TUJUH BELAS

679 Words
2 bulan kemudian. Sudah dua bulan Aretha tinggal bersama David. Dan dua bulan juga Aretha seperti hidup di neraka, mungkin jika ada kata lain yang melebihi neraka. Aretha akan mengucapkannya. Selama dua bulan juga, Aretha tak pernah absen dari siksaan David. David setiap hari menyiksanya, dan juga menyetubuhinya. Dan harus diketahui, Aretha hamil lagi. Hamil anak David. Tapi, akhirnya sama, anaknya dibunuh oleh David. Suatu siksaan tersendiri bagi Aretha, ketika melihat anaknya meninggal dibunuh oleh David. David sudah membuat Aretha mengalami keguguran dua kali. Sekarang siapa yang pembunuh? David atau papa Aretha? Hanya pikiran itu yang menghiasi kepala Aretha. Dan sampai sekarang pun Aretha belum mengetahui asal mula, David menuduh mendiang papa nya. "Lea tolong buatkan aku jus jeruk. Aku sangat harus." pinta Aretha sopan. Lea menoleh dan menganggukkan kepalanya, "Baik nyonya." Selama ini yang menjadi teman, sekaligus teman curhat Aretha hanyalah Lea. Lea yang merawatnya ketika David selesai menyiksanya. Dokter cantik itu menjalankan tugasnya dengan baik. Bukan hanya merawat Aretha, melainkan melayani Aretha. "Ini nyonya jus nya." Lea menyerahkan segelas jus jeruk. "Terima kasih." ucap Aretha tulus. Lea mengambil duduk disebelah Aretha, "Apa kau baik-baik saja nyonya?" "Iya aku baik-baik saja. Jangan khawatir." jawab Aretha. "Kau kelihatan pucat. Ayo aku akan memeriksa mu." "Tidak perlu Lea." Aretha tersenyum manis, ia bersyukur ada Lea yang menamainya di saat ia sedang kesusahan. Jika saja Lea tidak ada, sudah dapat dipastikan Aretha akan depresi. "Aretha." bentak David, membuat ke dua wanita itu terkejut. Aretha berdiri, sedangkan Lea perlahan pergi dari hadapan tuannya. David maju selangkah, begitupun Aretha. Ia mundur selangkah. David terus mundur membuat Aretha tidak bisa bergerak lagi. Karena punggungnya sudah terhimpit tembok dan badan kekar David. "Semua ini karena kau jalang. Karena kau perusahaan ku mengalami kerugian besar. Kau memang wanita sialan." umpat David dan meludahi wajah Aretha. "Apa yang kau maksud?" dengan keberaniannya Aretha bertanya. "Apa yang aku maksud?" David mengulangi pertanyaan Aretha. Seraya menunjuk dirinya sendiri. "Si pak tua mu membuat perusahaan ku mengalami kerugian yang sangat besar." teriak David didepan wajah Aretha. Di susul dengan suara tamparan yang sangat nyaring. Aretha diam beberapa saat, merasakan gelenjar panas yang menjalar di pipinya. "Siapa yang kau maksud pak tua?" "Siapa lagi jika bukan Liam Hemsworth." David mencengkeram dagu Aretha dengan kuat, membuat Aretha mengerang kesakitan. "Dia Daddy ku seharusnya kau tak memanggilnya pak tua." sergah Aretha dengan tatapan menyalang. "Itu terserah diriku. Dan kau, kau tak perlu menatapku seperti itu." tangan David menunjuk nunjuk mata Aretha. "Aku akan pergi untuk mengurusi perusahaan ku, jangan pernah macam-macam selama aku pergi. Atau kau akan tahu akibatnya." David mendorong Aretha dengan kuat, sehingga Aretha terjatuh dan kepalanya membentur tembok. Kepergiannya tak lepas dari pandangan Aretha, "Haruskah rasa ini masih bersemayam di hati ku?" "Masih pantaskah aku mencintai lelaki seperti David?" Aretha bertanya entah kepada siapa. "Kenapa rasa cinta untuk David ada?" "Sungguh ini membuatku frustasi." "Tidak...tak sepantasnya aku mencintai b******n seperti dirinya." "Jadi selama ini kau mencintai tuan David?" tiba-tiba terdengar suara, dan itu suara Lea. Aretha hanya bisa mengangguk kecil. "Rasa cinta dan benciku menjadi satu Lea." Lea bertekuk lutut, ia menatap nyonya nya yang menunduk, "Aku baru tahu jika kau mencintai tuan David. Jika boleh tahu, sejak kapan kau mencintainya?" Aretha mengangkat kepalanya, menatap Lea dengan dalam, "Aku tidak tahu. Bukankah cinta datang karena terbiasa? Dan cinta juga datang, karena terlalu membenci. Tapi, yang aku rasakan saat ini adalah sama. Iya, sama. Rasa cinta dan benciku setara, tidak ada yang unggul dari keduanya." "Jangan sampai tuan David tahu." saran Lea. "Iya, jangan sampai David tahu." Aretha berhambur kepelukan Lea, menangis mengeluarkan apa yang ia pendam selama ini. Bahkan air matanya sampai membuat baju yang dikenakan Lea basah. "Lea." Aretha melepaskan pelukannya, menatap Lea dengan serius. "Apa aku bisa menghilangkan rasa cinta untuk David? Rasanya aku tak sanggup mencintainya, apa yang ia lakukan kepadaku sangat menyakiti aku." "Aku tidak tahu nyonya." "Haruskah aku menyimpan cinta untuk David. Haruskah itu? Apa cinta itu tidak bisa hilang? Bahkan musnah? Aku terlalu rapuh untuk disakiti lagi, hatiku lemah untuk dihina. Sungguh mencintainya adalah sebuah bencana. Akhiri ini ya Tuhan. Ku mohon" batin Aretha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD