bc

Behind Your Spotlight

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
kickass heroine
tragedy
serious
city
office/work place
friends with benefits
surrender
like
intro-logo
Blurb

Semua orang mengira James memilih mengakhiri hidupnya.

Jeanne tidak percaya.

Untuk mencari jawabannya, ia menjadi bodyguard idol paling populer di Scarlett Entertainment—pria yang ketenarannya justru dimulai setelah kakaknya menghilang dari panggung.

Semakin dalam ia menyelidiki, semakin banyak rahasia yang terkubur.

Dan saat kebenaran mulai terungkap, Jeanne menyadari...

Orang yang ingin ia lindungi mungkin adalah target berikutnya.

chap-preview
Free preview
Chapter 1—Mimpi yang Terwujud
Sorak-sorai penonton menggema memenuhi arena. Lampu sorot tertuju ke tengah oktagon. Malam itu bukan sekadar pertandingan biasa. Itu adalah perebutan sabuk juara divisi wanita. Lima ronde telah disiapkan untuk menentukan siapa yang akan keluar sebagai juara baru. Di dalam oktagon, dua petarung saling menatap tajam. Jeanne berdiri di sudut merah, sementara lawannya, Manila, berada di sudut biru. Wasit melangkah ke tengah. "Are you ready?" Manila mengangguk mantap. Wasit menoleh ke arah Jeanne. "Are you ready?" Jeanne mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari lawannya. "Fight!" Manila langsung menerjang lebih dulu. Sebuah pukulan lurus melesat ke arah wajah Jeanne. Jeanne memiringkan kepala, menghindarinya dengan mudah. Satu pukulan disusul pukulan berikutnya. Manila terus menekan tanpa memberi kesempatan bernapas. Namun Jeanne hanya bertahan. Ia menghindar, menangkis, lalu mundur selangkah. Belum sekali pun ia membalas. Bukan karena terdesak, melainkan sengaja membaca pola serangan lawannya. Ekspresi Manila mulai berubah. "Berhenti kabur!" teriaknya sebelum melayangkan pukulan sekuat tenaga. Buk! Kepalan tangan itu akhirnya mendarat telak di pipi Jeanne. Tubuh Jeanne sedikit terhuyung. Ia mengusap sudut bibirnya yang mulai mengeluarkan darah tipis, lalu kembali memasang kuda-kuda. Tatapannya tetap tenang. Seolah pukulan barusan belum cukup untuk menjatuhkannya. Sorak-sorai penonton menggema di seluruh arena. Di tribun, seorang pria bertopi dan bermasker terus menatap oktagon tanpa berkedip. Tangannya mengepal saat melihat Jeanne menerima pukulan telak. "Tenanglah, James," ujar Arthur pelan. "Bagaimana aku bisa tenang? Adikku sedang dipukul di sana." Arthur hanya menghela napas. James memang datang diam-diam. Di tengah jadwal syuting yang padat, ia tetap menyempatkan diri menghadiri setiap pertandingan Jeanne, meski sang adik berkali-kali melarangnya. "Kalau ketahuan penggemar, habislah kita," gumam Arthur. James mengabaikannya. Perhatiannya tak pernah lepas dari sosok Jeanne. Di dalam oktagon, Manila kembali melancarkan serangan. Satu pukulan melesat ke arah wajah Jeanne. Jeanne memiringkan kepalanya, membiarkan pukulan itu meleset tipis. Namun kali ini ia tidak mundur. Buk! Kepalan tangannya meluncur lebih cepat dan menghantam pipi Manila hingga wanita itu terhuyung beberapa langkah. "Woooh!" Arena kembali bergemuruh. Penonton yang sejak tadi mengeluh karena Jeanne hanya bertahan kini berdiri dari kursi mereka. Pertandingan akhirnya benar-benar dimulai. Pertandingan semakin memanas. Jeanne dan Manila kini saling berbalas pukulan. Tak ada lagi yang memilih bertahan. Setiap serangan dibalas dengan serangan yang sama kerasnya. Buk! Sebuah hook dari Jeanne menghantam rahang Manila. Tubuh wanita itu kehilangan keseimbangan dan ambruk di atas kanvas. Tanpa membuang waktu, Jeanne segera mengambil posisi di atas tubuh lawannya. Kepalan tangannya kembali terayun berkali-kali, sementara Manila hanya mampu menutupi wajah dan berusaha bertahan. Sorak-sorai penonton mengguncang arena. Bel akhir ronde berbunyi nyaring. Wasit segera melangkah di antara kedua petarung. "Back to your corners!" Jeanne segera berdiri dan mundur beberapa langkah. Ia mengatur napas yang mulai memburu, mengusap darah tipis di sudut bibirnya, lalu menyentuh pelipis yang masih terasa nyeri akibat pukulan sebelumnya. Kedua petarung kembali ke sudut masing-masing. Tim pelatih segera memberi instruksi sambil menangani luka mereka selama satu menit masa istirahat. Tak lama kemudian, ronde kedua dimulai. "Fight!" Kali ini Jeanne bergerak lebih dulu. Ia terus menekan Manila tanpa memberi ruang untuk bernapas. Kombinasi pukulan dan tendangan memaksa lawannya mundur hingga hampir kehilangan keseimbangan. Buk! Pukulan terakhir mendarat telak. Manila kembali tersungkur di atas kanvas. Namun Manila kembali bangkit. Napasnya memburu, tetapi sorot matanya belum menunjukkan tanda menyerah. Jeanne kembali maju. Rentetan pukulan dan tendangannya memaksa Manila terus bertahan hingga bel akhir ronde kembali berbunyi. Wasit melangkah di antara keduanya. "Back to your corners!" Kedua petarung kembali ke sudut masing-masing untuk menjalani masa istirahat sebelum ronde berikutnya dimulai. Ronde ketiga dan keempat berlangsung sengit. Manila beberapa kali berhasil mendaratkan pukulan balasan, tetapi Jeanne tetap mendominasi jalannya pertandingan. Empat ronde telah usai. Kedua petarung kembali ke sudut masing-masing untuk menjalani masa istirahat terakhir sebelum memasuki ronde penentuan. Saat ronde kelima dimulai, kondisi keduanya tampak jauh berbeda. Wajah Manila telah membengkak akibat berkali-kali menerima pukulan telak. Sementara Jeanne juga dipenuhi lebam di beberapa bagian wajah, meski kondisinya masih jauh lebih baik. "Fight!" Keduanya kembali memasang kuda-kuda. Beberapa detik berlalu tanpa ada yang bergerak. Manila akhirnya lebih dulu menerjang. Jeanne menunggu hingga jarak mereka cukup dekat. Buk! Sebuah pukulan lurus menghantam wajah Manila dengan keras. Tubuh wanita itu ambruk di atas kanvas. Jeanne bergerak maju, bersiap melanjutkan serangan jika Manila berhasil berdiri. Di hadapannya, Manila berusaha bangkit. Namun kedua kakinya kembali goyah sebelum akhirnya lututnya menyentuh kanvas. Melihat Manila tak lagi mampu mempertahankan diri secara efektif, wasit segera berdiri di antara mereka. "Stop! Stop!" Kedua tangannya melambai tegas, menandakan pertandingan telah berakhir. Sorak-sorai penonton langsung memenuhi arena. Tim medis bergegas memasuki oktagon untuk memeriksa kondisi Manila. Sementara itu, wasit menggenggam pergelangan tangan Jeanne dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "And the winner by Technical Knockout... and the new champion... Jeanne!" Gemuruh tepuk tangan dan sorakan penonton mengguncang arena. Tak lama kemudian, seorang petugas membawa sabuk juara menuju tengah oktagon. Sabuk itu dipasangkan di pinggang Jeanne. Jeanne menatap sabuk tersebut beberapa saat. Napasnya masih memburu, wajahnya dipenuhi peluh dan lebam, tetapi senyum tipis akhirnya terukir di bibirnya. Semua latihan, pengorbanan, dan rasa sakit yang ia lalui akhirnya terbayar malam itu. "Jeanne!" James berdiri dari kursinya sambil bertepuk tangan. Senyum bangga tak bisa disembunyikan di balik masker yang menutupi wajahnya. "Itu adikku!" Arthur ikut bersorak sambil menepuk bahu James. "Aku sudah bilang, dia pasti menang." Usai pertandingan, Jeanne berdiri di tengah oktagon untuk menjalani sesi wawancara. Sementara itu, James dan Arthur diajak turun oleh tim Jeanne yang telah mengenali mereka. "Kak James, silakan ikut kami." Keduanya dibawa ke area belakang panggung sambil menunggu sesi wawancara selesai. Dari kejauhan, James memandangi adiknya yang sedang menjawab setiap pertanyaan dengan senyum bangga di balik masker yang menutupi wajahnya. Tak lama kemudian, wawancara berakhir. Jeanne berjalan menuju ruang pemeriksaan medis. Baru beberapa langkah, seseorang tiba-tiba memeluknya erat. "Selamat..." Jeanne tersenyum kecil. "Kak James." "Aku bangga padamu." Suara James terdengar bergetar. Pelukan itu semakin erat, seolah ingin menyampaikan semua rasa bangga yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. "Kau benar-benar hebat." Jeanne membalas pelukan kakaknya sambil terkekeh pelan. "Kalau begini terus, nanti orang-orang mengira yang menang itu Kakak." Arthur yang berdiri di samping mereka hanya menggeleng sambil tersenyum. "Biarkan saja. Dia memang selalu begini setiap melihatmu bertanding." Jeanne tertawa pelan, sementara James buru-buru mengusap sudut matanya yang mulai basah. Hari itu, tidak ada yang menyangka bahwa pelukan hangat itu akan menjadi salah satu kenangan paling berharga yang tersisa bagi Jeanne. "Wajahmu sekarang mirip jaket polkadot kesayanganku." Jeanne menoleh tajam. "Kak..." "Apa? Aku cuma jujur." Arthur tak kuasa menahan tawa melihat ekspresi kesal Jeanne. Saat itu Jeanne masih menjalani pemeriksaan medis. Seorang dokter mengoleskan obat pada luka di pelipisnya, sementara James dan Arthur menunggu di samping ranjang. Tiba-tiba ponsel James berdering. Nama Manager Leon muncul di layar. "Sebentar." James melangkah keluar ruangan sebelum mengangkat panggilan. "Ya, Pak Leon?" "Ada makan malam dengan Direktur besok malam. Jadwalmu sudah saya kosongkan, jadi jangan sampai terlambat." James sempat terdiam sejenak. "Makan malam?" "Ya. Direktur ingin bertemu denganmu secara pribadi." "Baik, saya mengerti." Panggilan berakhir. James menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya kembali ke dalam ruangan. "Ada apa?" tanya Jeanne. James menyimpan ponselnya ke saku dan tersenyum seperti biasa. "Tidak ada. Cuma urusan pekerjaan."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
113.9K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
12.2K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.2K
bc

Orang Ketiga

read
36.5K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
1.7K
bc

Babysitter Canduku

read
19.8K
bc

Finally in Love

read
61.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook