Berdua Bersama Marvel

1078 Words
Setelah kemarin menemani kekasihnya berbelanja, Marvel tak pulang ke mansion Giorgio ataupun ke apartemennya. Ia bermain seharian di tempat tinggal sang kekasih dan bermalam di sana juga. "Sekarang?" tanya Marvel menanyakan waktu pada Deavenny. Ia masih berbicara dengan sepupunya melalui telepon. "Iya, sebelum kembaranku tahu kalau aku kehilangan dompet. Kau tahu sendiri bagaimana ketiga saudaraku ditambah Daddyku kalau sampai tahu aksiku saat itu," jawab Deavenny. Marvel belum membalas ucapan Deavenny. Ia melirik ke kekasihnya yang masih memejamkan mata. Tentu saja di dalam pelukannya. "Kau mau, kan?" Deavenny menanyakan lagi kesediaan Marvel membantunya. "Hm. Bersiaplah, satu jam lagi aku akan menjemputmu." Marvel pun menyetujui permintaan Deavenny. Hampir tak pernah dirinya menolak sepupunya, sekalipun permintaannya aneh-aneh. "Yes ...." Deavenny sangat senang. Bahkan ia berjingkrak di atas kasurnya. "Jemput aku di mansion Danesh, aku ada di sini," imbuhnya memberitahu keberadaannya. "Iya." Marvel hanya menjawab singkat. Namun bibirnya tersenyum. Ia sedang membayangkan ekspresi senang sepupunya itu. Hanya hal kecil yang ia lakukan pun bisa membuat Deavenny sangat bahagia. Panggilan telepon itu pun diakhiri oleh Deavenny. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap pergi bersama sang pujaan hati. Sementara itu, Marvel yang masih berada di atas ranjang dengan posisi memeluk kekasihnya di bawah selimut yang sama pun mencium puncak kepala sang wanita. "Aku pergi dulu, Deavenny membutuhkan bantuanku," izinnya. Ia tak peduli kekasihnya mendengar atau tidak, karena wanitanya masih asik memejamkan mata. Marvel bangun dari ranjang. Tubuh jangkung yang dilengkapi dengan otot-otot perut berjumlah enam itu terlihat jelas. Ia masih menggunakan celana boxer berwarna biru tua. Ia memakai pakainnya yang kemarin dan segera pulang ke apartemennya untuk bersiap menjemput sepupunya. . Marvel memilih menggunakan celana jeans, kaos hitam, dan jaket kulit. Ia memakai sepatu cat berwarna hitam juga. Tak lupa kacamata yang gelap sudah bertengger di wajahnya. Dua kaki panjang itu mulai melangkah mendekati kendaraan yang ingin ia pakai. Waktunya tersisa sepuluh menit dari satu jam yang ia janjikan pada Deavenny. Ia pun memilih untuk menggunakan motor sportnya, karena tak ingin membuat sepupunya menunggu lama. Marvel mengendarai kendaraan roda dua itu dengan kecepatan seratus sepuluh kilometer per jam. Ia menyalip setiap kendaraan yang menghalangi perjalanannya. Sambutan hangat dari penjaga mansion Danesh mulai menyapa Marvel saat ia sampai di tempat tujuan. Ia memasuki halaman luas yang dihiasi berbagai bunga dan memarkirkan motornya di depan pintu. Sudah ada Deavenny yang duduk menunggu Marvel di teras hunian itu. Ia berdiri dan tersenyum senang melihat pujaan hatinya. "Sekarang aku memakai pakaian yang lebih tertutup. Dan kita sama, seperti couple," tuturnya mendekati Marvel. Kebetulan yang tak terduga, style keduanya persis. Marvel tersenyum, matanya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya, pas sekali waktunya sampai di mansion Danesh, satu jam seperti yang dijanjikannya pada Deavenny. "Kau sudah menungguku dari tadi?" tanyanya lembut. Ia melepaskan helm yang melindungi kepalanya. Deavenny menggelengkan kepalanya. "Tidak, baru dua menit aku duduk di sana. Kita berangkat sekarang?" Marvel mengelus rambut Deavenny. "Daddymu di dalam?" Ia tak menjawab pertanyaan sepupunya, justru menanyakan hal lain. "Iya." "Aku ke dalam sebentar," ucap Marvel. Ia pun masuk ke dalam mansion, diikuti Deavenny yang mengekor di belakangnya. Marvel ingin berpamitan dengan pamannya jika ingin keluar bersama Deavenny. Ia juga berjanji akan menjaga sepupunya itu selama pergi berdua tanpa bodyguard karena Deavenny merengek tak ingin diganggu oleh dua cecunguknya. "Pakai helm dulu untuk melindungi kepalamu." Marvel memakaikan benda yang tak bulat sempurna itu ke kepala Deavenny dan mengaitkan kunciannya. Tangan Deavenny melingkar di tubuh Marvel setelah naik ke atas motor. Namun, Marvel tak kunjung meraih pegangan kendaraan roda dua itu. "Kenapa diam? Aku sudah siap," ucap Deavenny bingung. "Lepas dulu tanganmu. Aku tak nyaman berkendara jika seperti itu posisinya," tegur Marvel lembut. Deavenny mengerucutkan bibirnya. "Kau tak suka aku peluk?" Ia pun terpaksa mengurai tangannya dan beralih melipat kedua tangannya di d**a dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Marvel melihat ekspresi Deavenny dari kaca spionnya. Ia menengok ke belakang. Tangannya menghapus air mata Deavenny yang sudah menetes. "Jangan menangis, aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya tak nyaman jika kau memeluk di luar jaketku," tuturnya meluruskan pemikiran Deavenny. Marvel pun menurunkan ritsleting jaketnya. "Peluklah lagi, maksudku memintamu melepaskan tadi karena aku ingin kau memelukku di kaosku, bukan di jaketku," perintahnya seraya menyibakkan jaketnya ke atas. Kesedihan Deavenny langsung menghilang, ia kembali melingkarkan tangannya sesuai perintah Marvel. Marvel tak suka jika berkendara di peluk pada jaketnya, karena membuat dirinya tak leluasa. Kendaraan roda dua itu mulai melaju. Keduanya menikmati perjalanan menuju setiap tempat yang kemarin lusa didatangi oleh Deavenny. "Oh nikmatnya hidup, jika bisa terus bermesraan dengan suami masa depanku," cicit Deavenny saat di jalan. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di pundak Marvel. Mereka pun sampai juga di tempat pertama, stasiun pemberhentian kereta. Tempat terakhir kali Deavenny mengeluarkan dompet. "Marvel ...," rengek Deavenny saat Marvel jalan mendahuluinya. Pria itu terlalu antusias untuk membantu mencari dompet sepupunya. "Tunggu aku," pintanya manja. Pria jangkung itu pun menurunkan ritme jalannya agar sejajar dengan Deavenny. "Kau duduk saja. Biar aku yang bertanya," perintah Marvel. Ia menunjuk kursi kosong agar Deavenny bersantai di sana. Tentu saja hal itu dituruti oleh Deavenny. Marvel pun bertanya pada sekuriti. "Apakah kemarin lusa ada ditemukan dompet hilang? Dengan identitas Deavenny Doris Dominique?" "Ya, Tuan. Benda itu berada di pusat informasi. Besok baru akan kami kirimkan ke alamat yang tertera di identitas pemiliknya," jawab sekuriti itu. Ia ingat betul karena memang dirinya menemukan dompet itu di pintu keluar stasiun dan masih mengingat nama pemiliknya. "Itu milik sepupuku." Marvel menunjuk Deavenny yang duduk dan tengah tersenyum ke arahnya. "Mari aku antarkan." Sekuriti itu mengajak Marvel ke pusat informasi. Marvel mengucapkan terima kasih sudah dibantu menyimpan benda berharga milik sepupunya. Ia juga memberikan tip seratus euro, karena di dompetnya hanya ada uang lembaran itu. "Yang kau cari." Marvel memberikannya pada Deavenny. "Lain kali harus lebih hati-hati. Untung langsung ketemu," omelnya. Wanita itu tersenyum dan mengangguk menanggapi omelan sepupunya. "Thanks, My Hero." Deavenny meraih dompetnya, lalu dimasukkan ke dalam tas mungilnya tanpa mengecek isinya terlebih dahulu. Ia berdiri dan berjinjit untuk mengecup pipi Marvel sebagai tanda senangnya. Memang banyak nama panggilan Deavenny pada Marvel. Hingga Marvel sendiri bingung dengan sepupunya yang setiap hari bisa memanggilnya berbeda terus. "Kau mau pulang atau ingin jalan-jalan? Selagi kita di luar," tawar Marvel. Keduanya kini berada di tempat mereka meninggalkan motor. "Boleh main? Aku ingin sekali makan ice cream di festival kuliner yang ada di Kansalaistorin Puiston," balas Deavenny antusias saat menyebutkan nama tempatnya. "Oke," setuju Marvel. Sungguh, pria itu tak pernah bisa menolak Deavenny. Entah mengapa ia selalu ingin menuruti keinginan sepupunya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD