Gerakan tangan besar membuat tidur Aretha terganggu. Perlahan mata indah yang berubah membengkak itu membuka. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah pria yang sangat dibencinya.
"Pagi jalang." sapaan yang terlontar dari mulut David, sangat menyakiti hati Aretha.
"Seharian ini aku akan disini. Jadi kau harus melayini aku seperti apa yang biasanya jalang lakukan." ucap David dan pergi dari hadapan Aretha.
Setelah kepergian David, tangis Aretha tidak bisa terbendung lagi. Mata bengkaknya mengeluarkan air mata. Tangannya bergerak mengelus perutnya.
"Kau kuat sayang, jangan pernah pergi dari ibu mu yang lemah ini." ucap Aretha, berbicara dengan bayinya.
"Ibu akan selalu menyayangi dan mencintai kamu sayang."
"Maaf jika kau didalam sana tidak mendapat kasih sayang ayahmu."
"Maaf, jika kehadiranmu tak diinginkan ayahmu sendiri."
Brakk
Gebrakan pintu membuat Aretha terlonjak kaget. Ditatapnya David dengan tatapan sayu, "Ada..ap..a?"
"Kenapa kau tidak mandi heh?" bentak David. David maju dan tangannya terulur mencekik leher Aretha.
"Sa...ki..t." ucap Aretha dengan mata memanas, mengeluarkan air mata. Ketika cekikan semakin kuat.
"Entah kenapa aku semakin membencimu anak pembunuh." bentak David.
Tunggu, pembunuh? Maksudnya apa? Apa yang di maksud David?
"Ap..a mak..sud...per..k..ata..an..mu?" tanya Aretha terbata.
"Kau itu anak pembunuh. Ya, aku menyiksamu karena aku ingin papamu melihat, bagaimana tersiksanya dirimu." cekikikan David terlepas.
Aretha menghirup banyak udara, seakan besok tak ada udara lagi.
Deru nafasnya masih tidak teratur.
"Sekarang aku akan membuatmu, membayar apa yang dilakukan papa mu terhadap ayahku." desis David.
Tangannya mengepal dan langsung menyeret tangan Aretha.
"Sekarang akan ku buat kau kesakitan."
David mendorong Aretha hingga kepalanya terbentur lantai. Tak hanya itu David kembali menarik rambut Aretha. Tarikan itu semakin kuat disertai dengan jeritan yang memilukan.
"Ahhhh... arghhhhh sakit." jerit Aretha.
David mengambil cambuk dan mencambuk tubuh Aretha. Itu sangat mengerikan.
"Sakit." lirihnya.
"Kau kebanyakan menjerit Aretha." teriak David tepat didepan wajah Aretha.
Setelah mengatakan itu, David pergi dari hadapannya. Dan tak lama kembali dengan rantai besi ditangannya.
Dengan sekali hentakan David membuat tubuh Aretha terkunci, tidak bergerak.
Dan dengan segera mengikat tangan dan kaki Aretha dengan rantai besi, yang dipegangnya.
"Sempurna." ucap David melihat Aretha yang tak berdaya.
Dengan keadaan yang terikat, ditambah tubuhnya yang t*******g membuat David menelan ludah.
"Kau sangat menggoda jalang." senyum terbit dibibir sexy David.
"Dan sekarang saatnya aku membuat karya ditubuh mu jalang." ucap David, lalu mengambil cambuk. Dan mencambuk tubuh polos Aretha dengan bruntal.
Bukan satu dua kali cambukan. Melainkan berkali-kali. Jerit, tangis tak membuat David menghentikan aksinya.
Malahan jerit dan tangis Aretha membuat David semakin gencar.
"Sa..kit."
Duakk
David menendang Aretha, hingga punggung Aretha terasa sakit.
Dan tendangan lainnya mengenai tepat di perut Aretha.
"Ahhhh...perih..sa..kit. anak ku." terlihat darah yang mengalir dari paha Aretha.
David hanya tersenyum tanpa ada niatan membantu Aretha.
"Ahhh."
"Sakit."
"Hiks..sakit."
Cambukan demi cambukan mengenai tubuh Aretha. Dan sekarang tak hanya cambukan, melainkan jambakan dan tamparan.
"Aku sangat puas."
David pergi meninggalkan Aretha dengan keadaan yang menyedihkan.
"Sakit...papa tolong aku."
Kepala Aretha memberat, seperti terkena pukulan. Dan kegelapan perlahan menghampirinya.
******
Mata indah bengkak itu, perlahan membuka. "Apa yang kau rasakan?"
Tak ada jawaban dari Aretha. Tangannya sibuk memegangi kepalanya yang memberat.
"Sakit."
Tangannya terulur mengelus perutnya, "Anakku?"
Lea yang mendengar pertanyaan itu menjadi tegang, "Maaf kau mengalami keguguran."
Lea mengalihkan pandangannya, tak sanggup menatap manik mata Aretha. Ia juga merasa kasihan kepada Aretha. Ingin sekali ia membantu Aretha terbebas dari David. Tapi ia juga tidak sanggup, karena keluarganya yang akan menjadi korban. Bila ia mencampuri urusan David.
"Dia pergi sebelum terlahir." ucap parau Aretha.
"Aku membenci David, dia membunuh anak ku."
"Aku membencinya."
"Anakku mati karenanya."
"Dia pembunuh."
"Aku mencintai anakku."
Racauannya belum berhenti, Lea yang mendengar menjadi tidak kuat melihat penderitaan Aretha. Tapi ia tak bisa apa-apa.
"Tenanglah nyonya, pasti nanti Tuhan akan memberimu bayi lagi." Lea mencoba memberi pengertian.
"Iya, tapi anak dari pria baik-baik. Bukan pria b******n seperti David." tukas Aretha, tatapannya penuh kebencian saat menyebut nama David.
Semoga tuan David mendapatkan balasan, atas perilakunya kepadamu nyonya. Batin Lea.
Banyak sekali yang mengharapkan seorang David akan menyesal. Apa David bisa menyesal?