LIMA BELAS

727 Words
Semua keluarga Aretha tidak menyerah mencari keberadaan Aretha. Mereka terus melacak keberadaan David, meskipun hasilnya tak pernah memuaskan. Mereka semua berfikiran jika David membawa Aretha pergi jauh. "Paman tidak ada tanda-tanda keberadaan David." ucap Lucas yang baru saja masuk, ke ruangan Liam. "Bisa tidak bisa kita harus mencari keberadaan b******n itu." "Aku tidak ingin putri ku kenapa-kenapa." "Aku juga begitu paman, aku akan menghabisi David jika terjadi sesuatu kepada Aretha." "Nanti malam aku akan kembali ke Turki." kata Liam dengan pandangan tak bisa diartikan. "Apa karena bibi Catline?" "Tidak, Sherly kemarin malam pulang." jawab Liam atas pertanyaan Lucas. "Jadi Sherly sudah pulang dari Bangkok?" "Iya." "Apa dia tahu apa yang terjadi dengan Aretha?" Lucas berjalan dan duduk berhadapan dengan Liam. "Sudah, Catline menceritakan semuanya." Terdengar helaan nafas kasar Liam. Saat ini pikirannya sedang kacau, putri kecilnya, Sherly sudah mengetahui semua yang terjadi dengan Aretha. Apalagi setelah Sherly mengatakan jika Sherly ingin ikut mencari Aretha, dan memutuskan akan tinggal di Britania Raya. "Sherly ingin ikut mencari Aretha. Dan memutuskan akan tinggal di Britania Raya." ucap Liam tiba-tiba. Lucas mendongak dan menatap Liam, "Dia sangat menyayangi Aretha. Percuma jika paman melarangnya, karena Sherly tidak akan mendengarkan paman. Dia keras kepala." "Kau benar Lucas. Nanti malam aku kembali ke Turki. Dan besok Sherly akan ke sini." Liam berdiri dari duduknya. Kakinya melangkah kearah dinding kaca, yang memperlihatkan padatnya kota Britania Raya. Liam menatap ke bawah dengan pandangan sulit diartikan, "Sampai kapan kita harus menunggu?" "Menunggu?" Lucas mengulang pertanyaan Liam. Lucas ikut berdiri dan menghampiri Liam. "Menunggu kapan ditemukannya titik terang keberadaan Aretha." "Sudahlah paman, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Percayalah kita akan menemukan Aretha."  kata Lucas memberi Liam pengertian. **** "Tidak David, apa yang kau lakukan itu sangat keterlaluan. Katakan dimana kau saat ini David." bentak Karen, terdengar tawa yang menggema dari sebrang telefon. "Tidak akan ibu. Dan apa yang ibu lakukan juga sudah keterlaluan. Kenapa ibu memberitahu semuanya? Dan camkan ibu, aku tidak akan memberitahu dimana aku sekarang." tegas David dengan penuh penekanan "Kau kejam David, Aretha sama sekali tidak bersalah. Dan perlu kau ingat, Aretha maupun Adeks tidak bersalah." Karen berteriak meluapkan emosinya. Sungguh tidak kuat Karen menghadapi sifat keras kepala anaknya. "Tapi aku tidak akan percaya, sebelum aku menemukan bukti. Bukti yang mengatakan jika Adeks tidak bersalah." "Jika aku belum menemukan bukti ini. Ya...aku akan tetap menyiksa Aretha. Karena hanya Aretha darah daging Adeks." "David... dengarkan ib.." sambungan telefon terputus. Keren berdecak pelan dan segara menghubungi Liam, untuk melacak nomor telepon David. ****                David tidak bodoh, ia langsung menghancurkan SIM yang ia gunakan untuk menelfon Karen. Ia tahu pasti ibunya itu akan melacak nomor teleponnya. "Sekarang apa yang ingin kau lacak ibu." David tersenyum miring. "Dan sekarang saatnya bermain dengan mu jalang." David keluar dari ruangan kecil itu, dan memasuki kamar Aretha. Dilihatnya Aretha yang terbaring dengan selimut membungkus tubuh mungilnya. "Kau terlihat sangat kacau jalang. Apa sebegitu sayangnya kau kepada anak haram itu? Sehingga kau merasa sedih seperti itu?" David berbicara sendiri. Perlahan tapi pasti, David berjalan mendekati Aretha. Tangan kasarnya merapikan helaian rambut Aretha. "Tenang saja, aku akan menggantinya. Aku akan membuatmu hamil dan membuatmu lebih menyayangi janin itu. Dan barulah aku melenyapkannya." David tersenyum bangga membayangkan ide nya itu. "Ehhh." erangan halus keluar dari mulut Aretha. "Kau mengerang? Dasar jalang." bisik David tepat di telinga Aretha. Lidahnya menjilati daun telinga Aretha. "Ahhh." "Eghhhh." Mata Aretha belum terbuka. Apa mungkin Aretha menikmati permainan David? Seolah apa yang ia rasakan tidak nyata, melainkan hanya sebuah permainan. Erangan demi erangan, desahan demi desahan tersendiri menggoda di telinga Aretha. David beranjak dari kamar Aretha. Ia keluar cukup lama.  Dan kembali lagi dengan benda yang familiar digenggaman nya. Benda itu di arahkan tepat di pipi Aretha. Tanpa belas kasih, David menggores pipi Aretha dengan benda tajam itu. "Arghhhhh." jerit Aretha menahan sakit. Mata Aretha langsung terbuka, dilihatnya David yang hanya tersenyum. Perlahan tangan mungil Aretha menyentuh pipinya. Darah segar mengalir indah dari pipi Aretha. Yeah, David menggores pipi Aretha dengan belati tajam. "Bagaimana jalang, kau suka?" "Aku membencimu David. Kenapa kau selalu menyiksa ku?" teriak Aretha dengan tatapan menyalang. "Karena aku menyukai itu. Anak pembunuh tidak pantas diberi kebebasan. Yang pantas adalah seperti ini." kata David menatap jijik ke Aretha. "Aku bukan anak pembunuh." bela Aretha kepada dirinya sendiri. "Masih tidak mau mengakui heh?" "Arghhhhh." teriak Aretha untuk sekian kalinya. "Pipi kanan dan kiri mu sudah tergores, mau lagi?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD