha. Mencoba berdiri tegap dan keluar dari kamar mandi.
Aretha langsung menuju sofa, mengemasi barang-barangnya. Hanya sedikit barang yang dikemasnya.
Setelah itu keluar dari ruangan, dan berjalan pelan-pelan hingga bertemu dengan David.
"Cepat masuk!" perintah David.
Aretha berjalan sangat pelan, hal itu membuat David geram. "Cepat bodoh."
Tanpa rasa kasihan David menarik pergelangan tangan Aretha. Menyeret Aretha dan memaksanya masuk ke mobil dengan kasar.
"Sakit." rintih Aretha memegangi bahunya.
"Sakit? Itu tidak seberapa Aretha. Ini baru sakit." seringai tercetak jelas di bibir David.
Tangan David langsung menarik pergelangan tangan Aretha. Tanpa memperdulikan siapa Aretha, David memelintir tangan Aretha. Hingga Aretha berteriak kesakitan.
"Sakit lepaskan." cicit Aretha.
David melepaskan tangan Aretha. Dan berjalan memasuki mobil, David mengendarai mobil dengan cepat dan ugal-ugalan. Dan setiap ada tikungan, David berbelok dengan kecepatan tinggi, membuat membuat Aretha ikut-ikutan melimbung ke kanan dan ke kiri.
"David pelan sedikit." pinta Aretha.
"Jangan banyak bicara." desisnya menatap Aretha sengit.
"Perutku sakit."
"Masa bodoh dengan perut mu Aretha." jawab David.
"Aku mohon David ini sakit sekali." suara Aretha semakin lirih.
"Diam saja kau, jangan bicara lagi. Palingan nanti kau hanya akan keguguran." celetuk David, dan mendapatkan tatapan tajam dan kebencian dari Aretha.
"Jaga bicaramu David." geram Aretha, ia tak bicara lagi. Ia hanya diam saat perutnya semakin sakit. Hingga sampai di mansion.
David keluar membiarkan Aretha keluar sendiri.
"Aretha." panggil Karen, saat Aretha sudah masuk mansion. Sedangkan David langsung pergi ke kantor, setelah menemui Karen.
"Kau kenapa, apa kau masih belum sehat?" Karen sangat khawatir akan kondisi Aretha.
"Aku baik-baik saja ibu. Aku ke atas dulu." pamit Aretha.
Aretha menuju kamarnya dengan perasaan bercampur jadi satu. Antara benci, dendam dan entahlah perasaan yang terakhir tidak bisa Aretha jelaskan.
*****
Greno berjalan santai menuju ruangan Liam. Hari ini ia berniat mengajak sang Daddy untuk bermain golf.
"Siang Dad."
"Siang Greno, ada apa tumben sekali kau kesini?" tanya Liam.
"Aku bosan dad, banyak berkas yang menumpuk di meja kerja ku. Jadi ku putuskan kemari saja, berniat mengajak Dad bermain golf." ujar Greno dengan santai.
"Ajaklah yang lain Greno. Pekerjaan Daddy mu ini sangat banyak." tolak Liam, kembali berkutat dengan laptopnya.
"Aku harus mengajak siapa lagi. Semuanya menolak ajakan ku dengan alasan sibuk." ucap Greno. Wajahnya ditekuk membuat Liam yang melihatnya terkekeh.
"Ya itu nasib orang tidak punya pasangan." celetuk Liam. Mata Greno membelak.
"Kau tega Dad mengatai anakmu sendiri. Padahal bukan hanya aku yang tidak punya pasangan. Tapi putri mu Aretha dan Grena juga tidak punya pasangan." kesal Greno, ia berjalan dan duduk di sofa single. Tangannya menuangkan minuman alkohol di gelas berkaki.
"Setidaknya mereka tidak kesepian seperti dirimu."
"Sudah Dad, jangan bicara lagi. Lebih baik aku pergi saja." Greno keluar dari ruangan Liam dengan perasaan dongkol. Sedangkan Liam tertawa puas karena sudah membuat Greno kesal.
"Dasar kau Greno." gumam Liam.
Liam pun melanjutkan pekerjaannya, tapi dering ponsel membuat kegiatannya terhenti.
"Iya ada apa?"
"........"
"Aku akan kesana." raut wajah Liam berubah seketika. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras dan itu terlihat menyeramkan.
Liam berdiri dari duduknya dan berjalan cepat keluar ruangan.