Britania raya
Saat ini Aretha sudah berada di Britania Raya. Karena setelah dari makam, David langsung melakukan penerbangan.
Aretha hanya bisa diam tanpa melawan, ia tak ingin vedeonya sampai tersebar. Jika vedeo itu tersebar, maka sudah dapat dipastikan. Daddy dan aunty nya akan menanggung malu. Dan bukan hanya itu saja. Tapi, nama marga Frandes akan ternodai.
Aretha masih diam, ia merenung dikamar. Lebih tepatnya merenung didekat balkon.
Ya, David langsung membawa Aretha menuju mansion besar. David mengatakan mansion itu, akan menjadi tempat tinggal mereka berdua.
Bagi Aretha tempat yang ia tinggali adalah neraka. Karena dimana David, maka disitulah neraka bagi Aretha.
Tanpa Aretha sadari seorang wanita baya, masuk ke dalam kamarnya. Dan berjalan menuju dirinya.
"Ini salju pertama yang turun di Britania Raya, yang hanya berlangsung selama tiga bulan." ucap wanita baya itu.
Aretha langsung menoleh, dan mendapati wanita baya itu sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Si..apa kau?" tanya Aretha gugup.
"Aku Karen, ibu David." ucap Karen. Tapi, Aretha langsung menjauh. Ia pikir, ibu David akan sama seperti David.
"Jangan takut, aku tidak seperti David." seakan tahu kebingungan wanita cantik didepannya.
"Mendekatlah." perintah wanita yang diketahui namanya Karen.
Perlahan tapi pasti, Aretha melangkah mendekati Karen. Setelah tepat didepan Karen. Tanpa Aretha duga, Karen langsung memeluknya.
"Ubahlah putraku." dua kata yang terlontar membuat otak Aretha, berputar lebih cepat.
"Apa maksud anda?" tanya Aretha dengan formal.
"Jangan terlalu formal, panggil aku ibu. Sama seperti David memanggilku." pinta Karen berharap.
"I..bu?"
"Iya."
"Maksud ku adalah, ubahlah David. Ubah dia menjadi lebih baik, sebenarnya David adalah pria yang baik. Hanya karena dendam ia sampai menjadi seperti ini." ucap Karen menerawang masa lalu.
Mendengar kata dendam, Aretha teringat perkataan David waktu di makam.
"Dendam apa?"
Karen menoleh menatap Aretha. "Sebenarnya itu hanya salah paham. Ya, David salah paham. Ia tetap menyalakan papa mu atas meninggalnya suamiku, ayahnya David." papar Karen.
"Kau kenal papa ku?"
"Sangat, dan aku tahu kenapa kau ada disini saat ini."
"Apa sebenarnya yang membuat David mempunyai dendam, kepada papa ku?" tanya Aretha yang sudah penasaran.
"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang." ucap Karen.
"Lalu kapan? Aku sudah sangat penasaran, mohon." pinta Aretha berharap.
"Aku akan menceritakan semuanya, ketika perilaku David sudah tidak bisa ditoleransi."
"Maksud mu?"
"Aku akan menceritakan semuanya ketika, kelakuan David kepadamu sangat buruk."
"Apa aku harus menunggu sampai saat itu?" Aretha kembali dibuat penasaran.
"Iya dan jika saat itu tiba. Aku akan menceritakan semuanya, dan kau harus pergi dari kehidupan David. Tinggalkan dia, supaya dia sadar bahwa dia selama ini sudah salah paham. Ibu jamin, David akan sangat gila jika kau pergi darinya." jelas Karen menatap Aretha sungguh-sungguh.
"Aku sama sekali tak mengerti. Ya, memang aku ingin pergi dari kehidupan putra mu. Tapi, sepertinya itu mustahil." Aretha menggelengkan kepalanya.
"Mustahil apanya? Aku akan membantumu. Dia akan menggunakan kekuasaannya, hanya demi kau tetap bersamanya. Dan dia bisa sesuka hati menyakiti fisik dan mentalmu." mata Karen terlihat serius. Entahlah Aretha mengira ibu David akan sama, seperti David. Tapi ini berbeda. Ibu David seolah-olah ingin melindunginya dari putranya.
"Tidak bukan itu maksudku." air mata Aretha keluar. Ia tak bisa membayangkan vedeonya akan tersebar.
"Lalu apa? Apa kau saat ini mencintai putraku, sehingga kau tak sanggup meninggalkannya?" mata Karen menatap tajam.
"Tidak, aku tidak akan pernah mencintai b******n seperti dia. Aku membencinya, dan juga anaknya yang aku kandung." seketika mata Karen membelak terkejut.
"Kau hamil?"
"Iya dia memperkosa ku, dan saat ini aku mengandung anaknya. Aku tidak sudi mengandung anak itu. Aku tidak mau mengandung anak dari b******n ini." teriak Aretha frustasi.
"Bunuh saja aku. Mohon." tubuh Aretha luruh ke bawah, matanya sudah dipenuhi air mata.
Karen yang melihatnya merasa prihatin. Tega-teganya David, putranya memperkosa wanita didepannya ini. Hanya karena dendam yang berawal dari salah paham, David dengan tega melakukan semua itu.
"Ibu mohon kau jangan bicara seperti itu." ucap pelan Karen. Ia ikut terduduk, menjejerkan tinggi tubuhnya dengan Aretha.
"Aku membenci putramu." lirih Aretha.
"Kau pantas membenci putraku, tapi jangan benci bayi yang kau kandungan. Itu juga anakmu." Karen mencoba memberi pengertian.
Aretha menatap Karen dengan mata sendu, "Apa aku harus menyayanginya?"
"Tentu, kau harus menyayanginya seperti kau menyayangi dirimu sendiri. Kau boleh membenci ayahnya, tapi tidak dengan anaknya."
"Mencoba menyayangi anak ini sangat sulit, karena aku masih melihat wajah David." ucap Aretha, nadanya terdengar tidak suka. Ketika menyebut nama David.
"Jika begitu pergilah jauh tinggalkan David. Dan rawatlah cucuku dengan penuh kasih sayang, dan cintamu." saran Karen, tapi Aretha menggelengkan kepalanya. Pertanda menolak.
"Pergi dari hidup David tidak semudah, yang kau pikirkan ibu." ucap Aretha menggenggam tangan Karen.
"Memangnya kenapa, aku memiliki kekuasaan yang lebih dari David."
"Bukan masalah itu ibu, tapi.. David.." Aretha tak sanggup meneruskan kalimatnya.
"Apa Aretha?"
"David.. mempunyai..ve..deo t*******g ku. Dia merekam semuanya, saat dia memperkosaku." tangisan Aretha pecah, dan ketika itu juga Karen memeluk tubuh Aretha.
"Dia keterlaluan." gumam Karen.
"Aku jamin kau akan menyesal putraku." lanjut Karen.