Aretha menggeliat dalam tidurnya, rasanya kepalanya pusing sekali. Perlahan-lahan Aretha terduduk, memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Sungguh menyakitkan, sangat sakit kepalaku." rintih Aretha.
"Ahh ini sakit sekali." lirih Aretha. Tangannya bergerak mencari minuman, tapi minuman yang tersedia habis.
Dengan hati-hati dan tubuh lemas. Aretha turun dari ranjang berniat mengambil air minum.
Aretha kebingungan saat pintu kamar tak bisa terbuka. Aretha yakin pintu ini dikunci dari luar.
Tangannya terus menggedor-gedor pintu. Berharap ada yang membukanya.
"Buka tolong." hampir saja Aretha terjatuh, karena sudah sangat lemas.
Tapi, dorongan pintu dari luar membuat Aretha lega. Karena ada yang membukakan pintu.
Tubuhnya yang lemas dan pucat, membuatnya langsung ambruk ketika pintu sepenuhnya terbuka.
David terkejut, tiba-tiba tubuh Aretha sudah ambruk dihadapannya.
"Hey bangun." ucap David menepuk-nepuk pipi Aretha.
Ucapan David tak mendapat respon. Akhirnya David membopong tubuh Aretha ala bridal style.
David berjalan menuruni anak tangga, dengan Aretha di gendongannya.
"Robert cepat siapkan mobil!" teriak David. Membuat Karen yang kebetulan ada didapur, keluar menghampiri putranya yang berteriak.
"Kenapa kau ber.."
Ucapan Karen terhenti.
"Ya Tuhan apa yang terjadi dengannya?" tanya Karen khawatir.
"Tidak terjadi apa-apa, ibu tenang saja." kata David tanpa menatap ibunya.
"Tuan mobil sudah siap." ucap Robert.
Tanpa banyak bicara. David segera berjalan menuju mobil. Karen mengikuti langkah David.
"Ibu ikut David." ucap Karen. David terdiam sejenak lalu mengangguk menyetujui.
David duduk didepan dengan Robert. Sedangkan Karen dan Aretha dibelakang. Tangan Aretha sudah menggigil, wajahnya semakin pucat.
Tak butuh waktu lama mobil sudah tiba didepan rumah sakit besar. David turun, dan langsung mengangkat tubuh Aretha.
Salah satu perawat datang dengan membawa bankar, David menidurkan Aretha di bankar tersebut.
Dan beberapa suster datang, mendorong bankar itu menuju ruangan.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepada Aretha?" Karen memulai pembicaraan.
"Aku juga tidak tahu." jawab David acuh.
"David sebaiknya kau lepaskan dia. Jangan sampai kau menyesal diakhir." Karen memberi peringatan kepada David. Tapi sepertinya David tak memperdulikannya, terbukti tatapannya menatap malas ke arah lain.
Karen sudah tak bicara lagi, percuma memberi pengertian kepada putranya itu. Yang ada Karen akan kesal sendiri. Karen duduk di kursi panjang, seraya menunggu dokter yang memeriksa Aretha keluar.
Selang beberapa menit, dokter wanita itu keluar sambil memijat keningnya.
Karen langsung berdiri begitu juga dengan David.
"Bagaimana kondisinya?" tanya David pada dokter, yang diketahui namanya. Dr. Valinc.
"Kalian siapanya?" tanya dokter tersebut.
"Dia menantuku." potong Karen cepat. Kata David membelak tak percaya apa yang diucapkan ibunya.
"Kalau begitu mari kalian ikut ke ruangan saya." dokter itu berjalan terlebih dahulu. Diikuti David dan Karen.
"Apa yang ibu katakan tadi. Bisa-bisanya ibu berkata jika Aretha menantu mu." gerutu David. Karen menoleh dan menatapnya tajam.
"Jangan banyak bicara David." geram Karen. David terdiam, memang tak ada menangnya jika ia berbicara dengan ibunya.
Karen masuk terlebih dahulu diikuti David. "Silahkan duduk." ucap dokter itu mempersilahkan David dan Karen duduk.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi dengan dia?" David kembali mengulangi pertanyaannya.
Dokter itu menghela nafas panjang sebelum menjawab, "Istri Anda hampir saja keguguran. Ia mengalami stres yang cukup berat, bisa dibilang istri Anda mengalami depresi."
"Jadi?" David sama sekali tak berniat mendengar kondisi Aretha.
"Buatlah dia merasa rileks, buat dia tidak mempunyai banyak beban." saran dokter itu. David hanya mengangguk.
"Dokter apa kondisi janinnya baik-baik saja, saat ini?" tanya Karen.
"Syukurlah janinnya tak apa-apa."
"Lalu kondisi Aretha bagaimana?" tanya Karen lagi.
Dokter itu tersenyum, "Dia baik-baik saja. Tapi, tubuhnya saat ini sangat lemas. Dan kemungkinan selama hamil, ia akan banyak mengidam."
"Dan untuk Anda tuan, turuti semua keinginan istri Anda. Jangan buat dia memikirkan hal-hal yang bisa membuatnya setres kembali. Dan istri Anda perlu istirahat yang cukup. Karena jika tidak, tubuhnya akan lemas dan kepalanya akan terasa sangat pusing kembali. Dikarenakan kondisi janinnya sangat lemah. " tambah dokter itu.
"Baiklah kami keluar dulu." setelah mengatakan itu David keluar dengan Karen dibelakangnya.
"Kau dengar kata dokter itu bukan, lepaskan dia lupakan dendammu. Lagi pula kau itu salah paham, ayahmu yang salah bukan papa Aretha." ucap Karen marah.
"Melepaskan dia tak semuda mendapatkan dia ibu. Aku akan tetap melanjutkan balas dendam ku. Aku akan membuat Aretha menderita." desis David berjalan meninggalkan ibunya sendiri.
Karen merasa prihatin dengan Aretha. Ia bersumpah dan berjanji akan membuat Aretha terbebas dari David.
"Bersabarlah Aretha. Ibu pasti akan membantumu terbebas dari David, putraku." lirih Karen.