Mobil Tesla berwarna abu-abu mengkilap dengan dilengkapi fitur autopilot keluaran perusahaan swasta yang berkantor pusat di Palo Alto, California, Amerika Serikat itu melesat menyusuri jalanan ibu kota negara Finlandia. Marvel mengemudikan kendaraan roda empat itu sendiri tanpa bantuan seorang supir. Ia ditemani oleh sekretarisnya yang duduk di kursi samping kemudi.
"Di mana Deavenny memberitahukan tempatnya berada?" tanya Marvel tanpa menatap orang yang ia ajak bicara. Matanya terus fokus ke jalan beraspal.
"Itu, Tuan. Restoran cepat saji yang ada di Helsinki Forum Street Level," tutur Amartha memberitahukan tempat yang tadi dikatakan oleh Deavenny melalui telepon. Tangannya menunjuk lokasi yang dimaksud karena sudah dekat dengan bangunan yang dituju.
"Jangan panggil Tuan, kita sudah diluar jam kerja," tegur Marvel mengingatkan sekretarisnya yang selalu lupa akan perjanjian keduanya jika diluar pekerjaan, maka tidak ada atasan dan bawahan lagi.
"Iya, maaf, Marvel." Amartha meralat panggilannya dengan sang atasan di kantornya. Ia mengulas senyum yang diperlihatkan pada Marvel.
"Bagus," balas Marvel, sekilas kepalanya menengok ke Amartha membalas senyuman wanita cerdas dan mandiri itu. Lalu kembali fokus ke jalan dengan wajah datar penuh wibawanya.
Pedal rem mulai diinjak oleh Marvel saat mobilnya sampai di tempat Deavenny berada. Tangannya segera membuka seatbelt. Ia tak sabar hendak turun, takut sepupunya merepotkan dan membuat karyawan di restoran cepat saji itu pusing akibat tingkah Deavenny yang terkadang absurd.
"Kau mau ikut atau tinggal di mobil?" tanya Marvel sebelum ia membuka pintu kendaraan roda empatnya.
"Aku tunggu di sini saja, karena ini bukan urusanku dan tidak ada kewenangan diriku ikut campur," jawab Amartha, tak lupa menghiasi wajahnya dengan senyuman yang semakin membuat dirinya mempesona. Namun Marvel melihatnya biasa saja.
"Oke." Marvel membuka pintu mobilnya, kaki yang tertutup sepatu dengan kulit asli itu mulai menyentuh permukaan aspal. Tubuh tingginya menyembul keluar dan menutup pelan pintu mobil.
Marvel membenarkan kancing jasnya yang tadi sengaja dibuka saat mengemudi, agar ia lebih nyaman menyetir. Hentakan kakinya mulai terdengar di telinganya sendiri, tujuannya bukan ke dalam restoran, tapi ke sebuah bangunan kecil yang merupakan tempat khusus penjaga keamanan berada.
Pintu kayu itu Marvel ketuk sebanyak tiga kali sebagai tanda dirinya meminta izin untuk masuk. Lalu tangannya mulai meraih gagang pintu dan membukanya setelah diberikan izin oleh penjaga di dalam.
Marvel tak langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Ia mematung sejenak seraya menahan tawanya. Tepat seperti dugananya. Sepupunya itu tengah berbuat hal absurd pada petugas keamanan restoran cepat saji.
"Deavenny, apa yang kau lakukan padanya? Cepat, minta maaf," tegur Marvel seraya kakinya mulai mengayun ke dalam ruangan. Ia memasang wajah tenangnya lagi, padahal dalam hatinya ingin tertawa melihat petugas keamanan itu yang wajahnya sudah penuh dengan coretan lipstik yang berbentuk macam-macam. Termasuk ada senjata yang biasanya digunakan untuk membuahi.
Deavenny mengalihkan pandangannya ke sumber suara yang sangat ia kenal dan suka. Ia menyengir kuda seolah tak merasa bersalah. Tepat dugaannya, Marvel pasti akan datang menjemput seperti biasanya saat ia membutuhkan bantuan.
Sepupunya sedari kecil memang penyelamat hidupnya dalam hal apa pun. Bahkan, dibandingkan dengan ketiga saudara kembarnya, ia lebih dekat dengan Marvel dan nyaman bergantung pada sepupunya yang jauh lebih lembut padanya.
"Aku hanya mengajaknya bermain uji kecepatan menghitung untuk menghilangkan kebosananku di sini, yang kalah akan dihukum dengan coretan lipstik. Dan aku memenangkannya terus." Deavenny menceritakannya dengan bangga.
Marvel yang sudah berdiri di samping Deavenny pun menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Ia tak kuasa menahan tawa saat wajah pria garang yang bertugas sebagai penjaga keamanan itu dipenuhi dengan coretan. Tangannya mengelus rambut sepupunya yang selalu wangi.
"Ada-ada saja kau itu." Ia tak bisa marah pada sepupunya. Memang seperti itulah sifat Deavenny, tapi ia suka karena sepupunya selalu bisa membagikan keceriaan pada siapa saja. "Cepat, minta maaf," perintah Marvel lembut.
"Tidak perlu, aku justru senang bisa bermain dengan Nona Deavenny. Biasanya pekerjaanku terasa membosankan, hanya berjaga terus di sini jika kebagian jam jaga di pos. Dan Nona Deavenny bisa menghilangkan kebosananku itu dengan permainannya yang lumayan menguji kecepatan menghitung," jelas petugas keamanan itu.
"Kalau begitu, aku yang minta maaf, karena sepupuku pasti merepotkanmu." Marvel sedikit membungkukkan badannya, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Tangannya masuk ke dalam saku jasnya, mengeluarkan dompet dan mengambil selembar uang seratus euro. "Ini, sebagai tanda terimakasih karena menjaga sepupuku." Ia memberikan lembaran uang itu pada petugas keamanan. Dan diterima dengan lapang d**a oleh pria berseragam sekuriti tersebut.
"Maafkan keusilanku." Meskipun petugas keamanan tersebut mengatakan tak masalah, namun Deavenny tetap menjalankan perintah Marvel. Permintaan sepupunya seolah mutlak ingin ia penuhi. Entah kenapa ia sangat senang menuruti semua perkataan Marvel yang perhatiannya setara dan terkadang melebihi saudara kembarnya. Mungkin itu salah satu caranya untuk mengambil hati sepupunya.
Deavenny lalu mengeluarkan tisu basah yang masih utuh segelnya dari dalam tas. Tangannya menggantung di udara, menyodorkan benda itu ke hadapan petugas keamanan. "Ini, untuk menghapus noda di wajahmu."
"Terima kasih." Petugas keamanan itu meraih tisu basah dan mulai membersihkan wajahnya yang kotor.
Setelah membersihkan wajahnya dengan tisu basah, petugas keamanan itu mengantarkan Deavenny dan Marvel ke kasir untuk melakukan proses pembayaran makanan yang tadi dipesan oleh Deavenny.
Marvel membayar semua tagihan. Tak lupa ia mengucapkan permintaan maaf kepada penjaga kasir itu akibat kelakuan sepupunya. Ia tak malu menyelesaikan masalah Deavenny seperti ini, ia sudah biasa menyelesaikan setiap masalah yang dibuat oleh Deavenny.
"Aku ingin makan itu sebentar, jika sudah sampai mansion pasti aku tak boleh makan hidangan cepat saji yang lezat itu," iba Deavenny memohon pada Marvel.
"Dibungkus saja, ya? Makan di dalam mobil atau di apartemenku," tawar Marvel. Ia tak enak meninggalkan Amartha terlalu lama.
Deavenny mengerucutkan bibirnya. "Padahal aku sangat ingin mencoba sensasi makan di tempat seperti ini. Dua puluh enam tahun aku hidup, belum pernah makan di sini. Miris sekali pengalaman hidupku," keluhnya.
Di mata Marvel, Deavenny yang satu tahun lebih tua darinya justru lebih cocok seperti adiknya sendiri. Ia gemas melihat wajah sepupunya saat memohon. "Lain kali saja. Aku ke sini bersama sekretarisku. Tak enak membuatnya menunggu." Tangannya mengacak-acak rambut Deavenny. Namun langsung ia tata kembali seperti semula.
"Oke, janji, ya? Tapi aku tak mau jika bodyguardku sampai ikut. Aku tak ingin dilihat banyak orang karena membawa dua cecunguk yang selalu mengadu pada Daddyku itu," Pinta Deavenny seraya mengangkat kelingkingnya sejajar dengan d**a Marvel.
"Iya." Marvel menyatukan kelingkingnya dengan Deavenny. Lalu mengurainya saat ada suara yang mengajaknya berbicara.
"Maaf, Tuan, sudah membuat Anda harus menunggu kami membungkus pesanannya," ucap petugas kasir seraya tangannya menyodorkan papperbag berisi makanan cepat saji pesanan Deavenny tadi.
"Tak masalah," balas Marvel menerima makanan tersebut. "Ayo." Ia kemudian mengulurkan tangan untuk mengajak Deavenny keluar.
Deavenny langsung menggenggam erat tangan Marvel. Bibirnya terus tersenyum senang seraya kakinya melangkah keluar dari restoran.
"Terima kasih, nine one one ku." Kecupan sekilas Deavenny daratkan di punggung tangan Marvel saat keduanya sudah keluar dari restoran.
Marvel tak menanggapi ucapan Deavenny. Ia hanya sedikit mengangkat sudut bibir. Tangannya sudah biasa dikecup oleh wanita berparas cantik di sampingnya itu.
Marvel justru menghentikan langkah kakinya sejenak, diikuti oleh Deavenny. Ia menatap satu persatu orang yang berjalan di trotoar tempatnya berdiri saat ini. Ia mengikuti arah pandang beberapa lelaki yang seperti menelanjangi sepupunya.
"Kenapa?" tanya Deavenny heran.
"Pegang," pinta Marvel menyodorkan papperbag di tangannya pada Deavenny.
Deavenny mengernyit tak paham. Namun, ia tetap mengikuti perintah sepupunya.
Tangan Marvel mengukur panjang rok yang dipakai oleh Deavenny. "Rokmu terlalu pendek, bahkan panjangnya tak ada satu jengkal tanganku," hardiknya. "Pantas saja mata lelaki itu menatapmu. Kain yang seharusnya menutupi area terlarangmu pun kelihatan," omelnya.
Deavenny menyengir. "Cuacanya sangat panas, aku tak kuat jika tak memakai pakaian yang pendek," timpalnya memberikan alasan.
Kepala Marvel bergeleng seraya tangannya melepaskan jas yang melekat pada tubuhnya. Ia memindah posisinya menjadi berdiri di hadapan Deavenny. Ia melingkarkan tangannya di pinggang sang sepupu. "Lain kali, jangan pakai rokmu yang terlalu pendek, meskipun saat musim panas. Kita tak bisa mengendalikan pikiran liar orang lain," tegurnya dengan mengikatkan jas kerjanya untuk menutupi bagian tubuh Deavenny yang sedari tadi diperhatikan oleh beberapa lelaki.