"Apa yang kau mau?"
_______________________
Terlihat seulet pria yang keluar dari dalam mobil. Keadaan malam hari ini tidak mendukung. Jalanan yang remang-remang karena terbatasnya lampu jalan, membuat pengelihatan David terganggu.
Ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria didepannya. Cahaya yang terpancar dari mobil membuat mata David silau.
"Apa yang kau mau? Kenapa kau mencari masalah denganku?" David mengulang lagi pertanyaannya, yang tak kunjung dijawab.
Bukannya mendapat jawaban, David malah mendapatkan kekehan dari pria di depannya.
"Tidak ada yang lucu, tak perlu kau tertawa." ucap David dengan menggertak kan giginya.
"Oh bung jangan terbawa emosi." sahut pria itu.
David sedikit familiar dengan suara itu, sehingga ia melangkah maju demi memperjelas pengelihatannya.
Damn
"Redrick." David menyebut satu nama.
Pria didepannya yang diketahui namanya Redrick hanya terkekeh.
"Lihatlah David, sekarang Redrick Alfrenzo sudah berada dihadapan mu." seringaian tercipta dibibir Redrick.
"Oh rupanya kau sudah bebas." ucap David acuh tak acuh.
"Dan sekarang saatnya aku membuat perhitungan, denganmu." tiba-tiba Redrick mengarahkan pistol ke arah David.
David pun gak tinggal diam, ia mengambil satu pistol lagi dibalik jasnya. Sebelum adu tembak itu dimulai. Segerombolan pria bertubuh besar dan berpakaian hitam mengerumuni Redrick. Dan semuanya mengarahkan pistol ke arah David.
David tersentak melihat banyaknya anak buah Redrick. Tapi bukan David namanya, jika ia tak berani melawan semua orang itu.
Dorrrr
Dorrrr
Dorrrr
Dorrrr
David langsung menembak segerombolan anak buah Redrick. Anak buah Redrick yang mendapat serangan dadakan tubuhnya langsung tumbang, ketika peluru menancap di dadanya.
David tertawa sinis melihat tumbangnya anak buah Redrick satu persatu, "Bagaimana Redrick? Mereka sedikit demi sedikit tumbang."
"s**l kau Redrick." umpat David ketika satu peluru mengenai pundaknya.
Mereka semua beradu baku tembak. Sedangkan David tak menyadari jika salah satu anak buah Redrick menuju mobilnya. Dan menyeret wanita yang David bawa.
"Tuan Redrick. David membawa seorang wanita cantik." teriak salah satu anak buah Redrick. David menoleh dan mendapati wanita, yang sempat bersamanya sedang menangis dalam cekalan anak buah Redrick.
"Oh Jeck habisi wanita itu." ucap Redrick masih setia menatap David.
"Itu sayang sekali tuan. Bagaimana jika aku bermain dengan tubuhnya?"
"Itu lebih menarik Jeck. Buat dia tidak bisa berjalan, dan ingat perlakukan dia dengan kasar. Lalu setelah kau puas. Mutilasi dia." saran Redrick.
Wanita itu diam menegang. Nafasnya tak teratur, pasokan udara didalam tubuhnya kian menipis. Tangannya berusaha melepas cekalan itu. Tapi selalu gagal, bahkan ia menatap David dengan pandangan minta tolong.
Jack dengan segera menyeret wanita itu, entah dibawah kemana wanita itu. Yang jelas Jeck memasukkan wanita itu ke dalam mobilnya. Dan melajukan mobil dengan kencang.
"Bermainlah dengan dia. Meskipun kau mutilasi aku tak keberatan. Lagipula dia jalang di club malam." teriak David diiringi suara beberapa tembakan, yang berhasil membuat Redrick mengerang marah. Dan setelah tak sadarkan diri.
Para anak buah Redrick yang tersisa mengarah pistol ke arah David. Dengan kecerdikan David, David dapat mengembangkan semua anak buah Redrick, beserta Redrick nya.
David berbalik dan memasuki mobilnya, yang sebagian sudah hancur karena ulah anak buah Redrick.
Dengan kecepatan penuh David mengendarai mobilnya, hingga tiba didepan mansion yang sangat megah.
David masuk dengan gontai ke dalam mansion. Mansion itu hanya David yang menempati, tidak ada pelayan dan anak buah.
David berjalan menuju kamarnya, tanpa melepas sepatu David langsung tidur berbaring menghilangkan penat yang didera nya.
*****
"Anda jangan macam-macam nyonya. Kenapa anda berbicara dengan pria itu? Bahkan anda baru mengenalnya?"
Suara bariton Albet menggemah digendang telinga Aretha, "Dia terlihat seperti orang baik."
"Wajah tak menjamin sifat orang tersebut nyonya."
"Kalau begitu baiklah, aku minta maaf karena dengan lancangnya berbicara dengan pria asing." ucap Aretha tak ingin lagi di tanya tanyai Albet.
Aretha berlalu dari hadapan Albet, dan memasuki kamarnya. Ia sangat muak dengan kengkangan ini. Ia pikir jika David tak ada maka ia akan terbebas dari aturan pria itu. Tapi sepertinya ia memang s**l. David tak ada tapi Albet ada.
Tokkk
Tokkk
Ketukan pintu terdengar tak lama Lea masuk dan menutup kembali pintunya, "Ya Tuhan nyonya. Albet gila, aku membencinya."
"Kau ini kenapa, datang-datang langsung membahas Albet." Aretha berdiri dari ranjang. Mendekati Lea yang duduk di sofa didekat balkon.
"Kau tahu, nyonya. Albet menceramahi ku jika aku harus selalu mengawasi mu. Dan jika tidak, maka ia akan...akan..ak."
Ucapan Lea terpotong oleh ucapan Aretha.
"Akan apa Lea?"
Dengan sekali tarikan nafas, "Akan menyetubuhi ku."
Mata Aretha membelak mendengar ucapan Lea. Jadi sama saja, tuan dan anak buah sama saja. Sama-sama b***t dan m***m, dan jangan lupakan sifat nya juga sama, yaitu menyebalkan.
"Ternyata David dan Albet sama-sama bejat." gumam Aretha.
"Kau benar nyonya."
"Lakukan saja apa mau Albet. Supaya dia puas, jika ia mau kau mengawasi ku. Awasi saja aku."
"Itu tidak perlu nyonya. Ya, aku akan bilang bahwa aku sudah mengawasi mu. Tapi kenyataannya tidak." Lea tersenyum lebar, seketika kekesalannya terhadap Albet terlupakan.