bc

Mine

book_age18+
4.4K
FOLLOW
35.2K
READ
billionaire
love-triangle
CEO
drama
comedy
sweet
first love
reckless
passionate
stubborn
like
intro-logo
Blurb

TAMAT

Deavenny jatuh cinta dengan sepupunya yang bernama Marvel. Pria itu memperlakukan Deavenny sangat baik, perhatian, dan memprioritaskan dirinya melebihi apapun. Ia merasa aman dan nyaman di dekat Marvel, hingga ia berkeinginan untuk menikah dengan sepupunya, menjadikan Marvel miliknya selamanya.

Namun, karena suatu alasan yang tak bisa dikatakan oleh keluarga besar Deavenny, perasaan itu ditentang oleh keluarga. Ia tak mendapatkan restu. Tetapi, Deavenny bukan orang yang mudah menyerah, ia tetap mempertahankan perasaannya.

Hingga keluarga besar Dominique memutuskan untuk memberikan Deavenny persyaratan yang sulit untuk dicapai. Deavenny diberikan tugas untuk mengelola perusahaan baru keluarga Dominique. Jika Deavenny berhasil membuat perusahaan itu maju, maka perasaan Deavenny pada Marvel tak akan ditentang lagi.

Deavenny menyetujui persyaratan tersebut. Ia berusaha keras untuk mencapainya dengan melawan segala keterbatasan yang ia miliki.

Akan tetapi, saat Deavenny kurang sedikit lagi mencapai tujuannya, ia harus ditampar oleh sebuah kenyataan pahit. Marvel, pria yang ia cintai akan melangsungkan pertunangan dengan seorang wanita.

Akankah perjuangan Deavenny berujung sia-sia? Atau sebaliknya?

chap-preview
Free preview
911 nya Deavenny
Sorot mata beberapa pengunjung restoran cepat saji itu mengarah ke kasir. Mereka melihat dua orang tengah berdebat, tapi tak terdengar hingga ke telinga. Hanya raut wajah kedua orang itu yang menggambarkan jika penjaga kasir dan seorang wanita berambut pirang sedang tak baik-baik saja. Mencampuri urusan orang lain tidaklah baik, sehingga mereka kembali memfokuskan diri ke makanan yang akan disantap, selagi perseteruan itu tidak membahayakan nyawa orang lain. "Nona, Anda harus membayar makanan yang sudah dipesan," tegur sang penjaga kasir. Pelanggan yang ada di hadapannya itu sedari tadi tak mengeluarkan uang, kartu debit, kartu kredit, ataupun alat pembayaran lainnya. "Maaf, bisa dikembalikan saja makanannya? Dompet dan ponselku tidak ada," balas wanita berambut pirang itu. Tangannya sudah menelusup dan menyusuri seluruh isi dalam tasnya, mencari keberadaan barang berharga miliknya. Namun, nihil, tak ia temukan di sana. "Tidak bisa, Nona. Makanan yang sudah dipesan, tidak dapat dikembalikan," sahut penjaga kasir itu. Ia masih mencoba membalas dengan nada bicara yang ramah, meskipun dalam hatinya tengah menahan amarah akibat kelakuan satu pelanggannya. "Tapi, aku kan belum memakan sedikit pun." Wanita itu masih mencoba membela dirinya dengan nada bicaranya yang mengiba. "Maaf, Nona. Prosedurnya memang seperti itu. Terpaksa kami harus menahan Anda hingga ada seseorang yang menjamin akan membayar makanan yang dipesan," tutur penjaga kasir tersebut. Ia memanggil satpam yang menjaga restoran tempatnya bekerja. Wanita tersebut dengan polosnya pasrah saat tangannya ditarik oleh pria berseragam. Ia dibawa ke tempat penjaga keamanan dan hendak dilakukan interogasi. "Silahkan duduk." Petugas keamanan memberikan instruksi bernada tegas dengan menunjuk sebuah kursi yang ada di depan meja tempat biasa dirinya bekerja memantau keamanan restoran cepat saji tersebut. Tubuh semampai itu perlahan mulai menyatu dengan kursi, duduk dengan wajah yang tak terlihat bersalah ataupun ketakutan. Berhadapan dengan pria berwajah garang sudah biasa baginya, karena bodyguardnya juga berwajah seperti itu. Bahkan lebih menyeramkan dibandingkan petugas keamanan yang sedang bersama dengannya. "Nama." Petugas keamanan itu mulai melakukan interogasinya. Wanita tersebut membuka kacamata hitam yang sedari tadi menutupi indera penglihatannya. "Deavenny Doris Dominique," jawabnya. Ya, itulah namanya. Ia berusia dua puluh enam tahun dengan paras wajah yang cantik. Ia juga salah satu anak pengusaha sukses di Eropa. "Putri Tuan Dominique?" Petugas keamanan tersebut terkejut saat wajah Deavenny sudah tak tertutup kacamata lagi. Ia tahu betul siapa keluarga Dominique, karena sering muncul diberbagai koran, majalah, dan televisi tentang keluarga dengan bisnis yang besar itu. Deavenny mengulas senyumannya, ia menganggukkan kepalanya. "Iya, tapi diam-diam saja." Telunjuknya ia tempelkan ke depan bibirnya, memberikan isyarat agar tak mengatakan pada siapapun tentang kejadian yang memalukan di restoran cepat saji itu. "Bagaimana bisa Anda tak membayar makanan? Sedangkan uang keluargamu saja tak akan habis hingga sepuluh turunan." Deavenny meletakkan siku tangannya ke atas meja. Ia menopang dagu dengan kedua telapak tangannya. "Aku sedang kabur, tak membawa ponsel, dan sekarang aku kehilangan dompetku," keluhnya. Ia menggerakkan tangannya untuk meraih tasnya. "Lihat, tak ada, kan?" Deavenny mengeluarkan seluruh isi dalam tasnya, ingin menunjukkan bahwa dirinya tak berbohong.  "Apa kau tak bisa membantuku? Aku belum melahap makanan yang dipesan, bahkan memegangnya pun belum. Tapi aku tetap harus membayarnya." Deavenny mencoba menawar pada petugas keamanan itu untuk diberikan keringanan. Tak lupa ia juga memasang wajah yang terlihat bersedih, berharap akan dilepaskan secara cuma-cuma. "Maaf, Nona. Tapi memang seperti itu ketentuan di sini, kami juga bekerja menjalankan seluruh prosedur dari restoran. Jika kami tak menjalankannya, maka mata pencaharian kami sebagai taruhannya." "Jadi, tak bisa ditawar lagi, ya? Apa aku harus dihukum? Semacam dipenjara karena tak membayar makananku? Atau yang lainnya?" tanya Deavenny seraya tangannya memasukkan seluruh barang-barangnya ke dalam tas lagi. Petugas keamanan itu bergeleng kepala. "Nona, Anda adalah salah satu putri pebisnis sukses di Eropa, seharusnya tahu tentang hal-hal yang mendasar seperti itu." Deavenny menyengir kuda, menampakkan gigi putihnya. "Apa aku terlihat sangat bodoh?" Petugas itu menganggukkan kepalanya membenarkan. Acungan jempol Deavenny berikan kepada pria di hadapannya. "Kau memang jujur. Tapi aku akui, bahwa diriku tak sepintar ketiga saudara kembarku." Ia mengungkapnya dengan ekspresi wajahnya yang selalu ceria, karena bagi dirinya, itu bukanlah sebuah aib keluarga yang harus ditutupi. Sebab, ada alasan tersendiri mengapa ia bisa tak sepandai yang lainnya. "Lalu, aku harus bagaimana?" tanyanya kemudian meminta saran. "Bagaimana jika Nona menghubungi kerabat?" "Tapi aku tak membawa ponsel." Pria yang berprofesi sebagai penjaga keamanan itu menyodorkan telepon nirkabel ke hadapan Deavenny. "Anda bisa menggunakan ini." Tangan Deavenny meraih benda itu. "Aku hanya mengingat nomor sepupuku, apakah tak masalah?" tanyanya sebelum memencet tombol. "Boleh, Nona." Jemari lentik itu mulai menekan tombol, ia mengarahkan gagang telepon yang berada di genggamannya ke telinga. Menunggu sepupunya mengangkat panggilan darinya. Sementara itu, di dalam gedung pencakar langit milik Triple G Corp tengah berlangsung rapat rutin pemilik perusahaan dengan karyawan. Rapat yang bertujuan untuk meninjau perkembangan perusahaan selama satu bulan kerja, suasananya berlangsung serius. Hingga sebuah ponsel berdering, membuat seorang karyawan yang tengah memaparkan kinerja divisi itu menghentikan ucapannya. "Maaf, aku lupa memasang mode getar," ucap Marvel, pemegang kewenangan tertinggi di Triple G Corp. Ia merasa tak enak dengan karyawannya, karena memberikan contoh yang tidak baik. "Tolong kau urus." Ia memberikan ponselnya kepada sekretarisnya untuk mengangkat panggilan dari nomor yang tak tersimpan di gawainya. "Baik, Tuan." Amartha, sekretaris Marvel itu meraih benda berlogo buah apel dengan sedikit tergigit. Ia bangkit dari duduknya dan berpamitan keluar untuk mengangkat panggilan tersebut. "Kita lanjutkan pemaparannya, maaf atas gangguan kecil barusan," titah Marvel. Dan rapat kembali berlangsung. Ia mendengarkan serta memperhatikan semua yang disampaikan oleh karyawannya. Bahkan, ia tak menoleh sedikit pun saat telinganya menangkap suara pintu terbuka dan ada hentakan heels menggema di ruang rapatnya. Tentunya, suara dari sang sekretaris. Amartha kembali duduk di kursi yang berada di dekat Marvel setelah selesai menerima panggilan telepon milik tuannya. Ia meletakkan ponsel milik atasannya tepat di depan Marvel. "Siapa yang menelepon?" tanya Marvel lirih. Matanya tetap tertuju pada karyawannya yang sedang melangsungkan presentasi. "Nona Deavenny, Tuan," tutur Amartha sangat pelan. Mendengar nama sepupunya disebutkan, Marvel mengalihkan pandangannya menjadi menatap sang sekretaris. "Kenapa dia menelpon menggunakan nomor tak dikenal?" selidiknya. "Nona Deavenny meminta bantuan untuk menjemput di restoran cepat saji yang ada di pusat Kota Helsinki. Ia saat ini tengah ditahan oleh penjaga keamanan karena tak membayar makanan di sana," jelas Amartha menyampaikan seluruh pesan yang diucapkan Deavenny. Pulpen di genggaman tangan Marvel diletakkan secara kasar hingga menimbulkan bunyi dan berhasil menghentikan pemaparan karyawannya lagi. "Bagaimana bisa?" tanyanya menyelidik.  Ada rasa khawatir yang menyeruak di dalam dadanya. Pikiran Marvel sudah mulai bercabang. Pasalnya, ia tahu betul jika Deavenny selalu diberikan pengamanan ke mana pun perginya. Jika sampai sepupunya itu tertahan oleh petugas keamanan, berarti ada sesuatu yang tidak beres. "Kurang tahu, Tuan. Nona Deavenny tidak menjelaskan kronologi secara detail. Ia hanya mengatakan sesuai penjelasanku tadi." Marvel melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah sore, kita akhiri rapat hari ini. Kalian boleh pulang," titahnya. Ia bangkit dari duduknya dan menatap Amartha. "Kau, ikut denganku, tunjukkan di mana lokasinya." Tubuh pria berusia dua puluh lima tahun dengan tinggi seratus sembilan puluh tiga centimeter itu mulai mengayun keluar ruangan rapat. Dia adalah Marvel Gabriel Giorgio, sepupu Deavenny. Sekaligus orang yang dicintai oleh wanita dengan kadar kecerdasan dibawah rata-rata itu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook