Waktu Kedua Bagi Clair De Lune

1353 Words
"Halo, Clair, kami telah mengevaluasi perhitungan yang kamu buat."   Telepon pagi itu dari Joseph membangunkan Clair dari tidurnya. Ia mengangkat panggilan itu dengan mata yang masih tertutup dan suara kecil karena menahan rasa kantuknya setelah 5 jam tidur. Sedikit sinar matahari masuk ke dalam kamarnya, melalui celah-celah gorden yang terbuka sedikit. "Bagaimana dengan hasilnya? Apa perhitungan yang saya buat, mampu menutup beberapa kemungkinan terburuk?" tanya Clair.   "Pihak saya sudah menyelaraskannya dengan dana pengadaan satelit tersebut. Dan ya, hasilnya memuaskan. Hampir saja saya melewatkan hal-hal kecil yang mungkin bisa membuat saya rugi," ujar Joseph.   "Baiklah kalau begitu..." suara Clair mengecil dan tiba-tiba menghilang, ia kembali tertidur pulas di kasurnya.   "Halo? Clair? Apa kamu masih mendengar saya?" tanya Joseph sambil melihat ke arah handphonenya untuk memastikan sambungan panggilan itu. Tidak lama kemudian ia meninggalkan panggilan tersebut.   Waktu berjalan dengan perlahan, sementara Clair masih tertidur. Pertemuan yang akan diadakan antara Clair dengan Joseph seharusnya hanya beberapa menit lagi. Alarm yang terus berbunyi dari handphone milik Clair, tidak juga membangunkannya. Salah seorang asisten di rumahnya mengetuk pintu kamar Clair, mulai dari kecil hingga keras. *tok...tok...tok"   "Mbak? Sudah bangun, Mbak Clair?" ujar Emma sang Asisten.   "MBAK CLAIR, INI SUDAH HAMPIR JAM 11 SIANG!" Suara teriakan dari asisten itu membangunkan Clair hingga terkejut.   "ASTAGA, MBAK, AKU KESIANGAN, AKU BISA TELAT MENGHADIRI PERTEMUAN."   Clair lompat dari tempat tidurnya dan langsung berlari masuk ke kamar mandi. Di ruang tamu, beberapa asisten di rumahnya sedang menyiapkan beberapa makanan untuk sarapan Clair. Sandwich dengan satu lapisan beef dan roasted red pepper adalah makanan kesukaan Clair untuk sarapan setiap paginya.   Tidak terdengar suara percikan air dari kamar mandi di kamar Clair. Emma langsung menaiki anak tangga yang menuju ke arah kamar Clair. Ia mengetuk pintu beberapa kali untuk memberitahu Clair, bahwa sarapannya sudah siap. Emma tidak mendengar suara sama sekali dari dalam, ketukan pintunya juga tidak dibalas oleh Clair. Perlahan Emma membuka pintu kamar Clair untuk memastikan bahwa Clair sudah terbangun dari tidurnya.   Kamarnya sudah kosong dan tidak ada seorang pun di dalamnya. Hanya ada beberapa perhiasan yang biasa digunakan Clair dan alat make-up yang tertinggal. Pikirnya, Clair sudah meninggalkan rumah itu dan sedang dalam perjalanan menuju gedung kantor Roosevelt Corp untuk bertemu dengan pemilik perusahaan. Namun melihat handphone yang masih tergeletak di atas tempat tidurnya, membuat Emma khawatir akan Clair. Ia kemudian menuju halaman depan rumah, dan bertanya kepada asisten keamanan di sekitar pagar rumah.   "Pak Ezra, kamu melihat Mbak Clair keluar menuju mobilnya?" tanya Emma. "Tidak, bukannya masih di dalam? Aku bahkan tidak melihatnya keluar rumah," ujar Ezra.   Emma melihat ke arah jendela kamar Clair yang terbuka, kemudian tersenyum memandanginya.   ***   *TING...*   Suara dari salah satu pintu lift yang terbuka di gedung kantor Roosevelt Corp. Langkah kaki pria yang sedang menenteng tas kerjanya, terdengar seperti berjalan cepat untuk masuk ke dalam lift yang terbuka. Ia terpaku pada layar handphone yang digenggam di tangan kanannya, tidak memedulikan apa yang ada di sekitarnya. Koridor sepanjang barisan lift itu nampak kosong sebelumnya. Pria itu menekan tombol lantai pada lift, untuk menuju ke beberapa lantai di atasnya. Pintu lift hampir tertutup, ia mendengar teriakan dari seorang wanita.   "TUNGGU!"   Pria itu menahan pintu lift agar tidak tertutup. Seorang wanita mengenakan dress hitam dan berkalung mutiara berwarna putih itu, berlari menuju ke arahnya. Pria itu terlihat heran, karena sebelumnya ia berjalan sendiri sepanjang koridor sebelum menaiki lift tersebut. Ia mempersilahkan wanita itu masuk menaiki lift yang hendak naik ke lantai atas.   "Terima kasih banyak," ujar Clair   "Saya tidak melihatmu ada di sepanjang koridor itu sebelumnya, kok tiba-tiba kamu muncul?" Tanya pria tersebut.   "Eh?" Clair menengok ke arah pria itu, dan mengangkat alisnya, "Hahahaha, kamu salah lihat, kali, saya tepat berada di belakangmu. Kamu terlalu sibuk dengan handphone milikmu," lanjutnya diiringi tertawa kecil sambil mencari tombol nomor lantai 35 di lift itu.   "Hmmm, mungkin iya, tapi saya yakin tidak melihatmu di sana," ujar pria tersebut. Pria itu menatap dalam mata Clair. Senyum di wajah Clair perlahan menghilang berganti menjadi raut wajah bingung. Segera ia memalingkan wajahnya ke arah lain sambil menunggu lift itu tiba di lantai 35.   Lift tiba di lantai 23, pria itu lalu keluar dari sana dengan tatapan melihat ke arah Clair dengan wajah yang penasaran. Clair menutupi wajahnya dengan tangan kirinya, dan mengintip orang itu dari sela-sela jarinya. Setelah pintu kembali tertutup, Clair menghela napas panjang.   "Huh, gegabah sekali aku, untung saja."   Tepat jam 11 siang, Clair masuk ke ruang pertemuan dengan Joseph Roose dan tim peneliti. Di hari sebelumnya, Clair ditantang oleh Joseph, untuk menjelaskan kepada tim peneliti keuangan di perusahaan Roosevelt Corp tentang hasil perhitungannya. Jelas saja Clair tidak ingin kesan pertama pertemuannya dengan Joseph, harus tercoreng jika ia tidak hadir di pertemuan kali ini.   Tak lama setelah Clair memasuki ruangan, satu-persatu anggota dari tim peneliti keuangan Roosevelt Corp mulai memasuki ruangan secara bergantian. Beberapa dari mereka terlihat ragu terhadap Clair, yang dibilang usianya terpaut jauh lebih muda dari mereka. Tumpukan-tumpukan kertas mulai disusun di atas meja. Laporan yang sudah dievaluasi oleh manajer keuangan di sana, diberikan kepada Clair. Ada banyak coretan dan pertanyaan yang muncul karena skenario perhitungan yang dibuat oleh Clair. Layar proyektor sudah menyala. Clair mengeluarkan laptop dari dalam tasnya, dan menghubungkannya dengan layar proyektor. Sebelum memulai presentasinya, Clair bertanya ke salah satu staf di ruangan itu.   "Apakah Pak Joseph tidak hadir hari ini?" Tanya Clair   "Beliau tidak bisa hadir hari ini, ada 2 pertemuan dengan komisaris SEMA yang harus ia hadiri. Jadi, saya yang bertanggung jawab untuk pertemuan hari ini," jawab salah satu staf.   "Komisaris? Bukannya komisaris itu sedang tidak berada di Meeskatania?"   "Pak Sean sudah tiba siang ini di Meeskatania."   Clair mengangguk setelah mendengar pernyataan dari salah satu staf itu. Ia kembali fokus untuk menyajikan beberapa materi tambahan, sebagai bahan dukungan untuk dasar-dasar perhitungannya.   Suasana diskusi di ruangan itu sangat aktif. Beberapa kali para staf melemparkan pertanyaan yang sanggup Clair jelaskan secara detail. Papan tulis kini penuh dengan angka-angka. Kertas yang sebelumya tersusun rapih juga terlihat berserakan di meja.   Proyek ini memang sangat penting untuk perusahaan Roosevelt Corp. Karena itu, setiap detail kas perusahaan yang keluar untuk pengadaan barang dari luar negeri, harus seminimal mungkin. Clair sangat paham tentang hal itu, karena atas izin Joseph, ia juga sedang mengerjakan proyek Roosevelt Corp sebagai jurnal untuk menyelesaikan pendidikannya.   Terlepas dari semuanya, Clair hanya berharap agar bisa bergabung ke dalam tim SEMA Capital Corp. Karena keinginannya untuk bekerja di sana, sudah ada dari awal ia masuk ke Universitas Zeeskatania. Berita-berita dunia ekonomi di televisi, sosial media, dan majalah keuangan di negara itu selalu memberitakan keberhasilan SEMA Capital Corp. Tidak heran jika banyak sekali orang di Meeskatania, berlomba-lomba untuk menjadi bagian dari perusahaan terbesar ketiga tersebut. Beruntung bagi Clair dengan diadakannya program internship yang digelar oleh pihak kampus dan juga kedua perusahaan yang sedang naik daun itu. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ditambah pertemuannya dengan Joseph, membuat ambisinya semakin besar. Orang-orang di sekitarnya selalu menaruh kepercayaan kepadanya, entah dalam bentuk jabatan atau bahkan hal yang personal dari orang lain.   ***   Presentasi hari itu sudah berlangsung selama 4 jam. Clair berhasil menjawab semua pertanyaan dari staf yang hadir di ruangan itu. Hasil presentasinya pun juga sudah diterima oleh Joseph Roose, yang siang itu belum berkenan untuk hadir. Tetapi Clair menerima surat rekomendasi dari Joseph Roose melalui salah satu manajer yang menjadi penanggung jawab presentasinya.   Clair sangat bahagia membaca surat yang diterimanya itu. Ia diterima langsung oleh sang pemilik perusahaan, untuk menjadi bagian dari tim SEMA Capital Corp. Wajahnya haru, tangisnya jatuh perlahan di pipinya. Orang-orang di ruang itu memberinya ucapan selamat dan tepuk tangan yang sangat meriah. "Semoga berhasil di luar sana, kamu adalah salah satu orang yang bisa membuat saya terkesan," ujar sang manajer yang menghampirinya untuk sekedar berjabat tangan.   Beban yang Clair bawa sebelum masuk ke ruangan itu, sudah hilang. Kini ia menjadi bagian dari tim di perusahaan yang diimpikannya dari dulu. Baginya, ini bukan tentang siapa yang lebih dahulu mendapatkan kesempatan, tetapi siapa yang bekerja lebih keras dari orang-orang di sekitarnya untuk menciptakan sebuah kesempatan. Clair selalu teringat akan kutipan dari seorang psikologi terkenal di dunia pada tahun 2027, yang dahulu selalu ia baca. "Jika kau ingin menjadi yang terbaik, kau harus berjuang mengalahkan orang-orang terbaik."  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD