Setelah Marvel menghilang dari pandangan Amartha Debora, wanita itu merosot duduk di lantai. Ia memegang dadanya, merasakan sesak di daerah tubuhnya itu. Perasaan apa ini? Cemburu, tentu saja. Wanita mana yang tak sakit hati jika melihat kekasihnya yang sangat dicintai, berciuman di depan matanya. Walaupun bukan keinginan Marvel, tapi seharusnya pria itu bisa menolak. Dengan mendorong tubuh Deavenny, mungkin. "Kenapa dia justru menikmati ciuman itu?" gumam Amartha. Rasanya sangat sesak saat otaknya tiba-tiba berisi pikiran kotor. Kornea wanita dengan bulu mata lentik itu menyapu seluruh ruangan. Berhenti tepat di atas meja di mana tas kecilnya berada. Ia segera berdiri saat teringat ada sesuatu di sana. Tangan lentik Amartha menyusup ke dalam tasnya. Ia mengambil sebuah bubuk berwarna

