Prolog : Bukanlah Awal
Pandanganku kembali ke masa di mana semuanya bermula. Aku melihat ke arah tanganku. Ini tanganku, tangan yang hampir merusak segalanya. Kuperhatikan sekeliling ruangan, semuanya masih sama tepat sebelum kejadian itu berlangsung.
Aku berpikir keras mengingat apa yang aku lakukan saat itu. Memegang dagu sambil mondar mandir di depan meja penelitianku. Kulihat ke arah kalender digital yang tergeletak di atas meja. Layarnya menunjukkan pukul 13.00, dan sekarang adalah hari Jumat tanggal 14 Maret 2025.
Pikiranku tiba-tiba terbesit mengingat sesuatu. Aku pindah ke hari itu, hari di mana semuanya menjadi kacau. Aku melihat ke tengah ruangan. Alat yang dengan susah payah sudah aku ciptakan terpampang jelas dengan tirai yang menutupi wujudnya.
Aku pun berjalan ke arah alat itu. kuperhatikan sekitar laboratorium yang sedang sepi. Sepertinya memang benar aku berpindah ke waktu di mana aku akan benar-benar mengacaukannya.
Kusibak kain yang menutupi alat ciptaanku. Terpampang jelas alat dengan bentuk bulat mirip seperti donat. Aku tersenyum sebentar melihatnya, lalu berpindah ke sisi yang lain.
Aku memastikan kembali waktu kejadiannya. Lima menit lagi, jika aku bisa melalui ini tanpa terjadinya sesuatu yang aneh maka aku pasti berhasil menyelamatkan semuanya.
Sudah 5 kali aku mengelilingi benda ini, hanya untuk membuang waktu sampai lewat dari poin penting yang ada. Tapi secara tiba-tiba aku melihat sebuah kejanggalan yang menarik perhatianku. Sebuah kesalahan yang jika kupikir-pikir adalah titik dimana yang menyebabkan kejadian yang kualami waktu itu. Aku berkutat di sana sampai akhirnya Joanna datang menghampiriku.
“Kamu sedang apa, Catra?”
Baru saja aku mau menjawab panggilan Joanna, tiba-tiba pandanganku berubah menjadi putih, menghilangkan semua pemandanganku yang sebelumnya kulihat, termasuk Joanna dan alat yang sedang kuperbaiki tadi.
Aku berusaha meraba sekitar, tapi ada hal lain yang mengejutkanku. Tanganku yagn semula normal tiba-tiba kembali ke wujud waktu itu. pandanganku kembali normal, tapi kali ini ada yang berbeda. Aku hanya menjadi penonton dari rentetan kejadian yang aku alami selama ini. Bermula saat aku berdiri di depan meja dan berakhir dimana alat itu meledak.
Pemandangan kembali terulang dan kali ini menampakkan kejadian yang baru saja aku alami, dan tepat setelah Joanna datang, semua kembali ke awal, dan mengulang ke kejadian pertama.
Aku bingung, kenapa hal ini terjadi. Tanganku memegang kepalaku sambil berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Dua kejadian itu terus berulang dan mulai terlihat seperti kaset rusak yang mengulang bagian yang sama terus-menerus.
“Aaaaaaaaarrrrrrggggg!!!”
Aku tidak kuat. Kutarik rambutku sekuat mungkin, lalu berteriak sekencang mungkin sampai tenggorokanku sakit menyesali apa yang sudah kuperbuat barusan.