Mata Delavar masih menatap tak percaya jika seorang Marvel, sepupunya yang tak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun kecuali adik bungsunya—Deavenny, bisa berkencan dengan wanita cantik bergaya elegant. Sebab, ia sangat tahu kehidupan Marvel yang lebih banyak dihabiskan untuk bekerja dan direpotkan oleh Deavenny. Hampir tak ada waktu dikeluarkan oleh Marvel untuk mengenal seorang wanita di luar pekerjaan dan keluarga.
Bukan hanya Delavar yang terkejut, Marvel juga merasakan hal sama. Marvel sungguh tak menyangka akan bertemu dengan sepupunya di tempat umum seperti saat ini. Tangannya dengan cepat ia lepaskan dari pinggul wanita di sampingnya. Tubuhnya ia putar seratus delapan puluh derajat hingga berdiri menghadap Delavar. Diikuti oleh wanita yang bersama dengannya pun ikut memutar tubuh sintal itu.
Delavar bahkan membulatkan matanya saat melihat wajah wanita itu. "Dia kekasihmu? Kalian berkencan?" Ia mengulangi lagi pertanyaannya.
"Iya," jawabnya masih dengan kondisinya yang terlihat tenang. "Kau sendirian?" Marvel menengok ke kanan dan ke kiri. Ia melihat ke area sekitar seolah tengah mencari seseorang.
"Tidak, aku bersama Deavenny." Delavar melihat gerak gerik Marvel. Ia tahu apa yang dipikirkan oleh sepupunya itu. "Dia sedang ke toilet," tuturnya memberitahu sebelum Marvel menanyakan padanya.
Marvel mengelus pundak kekasihnya dan menatap dengan teduh. "Kau, kembalilah ke mobil dulu. Ada hal yang harus aku bicarakan pada Delavar," pintanya. Ia tak ingin Deavenny melihat dirinya tengah bersama seorang wanita di hari libur seperti saat ini.
"Baiklah, sekalian aku akan membayar semua belanjaannya," balas kekasih Marvel.
Marvel memasukkan tangannya ke dalam saku jaket kulit yang ia pakai. Ia mengambil dompet dan mengeluarkan kartu debitnya. "Ini, gunakan untuk membayar. Nanti aku akan menyusulmu." Ia menyodorkan benda sakti tersebut pada sang kekasih.
Wanita itu menolaknya dengan mendorong tangan Marvel menggunakan telapak tangannya. "Tidak perlu, ini kan belanjaanku. Biar aku membayar menggunakan uangku sendiri, aku masih mampu," cicitnya. Tak lupa ia memberikan senyuman pada sang kekasih.
"Debora ...!" seru Marvel dengan suaranya yang lirih namun penuh penekanan. Ia tak suka jika ditolak, ia lebih senang jika seorang wanita bergantung padanya. Tandanya orang tersebut membutuhkannya.
"No, Marvel. Gajiku sudah cukup untuk menghidupi diriku," tolak kekasih Marvel dengan lembut. Ia tak suka bergantung pada uang seorang pria, terlebih itu adalah kekasihnya. Ikatan yang jelas pun belum ada diantara keduanya. Ia tak ingin jika suatu saat nanti harus mengembalikan uang yang pernah diberikan untuknya. Ia belajar dari masa lalunya, di mana mantan kekasihnya menagih semua uang dan barang-barang yang sudah pernah diberikan padanya setelah berpisah.
"Debora ...! Aku kekasihmu, sudah sepantasnya aku yang membayarnya," timpal Marvel tetap tak mau kalah.
"Justru karna kau kekasihku, belum ada kewajiban dirimu untuk menanggung semua pengeluaranku," balas kekasih Marvel dengan lembut, namun terdengar tegas.
Delavar sedari tadi seperti patung melihat perdebatan sepupunya itu. Hanya masalah siapa yang akan membayar saja menghabiskan waktu tiga menit. "Sudahlah, biarkan saja dia membayar sendiri. Dia takut akan masuk ke dalam tagihan jika kau yang membayarnya," kelakarnya melontarkan candaan.
Marvel dan kekasihnya saling berpandangan dengan wajah keduanya yang merasa heran melihat Delavar tertawa setelah berucap. "Ada yang lucu?" tanya mereka bersamaan.
Delavar menghentikan tawanya. Wajahnya seketika langsung berubah datar. "Sh*t! Kalian berdua sungguh pasangan tak asyik," ejeknya dengan mencebikkan bibirnya.
"Aku permisi dulu, silahkan kalian berdua mengobrol," pamit kekasih Marvel. Ia tersenyum sekilas untuk berpamitan. Kaki dengan betis yang mulus itu pun mulai mengayun seraya mendorong troli menuju kasir.
Kini tinggallah Marvel dan Delavar di sana. Sembari menunggu Deavenny datang, Delavar ingin menginterogasi Marvel tentang wanita yang ia kenal dan ternyata kekasih sepupunya juga.
"Sejak kapan kau menjalin hubungan dengannya?" tanya Delavar menyelidik.
"Baru tiga bulan yang lalu, sejak dia berhasil membantu perusahaanku memenangkan tender di Paris," jawab Marvel tak menutupi sedikit pun.
Delavar mengangguk beberapa kali seraya tangannya meraih camilan berbahan dasar kentang. "Apa Deavenny tahu tentang hubungan kalian berdua? Kau tahu sendiri kan bagaimana perasaannya padamu?"
Bukan rahasia lagi di dalam keluarga besar Dominique dan Giorgio terkait Deavenny yang mencintai Marvel. Karena Deavenny selalu terang-terangan mengatakan perasaannya dan keinginannya itu pada keluarga besarnya.
"Tidak, dia belum tahu," terang Marvel. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya seraya kakinya perlahan maju ke depan untuk mendekati Delavar. "Aku boleh meminta sesuatu padamu?" tanyanya dengan tatapan mata seolah mengisyaratkan bahwa permintaannya ini penting.
Delavar menaikkan sebelah alisnya. "Apa? Tumben sekali kau meminta pertolongan pada orang lain."
Marvel melingkarkan tangannya di pundak Delavar. Tubuhnya yang lebih tinggi dibandingkan sepupunya membuat dirinya harus sedikit menunduk untuk menyampaikan sesuatu. "Tolong rahasiakan hubunganku ini dari Deavenny. Jangan sampai dia tahu jika aku memiliki kekasih," pintanya dengan suara lirih.
Delavar menengok dengan posisi kepalanya sedikit ke atas menatap Marvel. "Kenapa? Bukankah bagus jika Deavenny tahu tentang hubunganmu dengan kekasihmu itu? Lebih baik dia tahu daripada si bungsu itu berharap terus denganmu," timpalnya.
"Bukan seperti itu, tapi—" Ucapan Marvel terhenti karena Delavar sudah memotongnya terlebih dahulu.
Delavar reflek menjauhkan tubuhnya hingga sedikit berjarak satu langkah dari Marvel. "Jangan bilang kalau kau juga memiliki rasa pada kembaranku itu?" tuduh Delavar, matanya nyalang menyelidik kedua bola mata Marvel, mencari jawaban perasaan sepupunya. Ia merasa aneh pada permintaan Marvel. Padahal, menurut dirinya, hubungan Marvel dengan sang kekasih tak perlu disembunyikan dari keluarga besarnya. Justru mereka tak perlu pusing lagi memikirkan cara agar Deavenny berhenti mengharapkan Marvel terus yang sulit untuk disatukan karena hubungan keluarga yang dekat.
"Tidak, bukan seperti itu. Tapi ada alasan lain kenapa aku ingin kau merahasiakannya," elak Marvel. Ia ingin mencoba menjelaskan perihal ini, namun suara seseorang membuatnya membungkam mulut.
"Delavar ... dasar kau itu tukang jajan! Aku mencarimu di tempat daging tapi tak ada, dan ternyata kau di sini. Aku sudah mencarimu keliling setiap bagian yang ada di tempat ini." Deavenny menggerutu dari arah yang dipunggungi oleh Delavar dan Marvel, ia bahkan tak menyadari ada sang pujaan hati karena fokus mengomel pada kembarannya. Ia berjalan cepat dari ujung lorong antar rak menuju ke dua pria itu, bibirnya mencebik sepanjang hentakan kakinya.
Tapi, raut wajahnya langsung berubah saat kedua pria itu berbalik badan. Ia melebarkan senyumannya ketika melihat Marvel ada di sana. Kakinya mempercepat langkahnya menjadi berlari dengan tangannya merentang. "Marvel ...." panggilnya. Ia langsung memeluk tubuh jangkung itu. "Kau di sini juga? Kau mau ikut kami berkumpul di rumah Danesh?" Ia mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah pria berparas tampan dan selalu berhasil memutar balikkan moodnya hanya dengan melihat setiap pahatan ciptaan Tuhan yang indah itu.