Bian mengayunkan kedua kakinya dengan cukup percaya diri, ia bahkan tidak merasa takut akan tersesat diantara rak-rak buku yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Sebaliknya, pria itu justru merasa terlempar kembali pada masa-masa itu. Masa saat ia berjuang keras agar bisa mendapatkan angka-angka fantastis untuk akademik-nya. Sudut bibir Bian tersungging kecil, kedua matanya terpejam bersamaan dengan rongga dadanya yang mengempis karena menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Wangi kertas usang di antara rak-rak itu ... Bian merasakan perasaan rindu bercampur sakit secara bersamaan. "Apa yang sedang kau lakukan?" Suara seorang perempuan mengusik ingatan kelamnya. Bian membuka matanya perlahan. Perempuan yang mengusiknya tadi ... Fallen, dia tengah berdiri di hadapannya dengan senyum gel

