Bab 9 : Sudah jatuh, tertimpa tangga pula!

1442 Words
Berjalan mondar-mandir, meruntuk dan mengomel sepanjang hari, serta menatap handphone yang layarnya terdapat banyak retakan bukanlah pemandangan yang baru untuk David. Bahkan atasannya itu sudah melakukan kegiatan tersebut sejak beberapa jam lalu sambil mengetuk jemarinya di atas meja dengan konstan. Kalau saja David berani angkat bicara, rasanya ia ingin memberitahu bosnya kalau ada hal atau kegiatan yang jauh lebih penting daripada menatap layar ponsel yang retak itu, contohnya seperti menandatangani dokumen atau meninjau lokasi proyek? "David?" Bian membuka suara setelah berjam-jam lamanya. Sadar atau tidak, David menghela napas lega. Akhirnya .... ya, akhirnya sang atasan menyadari keberadaannya juga. "Yes, sir?" Bian terlihat ragu-ragu, pria itu beberapa kali membuka mulut namun detik berikutnya mengatupkan bibirnya kembali. Gemas rasanya, namun David tetap bersabar menunggu apa yang akan diperintahkan oleh atasannya tersebut. Menunjukkan ponsel rusak yang sebelumnya tergolek pasrah di atas meja, Bian kemudian bertanya, "Menurutmu apa aku harus memperbaiki ini atau membeli yang baru?" David menaikkan satu alisnya. Jadi, hanya itu yang ada dipikiran bosnya selama berjam-jam ini? "Tergantung dari seberapa pentingnya handphone itu. Kalau di dalamnya ada banyak file penting, saya rasa lebih baik diperbaiki." ujar David. Bian mengangguk beberapa kali. Apa yang dikatakan sekretarisnya memang masuk akal. Akan tetapi ... bagaimana Bian tahu di handphone itu ada berkas pentingnya atau tidak? "Kalau aku memperbaiki ini dan ternyata tidak ada berkas penting di dalamnya, Lera pasti berpikir aku tidak mampu membelikan yang baru untuknya sebagai ganti?" "Saya akan menca—" Handphone di atas meja —miliknya— berdering, hal itu membuat Bian lekas memberikan aba-aba pada David untuk menelan kembali apapun yang ingin dia katakan. Demon Estanbelt, nama itu tertera pada layar ponselnya. Bian tidak lekas mengangkat panggilan tersebut, di sini dia sedang bermain tarik ulur dengan keluarga Estan. Oleh karena itu Bian tidak ingin terlihat begitu antusias atau Demon akan mengendus rencanya dan mengacaukannya dengan mudah, semudah pria itu membalikkan telapak tangan. Sudah 46 detik dan sampai saat ini ponsel miliknya masih berdering. Bian rasa apa yang akan Demon sampaikan cukup penting. Namun, disini Bian belum tahu apakah berita yang akan pria itu sampaikan padanya adalah berita baik atau justru berita buruk. Tepat sebelum layar ponselnya meredup, dengan gesit pria itu mengusap layar berwarna hijau. "Ya, Mr. Estan?" "Hi, Bian. I wanna tell you something." "Is that bad or good news?" Bian bisa mendengar helaan berat lawan bicaranya dari saluran telpon. "Both." jawab Demon, "kau mau dengar yang mana dulu?" Keduanya? Sadar atau tidak, Bian menahan napasnya beberapa detik. "Kabar baiknya?" "Pihak investor bersedia memberikan modal untuk proyek yang sedang kau kerjakan." Bian mengembangkan senyumnya, ia tidak bisa menyangkal kalau saat ini perasaannya begitu senang. Apa yang ia perjuangkan dan ia kerjakan selama ini tidak sia-sia. "Dan kabar buruknya, Lera menolak untuk ditempatkan di perusahaan mu." Tunggu, apa yang baru saja Demon katakan? Lera menolak bekerja untuknya? Oh, sial! Bian tidak memprediksikan hal ini. Ia kira menggiring Lera ke sisinya semulus yang ia bayangkan. Bian mengepalkan tangannya, kedua giginya saling beradu karena kesal namun ia mencoba untuk bicara dengan santai. "Oh, ya?" "Kau taulah, dia sangat keras kepala." "Kau sudah bilang kalau aku akan memberikan upah dua kali lipat padanya?" "Sudah, tapi Lera tetap menolak. Bahkan dia lebih rela bekerja di sini tanpa bayaran daripada bekerja padamu. Mendengar apa yang Lera ucapkan, jujur saja aku merasa tersentuh, dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya, jadi—" Tidak! Bian tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Lera, gadis itu harus tetap bekerja di sini, dalam jarak pandangnya bagaimanapun caranya. "Kalau dia berubah pikiran? Apa kau akan mengizinkannya?" potong Bian dengan cepat. "Sure." . . . Bian akan memberimu upah 2 kali lipat. Lera kembali berdecak setiap kali teringat ucapan Demon sebelumnya. Cih, seolah iming-iming itu dapat membuat pendiriannya goyah saja. Jujur saja, Lera memang membutuhkan banyak uang, sangat. Tetapi jika harus bekerja dibawah kaki pria psikopat itu? Tck, walaupun dibayar 10 kali lipat pun tidak akan membuatnya tergiur. Ya, sama sekali tidak. Satu hal yang membuat Lera tidak habis pikir, kenapa Bian begitu terobsesi untuk membuatnya berada dalam jarak pandang pria itu disaat dirinya berusaha untuk menjauh? "Bian sialan!" umpat Lera, "gara-gara dia, aku jadi lupa untuk mengambil beberapa lembar uang dari dompet Emo!" runtuknya lagi. Lera melirik jam yang melingkar di tangannya, jarum ham sudah berada di angka 11.00 yang artinya dia sudah berjalan kaki selama satu jam. Rupanya perasaan marah menjadi salah satu amunisi untuk kedua kakinya sampai-sampai ia tidak sadar sudah berjalan jauh dan lama. "Apa sih yang pria itu mau huh? Kenapa dia harus ikut campur dalam hidupku? Masa gara-gara tendangan yang tak seberapa keras dua hari yang lalu membuatnya setega ini?" kali ini ocehannya dibarengi dengan hentakan kaki. "Daripada bekerja untuk Bian, lebih baik aku mengamen di jalan!" Lera kembali bersungut. Melihat sebuah kaleng di jalanan, dengan sekuat tenaga gadis itu menendang kaleng tersebut tanpa ampun. "Lihat saja, aku akan membuktikan pada kalian semua kalau aku, Lera Neurasasta Aditama, bisa bertahan hidup tanpa kemewahan keluarga Estanbelt sekalipun!" teriak Lera sebagai penutup. Setelah mengeluarkan kegundahan hatinya tadi Lera sedikit merasa lega, setidaknya sebelum ia mendengar suara 'KRACK' dari sebuah mobil yang terparkir di sisi jalan. "Apa yang kau lakukan pada mobilku?" Lera menahan napas sesaat setelah ia membalikkan badan dan mengetahui siapa pemilik mobil naas tersebut. Sial! Sudah jatuh, sekarang tertimpa tangga pula. Entah mengapa perumpamaan itu terdengar pas untuk situasinya saat ini. Seseorang yang ia benci, seseorang yang tidak ingin ia temui baru saja keluar dari sebuah toko bunga. Seorang pria yang Lera yakin itu adalah kaki tangannya berdiri tepat di belakang Bian, tatapannya seperti sinar laser mematikan. Astaga, rasanya Lera ingin meleleh ke aspal dan menghilang daripada harus berhadapan dengan Bian. "Mau kabur kemana hah?" Bian berhasil menarik baju belakang Lera saat gadis itu berusaha kabur. Lera cemberut, dia menabok tangan Bian agar melepaskan cengkeramannya. "Siapa juga yang mau kabur!" Bian menyeringai, "Oh, benarkah? Lalu tadi itu apa? ancang-ancang mau balap lari?" ejek Bian tanpa berniat melepaskan targetnya begitu saja. Demi Tuhan, ada apa dengan nasibnya? Kenapa ia harus dipertemukan dengan orang seperti Bian sih? "Jaga mulutmu, Bian! Kau pikir aku tidak bisa mengganti kaca mobil jelekmu itu hah?" Bukannya tersinggung, Bian justru tengah tergelak mendengar cemoohan Lera. Gadis satu ini memang patut diacungi jempol, dia tipikal gadis yang tidak mudah ditindas dan sulit ditaklukkan? Sekali tarik, kini tubuh Lera sudah ada dihadapan Bian, tepat di depan wajahnya. "Dengan apa? Kau yakin kalau kau punya uang?" seolah tidak puas dengan ejekannya, Bian kembali bicara. "Hmmm ... kalau telingaku masih berfungsi dengan baik, sepupumu bilang kau hanya mendapat uang saku seratus ribu per minggu. Jadi, bagaimana caramu untuk mengganti kaca mobil jelekku itu Lera?" Lera menggeram bersamaan dengan kaki yang ia hentak-hentakkan. Tenang, Lera. Jangan mengumpat, tidak boleh mengumpat apalagi meninju wajah menyebalkan itu atau situasi ini akan lebih kacau. "Fine, apa yang kau mau dariku?" Terkutuklah senyum di wajah tampannya itu. "Kau harus membayar ganti rugi kaca mobil jelekku dengan cara bekerja di kantorku." Tck, Bian pikir bisa semudah itu melumpuhkannya? "You wish!" sungut Lera tak terima. Lera berbalik, ia hendak melangkah pergi sampai sebuah tangan lebih dulu menariknya menuju mobil. Ya, sebuah mobil yang menjadi sasaran tendangan kalengnya beberapa menit lalu, tentu saja. Enak saja main seret anak orang tanpa alasan yang jelas mau dibawa ke mana, dia kira aku wanita apa?! Lera meruntuk dalam hati, saat ini ia tengah memberontak agar bisa lepas dari cengkraman tangan Bian pada lengannya. "Masuk!" ujar Bian dengan nada memerintah. "Tidak mau! Kau pikir aku w************n yang mau saja dibawa oleh laki-laki ke tempat yang tidak jelas!" "Kau ikut denganku atau mau aku adukan ke pihak berwajib karena ulahmu ini? Aku yakin nenekmu pasti akan marah besar melihat cucu perempuannya bertingkah hingga menginap di kantor kepolisian." Bian kembali mengancam, kali ini ancamannya benar-benar membuat Lera menyerah. Demi Tuhan, Lera tidak sudi menghabiskan seluruh sisa hidupnya dipenjara hanya karena sebuh kaleng dan kaca mobil. "Baiklah, tapi ... kau jangan macam-macam denganku atau nanti kutinju sampai pingsan 7 hari!" Bian menyeringai, "Kau bisa pilih sendiri bagian mana yang ingin menjadi sasaran empuk tinjumu," ejeknya dengan tatapan yang menurut Lera sangat menjengkelkan, "pipi? perut? atau bibirku?" ujarnya lagi, hal itu membuat Lera marah bercampur malu. Sial! Bian kembali mengingatkannya pada kejadian siang itu, saat dia menciumnya di taman. Sebagai aksi rasa kesalnya, Lera memberikan cubitan maut pada lengan Bian yang dibalut jas hitam yang dikenakannya. "Aaaaakh..." Bian mengerang sambil memelototi Lera, namun hal itu justru membuat Lera tersenyum lebar. "Rasain! Makanya jangan macem-macem deh." Lera duduk di jok penumpang masih dengan senyum puas. Sedangkan Bian, dia hanya bisa menghela napas. Asalkan gadis itu mau duduk tenang dan tidak kabur, ia bisa menerima rasa sakit atas cubitannya yang masih terasa sampai saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD