Di dalam kolam renang, tubuh seseorang terlihat mengapung tanpa busana. Air di sekelilingnya telah berubah kemerahan.
Jeanne yang baru saja tiba langsung membeku.
Matanya membelalak saat mengenali sosok tersebut.
"JAMES!!"
Teriakannya pecah memenuhi area kolam.
Tanpa berpikir panjang, Jeanne langsung menceburkan diri ke dalam air. Ia berenang sekuat tenaga menuju tubuh James yang mengapung di tengah kolam.
"James..."
Begitu sampai, Jeanne segera meraih tubuh kakaknya.
James tidak memberikan respons apa pun.
Wajahnya dipenuhi beberapa lebam. Kepalanya terkulai, sementara tubuhnya sama sekali tidak bergerak.
Jeanne ingin menangis. Ingin berteriak. Namun ia menekan semua perasaan itu.
Tidak sekarang.
Ia harus menyelamatkan James.
Dengan sisa tenaganya, Jeanne menarik tubuh James menuju tepi kolam. Setelah berhasil mencapai pinggir, ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengangkat tubuh sang kakak keluar dari air.
Jeanne segera naik setelahnya.
"James..."
Tangannya gemetar ketika ia menepuk pipi James.
"James, bangun."
Tidak ada jawaban.
Jeanne langsung berlutut di samping tubuh kakaknya. Kedua tangannya diletakkan di d**a James, lalu ia mulai melakukan CPR.
Satu tekanan.
Dua.
Tiga.
"Bangun..."
Jeanne terus memompa d**a James.
"Tolong bangun..."
Napasnya mulai tidak beraturan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh, tetapi tangannya tidak berhenti bergerak.
"Ayo, James..."
Jeanne kembali memberikan pertolongan.
Beberapa saat kemudian, tubuh James menunjukkan sedikit reaksi. Jeanne sempat menghela napas lega ketika melihat perubahan itu.
Namun James masih belum membuka mata.
"James?"
Jeanne menepuk pipinya lagi.
Tidak ada respons.
Wanita itu menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang semakin sulit dibendung.
"Jangan begini..."
Jeanne kemudian menarik tubuh James ke dalam pelukannya.
"Tolong..."
Suaranya bergetar.
"Tolong... ada orang di sini?"
Jeanne mendongak, berharap seseorang mendengar teriakannya.
"Tolong!"
Kali ini suaranya pecah.
"SELAMATKAN KAKAKKU!"
Namun James tetap diam dalam pelukannya.
Jeanne masih memeluk tubuh James erat.
Ia bisa merasakan napas kakaknya.
Sangat samar.
Terlalu samar.
"James..."
Jeanne semakin ketakutan.
Ia menempelkan tangannya pada wajah James yang dingin, seolah sentuhan itu bisa membuat kakaknya kembali sadar.
"Jangan tinggalkan aku..."
Suaranya bergetar.
Air mata terus mengalir membasahi wajahnya.
"Aku mohon..."
Jeanne terisak.
Ia sudah pernah kehilangan seseorang yang begitu berarti baginya. Dan sekarang, ketakutan yang sama kembali menghampirinya.
Ia tidak sanggup kehilangan James.
Tidak lagi.
Tubuh Jeanne mulai terasa lemas. Setelah berlari, berenang, dan berusaha mengangkat tubuh James seorang diri, tenaganya hampir habis.
Namun ia tetap memeluk kakaknya.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki berlari dari arah kamar hotel.
Jeanne segera mengangkat kepalanya.
"SIAPAPUN, TOLONG AKU!"
Teriakannya kembali pecah.
"TOLONG!"
Langkah kaki itu semakin mendekat.
Tak lama kemudian, dua sosok muncul dari arah pintu balkon.
Nolan dan Adams.
Keduanya langsung terdiam ketika melihat keadaan di hadapan mereka.
Jeanne bersimpuh dengan tubuh basah kuyup, sementara James terbaring tak berdaya di dalam pelukannya.
Keadaan James terlihat mengenaskan.
Nolan langsung mengatupkan rahangnya.
Sementara Adams tanpa membuang waktu segera berbalik dan kembali berlari ke dalam kamar hotel.
Nolan menghampiri Jeanne.
"Pelatih..."
Jeanne menatap Nolan dengan mata yang dipenuhi air mata.
"Tolong..."
Suaranya hampir tak terdengar.
"Tolong selamatkan kakakku."
Jeanne menggenggam lengan Nolan dengan tangannya yang gemetar.
"Tolong, Pelatih..."
Nolan menatap James beberapa saat. Rahangnya semakin mengeras melihat kondisi pria itu.
Namun ia segera memaksa dirinya untuk tetap tenang.
"Kau tenang dulu."
Nolan berjongkok di samping James.
"Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang."
Tak lama kemudian, Adams kembali dengan membawa sebuah selimut tebal dari kamar hotel.
Ia langsung menghampiri James dan menyelimuti tubuh pria itu sebelum membantu Nolan mengangkatnya.
"Kita berangkat sekarang," ujar Nolan tegas.
Nolan dan Adams kemudian membopong tubuh James meninggalkan area kolam.
Jeanne segera bangkit dan mengikuti mereka.
Namun baru beberapa langkah, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.
Kakinya terasa begitu lemas.
Ia menahannya dengan paksa.
Tidak peduli seberapa berat tubuhnya saat ini.
Tidak peduli seberapa sulit langkah yang harus ia ambil.
Jeanne tetap berjalan.
Matanya tidak pernah lepas dari tubuh James yang sedang dibawa Nolan dan Adams.
"Kak..."
Bisiknya lirih.
"Tunggu aku..."
Keadaan hotel langsung berubah riuh.
Beberapa orang yang berada di lobby menoleh ketika melihat dua pria keluar dengan membopong seseorang yang tubuhnya terbungkus selimut tebal. Bercak merah terlihat jelas pada permukaan selimut tersebut.
Di belakang mereka, Jeanne menyusul dengan tubuh basah kuyup dan wajah yang dipenuhi air mata.
Resepsionis yang mengenali Jeanne langsung terkejut.
Namun Jeanne tidak berhenti.
Ia hanya menoleh sekilas dan menunjuk ke arah mereka dengan tatapan penuh kebencian.
"Kalian..."
Suaranya bergetar, tetapi penuh amarah.
"Kalian semua akan mendapatkan balasan!"
Setelah mengatakan itu, Jeanne segera berlari menyusul Nolan dan Adams yang telah lebih dulu keluar dari lobby.
—
Beberapa waktu kemudian, mereka telah tiba di rumah sakit.
James langsung dibawa ke ruang UGD untuk mendapatkan penanganan medis.
Sementara itu, Jeanne hanya bisa duduk di kursi tunggu di depan ruang tersebut.
Malam terasa semakin dingin.
Pakaian Jeanne masih lembap meskipun sebagian besar sudah mulai mengering. Namun wanita itu sama sekali tidak peduli.
Tatapannya terus tertuju pada pintu UGD.
Ia tidak ingin beranjak sedikit pun.
"Jeanne."
Suara Nolan terdengar di sampingnya.
"Pergilah ganti pakaianmu terlebih dahulu."
Nolan menyerahkan pakaian ganti yang telah dibawanya.
Jeanne menggeleng pelan.
"Aku tidak ingin pergi, Pelatih."
"Jeanne."
Nolan kembali menatapnya dengan serius.
"James sedang diperiksa oleh dokter."
Jeanne terdiam.
"Jangan sampai saat dokter keluar nanti, kau justru tumbang karena kedinginan."
Jeanne menundukkan kepalanya.
Tangannya perlahan menerima pakaian yang diberikan Nolan.
Namun sebelum beranjak, ia kembali menatap pintu UGD.
"Tolong jaga kakakku."
Suara Jeanne lirih.
Nolan mengangguk.
"Aku akan menjaganya."
Jeanne menggenggam pakaian itu erat-erat.
Barulah ia memaksa dirinya berdiri dan melangkah pergi.
Namun bahkan setelah tubuhnya menjauh dari ruang UGD, pikirannya tetap tertinggal di balik pintu itu.
Bersama James.
Jeanne mengganti pakaiannya di kamar mandi rumah sakit secepat mungkin.
Ia bahkan tidak sempat mengeringkan rambutnya dengan benar. Begitu selesai berganti pakaian, Jeanne langsung keluar.
Ia tidak ingin terlalu lama meninggalkan James.
Namun saat kembali ke depan ruang UGD, langkah Jeanne mendadak terhenti.
Seseorang sudah berdiri di sana.
"Oma..."
Oma Hanna menoleh ketika mendengar suara Jeanne.
Begitu melihat wanita itu, Jeanne langsung berjalan cepat menghampirinya.
"Oma..."
Jeanne memeluk Oma Hanna erat.
Dan seketika itu juga, pertahanannya kembali runtuh.
Tangis Jeanne pecah di dalam pelukan wanita tua itu.
Oma Hanna tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya membalas pelukan Jeanne, mengusap punggung cucunya perlahan.
"James..." isak Jeanne.
"Oma, Kak James..."
Suaranya tercekat.
Oma Hanna memejamkan mata.
Sebenarnya, James bukanlah cucu kandungnya.
James adalah anak yang dibawa ayah Jeanne dari pernikahan sebelumnya. Karena itu, hubungan mereka tidak pernah sedekat hubungannya dengan Jeanne.
Namun malam ini, semua itu tidak lagi penting.
Melihat Jeanne menangis seperti ini saja sudah cukup membuat hatinya terasa sakit.
Terlebih setelah apa yang terjadi pada James.
Oma Hanna kembali merasakan ketakutan yang sama.
Takut kehilangan.
Untuk kesekian kalinya.
Ia tidak ingin kembali merasakan kehilangan seseorang dari keluarganya.
Tangannya mengusap rambut Jeanne yang masih sedikit basah.
"Menangislah kalau itu membuatmu sedikit lebih lega," bisik Oma Hanna akhirnya.
Jeanne semakin erat memeluknya.
Di depan pintu UGD itu, mereka hanya bisa menunggu.
Menunggu seseorang keluar dan membawa kabar tentang James.
Kabar yang entah akan membuat mereka bernapas lega...
atau kembali menghancurkan hati mereka.