Bab 6. SOLUSI DAN TERAPI

1773 Words
        Benda tipis di atas nakas bergetar pelan, menandakan panggilan telepon masuk. Ilma melirik sekilas seraya menautkan alis, melihat nama seseorang tercantum di layar benda tersebut. Sedikit ragu, dia meraih ponselnya. "Hallo, assalamu alaikum ...," sapa gadis itu. "Waalaikumussalam ... Ma, ini kak Rahma. Kakak pake HP-nya Bang Yusuf. Umi bilang, kamu belum pulang ke Bandung, ya?" Suara lembut wanita menyahut. "Hmmm ... iya, Kak. Aku masih di sini ...." Ilma mencoba mengingat. "Kakak mau ngasih kabar, habis Subuh tadi, dedenya udah lahir dengan selamat. Kakak udah lahiran, Ma. Alhamdulilah!" Kakaknya Ilma mengabari berita suka cita. "Alhamdulilah, ya Allah. 'Allahummaj'alhu barran taqiyyan rasyidan wa anbithu fil islami nabatan hasanan'. Aamiin ya Robb ... selamat, ya, Kak. Oh, ya. Debaynya cewek atau cowok, Kak?" tanya Ilma gembira. "Cewek lagi, Ma. Doa Aira pengen punya adik cewek, terkabul. Alhamdulilah." Tawa kakaknya terdengar familiar di telinga Ilma. Gadis itu mencoba mengingat sosok kakaknya Rahma dan anak sulungnya yang juga merupakan keponakan Ilma. Membayangkan wajah mereka, mengurangi rasa sedih dan letih, setelah mendapat kabar bahagia dari kakaknya. Sejak semalam pulang ke kost, Ilma tertidur pulas. Walau ingatannya belum sempurna, gadis itu sudah terbiasa melakukan kegiatan yang wajib dilaksanakan. Namun, tak seperti hari biasa, bangun tengah malam menjalankan salat Tahajud. Kondisi tubuhnya masih kurang fit, kepala masih terasa berat. Hanya terbangun sebentar untuk mengerjakan salat Subuh. Lalu, tertidur lagi. "Kalo kamu ada waktu ke sini jenguk dede, ya, Ma. Aira bilang, dia kangen sama Khaalatun (Tante)." "Iya, Kak. Insya Allah. Nanti aku ke sana." "Oh, iya, jangan lupa kamu telepon Umi. Katanya beberapa hari ini kamu nggak ada kabar, Umi khawatir." Kakaknya mengingatkan. "Iya, Kak. Ilma pasti telepon." Tok tok tok "Neng Ilma, maaf, Non Nabilah sudah datang, dia nunggu di luar." Bu Septi, pemilik kost memberitahu. Ilma menyudahi obrolannya di telepon. Wajahnya tampak lebih ceria. Dia sudah melepas perban yang membalut kepalanya. Menutupi bekas luka di dahinya menggunakan inner jilbab berwarna putih. Penampilannya terlihat anggun dengan mengenakan gamis biru tosca dan jilbab cokelat muda. "Pagi, Kak Ilma! Wah, cantik banget hari ini, mau ke mana, Kak?" Lani, teman satu kampus menyapanya. "Mau pergi sama Nabilah, Lan." Gadis itu membalas seraya tersenyum ramah. "Nggak masuk kuliah, Kak?" "Eh ... umm--" Ilma menggeleng. "Ijah, lu udah siap?" Nabilah melambaikan tangan di depan pintu. "Udah, nih. Lani, kakak pergi duluan, ya," pamitnya. "Bil, anter aku jenguk Kak Rahma di rumah sakit, ya. Tadi pagi dia udah lahiran. Aku mau lihat bayinya." "Nanti siangan aja kita ke sana. Sekarang ada yang lebih penting. Lu harus periksa lagi luka bekas kecelakaan. Oh, ya ... kenapa perbannya udah dilepas, sih?" Nabilah menatap heran. "Ribet, Bil. Tadi pagi aku habis keramas, terpaksa aku lepas." "Oke, tapi lu tetap harus periksa ulang, ya. Nggak boleh nolak," paksa Nabilah. "Iya, nanti kalo kita jenguk Kak Rahma, jangan ngasih tahu dia, ya. Jangan bilang kalo aku habis kecelakaan. Aku nggak mau dia jadi khawatir bertepatan dengan moment indahnya hari ini," pinta Ilma. "Oke. Kita pergi ke dokter di klinik yang kemarin, ya. Sekalian lu diperiksa, gue pengen tahu gimana awalnya lu mengalami kecelakaan." Nabilah mengusulkan. "Nggak, deh, Bil. Tempat klinik itu jauh. Barusan aku udah janji hari ini mau jenguk Kak Rahma," timpal Ilma bersikukuh. Nabilah menghela napas. 'Percuma berdebat dengan gadis ini,' batinnya. Ilma tetap pada pendirian. Nabilah harus menuruti kemauan sepupunya. "Ya, udah, kita pergi ke dokter di rumah sakit tempat gue kerja aja. Setelah itu baru jenguk Kak Rahma. Kebetulan gue bagian shift malam jadi ada waktu luang." *** Pagi itu, Ilham meminta izin pada atasannya untuk pulang awal dengan alasan ada masalah yang harus dituntaskan. Dia sudah menghubungi Ilma berkali-kali, setelah menerima paket berupa foto-foto v****r adiknya. Setiap dihubungi, ponsel gadis itu sedang tidak aktif. Kadangkala tersambung, tapi tidak terjawab.  Saat itu pula, Ilham berniat mendatangi langsung ke kampus adiknya. Namun, sampai di sana pun dia tak menjumpai Ilma. Dia menanyakan kepada salah satu temannya Lani, sekaligus teman satu kost mengatakan bahwa Ilma hari ini tak masuk kuliah. Semakin bertambah dongkol pria itu terhadap adik perempuannya.  Ketika melewati koridor dia berpapasan dengan sahabat lamanya, Anwar. Kebetulan sekali dia sedang mencari informasi tentang seseorang. "Akhi Anwar, ane mau tanya. Apa ente punya nomor kontak atau alamat kantornya Akhi Kelvin?" tanya Ilham setelah menyapa dan berbasa-basi. "Wuih, tumben, nih. Satu abad kalian musuhan, tahu-tahu, saling minta nomor kontak bergantian. Kalian sudah baikan, ya?" selidik Anwar, bercanda. "Maksud ente apa, nih?" tanya Ilham penasaran. "Sekitar dua hari yang lalu, Akhi Kelvin telepon ane. Dia minta nomor kontak sama alamat kantor ente, Ham. Oke, nanti ane kirim nomor HP sama alamat kantornya dia. Ente mampir bentar ke ruangan ane, ya, Gan?"  "Waduh, maaf, Gan. Ane bukan bermaksud menolak, tapi ane lagi ada urusan penting, nih. Lain kali aja, ya," ucap Ilham sungkan. "Ya, udah, ane kirim via WA ente, ya." "Syukran. Jazzakumullah khairan, ya, Gan! Assalamualaikum," pamit Ilham. Ketika Ilham hendak masuk ke mobil, dia memikirkan apa yang diucapkan oleh sahabatnya. Kelvin meminta nomor kontak dan alamat kantornya pada Anwar. 'Jangan-jangan foto dan video m***m itu sengaja dikirim oleh Kelvin? Hmm ... bisa jadi ...,' pikirnya curiga.  Dari kampus, Ilham segera menuju tempat kost Ilma. Matahari merangkak perlahan bersembunyi di balik awan candramawa. Semilir angin menerbangkan bau udara khas ibu kota. Menyertai jiwa pria yang sedang nelangsa. Kembali ke pikirannya yang tengah gundah gulana dirundung segala praduga. "Bu, Neng Ilmanya ada?" tanya Ilham pada pemilik kost. "Si Neng barusan keluar, Kang. Dijemput Non Nabilah," terang Bu Septi. "Ibu tahu nggak mereka pergi ke mana?" "Aduh, ibu kurang tahu, Kang. Mungkin ke kampus kali, ya," balasnya. "Sayangnya dia nggak di sana, Bu." "Kenapa gitu? Akang mau nunggu si Neng pulang? Masuk aja atuh, tunggu di dalam." "Oh, nggak, Bu. Terima kasih. Nggak apa-apa, nanti saya coba hubungi lagi ... oh, ya, apa Ibu pernah lihat adik saya diantar sama laki-laki?" tanya Ilham menyelidik. "Laki-laki? Siapa, ya? Sepertinya nggak pernah, tuh! Si Neng biasanya diantar sama Abang Ojol. Tapi kalo di luar mah, ibu nggak tahu, Kang, " seloroh Bu Septi. "Oh, kalo gitu saya permisi, Bu. Terima kasih sebelumnya. Saya pamit. Assalamualaikum." Ilham kembali masuk ke mobilnya. Sekali lagi dia mencoba menghubungi nomor adiknya. Lagi-lagi tak diangkat. Dia mencoba menelpon Nabilah, pun sama tak ada jawaban. Terakhir dia menghubungi adiknya yang pertama, Rahma. Mendengar penuturan dari Rahma, Ilma akan menjenguknya di rumah sakit bersalin. Dia segera memutar kemudi ke sana. Ditemani oleh sepupunya dan atas saran dari Nabilah, Ilma menemui seorang dokter ahli saraf. Sebelum diperiksa, Ilma menceritakan secara kronologis kejadian yang dialaminya. Namun, hanya bisa mengingat separuh kejadian setelah dirinya dirawat di klinik. Dia menjelaskan pada dokter tentang kecelakaan yang dialaminya menurut penuturan suster dan Dokter Rissa. "Kata dokter klinik di sana bilangnya saya mengalami amnesia jenis apa, ya ... ah, saya lupa. Beliau juga menyarankan agar saya melakukan terapi. Saya tidak ingat kejadian sebelum saya kecelakaan, Dokter," ungkapnya. "Baik, biar saya periksa kembali. Silakan Adek tunggu di luar biar saya periksa pasien." Dokter itu memberi isyarat pada Nabilah. "Jah, gue nunggu di luar, ya. Jangan khawatir!" Ilma membalas dengan anggukan. Kemudian, dokter mempersilakan Ilma untuk merebahkan tubuh di atas ranjang rumah sakit. Dokter membersihkan bekas luka dan sekitar dahi Ilma. Menekan pelan menggunakan jari tangan. "Adek mengalami cedera kepala yang mengakibatkan hilang kesadaran, pusing yang hebat secara berkelanjutan. Selain itu, apa Adek juga mengalami mual atau muntah?" tanya dokter setelah memeriksa.  "Kalo mual pengen muntah sedikit. Tapi sering sakit kepala dan bingung, Dokter. Mau bangun tidur juga susah. Kepala rasanya berat." "Adek rutin minum obat yang dikasih dokter di klinik?" "Kadang-kadang, Dokter. Habis mulut saya terasa pahit, bikin perut jadi mual." "Sebaiknya Adek rutin mengonsumsi obatnya. Terapi juga sangat diperlukan supaya daya ingat cepat kembali aktif. Nah, sekarang saya akan memulai terapi. Saya akan bertanya mengenai latar belakang dan masa lalu Adek. Sedikit-sedikit bisa ingat, 'kan?" tanya Dokter. Kemudian, dokter melakukan terapi yang disebut terapi perilaku kognitif. Menanyakan tentang masalah pribadi. Mulai dari keluarga, teman dekat, pekerjaan, dan yang lainnya. Meskipun terapi lebih berfokus pada situasi saat ini. Namun, masalah yang dialami pasien bisa terkait dengan masa lalu. Terapi yang dilakukan berlangsung selama kurang lebih satu jam. "Dokter, kira-kira, kapan saya bisa sembuh? Maksud saya, berapa lama lagi saya bisa mengingat sepenuhnya?" tanya Ilma. "Tergantung kondisi fisik Adek. Usahakan mulai hari ini jangan melakukan kegiatan yang terlalu berat. Perbanyak istirahat dan obatnya diminum, ya. Jangan lupa, nanti ke sini lagi. Jika Adek tidak sempat, bisa menghubungi saya untuk melakukan terapi melalui telepon," anjur dokter. "Ini sangat penting, karena membutuhkan 10 sampai 20 kali terapi. Teman Adek psikolog, kan? Bisa juga konsultasikan dengan dia, dan ini resep obat yang harus diminum. Silakan ambil di apotek." "Terima kasih, Dokter." Ilma keluar dari ruangan dokter ahli saraf dan langsung menemui Nabilah yang sedang menunggunya. Mereka menuju apotek. Saat dia membuka sling bag-nya, ponsel Ilma menyala, panggilan telepon dari Ilham. "Kenapa nggak diangkat, Jah?" tatap Nabilah heran. "Aku bingung mau bilang apa, Bil," sahut Ilma gusar. "Yaelah angkat aja, kali. Siapa tahu penting!" Ilma menghela napas panjang, mengembuskan pelan. Lalu, menjawab telepon dari kakaknya. "Assalamualaikum," ucapnya. "Alaikumussalam. Kamu di mana, Neng? Berapa kali aa telepon, kenapa nggak diangkat?" tegur Ilham emosi.  "Aa, maaf. Neng lagi di rumah sakit." "Lagi ngapain?" "Eh ... jenguk Kak Rahma," jawabnya. "Tunggu di sana, jangan ke mana-mana. Aa jemput kamu, nanti langsung pulang ke Bandung!" perintah Ilham mengingatkan. "Lho, kok, pulang? Ini, kan, masih hari Senin. Besok neng ada kuliah." Gadis itu tampak bingung. "Besok kuliah, kenapa hari ini nggak masuk? Aa nggak mau ada alasan lagi. Pokoknya hari ini, Neng harus pulang! Wassalamualaikum." Ilham menutup obrolan. "Khalaatun!" teriak bocah berambut ikal sebahu menghambur ke pelukan tantenya. Wajah khas Timur Tengah pada bocah berusia empat tahun itu, tersenyum lebar memperlihatkan bentuk gigi kelincinya saat bertemu Ilma. Dari sikap Aira sudah dipastikan keponakannya sangat sayang kepada Ilma. Dia bergelayut di pundak Ilma. "Yaya kangen sama Khala," sambut Aira riang. "Khala juga kangen banget sama Yaya, Sayang." Ilma memeluk erat tubuh bocah itu. "Sama onty kangen nggak?" celetuk Nabilah dari belakang Ilma. Gadis itu menoleh, mengangguk tersipu. "Sini, cium, dong!" seru Nabilah sambil menujuk pipinya. Aira menghampiri dan mencium pipi chubby Nabilah dengan malu-malu. Dia kembali mendekati Ilma. Lalu, berbisik. "Khala, dedenya udah keluay dayi peyut Bunda," tutur Aira polos. "Iya, Sayang. Khala udah tahu, kok, dari Bunda. Doa Aira terkabul, ya. Katanya pengen punya adek cewek."  "Iya, Khala. Yaya, kan, pengen punya adek cewek biay bisa main bayeng," sahutnya. "Oh, ya, Yaya udah punya nama buat adek belum?" tanya Ilma antusias. "Kata Bunda, namanya adek Mahyin," ucapnya lugu. "Mahreen ... Mahreen Shafana Almahyra," timpal Rahma seraya tersenyum. Ilham tiba di ruangan kamar rumah sakit bersalin. Dia menyapa dan mengucapkan selamat atas kelahiran putri kedua adik keduanya. Wajahnya tegang, menyunggingkan senyum terpaksa. Terlebih saat menatap Ilma. Walau sikap Ilham dingin, Ilma menghampiri dan mencium tangannya. "Aa antar kamu pulang ke Bandung sekarang!" tegasnya. "Lho, emangnya ada apa, sih?" tanya Rahma. "Ada sesuatu yang harus dijelaskan." "Iya, Aa. Tapi, boleh nggak neng ambil barang dulu di kost?" tanya Ilma gusar. Ilham mengangguk dengan ekspresi dingin. Nabilah yang melihat ada gelagat tak baik merasa resah. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi bingung karena sudah berjanji pada Ilma untuk tidak memberitahu tentang kecelakaan yang dialami sepupunya. Mereka pamit diiringi tatapan heran dari Rahma dan Nabilah. Bersambung  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD