Setelah istirahat makan Naura kembali keruangan, Alex hanya memperhatikan kedatangan istrinya.
" Kamu cantik sekali, Naura!"
"Sudah dari dulu!" jawab Naura sambil menarik kursi dan kemudian duduk.
Alex tersenyum. saat ini memandangi Naura lebih lama adalah pekerjaan baru Alex yang menyenangkan.
" pulang kerja mau makan malam?"
"Hari ini aku sudah ada rencana pergi ke toko buku."
" Mau ku antar?"
Naura menggeleng kepalanya, " Pergi denganmu ketempat seperti itu selalu berakhir tak menyenangkan.
" Baiklah aku akan menunggumu di rumah dan memasak untuk makan malam kita."
" Aku tak menjamin akan pulang cepat, jawab Naura kembali.
" Aku akan menunggu mu!"
Naura tak menjawab lagi dan kembali fokus pada pekerjaannya. Hatinya sudah dingin dan beku, perasaan di masa lalu sudah tak dirasakan lagi. Mungkinkah cinta itu sudah padam.
****
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, Naura keluar dari kantor menuju toko buku, sesampainya di toko buku memilih membaca dekat jendela, memandang Kota dengan lampu temaram begitu indah ketika malam menjelang.
" Kamu disini?"
Naura kaget melihat adik iparnya ada dihadapannya." Hey, kamu! mencari buku apa disini?"
" Aku sedang mencari novel dan buku kesehatan, kalau kamu?"
" Kalau aku ya seperti biasa , mencari novel untuk hiburan."
" Novel yang tempo hari ku berikan sudah di baca?"
" Sudah! ku lahap hanya dalam satu malam dan sangat seru.
Gilang mengangguk, kemudian mereka kembali mencari buku, Setelah itu mereka pergi ke kedai kopi.
" Kakakmu semakin aneh!" Naura membuka bicara.
" Kenapa memang?"
Naura pun menceritakan tentang pesan tadi pagi yang Alex berikan.
" Aneh kan?"
" Dia sedang berusaha menunjukkan perasaannya kepadamu, sepatutnya kamu memberi apresiasi." jawab Gilang sedikit tertawa.
" Masalahnya sikap dia begitu tidak membuat ku terpesona, justru aku merasa sangat heran. sepertinya kamu harus mulai meresepkan obat untuk kakakmu itu."
Gilang kembali tertawa kecil, kemudian menyeruput kopi dengan perlahan, karena masih panas.
" Btw, aku boleh nanya sedikit pribadi?" tanya Naura.
" silahkan."
" Kenapa sampai sekarang kamu belum menikah? bahkan menggandeng cewek juga tidak pernah."
" Aku menundanya atau sama sekali tidak akan menikah."
" Kamu belum siap?"
" Lebih tepatnya aku belum mendapatkan yang bisa diajak bergandengan."
" Kamu terlalu jual mahal, gak mungkin kalau tidak ada yang mendekat, secara fisik kamu oke, karir Bagus, apa lagi? jangan bilang terlalu tinggi mencari keriteria."
" Berpasangan bukan tentang yang sempurna tapi bisa saling menghargai dan menghormati."
" Ya.. ya . aku selalu kalah beropini denganmu. Aku sempat berpikir kamu menyimpang loh, maaf !" lanjut Naura.
" Aku pernah mencintai wanita, dan dia mencintai orang lain, maka aku hanya mengikhlaskannya."
" Sepertinya wanita itu sangat spesial, sehingga membuatmu susah move on.
" Sangat spesial, saking spesialnya sulit digantikan." jawab Gilang.
" Seandainya aku bisa dicintai seseorang dengan seperti itu, tapi apalah aku ini."
" Mungkin kamu hanya perlu membuka mata lebih besar lagi, Sehingga bisa melihat lebih luas."
Naura melihat jam dinding menunjukkan pukul delapan malam.
" Aku harus pulang, ucap Naura seraya beranjak, kali ini aku yang traktir mengganti yang tempo hari kamu traktir aku."
" Oke! lagi pula terlalu banyak mentraktir mu membuat dompetku tipis."
" Iya.. iya, perhitungan banget sih!" jawab Naura.
Mereka pun keluar dari kedai kopi, menuju parkiran, Naura mengecek Hp nya ternyata habis baterai.
" Hati-hati dijalan!" ucap Naura kembali
" Kamu juga!"
Gilang memperhatikan Naura sampai wanita itu hilang dari pandangannya.
Naura tak langsung pulang ke rumah, ia pergi ke apartemennya untuk mengambil beberapa barang miliknya, kemudian setelahnya ia asyik membaca buku hingga tidak terasa waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Ia hendak tidur, tapi seketika teringat Alex. ia hendak menyalahkan Hp yang sejak tadi di charge, puluhan panggilan tak terjawab, dan Alex juga mengirimkan foto makanan yang sudah ia buat.
Naura bergegas keluar dari apartemennya dan pulang ke rumah yang jaraknya tidak jauh.
Sesampainya Naura mendapati Alex ketiduran diatas meja makan. Dengan perlahan Naura membangunkan suaminya.
" mas... panggil Naura, hingga dua kali tak terdengar sahutan, lalu pada panggilan ketiga, Alex pun mengerjap.
" Kamu sudah datang? sepertinya masakannya sudah dingin, biar aku hangatkan lagi.
" Biar aku saja yang hangatkan, jawab Naura.
Naura pun menghangatkan satu per satu makanan, kenapa dunia seperti sedang terbalik. Dulu ia sering kali menunggu Alex pulang sampai ketiduran.
" Gimana makanannya? enak?" tanya Alex. sedikit pun tak terlihat gurat marah atau kesal pada dirinya.
Naura hanya mengangguk. " Apa ini salah satu usahamu untuk menunjukkan cinta? tanya Naura menatap suaminya.
Alex menghentikan makanan, ia pun membalas tatapan istrinya , lalu mengangguk.
Setelah selesai makan. Alex pamit lebih dulu ke kamar, ia terhuyung langkahnya limbung, sehingga terjatuh.
Naura terkejut, ia mendekat dan mencoba membawa Alex untuk berdiri, tapi tubuh suaminya itu sangat panas, dan ia mulai menggigil.
" Kamu sakit mas?" Alex tak menjawab dan terus menggigil. Dibantu salah satu asistennya Naura pun membawa Alex ke kamar, ia mematikan AC terus menyelimuti Alex. Semalam Naura menjaga dan mengompres Alex.
Alex mengerjap kan mata." jam berapa ini? aku harus ke kantor." ucap Alex.
" Tak perlu ke kantor, istirahat aja di rumah ."
" Banyak pekerjaan "
" Memangnya pekerjaanmu tidak bisa di kerjakan orang lain, mas?"
Alex diam, dalam lubuk hatinya begitu senang mendapat perhatian dari Naura, sejenak berfikir untuk sakit lebih lama, agar istrinya itu tidak beranjak.
" Aku buatkan sarapan dulu, kalau siang ini belum membaik kita pergi ke dokter.
" Tidak.. aku tidak mau ke dokter!"
" kenapa?"
"Dirawat kamu saja aku akan sembuh."
"Jangan aneh-aneh," jawab Naura kemudian pergi ke dapur sekedar membuatkan bubur.
Naura heran bubur yang dibuatnya dari tadi tidak berbentuk halus, melainkan hanya seperti nasi menggumpal.
" Bibi bantu aku disini, lihat buburnya kok sejak tadi gak jadi-jadi, aku kasih airnya banyak kok, ucap Naura terlihat putus asa.
" Sini biar bibi yang buat, Bu!"
" Gak usah, Bi, biar saya makan buatan istri saya saja." ucap Alex yang sudah berdiri di ujung pintu dengan wajah pucat.
" Jangan aneh-aneh lah mas."
"Aku serius, aku ingin makan masakan kamu." Alex mendekat dan duduk di kursi meja makan. " Bi tolong ambilkan bubur itu," ucap Alex kepada Bi Ida.
Perlahan Alex menyendok kan ke dalam mulutnya. " Enak"... ucapnya.
Naura tidak percaya, kemudian ia mengambil sendok dan menyicipi bubur yang di mangkuk Alex. " Apaan yang enak? sudah tidak usah dimakan, biar Bi Ida bikin yang baru, yang lebih layak."
Alex menarik mangkuknya. " Tidak, aku hanya ingin makan buatan mu, selama dua bulan ini."
" Gak usah lebay, mas!"
" bukan lebay, aku hanya tak ingin kehilangan kesempatan untuk menikmati segala hal tentang kamu. Karena setelah dua bulan ke depan aku belum tentu bisa merasakan ini."
Naura diam, ucapan Alex membuatnya merasakan sedihnya perpisahan, namun keputusannya tak dapat di ganggu gugat.
" Barusan ada yang mengantar ini, Bu."
Naura menerimanya dan melihat isi dalam plastik itu. " oh iya, makasih, Bi.
Bibi hanya mengangguk, kemudian kembali berlalu.
" Apa itu tanya Alex.
" Obat yang dikirim Gilang"
" Kamu menghubunginya?"
" ya, katanya kamu memiliki sakit lambung sejak dulu. Alex hanya mengangguk, lalu ia ke atas dengan sedikit terhuyung. Naura pun menyiapkan obatnya dan memberikan pada Alex.
" kamu tidur dulu, ya. Aku harus ke kantor, banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan."
" sehari saja libur untukku."
" Tidak bisa, bagaimana kalau kita berdua tidak masuk." Naura pun beranjak dari kamar dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
" Aku pergi dulu ya mas!"
Alex hanya mengangguk
" Kabarin aku kalau ada apa-apa.
Naura pun berlalu, ia merasa dirinya begitu kejam, meninggalkan Alex dalam situasi seperti ini, tapi ia tak punya pilihan saat ini.
jalanan sedikit lengang, mungkin karena jam masuk kantor sudah berlalu. Naura baru setengah perjalanan ketika sebuah panggilan masuk dari rumah.
"Hallo ,Bu."
" Iya ada apa, Bi?
" Pak Alex menggigil lagi, Bu. badannya panas"
" Oke, Bi,,aku pulang sekarang. " Tanpa banyak berpikir ia segera memutar arah dan kembali pulang ke rumah, tak peduli dengan pekerjaan kantor yang menumpuk, rasa kwartir kini jauh lebih besar.