BAB 1 — Hari Pertama
“Portofolio kamu bagus. Tapi saya tidak yakin kamu cukup kuat kerja di sini.”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir pria yang baru pertama kali Kalea temui dalam hidupnya. Detik pertama menginjakkan kaki di ruangan itu, dan Kalea langsung dilanda rasa benci yang pekat sekaligus pesona asing yang sulit dinalar akal sehatnya.
Lobi Lumen & Co. pagi itu terasa jauh lebih megah dan mengintimidasi daripada bayangan Kalea di ponsel. Udara dingin AC gedung SCBD beradu dengan debar jantungnya yang menggila, meski ia mati-matian memasang wajah setenang mungkin di hadapan meja resepsionis. Sebelum melangkah masuk tadi, ia sempat menatap pantulan dirinya pada dinding kaca pencakar langit di luar sana sambil merapal janji dalam hati. Ini adalah titik nol di mana ia akan membuktikan kemampuannya sendiri tanpa perlu mendompleng nama besar sang ayah yang duduk nyaman di kursi empuk gedung DPR.
“Atas nama Kalea Anindya? Silakan langsung naik ke lantai dua belas. Ruang interview Pak Raka ada di ujung koridor,” ujar staf resepsionis dengan senyum ramah yang justru membuat perut Kalea semakin mulas.
“Makasih, Mbak,” balas Kalea singkat, mencoba mengatur napasnya yang mendadak pendek-pendek.
Langkahnya terasa begitu berat saat menaiki lift eksekutif yang membawa naik ke lantai dua belas. Setiap detik yang berdetak di dalam sana seolah menuntut pertanggungjawaban atas keputusan nekatnya merantau ke kawasan bisnis paling elite di ibu kota. Begitu pintu lift terbuka, aroma kemewahan dan ketegangan langsung menyergap indra penciumannya. Lorong berkarpet tebal itu sunyi senyap, hanya menyisakan suara pantulan sepatu pantofelnya sendiri yang berderap pelan mendekati pintu kayu berukir minimalis di ujung sana.
Begitu pintu ruang interview tertutup rapat di belakangnya, suasana langsung berubah beku. Raka Adhyaksa Mahendra duduk di seberang meja kerjanya dengan postur kaku, membolak-balik halaman portofolio milik Kalea tanpa ekspresi berarti di wajahnya. Pria itu tidak butuh waktu lama untuk mulai menghujani karya-karyanya dengan kritikan tajam, menyecar habis-habisan pilihan warna, komposisi layout, hingga konsep desain yang sudah Kalea susun berhari-hari tanpa tidur nyenyak.
“Kamu taruh palet warna ini di sini tujuannya apa? Biar kelihatan ramai?” tanya Raka dingin, matanya menatap tajam menembus lensa kacamata berbingkai tipis.
Kalea menelan ludah, tapi harga dirinya menolak untuk ciut begitu saja di hadapan atasan galak itu. “Gradasi itu saya pilih buat ngasih kesan ruang yang lebih dalam, Pak. Biar pesannya nggak kelihatan datar di mata audiens.”
Raka terdiam sejenak. Alis tebalnya sedikit terangkat, dan meskipun tidak ada senyum yang terbit di bibirnya, ada kilat tajam penuh ketertarikan yang melintas sekilas di mata cokelat gelap itu.
“Kamu serius mau pakai konsep kayak gini untuk klien korporat yang konservatif?” tanya Raka lagi, nada suaranya menguji batas kesabaran.
“Saya yakin, Pak. Desain ini punya daya tarik visual yang kuat buat generasi muda, dan klien kita butuh penyegaran itu,” balas Kalea cepat, berusaha mempertahankan intonasinya agar tidak bergetar di hadapan sang legenda agensi.
“Keyakinan saja tidak cukup di industri ini, Kalea. Kalau hasil akhirnya meleset dari ekspektasi, kamu sendiri yang harus tanggung jawab,” ujar Raka sambil menutup map portofolio itu dengan suara gedebuk tertahan yang cukup membuat nyali Kalea mencelos ke lantai.
“Saya paham risikonya, Pak,” jawab Kalea dengan dagu terangkat tipis.
Raka mendengus pelan, sandaran kursinya berderit pelan saat ia bergerak sedikit. “Bagus kalau kamu tahu. Sesi ini selesai.”
Suasana di dalam ruangan itu terasa semakin menekan d**a Kalea. Ia tahu standar di Lumen & Co. sangat tinggi, tetapi berhadapan langsung dengan Raka Adhyaksa ternyata jauh lebih melelahkan daripada membaca ulasan anonim di internet tentang kejamnya industri kreatif SCBD. Pria itu tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga membedah mental setiap orang yang duduk di hadapannya tanpa ampun.
“Kamu pikir bekerja di sini bisa sambil santai seperti di kampus?” cibir Raka pelan sambil memutar pena di antara jemarinya yang panjang dan kokoh.
“Saya tidak pernah bilang mau santai, Pak. Kalau saya cari aman, saya nggak akan ada di ruangan ini sekarang,” balas Kalea setengah mendesis, menahan emosi yang hampir meledak di ujung lidahnya.
Raka mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagunya dengan kedua tangan sementara tatapannya menelusuri setiap inci wajah Kalea seolah sedang mencari celah kelemahan. “Banyak anak muda datang dengan ambisi besar di minggu pertama, lalu menangis di toilet kantor pada bulan berikutnya. Kamu terbuat dari apa sampai begitu yakin bisa bertahan?”
“Dari tekad yang tidak akan runtuh cuma karena omongan atasan yang meremehkan,” jawab Kalea tanpa sadar, melontarkan kalimat yang membuat dirinya sendiri terkesiap setelah terucap.
Untuk sesaat, rahang tegas Raka tampak mengeras. Namun, sedetik kemudian sudut bibir pria itu berkedut membentuk senyuman tipis yang hampir tidak terlihat—sebuah respons sinis sekaligus pengakuan tersembunyi atas keberanian gadis di depannya.
“Nyali kamu boleh juga,” ucap Raka dingin. “Tapi kita lihat nanti apakah omongan besar itu sebanding dengan hasil kerjamu di bawah tekanan deadline proyek besar.”
Ia menggeser letak kacamatanya sedikit ke atas, lalu kembali membuka lembaran catatan evaluasi di hadapannya tanpa mengalihkan aura dominan yang menguasai seluruh ruangan. Kalea merasakan sekujur tubuhnya menegang, menyadari bahwa apa pun yang ia katakan barusan telah menarik garis batas tak terlihat di antara mereka berdua. Pertempuran kecil ini baru saja dimulai, dan ia tidak punya ruang sedikit pun untuk melakukan kesalahan fatal di depan pria bermata tajam itu.
“Kamu tahu, di luar sana ada ratusan lulusan baru yang mengantre untuk duduk di kursi yang sedang kamu tempati sekarang,” lanjut Raka tanpa menatap langsung, suaranya terdengar datar namun sarat dengan beban psikologis yang berat. “Mereka punya IPK sempurna, rekomendasi dosen bergengsi, dan portofolio yang tidak kalah tebal dari milik kamu. Jadi, beri saya satu alasan rasional kenapa saya harus membuang waktu melatih seseorang yang hanya mengandalkan semangat buta.”
Kalea meremas ujung rok midi yang ia kenakan di bawah meja, mencengkeram kain itu erat-erat untuk menyalurkan rasa geram yang mendidih di dalam d**a. “Karena mereka semua mungkin punya catatan akademik yang sempurna, Pak. Tapi mereka tidak punya alasan personal yang cukup kuat untuk membakar diri mereka demi bertahan di industri ini.”
Raka menghentikan gerakan penanya, lalu mengangkat wajah untuk menatap lurus ke dalam mata Kalea. Alisnya yang tajam berkerut tipis, menunjukkan ketertarikan samar yang dibalut keheranan. “Alasan personal? Kamu pikir agensi ini tempat rehabilitasi atau yayasan amal untuk menampung cerita hidup karyawan baru?”
“Bukan,” sanggah Kalea cepat dengan suara bergetar tertahan. “Tapi saya datang ke sini bukan untuk dikasihani. Saya ingin membuktikan bahwa saya mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa bayang-bayang orang lain. Kalau itu belum cukup bagi Bapak, silakan usir saya sekarang juga.”
Keheningan yang pekat kembali merayap di antara meja kerja kayu jati yang mahal itu, seolah menyisakan ruang bagi detak jam dinding antik untuk berdetak nyaring. Raka terdiam cukup lama, membiarkan kalimat menantang itu menggantung di udara sementara tatapannya meneliti setiap detail ekspresi di wajah Kalea dengan tingkat ketelitian yang mengerikan. Ada sesuatu di dalam sorot mata gadis muda di hadapannya yang mengingatkannya pada dirinya sendiri di masa lalu—keras kepala, penuh luka yang disembunyikan, dan menolak tunduk pada keadaan.
“Kamu perempuan pertama yang berani menatap mata saya seperti itu dalam sesi wawancara pertama,” ucap Raka akhirnya, nada suaranya merendah satu oktaf, berubah menjadi bisikan bariton yang membuat bulu kuduk Kalea meremang seketika.
“Saya hanya mengatakan apa yang saya yakini, Pak,” jawab Kalea dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki.
Raka mendengus pelan, sebuah reaksi ambigu yang tidak bisa ditebak apakah itu bentuk kemarahan atau justru kekaguman yang tertahan rapat di balik topeng profesionalismenya. Ia menutup map portofolio Kalea dengan gerakan tegas, lalu menyandarkan punggungnya kembali ke kursi kerja kulit hitam yang tampak begitu mewah.
“Waktu kamu habis, Kalea Anindya,” kata Raka sambil meraih cangkir kopi hitam di sudut mejanya tanpa menyesap isinya. “Keluar dari ruangan saya, dan urus administrasi kamu di lantai bawah.”
Sesi interogasi berkedok wawancara kerja itu akhirnya selesai, meninggalkan Kalea dengan sisa tenaga yang nyaris habis tersedot. Ia melangkah keluar dari ruangan lantai atas dengan mata panas, hampir menangis karena gemas bercampur sebal pada sikap arogan pria tadi. Sambil menunggu lift, ia masuk ke dalam petak besi yang kebetulan sedang kosong melompong, bersiap merutuki nasib sialnya hari ini di dalam hati.
Pintu lift belum sepenuhnya tertutup rapat ketika sesosok bayangan tinggi berbadan atletis menyusul masuk ke dalam detik-detik terakhir. Raka berdiri di sampingnya, membawa aroma khas kayu cendana dan tembakau yang seketika menguasai ruang sempit itu tanpa ampun. Jarak mereka begitu dekat hingga Kalea bisa merasakan radiasi kehangatan dari tubuh pria tersebut, membuat napasnya mendadak tertahan di tenggorokan.
“Kamu tahu kenapa saya jarang menerima desainer baru langsung dari universitas?” suara baritone itu memecah keheningan lift yang pengap.
Kalea menoleh sedikit, menatap bahu bidang Raka dari samping dengan sebelah alis terangkat. “Karena dianggap belum punya pengalaman nyata di lapangan, Pak?”
“Bukan cuma itu,” jawab Raka tanpa menoleh, tatapannya lurus ke depan memperhatikan angka digital lantai yang terus berganti. “Kebanyakan dari mereka gampang menyerah waktu ditekan deadline ketat dan klien resek.”
“Saya bukan tipikal orang yang gampang menyerah cuma karena tekanan, Pak,” sanggah Kalea tegas, merasa harga dirinya disentil secara terang-terangan.
Raka akhirnya menoleh, menatap wajah Kalea lekat-lekat dari jarak yang terlalu dekat untuk ukuran atasan dan kandidat karyawan baru. “Kita lihat saja nanti, apakah omongan kamu ini sejalan sama hasil kerja kamu di meja tim minggu depan.”
“Silakan buktikan sendiri, Pak,” balas Kalea, menatap balik mata tajam pria itu tanpa berkedip meski jantungnya bergemuruh hebat.
“Bagus. Saya pegang kata-kata kamu,” ucap Raka dengan nada rendah yang menantang.
“Silakan pegang, Pak. Saya nggak akan bikin Bapak kecewa,” balas Kalea cepat, tidak mau kalah gengsi.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Raka kembali berujar dengan suara rendah yang langsung mencengkeram saraf-saraf di leher Kalea. “Senin depan, jangan terlambat.”
Pintu lift berdenging pelan saat mencapai lantai dasar gedung, tapi Kalea sudah terlanjur terpaku di tempatnya berdiri bagai patung es yang kehilangan nyawa. Ia diterima. Hanya itu kalimat sederhana yang berdengung di kepalanya, bercampur dengan debar aneh yang menghantam dinding dadanya tanpa ampun.
Sesampainya di luar gedung, Kalea mengeluarkan selembar kartu nama eksklusif bertekstur matte dari dalam tas kerjanya dengan tangan bergetar. Jemarinya meraba huruf-huruf timbul berwarna perak di atas sana, mengeja nama yang baru saja mengubah arah hidupnya hari itu. Raka Adhyaksa Mahendra, Creative Director.
Ia menelan ludah kelat, menatap lobi megah di belakangnya dengan perasaan asing yang membuncah di d**a, antara ketakutan yang mendalam dan gairah tersembunyi yang mulai berpijar.
“Apa yang barusan terjadi?” bisiknya pada angin sore SCBD yang berembus kencang.