"Apa kamu sudah punya pacar?" Tiba-tiba, pertanyaan Kelvin membuat gadis itu gusar.
Ilma tak langsung menjawab. Dia ragu apakah pertanyaan pria itu sekadar basa-basi, pancingan, atau sindiran? Kelvin menoleh menunggu jawaban. Gadis itu masih terdiam.
"Gadis secantik kamu, aku yakin pastinya sudah punya pacar, benar, 'kan?" selidiknya.
Kali ini Ilma tak mau menoleh. Pujian Kelvin seolah-olah merupakan sebuah jebakan. Ilma menggeleng, menunduk, dan menyembunyikan wajahnya yang tersipu.
Kelvin tersenyum, memandang gadis itu. "Kenapa malu? Wajar aja kalo kamu udah punya pacar," imbuhnya.
"Saya nggak pacaran ...," sahut Ilma.
"Kenapa begitu? Gimana kamu bisa mengenali pasanganmu kalo nggak melalui sebuah hubungan?" Kelvin menatapnya heran.
"Bukankah ketika sudah menikah, kita bisa saling mengenali pasangan satu sama lain?" sela Ilma.
"Yeah, tapi menjalin hubungan sebelumnya merupakan sebuah proses awal untuk saling mengenal dan memahami," timpalnya.
"Kalo gitu kita nggak sepaham, jadi nggak ada yang perlu dibahas lagi," potong Ilma.
"Ok. Tapi dalam hati kamu, apa nggak kepengen atau nggak ada pikiran untuk punya pacar?" pancingnya.
"Nggak." Gadis itu menegaskan.
Kelvin tertawa, Ilma menatap Kelvin. Sepertinya pria itu sedang menertawakan dirinya.
"Kenapa ketawa? Apa ada yang lucu?"
"Nggak, cuma aneh aja," sahut Kelvin membalas tatapannya.
Dalam hati pria itu berkata. 'Gadis ini sangat naif.'
"Aneh? Apanya yang aneh?" tanya Ilma.
"Menurutku, apa yang barusan kamu bilang itu sebuah prinsip relationship yang aneh. Kamu harus menunggu untuk mengenal pasangan ketika sudah menikah. Apa nantinya kamu nggak menyesal karena salah memilih pasangan?"
"Menyesal bagaimana? Urusan jodoh udah ada yang mengatur. Emangnya perempuan itu seperti pakaian? Harus dipilih, dicoba dulu, setelah bosan dikasih orang, atau dibuang." Ilma bersikukuh pendapat.
Kelvin terkejut, tak memercayai pernyataan gadis tersebut. Kedua alisnya terangkat, tangannya melepas kemudi. Beberapa kali ia menoleh ke arah gadis itu. Raut manis pada wajahnya berubah dingin. Hujan bertambah lebat, lampu merah jalan raya menyala. Kelvin menekan tombol wiper, menyeka air hujan di atas kaca mobil. Suasana jalan ramai penuh kendaraan, berjajar menyerupai semut yang tengah berbaris. Saat mobil mulai berjalan, Kelvin membelokkan kemudinya ke jalur pintas menghindari arus macet.
"Ini bukan jalur ke tempat tujuan saya!" seru Ilma heran.
"Kamu tenang aja, aku lebih tahu mengemudi." Kelvin membalasnya tak acuh.
Ilma merasa asing dengan jalur yang mereka lalui. Dia belum pernah melewati jalan sepi seperti ini. Perasaannya mulai tak nyaman.
"Apa kamu masih ingat, dulu kita sering bertemu? Mungkin usiamu saat itu ... masih duduk di bangku sekolah dasar." Kelvin menatap lekat gadis itu.
Ilma tersentak dan menelan salivanya. Mata biru pria itu memang mengingatkan dirinya pada seseorang yang dulu pernah dikenalnya.
"Maaf, saya tidak ingat," ujarnya singkat.
Kelvin mengetahui gadis itu sedang berbohong atau sengaja menutupi. Ia masih mengingat, gadis yang duduk di sampingnya adalah adik dari mantan sahabat yang sangat dibencinya. Mengingat kejadian di masa lalu, wajah pria itu tampak menegang.
Sikap jutek Ilma membuat Kelvin gelisah. Sorot mata birunya memancarkan sesuatu. Binar menyala, menatap nanar. Merasakan ada sesuatu yang aneh, Ilma menaruh curiga. Dia ingin segera keluar dari mobil.
"Saya turun di sini aja. Bisa tolong berhenti?" pintanya.
"Di luar masih hujan. Apa kamu mau basah kedinginan?" jawab Kelvin tetap fokus mengemudi.
"Jalur ini sepi. Sepertinya Anda salah jalan."
"Aku mengambil jalan pintas supaya nggak terjebak macet," balas Kelvin tenang.
Jalur pintas sunyi, di tengah kegelapan malam. Hanya suara air hujan yang mendera. Perasaan Ilma semakin tak enak, dia mulai cemas. Kelvin melajukan kemudinya dengan kecepatan penuh, Ilma menjerit ketakutan. Dia meminta Kelvin menghentikan kendaraan. Pria itu tak menghiraukannya. Ilma melepaskan sabuk pengaman, lalu berusaha membuka pintu mobil. Namun, sia-sia. Pintu masih terkunci.
"Tolong berhenti. Aku mau turun di sini. Hentikan!" teriaknya.
Ilma membuka pintu mobil dengan paksa. Tindakannya membuat Kelvin tersinggung dan marah. Pria itu mencoba mencegah.
"Hei, apa kamu ingin kita berdua celaka?" gertaknya.
Ilma tak peduli. Dia sangat ketakutan. Jalur yang mereka lewati seperti jalan mati. Tak ada kendaraan yang lewat selain mobil yang mereka tumpangi. Gemuruh petir menggelegar, diiringi kilat menyambar. Dari jarak jauh, sebuah dahan pohon di pinggir jalan tumbang. Hampir menimpa mobil yang dikendarai Kelvin. Dengan cepat Kelvin memutar arah, berbelok menghindari maut. Sebelum matanya tertuju sesuatu, Kelvin mengubah posisi tubuh, menutupi wajah dengan kedua lengannya.
Bruaakkk
Nahas. Kendaraan yang mereka tumpangi menghantam benda keras. Mobil tersebut menabrak tembok gapura. Disusul rintihan Ilma sedang kesakitan. Mesin mobil seketika mati. Kelvin merintih menahan rasa ngilu pada pundaknya. Ia teringat gadis yang duduk di sebelahnya. Kelvin panik saat melihat tubuh gadis itu tak bergerak dengan posisi duduk tertelungkup.
Kelvin meraih tubuhnya. Memeriksa pergelangan tangan dan hidung. Bersyukur saat mengetahui gadis itu masih bernapas. Dia hanya pingsan. Dahinya terluka dan mengeluarkan darah. Kelvin mengambil tisu, lalu mengusap keningnya. Kepala Ilma membentur dashboard, mengakibatkan dia hilang kesadaran. Kelvin berusaha menghidupkan kembali mesin mobil, tetapi tidak berhasil. Ia mencari ponselnya, dan segera menghubungi seseorang.
"Hai, Josh! Lu, di mana sekarang? Gue butuh bantuan secepatnya. Mobil Eliza mogok." Kelvin memberitahu.
"Hei, Bro. Gue lagi sama cewek lu, jadi bodyguard-nya. Gimana sama Laura, masa gue tinggalin dia?" Sepupu Kelvin berbicara melalui telepon.
"Lu cepat ke sini, Josh. Gue butuh bantuan darurat. Sekalian panggil orang bawa mobil derek. Oh, ya, jangan kasih tahu Laura. Bilang aja lu ada urusan mendadak. Gue share location-nya, gue tunggu sekarang juga!" perintah Kelvin.
"Oke, gue segera ke sana!"
***
Kelvin menghela napas panjang seraya menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menatap gadis dengan posisi tubuh setengah terbaring di sampingnya. Ilma masih tak sadarkan diri. Di bawah penerangan cahaya lampu dalam mobil, mata gadis itu terpejam. Persis seperti tokoh putri negeri dongeng yang sedang tidur lelap. Dia memang memiliki kecantikan yang sangat natural.
Kelvin memandangi sekujur tubuh gadis itu. Jilbab yang menutupi aurat bagian tubuhnya tersingkap, memperlihatkan lekukan pada dadanya. Gamis model kancing depan terlepas di bagian paling atas. Ilma terbaring pasrah dan terjebak di malam insiden kecelakaan. Kelvin mengingat kembali kejadian sebelum mobil yang dikendarainya mengalami kecelakaan.
Gadis itu sangat ketakutan, seolah-olah dirinya sedang disandera dan berusaha ingin melarikan diri. Dia melihat Kelvin bak seekor singa buas yang siap menerkam mangsa, dan Ilma adalah targetnya. Sikap ketus dan naif pada gadis itu membuat Kelvin penasaran. Setelah berpuluh tahun Kelvin melupakan kejadian pahit dalam hidupnya, ia dipertemukan lagi dengan orang terdekat di masa lalunya.
"Sepertinya pertemuan dengan adikmu bukan suatu kebetulan, Ilham. Dunia ini memang kecil dan sempit," gumamnya menyebut nama seseorang.
Kelvin tersenyum menyeringai. Gadis itu memang menarik, wajar saja pria yang berada di dekatnya terpesona. Termasuk dirinya, pria normal mana yang mau menolak? Apalagi suasana sangat mendukung berduaan di tempat sepi di keheningan malam. Tentunya, waktu yang tepat untuk bersenang-senang atau sekadar melakukan keisengan. Batin pria itu berkecamuk, timbul niat jahat menggelitik pikirannya.
Kelvin mengubah posisi jok kursi pagar sejajar dengan kursi Ilma terbaring. Netra birunya menatap lekat lekukan tubuh gadis tersebut. Tangannya mulai berani menyentuh jemari tangan Ilma. Mengunci dengan telapak tangannya. Telunjuk Kelvin membelai pipi mulus gadis itu. Menelusuri hingga menyentuh bibir lembutnya. Mengangkat dagu tirus dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Ilma.
Bibir mereka bersentuhan. Kelvin meraih benda pipih di saku celananya. Menyalakan video dan sengaja merekam aksi yang dilakukannya. Lalu, mengambil foto dalam setiap adegan.
"Dendam yang manis, Sweetheart," bisiknya di telinga Ilma. Ia tersenyum puas.
***
Malam semakin larut. Kesunyian menjabat perlahan. Kegelapan semakin pekat diiringi rintik hujan menjadi saksi atas apa yang diperbuat Kelvin terhadap Ilma. Kelvin merebahkan tubuhnya di samping Ilma dengan posisi kedua tangan di bawah kepalanya. Pikiran pria itu menerawang mengingat kembali saat ia mengenakan seragam putih abu-abu. Kelvin acapkali berkunjung ke rumah orang tua gadis itu, untuk belajar bersama kakaknya atau hanya sekadar menemui Ilham.
"Aa, ada yang nyariin!" teriak gadis yang berusia sembilan tahun saat itu.
"Siapa, Neng?" Ilham muncul dari kamarnya.
"Abang Bule," sahut Ilma.
"Oh, suruh masuk, gih! Bikinin minum, ya, dua."
Ilma mempersilakan Kelvin masuk, buru-buru ke dapur membuat dua gelas sirup jeruk dingin. Dengan cekatan dia membawa minuman untuk Kelvin dan kakaknya. Gadis itu selalu tersenyum ramah. Wajah cantiknya sudah kentara sejak kecil, tak berubah hingga kini. Justru semakin bertambah cantik.
Pernah suatu hari ketika Ilma sedang menyuguhkan minuman, dia menumpahkan gelas berisi es sirup dan mengenai celana Kelvin. Gadis itu merasa sangat bersalah. Wajah cerianya berubah sedih. Kelvin berusaha untuk memahami dan tak memarahinya. Ia membantu Ilma mengelap meja. Ayahnya yang saat itu ada di rumah menghampiri mereka.
"Bikin minuman lagi, Neng. Sekalian bikin kopi buat abi, ya!" perintah ayahnya.
"Iya, Abi." Gadis penurut itu tersenyum manis.
Karena sikap ramah keluarga Ilham membuat Kelvin betah berkunjung ke rumah mereka. Selama tiga tahun ia sering ke sana. Setelah keluarga Kelvin menjadi mualaf, Kelvin sangat giat belajar dan menekuni hal baru dari keyakinan yang dianutnya. Melalui keluarga Ilham pula, ia banyak mempelajari ilmu pengetahuan tentang agama.
Kelvin pernah memberikan hadiah dua buah boneka beruang untuk Ilma dan adik perempuannya yang saat itu seusia Reina, sekitar tiga tahun lebih muda dari Ilma. Dia sangat senang. Sejak Ilma lulus SD, Kelvin sudah jarang melihat gadis itu lagi. Ia mengetahui dari Ilham, bahwa Ilma tinggal di pondok pesantren di pesisir kota. Bibir tipis pria itu tersenyum simpul mengingat kenangan beberapa tahun silam dengan gadis itu.
Ada perasaan bersalah mengimpit dadanya setelah menyadari apa yang baru saja ia perbuat terhadap Ilma. Ia merogoh saku celananya, hendak menghapus semua foto-foto dan video tak senonohnya. Tiba-tiba, tak jadi. Dari arah belakang mobil, sorot lampu menyala menerangi sekitar tempat itu diiringi suara deruan dua mobil. Kelvin bangkit membenahi diri, menengok ke belakang, mengenali mobil sepupunya.
Kelvin membuka pintu, lalu keluar setelah melihat Joshua menghampiri. Di belakang mobil sepupunya, sebuah mobil derek dengan dua orang ikut membantu mengangkut mobil.
"Hei, Bro! Gimana ceritanya lu bisa berada di sini? Habis ngapain lu?" tanya Joshua heran.
"Gue terjebak macet, Josh. Nyari jalur pintas!"
"Apaan? Jalur ini udah nggak berfungsi, masa lu nggak tahu!" celetuk Joshua.
Kelvin tak merespons celotehan Joshua, ia bergegas membuka pintu sebelah. Bersiap mengangkat tubuh Ilma. Joshua bingung melihat seorang gadis bersama sepupunya.
"Dia siapa, Bro?"
"Udah, nggak usah banyak tanya. Buka pintu mobil lu!" seru Kelvin memerintah.
Masih dipenuhi perasaan janggal, Joshua segera membuka pintu mobilnya. Kelvin membaringkan tubuh Ilma di jok belakang mobil. Dua orang pria tengah bersiap mengangkut mobil Eliza yang mengalami kerusakan fatal. Kelvin berbicara sebentar dengan mereka, lalu kembali menuju mobil Joshua. Ia duduk di sebelah sepupunya. Sesekali menoleh ke belakang, melihat keadaan Ilma, masih belum siuman.
Joshua ingin bertanya lebih detail tentang kejadian yang menimpa sepupunya. Namun, merasa sungkan melihat raut wajah Kelvin. Ia tampak tegang. Kelvin menyuruhnya mencari rumah sakit terdekat, tetapi hanya menemukan sebuah klinik di area tersebut. Beruntung klinik itu buka 24 jam
***
"Suster, bisa minta tolong ganti pakaian pasien? Saya perlu me-rontgen bagian kepala Mbak ini." Perempuan setengah baya berseragam putih memeriksa keadaan Ilma.
"Baik, Dok!"
"Tolong cek juga isi tasnya. Saya butuh data lengkap tentang pasien. Saya khawatir Mbak ini mengalami luka parah." Dokter itu menambahkan.
Suster di klinik mengganti pakaian gadis yang masih dalam keadaan pingsan. Kemudian, langsung membawanya ke ruang rontgen. Klinik itu terbilang cukup nyaman dengan dilengkapi peralatan medisnya. Penanganan dari dokter dan suster sangat profesional.
***
Di kamar apartemen, Kelvin menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Memikirkan keadaan Ilma dan memutar otak untuk menghadapi hari berikutnya setelah tragedi kecelakaan yang dialami bersama gadis itu. Sedikit lelah. Namun, kedua netranya sulit terpejam. Pria itu menghela napas, mengembuskan pelan. Terbayang jelas wajah innocent Ilma. Kelvin mencoba memejamkan mata dan berusaha menghilangkan bayangan wajah gadis itu. Entah sedang khilaf, atau karena luka yang masih membekas, dan dendam lamanya menjadikan Kelvin tega berbuat demikian. Gadis tanpa dosa itu harus menerima apa yang seharusnya tak patut diterima olehnya.
***
Ilham memarkirkan mobilnya di depan sebuah kantor perusahaan property. Sudah lima tahun Ilham menetap di kota perbatasan antara ibu kota dengan kota tempat asalnya. Pria itu selalu menyapa ramah siapa pun yang dijumpainya. Sebelum masuk ke ruangannya, seorang rekan kerja di kantor memberitahukan sesuatu.
"Pak Ilham, ada titipan paket, nih!" Rekannya menyodorkan sebuah amplop besar.
"Apa ini? Dari siapa, ya?" tatapnya penasaran.
Tak ada nama seseorang tercantum di bagian belakang amplop.
" Kurang tahu, Pak. Jasa kurir yang antar."
Ilham memasuki ruangannya. Menaruh tas kerja di meja. Lalu, membuka amplop. Matanya menatap lekat seraya mengernyitkan dahi. Dia menyakinkan penglihatan, memperhatikan foto-foto sepasang dua sejoli sedang dimabuk asmara. Menatap sosok seorang gadis pada foto tersebut. Betapa tersentak jantungnya setelah Ilham mengenali gadis yang sedang bermesraan dengan seorang lelaki yang sangat dikenalnya pula. Foto-foto adiknya, Ilma dalam keadaan pasrah b******u dengan ... Kelvin!
Ilham hampir mau merobek foto-foto tersebut. Namun, dia memasukkan kembali ke dalam amplop. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Ilham meraih benda pipih di sakunya, satu pesan masuk. Sepertinya sebuah video. Dia membuka, kembali pria itu dikejutkan dengan sesuatu yang sangat dibencinya. Video berdurasi tiga menit itu memperlihatkan adegan v****r adiknya bersama Kelvin.
Hati Ilham bergejolak. Emosi memuncak. Napasnya tersengal. Seketika itu pula Ilham mengucapkan istigfar berkali-kali, dan meminta ampunan atas apa yang telah dilihatnya. Bulir bening mengalir dari kelopak matanya, membasahi pipi pria itu. Sebagai kakak laki-laki, dirinya ikut berperan mempertanggungjawabkan perbuatan yang dilakukan oleh adik perempuannya. Entah bagaimana dia memberitahukan ini kepada orang tuanya?
Bersambung