Alex masih terlihat kedinginan dalam selimut, Naura segera memasang selimut lain, kemudian memeluk suaminya, berharap panas ditubuhnya mereda, dan sedikit beralih padanya.
" kita ke rumah sakit ya, mas!"
Alex tak menjawab dan terus menggigil, Naura semakin cemas dan akhirnya menelepon Gilang.
" Bawa ke rumah sakit sekarang." jawab Gilang.
" Oke!kami kesana sekarang."
Segera Naura pun menyuruh supirnya untuk menyiapkan mobil, ia juga memapah Alex di bantu dengan pekerja lain, demamnya begitu tinggi.
Tak membutuhkan waktu lama, Alex pun tiba di rumah sakit dan langsung mendapatkan penanganan. Kebetulan Gilang sedang bertugas, jadi ia sendiri yang turun tangan memeriksa kondisi kakaknya.
" Gimana kakakmu?" tanya Naura cemas setelah beberapa saat Alex diperiksa.
" Kita tunggu hasil darahnya, tidak perlu cemas dia tidak akan apa-apa."
" Aku belum pernah melihat dia seperti ini."
" Dia memang jarang sakit, terakhir demam tinggi pun saat sekolah. kamu tak perlu khawatir."
Naura mengangguk. Hingga akhirnya Alex terpaksa harus menginap dan dirawat di rumah sakit karena demamnya tak kunjung turun, Naura menunggunya sendirian.
Ketika menjelang sore, demamnya sudah mulai turun dan Alex susah mau makan karena mulutnya pahit. Sebenarnya rasa sakit ini membuatnya tak nyaman, tapi ia mensyukuri karena Naura tak jauh dari dirinya.
" Habiskan makannya" ucap Naura
"Sudah dulu mulut ku pahit."
Tak berapa lama Gilang pun datang dan melihat kondisi Alex.
" Rumah sakit ini tidak memiliki dokter lain kah? kenapa harus dia?" ucap Alex Sementara Gilang tak menggubrisnya dan terus mengecek.
" Pantau terus demamnya, kalau kembali naik kabarin aku." ucap Gilang pada Naura.
Belum sempat Naura menjawab pintu kamar terdengar dibuka dan yang datang adalah Alya. Ia terlihat membawa beberapa berkas.
" Maaf Bu. saya lancang datang kesini, tapi ada beberapa berkas yang harus ditandatangani" ucap Alya mendekati Naura.
Naura mengambil berkas itu, tanpa pikir panjang langsung menandatanganinya semua dan kembali memberikan pada Alya, lalu Alya pun beranjak pada Alex dan memberikan lebaran kertas itu.
Alya sengaja ke rumah sakit pengen melihat keadaan Alex, Ada rasa khawatir dan sedih di diri Alya, karena orang yang dia cintai dalam keadaan sakit tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
" Pak Alex cepat sembuh." ucap Alya sambil menunduk dengan suara bergetar. Naura tahu pasti Alya sedang menangis.
" Terima kasih Ay!" jawab Alex.
Alya sekuat tenaga menahan air matanya, Gilang pun memperhatikan situasi ini dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan. Hingga akhirnya dia pun keluar dan Alya pun tak lama menyusul.
Beberapa saat kemudian Naura tersadar ada berkas yang tertinggal, hingga akhirnya ia menyusul mengejar Alya, tapi ditengah perjalanan, Naura melihat Alya dan Gilang sedang berbicara, Naura pun melambatkan jalannya sambil mendengar obrolan mereka.
Alya yang mengetahui Naura mengikutinya timbul ide dipikirannya.
" Sudah bertahun-tahun, Gilang! kamu masih membenciku?" ucap Alya pada Gilang.
" Aku tak membencimu, aku hanya tidak ingin mengenalmu lagi."
" masa lalu tidak bisa di ulang lagi tolong jangan seperti ini."
Gilang menatap Alya dengan pandangan lain. " Apa dalam benakmu yang pernah terjadi dimasa lalu adalah karena aku mencintaimu?" Gilang nampak datar melihat ke arah Alya. " kamu terlalu percaya diri!" ucap Gilang kembali dan kemudian berlalu pergi. Alya masih tetap diam di sana melihat punggung Gilang.
Sementara Naura termangu, dalam benaknya misteri apa lagi ini, Naura berfikir Alex dan Gilang perang dingin seperti sekarang ini apa karena mereka berdua mencintai Alya, mungkin wanita yang selama ini membuat Gilang sulit untuk move on adalah Alya.
" Berkas mu tertinggal" panggil Naura dan Alya pun membalikkan badan.
" Oh.. ya.. maaf! saya teledor." jawab Alya seraya mengambil berkas itu.
" Aku tau Alya , kedatanganmu kesini untuk memastikan kondisi Alex kan?"
Alya hanya menatap Naura sambil menahan genangan air matanya kemudian pergi begitu saja.
Sementara Alex yang sendirian di kamar pasien mengambil ponselnya di atas nakas dan melihat beberapa pesan dari rekan-rekan kerja dan juga Alya yang mengirimkan lebih dari satu pesan yang belum sempat dibuka.
[ mas.. kamu baik-baik saja? feeling ku tak enak]
[ Balas ya sekali saja]
[ kamu masuk rumah sakit? jangan membuatku khawatir, tolong balas!]
[ aku ke rumah sakit, ya!]
Rentetan pesan dari Alya mengisi w******p nya tapi Alex tak menggubrisnya dan ia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, hingga tak berapa lama pintu terdengar terbuka dan Naura masuk.
" mau makan buah?" tanya Naura
" boleh" jawab Alex seraya mengangguk.
Naura pun mengupas mangga dan memberikan pada Alex.
" Kalau boleh tau. kenapa kamu dan Gilang terlibat perang dingin?"
Alex tersenyum kecil. " Itu urusan laki-laki."
Naura berdecit " ternyata kakak beradik ini sama saja."
***
.
.
" kamu kenapa? ada sesuatu yang menggangu pikiran?" tanya Gilang ketika kakak iparnya itu selesai mengurus administrasi.
" Sepertinya aku hanya lelah saja, akhir-akhir ini banyak pekerjaan yang terpaksa dilakukan disini, dan aku lega, akhirnya mas Alex bisa pulang"
" aku akan memberikan kamu vitamin, tetap jaga kesehatan." ucap Gilang.
" Tak perlu, biar nanti aku beli sendiri."
" Jangan ngeyel."
keduanya berjalan menyusuri koridor rumah sakit, Gilang menggiring langkah Naura untuk melihat kondisi Alex.
" Jadi wanita spesial yang pernah kamu cintai itu adalah Alya?"
Gilang menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Naura." sejak kapan kakak ipar ku ini pandai bergosip!"
Naura mendelik. " Aku kepo berat sama kalian. jangan-jangan hubungan kamu dan Alex renggang itu karena Alya?"
" Jangan berasumsi, jangan ngawur dan jangan mengambil kesimpulan sendiri! jawab Gilang melanjutkan lagi langkahnya, di ikuti Naura setelah itu.
Sesampai mereka di kamar Alex, mereka berdua sama-sama diam, Alex melihatnya pun heran.
" Aku sudah boleh pulang?" tanya Alex memecah keheningan.
Naura mengangguk
" Obat, makan, jangan telat!" ucap Gilang tanpa melihat ke arah Alex, sementara kakaknya itu sedikit pun tidak menggubris nya.
Beberapa saat setelahnya, Alex dan Naura pun keluar dari rumah sakit, mereka di jemput oleh salah satu supir, wajah Alex masih terlihat sangat pucat, ia masih lemas.
Alex merasa sakit yang dialaminya ini adalah pertanda semesta, agar ia bisa lebih dekat dengan Naura, karena sejak awal sakit istrinya itu tak pernah jauh dari sisinya, hanya saja hati Naura tak sehangat dulu.
" Setelah aku sehat, mari kita liburan! ajak Alex.
" Liburan kemana? pekerjaan di kantor menumpuk."
"Weekend saja, jadi tidak menggangu urusan kantor."
" Di rumah saja! kamu juga baru keluar dari rumah sakit."
" Tolonglah! Aku belum tentu mendapatkan kesempatan setelah dua bulan nanti." Alex merajuk.
Naura menghela nafas panjang ia melihat ke arah Alex." Kamu selalu berbicara tentang ketakutan setelah dua bulan nanti, setidaknya itu membuat ku sadar satu hal, bila kamu tak akan pernah benar-benar memperjuangkan."
Alex sejenak diam, ia menatap ke arah Naura." Mengapa kamu selalu meragukan ku?"
"Tidak! sekali pun aku tidak pernah meragukan mu, kebersamaan kita kemarin adalah proses dimana aku begitu percaya pada mu, tapi semuanya sudah usai.
" Aku memang bersalah dengan terlambat menyadari kalau perasaanku padamu sangat penting, itu mengapa aku memintamu, sekali lagi untuk berjuang."
Naura membuang wajah, kembali menatap ke arah luar jendela, melihat jalanan yang riuh. Hidup terasa begitu rumit, terjebak pada kisah cinta yang membingungkan, memikirkan sahabat, suaminya, dan perasaan dia sendiri.