Sam dan Greno sudah tiba di Britania Raya. Sam juga sudah diberi alamat tempat tinggal David, dengan segara Sam dan Greno memasuki mobil yang sudah disiapkan.
Mobil berjalan membelah keramaian kota Britania Raya. Mobik tersebut tidak melaju dengan kencang, karena salju turun cukup banyak.
Jika mengebut, kecelakaan bisa terjadi karena jalanan yang licin.
"Ini alamatnya." Sam menyerahkan ponselnya, dan bodyguardnya yang menyupir mobil pun mengangguk mengerti.
Tak lama kemudian mobil mewah yang ditumpangi Sam dan Greno berhenti, didepan mansion yang sangat megah.
Sam dan Greno segera turun, dilihatnya keadaan mansion yang sepi. Sepertinya tidak ada penjaga.
"Tidak ada penjaga kak Sam." ucap Greno setelah memeriksa kanan kiri mansion.
"Mungkin mereka di beri tugas lain oleh tuannya." pikir Sam positif.
"Ayo kita masuk kak."
Sam dan Greno berjalan beriringan, dan masuk kedalam mansion. Pintu mansion itu tidak dikunci, membuat Greno berfikiran negatif.
"Kak Sam, pintu tidak dikunci. Dan penjaga pun tak ada, tidak mungkin mereka diberi tugas lain oleh David. Jika pun iya, pasti ada satu atau dua penjaga yang berada di mansion, tapi ini tidak." ucap Greno panjang lebar.
Sam terdiam mencerna perkataan Greno.
"Apa mereka sudah tahu akan kedatangan kita? Apa David sudah tahu jika ibunya memberitahu, kita semuanya?" Sam masih berpikir, gerakan otaknya dua kali lebih cepat.
"Kita masuk saja, dan pasti akan menemukan jawabannya." usul Greno.
Mereka berdua memasuki mansion yang sangat luas itu. Keduanya berpencar, memeriksa setiap ruangan, mencari keberadaan Aretha.
Sekitar setengah jam, mereka berdua menjelajahi seluruh mansion. Tapi mereka tidak menemukan apa-apa, keadaan mansion sepi. Tidak ada satu orang pun, dan Sam berfikir jika David sudah mengetahui semuanya.
"s**l dia pasti sudah kabur kak Sam." geram Greno.
"Dasar pria b******n, pria brengsek." umpat Sam dan melempar vas bunga disampingnya.
"Mungkin mereka masih disekitar sini. Aku akan memerintahkan seluruh anak buah untuk mencari keberadaan David." Sam segera menghubungi salah satu anak buahnya.
"Ayo Greno kita pergi dari sini, tidak ada banyak waktu lagi. Kita harus menemukan Aretha." ucap Sam yang diangguki Greno.
Mereka melangkahkan kaki meninggalkan mansion megah itu.
*****
Aretha duduk dengan diam didalam pesawat yang begitu mewah. Aretha yakin jika pesawat itu adalah pesawat milik David.
Sedangkan disebelahnya ada David yang berkutat dengan laptopnya, "David."
Sungguh kata yang keluar dari mulut Aretha bernada rendah. Dan suaranya hampir tak terdengar.
"Apa?" jawab David tanpa menoleh menatap Aretha.
"Aku lapar." ucap Aretha memberanikan diri.
David menoleh, menatap mata Aretha. "Lalu?"
"Beri aku makan, aku mohon David." pinta Aretha.
"Kau akan makan jika kita sudah sampai ditempat tujuan." ucap David dingin dan kembali fokus dengan laptopnya.
Aretha yang melihat ke acuhan David merasa kesal. Bisa-bisanya David tak memberinya makan, sedangkan David sendiri tahu jika didalam perut Aretha ada janin yang tumbuh.
"Kau benar-benar pria b******k David." batin Aretha menahan lapar diperutnya.
Aretha menyamping dan menutup matanya, ia berharap rasa laparnya hilang. Tapi lama-kelamaan kantuk menyerangnya.
David yang tak mendengar suara apapun langsung menoleh, ia melihat Aretha yang tidur menyamping, dengan tangan yang memegangi perutnya.
Seringaian kecil tercipta dibibir David, "Nikmati rasa lapar mu Aretha. Aku sangat bahagia jika kau sengsara."
"Asal kau tahu, aku sama sekali tidak peduli dengan mu. Dan juga anak mu itu, bagiku kau hanyalah manusia yang pantas aku siksa." ucap David seraya menatap Aretha yang tidur menyamping.
*****
Amarah Liam sudah memuncak, ketika Sam menelfon nya. Dan mengatakan David membawa Aretha pergi.
Ingin rasanya Liam menghajar David. Sungguh saat ini Liam khawatir dengan kondisi Aretha.
"Aku akan menyusul Sam dan Greno." kata David.
"Aku ikut paman." ucap Lucas.
"Akan aku pastikan David menerima hukuman yang pantas. Aku tidak terima Aretha disakiti." geram Lucas, ia beranjak dari duduknya. Keluar mansion diikuti Liam dibelakangnya.
"Jadi alasan anakmu menyakiti Aretha karena Adeks membunuh ayahnya?" tanya Jessy.
"Iya, David salah paham. Sudah berkali-kali aku memberitahu dan menasihatinya, kalau yang salah di masa lalu bukanlah Adeks, melainkan ayahnya. Namun, sayang David keras kepala ia tidak mempercayai perkataan ku." jelas Karen putus asa.
"Aku harap putramu tidak berbuat macam-macam kepada cucuku. Cukup dia merasakan penderitaan di masa kecil." lagi dan lagi, Jessy kembali menangis. Ia tak rela jika Aretha disakiti, ia sangat menyayangi Aretha.
"Putraku sangat kejam, aku yakin dia menyakiti Aretha. Dan aku sangat kecewa dengan dia, aku tidak akan menganggapnya anakku, jika sampai terjadi apa-apa dengan Aretha." desis Karen.
"Terima kasih sebelumnya Karen. Karena kau memberitahu semuanya." ucap Jessy dengan tatapan mata sayu.
"Iya sama-sama, lagi pula apa yang dilakukan David itu salah."
"Kau tahu nyonya, pikiranku lebih tersita untuk bayi yang sedang dikandung Aretha." tambah Karen.
"Aku tak menyangka putramu sebejat itu Karen." timpal Jessy.
"Dia memang sudah keterlaluan, aku harap dia akan menyesalinya." ucap Karen, ia sangat berharap agar suatu saat David menyesali perbuatannya sendiri.