Marvel Memiliki Kekasih?

1491 Words
Deavenny dan Marvel adalah saudara sepupu dari nenek yang berbeda. Hubungan keluarga Dominique dan Giorgio sudah terjalin erat sejak dahulu hingga mereka berdua terbiasa bermain bersama sedari kecil. Marvel merupakan sosok pria yang sempurna menurut Deavenny. Ia selalu memperlakukan sepupu perempuan satu-satunya itu dengan lembut dan perhatian. Ia juga sosok penolong bagi Deavenny, sejak dahulu selalu ada untuknya dalam situasi apa pun. Hingga Deavenny selalu bergantung padanya dibandingkan ketiga saudara kembar Deavenny. Itulah sebabnya Deavenny menghapal nomor Marvel. Pria itu seperti nomor darurat untuk Deavenny. Marvel selalu sigap ketika dimintai pertolongan, tidak peduli sedang sibuk ataupun senggang. Ia akan meninggalkan kesibukannya untuk segera datang membantu. Deavenny jatuh cinta dengan Marvel sejak sepupunya itu selalu menolong dan memprioritaskan dirinya dibandingkan yang lainnya. Terlebih, perhatian Marvel yang selalu membuatnya berdebar semakin meyakinkan dirinya bahwa perasaannya pada sepupunya itu adalah cinta. Termasuk hal yang baru saja dilakukan Marvel padanya pun membuat dadanya berdebar. Bahkan, ia juga memiliki angan-angan untuk menikah dan menjadikan Marvel miliknya seutuhnya. Marvel tak pernah merasa direpotkan dengan sifat manja Deavenny. Ia tahu betul mengapa sepupunya seperti itu. Ia maklum, karena Deavenny putri satu-satunya di keluarga Dominique, anak terakhir, dan memiliki sedikit perbedaan dari ketiga anak Tuan Dominique yang lainnya. Ia sudah biasa menghadapi kemanjaan Deavenny. Justru hal itu yang membuatnya semakin menyayangi sepupunya. Ia senang saat dirinya merasa dibutuhkan oleh seorang wanita. "Di mana mobil dan bodyguardmu? Bagaimana kau bisa keluar sendirian?" tanya Marvel menyelidik setelah selesai menutupi bagian tubuh sepupunya yang menjadi pusat perhatian orang-orang. Deavenny menyengir kuda dengan menunjukkan telunjuk serta jari tengahnya yang membentuk huruf v ke hadapan Marvel. "Aku kabur dan pergi menggunakan kereta. Bodyguardku sedang terlelap karena aku beri mereka obat bius," jawabnya santai, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Marvel menggelengkan kepalanya, tangannya mengacak-acak rambut Deavenny. "Jangan diulangi lagi, jika Mommy dan Daddymu tahu, pasti mereka akan khawatir. Orang tuamu memberikan penjagaan ketat untukmu karena ingin melindungi dirimu, mereka tak ingin terjadi hal buruk pada putri satu-satunya di keluarga Dominique," nasihatnya dengan nada lembut. "Hanya sekali, aku ingin merasakan sensasi naik transportasi umum di Kota Helsinki, bebas berjalan-jalan, dan makan sesuka hatiku. Aku ingin memiliki pengalaman layaknya warga biasa," timpal Deavenny membela dirinya sendiri. "Kau bisa mengajakku, atau Danesh, Dariush, maupun Delavar. Kau juga bisa mengajak kakak ipar serta keponakanmu. Kita pasti mau menemanimu." Deavenny mengerucutkan bibirnya. "Mengajak mereka itu tidak asik, suka menggeplak kepalaku tiba-tiba. Nanti isi kepalaku yang sedikit ini bisa habis tercecer," keluhnya. Marvel terkekeh seraya kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri. "Ada-ada saja kau itu." Tangannya kembali memporak porandakan tatanan rambut Deavenny. Hal itu juga berhasil mengobrak-abrik hati Deavenny. "Ayo, aku antar kau pulang, sebelum Daddy dan Mommymu sadar jika kau kabur dari pengawasan bodyguardmu." Tangan Marvel kembali menggandeng Deavenny dan mengajak wanita yang tingginya sebatas lehernya, menuju mobil yang terparkir tak jauh dari pintu keluar restoran cepat saji itu. Dari tempat parkir di mana mobil Marvel berada, Amartha bisa melihat kedekatan atasannya di kantor dan Deavenny. "Aku iri dengan hubungan kekerabatan mereka," gumamnya lirih. Matanya terus menyorot dua orang yang berjalan ke arah mobil yang ia tumpangi. Amartha segera keluar dari kendaraan roda empat itu saat Marvel dan Deavenny sudah sampai. Ia memberikan hormat kepada nona muda tersebut dan membukakan pintu mobil bagian depan. "Silahkan, Nona." Deavenny menggeleng dan memberikan tepukan di bahu Amartha, wanita yang ia kenal sebagai sekretaris Marvel. "Kau saja yang duduk di depan, aku ingin duduk di belakang Marvel," tolaknya dengan halus. Ia menarik sepupunya menuju sisi lain mobil Tesla itu. Ketiganya pun masuk ke dalam transportasi pribadi tersebut. Marvel dan Amartha sudah memakai seatbelt untuk keamanan mereka. Sedangkan Deavenny tidak memakainya. "Kita antar Amartha pulang dulu, oke?" ucap Marvel sebelum kakinya menginjak pedal gas. Sesaat ia melirik ke arah sekretarisnya. "Oke," sahut Deavenny dengan memberikan isyarat menggunakan jempol tangannya. Mobil milik Marvel itu mulai keluar dari tempat parkir dan melaju di atas aspal. "Bagaimana bisa kau tak membawa uang dan menghubungiku dengan nomor lain?" Marvel mulai menyelidiki sepupunya lagi. "Aku sengaja meninggalkan ponselku agar tak bisa terlacak dan aku bisa bermain sepuasnya. Tapi aku kehilangan dompetku," jawab Deavenny dengan mulutnya yang penuh makanan. Cit ... "Aduh ...." Deavenny mengusap keningnya yang terbentur jok mobil saat Marvel menginjak rem mendadak, tepat lampu merah menyala. "Makananku," lanjut Deavenny menyayangkan santapannya yang terjatuh ke bawah. Bibirnya mengerucut sedih, gagal sudah ia merasakan sensasi makanan cepat saji yang sudah lama ia dambakan. Marvel sedikit memutar tubuhnya dan menatap Deavenny untuk mengomel. "Ini terakhir kali kau melakukan hal gila, kabur dan tak membawa ponselmu. Kita melakukan penjagaan padamu karena sayang, tak ingin kau terluka. Berjanji padaku jika kau tak akan mengulanginya." "Iya, maaf. Aku berjanji tak akan mengulangi." Apa pun yang dikatakan oleh Marvel, Deavenny akan menurutinya. "Bagus." Marvel kembali meluruskan duduknya, memenuhi indera penglihatannya dengan jajaran mobil yang berhenti di depannya. Deavenny tersenyum senang saat Marvel terlihat khawatir padanya. "Kau semakin tampan jika mengomel seperti tadi." Ia mengacak-acak rambut Marvel dari belakang. Namun matanya tak sengaja menangkap sekretaris sepupunya yang sedang menatap dirinya. Deavenny tak enak pada wanita yang duduk di depan itu karena sedari tadi tak diajak mengobrol. "Amartha, kau tahu tidak, kenapa aku memilih duduk di belakang Marvel?" tanyanya pada sekretaris Marvel. Amartha menggeleng. "Tidak, Nona. Memangnya apa alasannya?" "Karena aku bisa memeluk Marvel dari belakang, jika duduk di sini." Deavenny mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya melingkar ke leher Marvel dan dagunya ia daratkan di jok tempat sepupunya duduk. Tangan kanan Marvel sengaja dilepaskan dari setir. Ia kembali mengacak-acak rambut Deavenny gemas. Sifat manja itu mampu membuat dirinya tersenyum. "Maaf, Deavenny memang seperti ini." Ia mencoba menjelaskan pada sekretarisnya tentang perilaku sepupunya. Amartha melihat semuanya, ia tersentuh dengan kesabaran Marvel menghadapi Deavenny yang cenderung kekanakan diusia dewasa. Ia tahu jika atasannya itu menyayangi keluarganya melebihi apa pun. Termasuk Deavenny masuk ke dalam jajarannya. Sifat penyayang atasannya itu benar-benar membuatnya kagum. Ia hanya membalas atasannya itu dengan ulasan senyum. "Sampai. Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini," tutur Marvel saat mobilnya berhenti di depan gedung apartemen milik sekretarisnya. "Terima kasih atas tumpangannya. Aku permisi." Amartha berpamitan, lalu ia keluar dari mobil mewah itu. Marvel mengelus tangan Deavenny yang masih memeluknya. "Pindah depan, aku seperti supirmu jika kau duduk di belakang." "Aku lebih suka kau jadi suamiku dibandingkan menjadi supirku," kelakar Deavenny. Ia mendaratkan kecupan di pipi Marvel dan berpindah duduk di kursi depan tanpa keluar dari mobil. Marvel tak membalas ucapan Deavenny. Ia hanya bergeleng kepala seraya bibirnya tersenyum. Ini bukan kali pertama sepupunya mengatakan ingin menjadikan dirinya suami ataupun ingin menikah dengannya. Sehingga ia sudah terbiasa mendengarnya, namun dirinya tak pernah mengiyakan. . "Deavenny, bangun ...!" seru Delavar, saudara kembar wanita dengan kecerdasan dibawah rata-rata itu. Ia menggoyang-goyangkan tubuh semampai terbalut baju tidur berwarna kuning. Setelah kemarin diantarkan pulang oleh Marvel, adiknya itu tidur hingga berganti hari. "Hm ... mengganggu saja kau itu." Deavenny menimpuk kembarannya menggunakan bantal. "Aku sedang bermimpi tentang Marvel, dan kau merusaknya," keluhnya. "Sambung nanti malam lagi mimpimu itu, ayo kita ke supermarket membeli daging. Mommy, Daddy, dan Dariush sudah di mansion Danesh untuk barbeque di sana." Delavar menarik paksa tangan Deavenny. Kebiasaan keluarga Dominique jika hari libur adalah berkumpul bersama. Dan untuk kali ini mereka sepakat menjadikan mansion anak tertua sebagai lokasinya. "Hish ... dasar pengacau mimpi, aku akan mandi sebentar," gerutu Deavenny. Kakinya mulai ia turunkan menyentuh lantai marmer. "Tidak perlu mandi, kau sudah cantik." Delavar langsung menarik Deavenny untuk keluar dan membawa masuk tubuh adik bungsunya itu ke dalam mobil miliknya. "Ini namanya penculikan terhadap adik sendiri," protes Deavenny sebal. Ia melihat penampilan wajahnya melalui cermin yang ada di dalam mobil, dan memperlihatkan dirinya yang masih bermuka bantal. "Kira-kira jika menculikku, air liurku bahkan belum kering, sudah kau ajak keluar," keluhnya lagi seraya mengusap sudut bibirnya dengan tangan. "Bersihkan dengan ini saja." Delavar memberikan tisu basah pada adiknya. Deavenny pun menerimanya dan mengusap seluruh wajahnya. Setidaknya ia masih tetap wangi meskipun baru bangun tidur. Mobil berwarna hitam mengkilap milik Delavar mulai melaju kencang menuju pusat perbelanjaan. Sepanjang perjalanan, Deavenny dan Delavar bernyanyi dengan suara keduanya yang pas-pasan. "Aku ke toilet sebentar, daripada aku mengompol di dalam mobilmu," pamit Deavenny setelah sampai di depan tempat tujuan mereka. Ia tak tahan menahan urine yang seharusnya dikeluarkan sejak matanya terbuka dari tidur. Tanpa persetujuan Delavar, ia langsung keluar. "Aku tunggu di dalam," teriak Delavar memberitahu. Ia mulai masuk ke dalam supermarket untuk mencari bahan-bahan yang ada dalam list belanjanya. Kaki dengan bulu-bulu kasar itu menyusuri lorong demi lorong yang terdapat banyak rak berisi berbagai barang. Ia mengambil satu demi satu yang berada dalam list belanjanya. Kaki Delavar terhenti tepat di depan rak camilan. Ia melihat seseorang yang sangat ia kenal. Tangannya mengucek mata, sedikit tak percaya melihat orang tersebut tengah mendorong troli menggunakan satu tangan dan tangan yang lainnya melingkar di pinggang seorang wanita. "Marvel?" panggil Delavar memastikan jika dirinya tak salah melihat. Orang yang dipanggil pun menoleh, diikuti oleh wanita yang bersama dengannya. "Delavar?" Marvel sedikit terkejut melihat sepupunya ada di sana. Delavar mengayunkan kakinya, semakin mendekati Marvel. "Kau memiliki kekasih?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD