DELAPAN BELAS

849 Words
Udara malam menusuk tulang Aretha. Berjalan disaat salju turun sangat deras, membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Tapi, apa boleh buat. Ia sangat bosan berada didalam rumah terus menerus. Dan ini pertama kalinya bagi Aretha keluar rumah, sejak ia pertama kali memijakkan kaki di sini. Aretha keluar dari rumah, itupun harus memohon kepada Albet. Albet Wasthon, salah satu orang yang dipercaya David untuk mengawasi Aretha. Selama pria itu tidak ada. Bahkan selama Aretha berjalan-jalan, ia yakin para anak buah David mengikutinya. Termasuk Albet. Meskipun Aretha tidak melihat keberadaan mereka semua. Salju yang turun semakin deras membuat Aretha mengeratkan mantelnya. "Ini dingin sekali." gumam Aretha dengan menggigil. Rambut panjangnya yang terurai dijatuhi salju, "Lebih dingin dari salju di Turki." Aretha menggosok-gosok kan kedua telapak tangannya, supaya memperoleh kehangatan. Aretha yang fokus menggosok tangannya, tak menyadari jika didepannya ada seorang pria yang berjalan. Pria itu pun sama halnya dengan Aretha. Sibuk mencari kehangatan dengan menggosok kedua telapak tangannya. "Awww." ringis Aretha ketika pantatnya terasa sakit, ketika terjatuh. "Oh maaf nona, saya tidak sengaja. Maaf." ucap pria itu dan membantu Aretha berdiri. "Tak apa, aku juga tidak melihat." Aretha masih sibuk membersihkan bajunya yang basah akibat salju yang mencair. Ketika Aretha menoleh kearah pria yang tadi menabraknya, Aretha sempat dibuat kagum. Pria didepannya sungguh tampan, tapi lebih tampan David. "Oh iya nona, kalau boleh tahu. Kenapa kau malam-malam keluar rumah?" tanya pria itu. Entah kenapa pria itu bertanya seperti itu. "Eh aku hanya bosan." Aretha sungguh gugup. Ia takut pria didepannya adalah pria jahat. "Kau sendirian?" pria itu kembali bertanya. "Iya." "Kalau boleh tahu siapa nama mu nona?" Aretha ragu untuk memberitahukan namanya, entah dorongan dari mana Aretha berani memberitahukan namanya, "Aretha." Pria itu tersenyum, "Senang bertemu dengan mu Aretha. Aku Elton Ackles." Elton menjabat tangan Aretha. "Kalau boleh tahu rumah mu dimana?" "Ru..." "Ayo pulang nyonya Aretha." Belum sempat Aretha menjawab pertanyaan Elton. Suara bariton Albet mengejutkannya. "Sebent..." "Waktunya pulang nyonya." Tanpa menunggu lama Albet langsung menarik pergelangan tangan Aretha. Dan itu semua tak luput dari perhatian Elton. "Seperti ada yang mengganjal." gumamnya setelah tak melihat punggung Aretha dan pria tadi. Tak mau memikirkan lagi. Elton kembali melanjutkan perjalanannya, melupakan tentang Aretha yang membuatnya tertarik untuk mengetahui kehidupan wanita itu. *****                     Suara dentuman musik yang sangat keras, membuat David menggeram marah. Percuma saja ia menunggu hingga ber jam-jam. Tapi yang ditunggunya tak kunjung datang. "s**t, pria tua itu tidak datang." umpat David ketika Jerm menelfon dan mengatakan rekan bisnisnya tidak bisa datang. "Terbuang sia-sia waktu ku hanya untuk menunggunya." "Awas kau pak tua." David bangkit dari tempat duduknya. Melangkah pergi dari kerumunan orang yang sedang berpesta alkohol. David merasakan ada tangan yang menyentuh lengannya. Ia menoleh dan melihat wanita didepannya dengan tatapan datar. "Lepaskan!" "Oww tuan jangan buru-buru pergi. Mari kita bermain." goda wanita itu. Tapi tak ada respon dari David. Wanita didepannya tidak bisa membuatnya b*******h, berbeda ketika ia berdekatan dengan Aretha. Gairahnya akan mencuat dengan cepat, hanya karena memandang wajah Aretha. "Aku tidak berminat." cekalan wanita itu terlepas. Sepertinya wanita tadi tak menyerah, dipeluknya David dari belakang. "Aku tahu anda sangat ingin dipuaskan tuan." Ya, sebenarnya David ingin dipuaskan. Namun tidak dengan wanita ini, melainkan dengan Aretha. Tangannya bersiap melepaskan pelukan wanita dibelakangnya. David terdiam sedetik dua detik. Dan bukannya melepaskan pelukan wanita itu, David malah menyeret wanita tersebut keluar bersamanya. Wanita itu tersenyum bangga karena bisa menaklukkan pria didepannya. Mana ada pria yang tak tergoda dengan tubuh sexy yang dimilikinya. "Kau tergoda tuan." Batin wanita tersebut seraya tersenyum simpul. David membuka pintu mobilnya dengan kasar. Mendorong wanita itu untuk segera masuk. Bahkan David menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi, guna mempercepat apa yang akan ia lakukan dengan wanita itu. Yaitu menuntaskan nafsu binatangnya. Mobil terus melaju kencang sampai terdengar suara tembakan. Dorrrr Dorrrr David terlonjak kaget mendengar suara tembakan itu, dan disusul dengan mobilnya yang oleng. Rupanya tembakan itu mengenai ban mobil David. Bukan David namanya, jika ia tidak membalas orang yang mengganggunya. Sedangkan wanita disampingnya terlihat ketakutan. "Itu suara apa tuan?" terdengar gemetar saat wanita disampingnya bertanya. "Itu suara tembakan, apa kau t***l. Sehingga tidak tahu itu suara apa hah?" bukannya menjawab dengan ramah, David malah membentak wanita itu. Keberanian wanita itu menciut, kala mendengar bentakan David. Perlahan tapi pasti, pasokan udara wanita itu menipis. Keringat membasahi pelipisnya. Ketika terdengar lagi suara tembakan, dan tembakan itu membuat kaca spion David pecah. "Sial." satu kata u*****n berhasil lolos dari mulut David. David membanting stir ke kiri demi menghindari mobil-mobil yang mengajarnya. Pacuan kecepatan mobil David meninggi, dan dari depan ada mobil yang melaju kearahnya. Ya, tepat kearah mobil David dan menembak kaca depan mobil David. Sehingga pecah dan serpihan itu mengenai jari jemari David. Dan peluru itu hampir saja mengenai lengan David, jika David tak menghindar. Dirasa keadaan semakin memburuk. David dengan cekatan mengeluarkan pistol dari balik jas nya. Pistol itu mengarah tepat ke depan, dalam sekali hentakan peluru tersebut mengenai mobil didepannya. Baru saja David ingin membanting stir ke kanan, tapi ada satu mobil hitam yang menghadangnya. Alhasil mobil David berhenti mendadak. Dengan tampang arogan nya David keluar dari dalam mobil. Tak lupa dengan pistol ditangannya. "Apa yang kau mau?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD