TIGA BELAS

778 Words
Didalam kamar yang kecil, Aretha duduk dengan pandangan kosong. Hampir tiga jam, dari turun pesawat sampai ketempat ini, perut Aretha belum tersentuh oleh makanan. David membiarkannya kelaparan, bahkan saat ini David meninggalkan Aretha sendiri. David membawa Aretha ke tempat dimana tidak ada orang yang bisa menemukannya. Tempat ini tidak sebegitu jauh dari Britania Raya. Tempat yang sekarang dipijak Aretha berada di EDINBURGH OF SEVEN SEAS, TRISTAN DA CUNHA. Bahkan mendengar nama negara Tristan da Cunha saja, mungkin belum pernah. Kota ini adalah pemukiman utama dari negara tersebut. Penduduknya kurang lebih hanya 300 orang. Jarak dengan pusat peradaban terdekat, yaitu pulau Saint Helena, adalah 2.173 kilometer. EDINBURGH OF SEVEN SEAS, TRISTAN DA CUNHA. Terletak di wilayah sebrang laut Britania Raya. David memanfaatkan tempat ini untuk menyembunyikan keberadaan Aretha. David masih ingin bermain-main dengan Aretha, dan juga masih ingin menyiksa Aretha. "Berapa lama lagi David datang." lirih Aretha. Suara Aretha bahkan semakin mengecil. Terdengar suara berising dari luar, suara itu semakin mendekat. Aretha tahu itu suara apa, itu adalah suara heli. Ya, helikopter David. David bertransportasi menggunakan helikopter. Aretha masih diam ditempatnya, tak ada niatan untuk beranjak. Pintu terbuka dengan keras, masuklah David dengan penampilan yang acak-acakan. "Aretha makanlah!" ucap dingin David. Menyerahkan bingkisan berwarna putih. Dengan kondisi tubuh yang lemah, Aretha berdiri berusaha berjalan kearah David. Tapi belum sempat melangkahkan kaki, tubuh Aretha limbung dan terjatuh. David yang melihat Aretha jatuh pingsan, langsung membopong Aretha. Ia menidurkan Aretha diatas kasur, dan merogoh saku celananya. David menghubungi dokter pribadi, yang ia bawa khusus untuk Aretha. "Merepotkan saja." "Ingin sekali rasanya aku menghajar mu." sinis David. Tak lama kemudian dokter datang dengan anak buah David dibelakangnya. "Permisi tuan." David menoleh dan melihat dokter sudah tiba. Ia memundurkan tubuhnya, memberi akses dokter wanita itu untuk memeriksa Aretha. Dokter perempuan yang di ketahui namanya Lea itu, memeriksa Aretha dengan teliti. Dan menoleh menatap David, " Tubuhnya lemas, perutnya tidak tersentuh makanan sama sekali. Jangan biarkan nyonya telat makan seperti ini lagi, jika tidak maka janinnya akan keguguran. Karena tubuh sang ibu sangat lemah." David menatap malas kearah dokter, "Baiklah terima kasih, sekarang kau boleh pergi." Dokter wanita itu melangkah pergi, dengan disertai hembusan nafas panjang. Sungguh sebenarnya ia sangat bosan dengan sifat David, tuannya itu. Sudah lama Lea menjadi dokter pribadi keluarga Aderxio. Dan Lea saat ini diminta untuk merawat Aretha. Jujur dalam hati, ketika Lea mengetahui semuanya dari mulut David. Saat itu juga Lea merasa kasihan dengan Aretha. ******                   Hari sudah gelap, bahkan diluar juga sudah sepi. Karena ini wilayah terpencil. Aretha juga sudah sadar, dan saat sadar David langsung memberinya makan. Dengan lahap Aretha memakan makanan yang diberikan David. Sedangkan David yang melihatnya, merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasa kasihan telah membuat Aretha kelaparan, tapi David tetap David. Ia menepis rasa kasihan itu, dan semakin menumbuhkan kebenciannya. Sekarang ini Aretha berada di ruang tamu. Keadaan tempat tinggal ini begitu sepi, sehingga membuat Aretha dilanda kesepian. "Aretha." panggil David ketus. "Apa apa?" "Layani aku sekarang!" alis Aretha terangkat, ia bingung dengan ucapan David. "Maksud mu?" "Layani aku seperti pertama kali kita melakukan sex." tatapan David menyiratkan gairah. Perlahan-lahan jarak antara David dan  Aretha terkikis. "Tidak. Aku mohon." tolak Aretha, ketakutan menyelimuti diri Aretha. "Tapi aku tak menerima penolakanmu." tak banyak bicara David langsung membopong Aretha. David membanting tubuh Aretha dengan kasar di atas kasur. Aretha merasakan sakit di punggungnya, belum sempat ia berbicara. David terlebih dahulu menyerang bibirnya. Mencium bibir Aretha dengan nafsu yang memuncak. Tangannya tak tinggal diam, tangan kanannya digunakan untuk menahan tangan Aretha. Sedangkan tangan kirinya digunakan untuk membuka pakaian Aretha. David tak perduli bahwa sekarang ia tengah menindih tubuh Aretha tanpa sanggahan. Membuat perut Aretha ikut tertindih. "Lepas." teriak Aretha ketika ciumannya terlepas. "Ini sakit David. Perutku sakit, saat kau tindih." air mata sudah membasahi pipi Aretha. David hanya diam, dengan tubuh masih menindih Aretha. "Jangan berteriak kepadaku." ucap David, mengabaikan keluhan Aretha. "Dan kau harus menerima hukuman, karena kau berniat berteriak dihadapan ku." David beranjak dari tubuh Aretha. Dengan rakusnya Aretha menghirup udara ketika tindihan David tak terasa lagi. Mata David terus terfokus pada tubuh polos Aretha. Saat ini Aretha tidak mengenakan sehelai benang pun. "s**t aku b*******h hanya dengan menatap tubuh telanjangnya." gumam David. Plakkk Plakkk Plakkk Plakkk Tamparan demi tamparan melayang dipipi mulus Aretha. Membuat pipi itu menjadi memerah, dan sang empunya menjerit karena sakit. "Itu hukuman mu. Dan harus kau ingat jangan pernah melawan apa yang akan aku lakukan. Jika tidak aku akan menyiksamu." peringat David sebelum menindih tubuh Aretha lagi. Sekarang, tubuh Aretha terkunci oleh tubuh David. Matanya terus mengeluarkan air mata melihat kepasrahan dirinya sendiri. Pasrah? Iya itu memang harus dilakukan. Agar tidak mendapatkan siksaan David. Dan anaknya tak akan dalam bahaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD