Ilma terbangun di ruangan yang sangat asing baginya. Pada di dinding depan pembaringannya, terpasang sebuah televisi berukuran 32 inci. Di sisi kanan ranjang terdapat tirai pembatas berwarna hijau terbuka separuh. Di baliknya sebuah pintu kayu dalam keadaan tertutup. Ilma hendak bangkit, tapi merasakan kepalanya begitu pening. Dia memegangi kepala yang berbalut perban.
Suster masuk ke ruangan. Tersenyum ramah saat melihat gadis itu terbangun. Dia menghampiri dan memperkenalkan diri.
"Selamat sore Mbak Ilma. Saya suster yang bertugas di sini."
"Saya kenapa, Suster?" tanya Ilma bingung.
"Kemarin malam Mbak mengalami kecelakaan. Oh, ya, maaf ... Dokter Rissa meminta saya mengganti pakaian dan mengambil tanda pengenal Mbak Ilma. Beliau juga menyuruh saya men-charging ponsel milik Mbak. Baju yang dipakai kemarin malam sudah kami cuci bersih."
"Oh, terima kasih banyak atas pelayanannya. Tapi ... apa hari ini saya sudah boleh pulang?"
"Kalo itu, sebaiknya Mbak Ilma tanya ke Dokter Rissa. Ini semua barang-barang milik Mbak sudah ada di dalam." Suster menyerahkan tas.
Ilma meminta bantuan suster untuk mengangkat tubuhnya. Dia merasakan pegal dan ingin menggerakkan seluruh badan. Setelah itu, suster berlalu meninggalkan ruangan. Ilma membuka tas, mengambil ponselnya, melihat waktu. Jam menunjukkan pukul 17.15 WIB. Hari Minggu, seharusnya hari ini Ilma sudah berada di kota kelahirannya. Dia berusaha mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Namun, kepalanya terasa pusing. Setiap mengingat, justru semakin terasa sakit. Ilma memanggil suster.
Dokter Rissa muncul bersama suster. Menyapanya seraya tersenyum ramah.
"Dokter, apa yang terjadi dengan saya?" tanya gadis itu cemas.
"Mbak Ilma baru saja mengalami kecelakaan. Saya sudah melakukan rontgen dan memeriksa hasilnya. Mbak mengidap amnesia jenis retrograde. Artinya Mbak tidak bisa mengingat informasi atau kejadian yang dialami Mbak sebelumnya. Saya berharap, Mbak hanya mengalami hilang memori sebagian bukan secara keseluruhan. Saya sarankan Mbak istirahat total, tidak melakukan aktivitas yang berat. Untuk penyembuhan, selain mengonsumsi obat, vitamin maupun suplemen. Diperlukan terapi kognitif agar menguatkan daya ingat. Dan, jangan lupa konsultasikan terus dengan dokter." Dokter Rissa menjelaskan secara detail.
"Apakah ... saya boleh pulang sekarang, Dokter?" Gadis itu menatap ragu.
Dokter Rissa membalas dengan tatapan iba. Mengingat kondisinya, gadis itu seharusnya belum diperbolehkan pulang. Namun, dia merasa kasihan. Dari datanya dia seorang mahasiswi, bukan warga sekitar sini. Dokter menyarankan agar Ilma segera menghubungi keluarganya.
"Dokter, berapa total biaya selama saya dirawat di sini?"
"Tidak perlu membayar. Seseorang sudah menanggung semua biayanya." Dokter Rissa tersenyum lembut.
"Siapa? Saya tidak mengerti, Dokter."
"Atas nama asuransi sebuah perusahaan. Mbak sebaiknya banyak istirahat, ya. Supaya lekas sembuh."
"Dokter, boleh saya tahu. Siapa yang membawa saya ke sini?"
"Seorang pria muda. Sudahlah, Mbak Ilma tak perlu cemas. Jangan banyak berpikir atau mengingat dulu. Semoga Mbak segera pulih." Dokter Rissa pamit seraya menepuk pundak Ilma.
Sejak peristiwa kecelakaan malam itu, Kelvin menjadi gelisah. Akhir pekan, seharusnya ia menghabiskan waktu untuk bersantai atau mengajak kekasihnya kencan. Sudah beberapa kali panggilan telepon dari Laura, ia abaikan. Pikiran dan hati pria itu tak tenang, hanya duduk termenung memikirkan bagaimana mencari solusi untuk mengatasi masalah yang mengganjal di benaknya.
"Laura, aku nggak bisa pergi sekarang. Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Nanti sore aja aku jemput kamu untuk makan malam. Aku janji. Again, sorry, My Love." Kelvin beralasan membatalkan pertemuannya dengan Laura.
"Ok, but please keep your promise. I miss you so much, Baby," rengek Laura manja.
Ilma sudah meminta izin pada Dokter Rissa untuk pulang hari ini juga. Melihat dari beberapa chat melalui ponselnya, orang terdekat yang sangat intens berinteraksi dengannya yaitu Nabilah. Gadis itu segera menghubungi sepupunya untuk menjemput.
"Bilah, kamu jemput aku sekarang bisa, nggak?" pintanya, berharap Nabilah menyanggupi.
"Emang lu sekarang lagi di mana?" tanya Nabilah.
Ilma menyebutkan nama dan alamat klinik tempat dirinya dirawat. Gadis itu terlihat gelisah dan bingung saat ditanya sedang apa di sana. Ilma hanya menjawab singkat bahwa dia tidak bisa mengingat sepenuhnya. Karena itu, Nabilah merasa aneh dan penasaran. Lalu, segera menuju lokasi yang disebutkan Ilma. Gadis itu menunggu di halte bus yang jaraknya tak jauh dari klinik.
Sebelum pergi, Ilma menanyakan pada suster berapa hari dirinya pingsan. Suster menjelaskan, selama dua hari dia berada di klinik. Sebelum dia meninggalkan tempat itu, Ilma sempat menumpang mandi dan menjalankan salat Magrib di klinik.
Nabilah menjumpai Ilma sedang duduk di bangku halte, setelah sepupupunya menunggu sekitar kurang lebih satu jam. Dia heran melihat kepala Ilma berbalut perban.
"Jah, lu kenapa?" tanyanya khawatir.
"Aku habis kecelakaan," jawabnya.
"Kok, bisa, sih? Gimana ceritanya lu bisa mengalami kecelakaan? Kapan? Di mana? Kenapa nggak telepon gue?" cecar Nabilah.
Pertanyaan dari sepupunya hanya membuat Ilma semakin kebingungan. Dia tidak bisa menjawab. Hanya menghela napas agak berat.
"Tolong antarkan aku ke tempat biasa. Aku letih pengen istirahat, Bil!" ucapnya datar.
"Lu pulang ke rumah gue aja, ya!" ajak Nabilah cemas.
"Nggak, Bil. Aku pengen sendiri." Ilma menggeleng.
Kepalanya masih terasa pusing.
"Oke. Lu pasti belum makan malam, kan? Kita cari makanan dulu, ya."
Tanpa menunggu jawaban, Nabilah menarik lengan sepupunya. Sebelum Nabilah mengemudikan mobilnya, dia berpikir ingin kembali ke klinik tempat Ilma dirawat. Nabilah curiga, pasti sesuatu telah terjadi pada sepupunya. Namun, Ilma menolak usulan dari Nabilah dengan alasan dia butuh istirahat. Dengan terpaksa Nabilah meninggalkan tempat itu.
Dari kejauhan, tanpa mereka sadari seseorang dari dalam mobil sedang mengawasi.
Kelvin memasuki sebuah restoran mewah untuk menikmati acara makan malam bersama Laura. Alunan lagu mengiringi 'candle light dinner' mereka yang romantis. Wajah Laura terlihat semringah, mengenakan fancy dress-nya berwarna hitam dan dihiasi kristal swarovski dengan garis menyilang di bagian sebelah d**a ke bawah perut, senada dengan tas kecil yang tergantung di pundaknya.
Ponsel Kelvin berdering. Maniknya menatap layar ponsel, ada sesuatu yang tersembunyi di balik raut wajah tampannya yang menawan. Setelah izin dari Laura, ia meletakkan garpu dan pisau yang sedang dipegangnya di atas piring. Bergegas pergi menjauh untuk menjawab panggilan telepon. Seseorang yang menghubunginya teramat rahasia, sehingga percakapan mereka tak mau terganggu.
"Pak, gadis itu sudah keluar dari klinik tadi sore. Dia dijemput seorang perempuan muda, sepertinya usia mereka sepantaran. Saya masih mengawasinya. Sekarang mereka sedang makan malam." Suara pria suruhan Kelvin berbicara via telepon.
"Oke, tolong awasi terus mereka. Aku akan segera menyusul ke sana," titahnya. Kelvin bersiap-siap. Ia pun menemui kekasihnya untuk mengakhiri acara romantis makan malam bersama.
"Laura, aku antarkan kamu pulang sekarang, ya," ujar Kelvin setengah berbisik.
"Ada apa, sih, Beib? Kok, cepat sekali. Kamu belum selesai makan, lho," balas Laura.
"Aku udah kenyang ... ada sesuatu yang sangat penting, Laura. Aku harus pergi sekarang." Kelvin memohon.
"Beib, kamu, tuh ... dari kemarin, sikap kamu udah aneh banget, tahu, nggak?" protes Laura, menatap kecewa.
"Laura, please! Aku nggak mau berantem. Kita pulang sekarang atau kamu pulang sendiri," balas Kelvin setengah memaksa.
Pipi Laura memerah, menahan emosi. Dia tak terima. Kelvin sudah berjanji untuk menghabiskan waktu bersamanya, tetapi kini justru mengingkari. Laura meletakkan gelas berisi wine dengan kasar, lalu berdiri menatap pria itu tajam. Dia mendengkus kesal.
"Tadi pagi bukannya kamu udah janji?" Bola mata bulat cokelat milik Laura beradu dengan bola mata biru Kelvin.
"Aku tahu, Laura. Aku minta maaf," ungkap Kelvin seraya melirik arlojinya.
"Emangnya kamu ada urusan apa? Kenapa mendadak begini. Biasanya kamu selalu 'on time' sama aku. Kenapa sekarang kamu berubah, Kelvin?" tanya Laura kesal.
"Laura, aku udah bilang. Aku ada urusan penting saat ini juga. Please!" balasnya tenang.
Laura tak menjawab, dia bergegas meninggalkan restoran, diikuti Kelvin menuju tempat parkir. Laura masih terdiam dan marah saat mereka di perjalanan. Kelvin tetap bersikap santai seolah-olah sudah terbiasa melihat perubahan sikap kekasihnya. Netranya terus mengawasi angka pada jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia harus menemui seseorang malam ini juga.
"Kamu nggak mau mampir dulu sebentar, Beib?" harap Laura, ketika mereka tiba di depan rumah megah model seksi itu.
"Nggak, Laura. Aku buru-buru. Lain kali aja, ya. Good night, Love." Kelvin mengecup kening gadis itu, lalu melangkah dengan tergesa.
Ilma dan Nabilah baru saja selesai makan malam, mereka segera bersiap pergi. Kemudian, mereka langsung menuju mobil. Nabilah hendak mengantarkan Ilma menuju kostnya, Ilma terlihat sangat lelah. Lebih banyak diam. Setiap Nabilah mengajaknya bicara, gadis itu hanya mendengarkan. Dia menolak untuk mengikuti saran Nabilah untuk memeriksa ulang cedera di kepalanya. Nabilah semakin merasakan ada keanehan pada sikap Ilma. Dia tidak mau apa-apa selain istirahat. Sedikit keras kepala.
"Bil, apa sebelum dua hari ini kita ada ketemuan?" Tiba-tiba gadis itu bertanya.
Nabilah menggeleng, "Jah, lu kenapa, sih? Gue nggak yakin, deh, lu baik-baik."
"Aku ... cuma pusing. Nggak bisa ingat kejadian sebelum aku dirawat di klinik," sahut Ilma lirih.
"Besok gue jemput lu periksa ke dokter lagi, ya."
"Aku nggak janji. Aku cuma butuh istirahat, Bil. Kepalaku sakit tiap mengingat sesuatu." Manik gadis itu menatap hampa.
"Ya, udah, malam ini lu istirahat yang cukup. Besok gue ke sini lagi."
"He'em. Terima kasih, ya, Bil."
Mereka telah sampai di depan kost Ilma. Gadis itu pamit. Nabilah memeluk hangat tubuh sepupunya, dia masih menyimpan kekhawatiran yang mengganjal pikirannya. Sebelum meninggalkan Ilma, Nabilah berpesan agar Ilma segera mengabari orang tuanya.
"Pak, gadis itu menuju sebuah rumah. Lebih tepatnya seperti kost. Dia masuk rumah sendiri, gadis yang mengantarnya tidak tinggal satu kost." Heru, orang suruhan Kelvin menyampaikan informasi kepadanya.
"Bagus! Tunggu aku di sana, Her. Aku ingin meyakinkan siapa lagi yang dekat dengan dia. Awasi juga, apa ada orang yang datang menemuinya setelah ini selain gadis yang barusan mengantarnya," balas Kelvin.
Sekitar setengah jam kemudian, Kelvin tiba di lokasi yang disebutkan oleh Heru. Orang suruhannya sedang menunggu di dalam mobil sambil mengawasi kost tempat Ilma tinggal. Kelvin memarkirkan mobilnya dan menemui Heru. Ia memberikan beberapa gepok uang ratusan ribu. Kelvin menyuruh pria itu untuk terus mengawasi Ilma.
Bersambung