ENAM

856 Words
Aretha terbangun, dan asing dengan ruangan yang serba putih. Tangannya memegangi kepalanya yang terasa berat serta pusing. Tak lama kemudian pintu terbuka, dan masuklah perawat perempuan dengan nampan yang berisi bubur serta air putih. "Nona waktunya kau makan." ucap perawat itu. "Tunggu, kenapa aku bisa ada disini?" "tadi kau disini diantar supir taxi. Dia bilang kau pingsan didalam mobil." jelas perawat tersebut. Dan Aretha baru mengingatnya. "Aku ingin pergi dari sini." "Tapi kau harus makan dulu nona." "Tidak perlu." "Nona makanlah jika tidak bayi yang ada dalam kandungmu, akan lemah." ucapan perawat itu berhasil membuat gerakan Aretha terhenti. Kata bayi terus terngiang di telinganya, "Bayi?" tanya Aretha seakan memastikan apa yang didengarnya itu salah. "Iya nona, anda hamil. Dan usia kandungan anda satu Minggu." jelas sang perawat. Aretha langsung keluar kamar inap nya, berjalan menuju resepsionis dan membayar administrasi nya. Ia keluar rumah sakit dengan keadaan hati yang hancur. Apa yang ia harapkan tidak terkabul. Ini tak adil bagi Aretha, kenapa ia harus mengandung anak pria b******n itu? "Tidak aku tak sudi mengandung anak ini." "Tidak." "Aku tidak Sudi mengandung bayi laknat ini, tidak." Aretha terus saja menggumam. Aretha menyetop taxi, ia masuk taxi dengan tubuh gemetar menahan gejolak aneh diperutnya. Tapi Aretha terus menahannya, sehingga gejolak itu hilang perlahan-lahan. "Pak antar saya ke alamat ini." "Baik nyonya." Dalam perjalanan Aretha terus saja menangis, kali ini air matanya tak bisa dibendung. Hancur hatinya hancur. Ia sangat membenci David, sangat. Tak lama taxi memasuki pelataran makam. Ya, Aretha tidak ingin pulang atau kemana pun. Ia ingin ke makam orang tuanya, ia ingin mengadu kepada papa dan mamanya. Sungguh semua ini berat untuk Aretha. "Terima kasih pak." Aretha memberikan beberapa lembar uang, dan supir taxi itu pergi. Sebelum memasuki makam. Aretha termenung menatap depan. "Papa mama." Perlahan kaki jenjang Aretha berjalan memasuki makam. Angin berhembus kencang seolah-olah, menyambut kedatangan Aretha. Kakinya terus berjalan hingga berhenti didepan makam papa dan mamanya. "Selamat siang papa mama." "Aku merindukan kalian." air matanya jatuh. "Andai kalian masih hidup, pasti ini semua tidak terjadi denganku. Bantu aku pa, ma." Aretha terjatuh dan menangis tersedu-sedu, didepan makam kedua orangtuanya. "Hidupku berubah ketika pria laknat itu datang." "Aku ingin merasakan kebahagiaan lagi papa mama." "Kalian tahu dia sudah memperkosa ku, dan sekarang aku sedang mengandung anak dari pria laknat itu. Aku tidak sudi dan tak akan pernah rela, jika rahimku terdapat darah dagingnya." "Hiks...bantu aku..aku mohon." "Papa mama." teriak Aretha melampiaskan segalanya. Tangisannya semakin menjadi, ia sungguh muak dengan semua ini. "Aku ingin menyusul kalian." lirih Aretha. Setelah mengatakan kalimat itu, tubuh Aretha tertarik. Hingga ia saat ini sudah berdiri. "Ahhh sakit." ringis Aretha menahan sakit. Aretha sempat terkejut ketika tahu yang menarik tangannya adalah David. Tapi Aretha segera merubah ekspresi nya. "Kenapa kau bisa kesini?" "Jagalah mulut sexy mu ini Aretha. Jangan keluarkan kalimat yang aku benci. Kenapa kau ingin bunuh diri hah?" bentak David. "Apa urusanmu?" tanya Aretha dan mengabaikan kenapa David bisa ada disini. "Itu tentu saja urusanku, jika kau mati sama saja kau membunuh anak ku." desis David. "Kau sudah tahu?" "Apa yang tidak aku ketahui tentang mu?" "Berarti kau menguntit ku." Aretha memberikan sorot mata tajam. "Jika iya kenapa?" "Kau benar-benar b******n David. Sebenarnya apa salah ku? Kenapa kau memperkosa ku dan sekarang aku mengandung anak mu. Aku tidak ingin ini" teriak Aretha dihadapan David. "Semuanya bermula dari papa mu." bentak David sembari menunjuk nunjuk makam Adeks. Aretha ikut mentap makam sang papa. "Kenapa kau membawa-bawa nama papa ku?" "Karena dia lah, alasan aku melakukan ini kepadamu. Sebenarnya jika papa mu masih hidup, ku tidak perlu menanggung semua ini." kata David sinis. "Dan aku putuskan sekarang juga kau harus ikut denganku, ke Britania Raya." putus David tanpa bisa dibantah. "Tidak. Katakan dulu apa salah papa ku?" "Kau akan tahu jawabannya seiring berjalannya waktu." "Ayo." David menarik tangan Aretha kasar. "Lepaskan sakit. Aku tidak mau ikut denganmu, bagaimana aku bicara kepada Daddy dan aunty ku." tolak David. "Semua sudah selesai Aretha. Setelah aku mengetahui kau hamil anakku, saat itu juga aku mengabari Daddy mu. Dan mengatakan kau akan ke Britania Raya untuk kurun waktu yang lama." jelas David dengan liciknya. "Tidak, pasti Daddy ku tak akan percaya perkataan mu." sergah Aretha. "Dia percaya dan sangat percaya ketika ia membaca surat kontrak perusahaan." ucap David. "Maksud mu? Kau mendatanginya secara langsung?" "Iya." senyum licik David mengembang. "Dan apa maksudnya surat kontrak? Dan pastinya Daddy tak akan percaya, karena bukan aku sendiri yang datang dan bicara kepadanya." "Kenapa tidak percaya jika aku mengatakan ponselmu terjatuh, saat kita rapat siang tadi. Dan surat kontrak, aku membuat perusahaan mu, dan perusahaan ku berkerja sama. Didalam surat kontrak itu tertulis, selama berkerja sama dengan perusahaan ku, maka kau selaku pemimpin perusahaan Frandes. Akan menetap di Britania Raya karena perusahaan ku ada di Britania Raya." jelas David panjang lebar. "Sungguh pria licik." "Tidak usah banyak bicara." David langsung menarik tangan Aretha agar mengikutinya. Dan mendorong tubuh Aretha hingga menatap pintu mobil. David tak segan segan memelintir tangan Aretha, jika Aretha menolak masuk ke mobil. Didalam mobil, David masih mencekam tangan Aretha. Mobil pun berjalan dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kawasan makam. Dan inilah awal kehidupan Aretha yang sesungguhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD