Langit-langit di kota Zeeskatania sore itu, terlihat sangat gelap. Rintik-rintik air hujan berjatuhan terbawa angin dan membasuh kaca-kaca gedung Roosevelt Corp. Semua orang berteduh, menahan langkah kakinya untuk sementara tidak keluar dari lobi utama. Namun ada beberapa orang yang baru saja berdatangan untuk masuk menuju gedung kantor itu.
Clair De Lune, berdiri di sudut paling pojok di antara banyaknya orang. Pandangannya bergantian melihat orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Clair sangat menyukai aroma hujan saat sore hari di suasana perkotaan. Ia teringat kembali saat kepindahannya ke negara Meeskatania di tahun 2027. Peradaban di Meeskatania tergolong sudah sangat maju dibanding beberapa negara tetangganya. Teknologi kereta super cepat, serta mulai diciptakannya mobil-mobil yang bisa terbang dengan ketinggian maksimal 5 meter di atas permukaan.
Namun demikian, Clair lebih mencintai suasana perkotaan di kota Buitenkatania, tempat tinggalnya saat ini. Beberapa orang terkaya di negara itu juga banyak yang memiliki rumah di Buitenkatania dan menempatinya. Jarak antara Buitenkatania dengan Ibu Kota Zeeskatania hanya terpaut 60 kilometer, membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapainya. Clair hampir setiap hari mengendarai mobilnya dari Buitenkatania menuju kampusnya, atau bertemu dengan teman-temannya di Zeeskatania.
Setelah satu tahun kepindahannya, Clair masih merasakan suasana yang sama seperti awal ia tiba di Buitenkatania. Orang-orang sangat ramah menyapanya setiap pagi, atau seperti penjual makanan saat malam hari di sepanjang jalan utama kompleks perumahan Clair.
***
Suara ramai yang dibuat oleh orang-orang di sekitarnya, membuat Clair tersadar dari bayang-bayang ingatannya. Ia bergegas menuju meja resepsionis di gedung itu, sekedar meminta payung untuk ia gunakan berjalan melewati hujan. Seorang pria berlari keluar lift untuk menghampiri Clair.
“Clair, presentasimu tadi sangat luar biasa. Kami berterima kasih padamu, dan berutang ilmu padamu,” ujar pria tersebut.
Clair yang ingin segera pulang, wajahnya berpaling ke arah pria tersebut.
“Hai. Sama-sama, aku senang membantu banyak hal, apalagi Pak Joseph Roose telah membiarkan saya untuk membantu tim perusahaannya,” jawab Clair sambil membuka payung yang dipinjamnya.
“Begitukah?” senyum seorang pria berdasi itu, “Kami akan menunggumu untuk segera bergabung ke perusahaan ini setelah acara perekrutan besok di Universitas Zeeskatania,” lanjutnya.
Clair hanya melemparkan senyum, lalu pergi meninggalkan pria tersebut. Setelah beberapa langkah keluar dari gedung itu, langkah Clair terhenti tiba-tiba.
“Astaga, aku lupa kalau aku tidak mengendarai mobilku,” ujar Clair sambil menepuk dahinya, “handphone, aku juga tidak membawa handphoneku,” lanjutnya. Ia kebingungan lantaran meninggalkan rumahnya tanpa mengendarai mobil dan membawa handphone miliknya. Clair kembali berjalan menyusuri trotoar sepanjang jalan itu.
Hujan sudah mulai reda, langit kembali cerah dengan sedikit sinar matahari senja berwarna kejingga-jinggaan yang mengintip di antara awan sore itu. Petrikor yang tercium, membuat Clair merasakan seperti wanita seutuhnya. Ia tersenyum menghadap langit, menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Tak jauh di depannya, ada kumpulan air yang menggenang. Ia dengan sengaja menginjak genangan air itu, hanya sekedar untuk mendengar suara gemercik yang dihasilkannya. Orang yang berjalan di sekitar Clair, tersenyum melihat hal yang dilakukan Clair. Beberapa orang mengeluarkan handphonenya, dan mengambil beberapa foto atau video untuk mengabadikan momen kebahagiaan seorang wanita yang menikmati senja kala itu.
Gedung kantor SEMA Capital juga tidak terlalu jauh dari gedung milik Roosevelt Corp, karena keduanya masih satu kompleks gedung perkantoran yang sama. Tidak jauh dari ruas jalan utama kompleks itu, ada sebuah kedai kopi favorit Clair. Hanya saja, butuh berjalan sekitar 50 meter menuju jembatan penyeberangan orang ke ruas jalan di seberangnya.
Clair menaiki jembatan tersebut. Di atas sana, Clair sempat berhenti untuk memandangi mobil-mobil yang melintas melalui jalan tol di bawahnya. Setelah menuruni anak tangga, Clair berjalan menuju kedai kopi favoritnya. Lampu-lampu jalan sepanjang trotoar sudah mulai menyala. Para pemilik toko-toko makanan juga sudah membuka kaca jendelanya, agar terlihat susunan-susunan piring makanan yang dipajangnya.
Setelah sampai di depan kedai, Clair dapat melihat suasana yang ramai di dalamnya. Ia memandangi seluruh ruangan di kedai tersebut melalui jendela di sebelah kanopi yang menjadi pemisah antara halaman luar kedai dengan tempat meracik kopi di bagian dalamnya.
Clair melihat seorang pria yang duduk berhadapan dengan wanita dari luar jendela itu, mereka seperti sedang membicarakan sesuatu. Ia menyipitkan matanya, seperti berusaha keras untuk mengingat sesuatu. Rupanya, pria itu adalah Sean Rafsanjani, dan tepat di hadapannya adalah Amanda Roose; Clair ingat betul wajah mereka yang terpajang di salah satu halaman web perusahaan SEMA Capital.
“Bukankah itu Sean Rafsanjani dan Amanda Roose?” gumamnya dalam hati. Tatap mata Clair terpaku pada sosok Sean, yang untuk pertama kalinya dapat melihatnya langsung.
Di bawah lampu jalan itu, Clair masih memandang Sean dengan pandangan kosongnya. Entah apa yang sedang terjadi dipikirannya saat itu. Tidak lama kemudian, Sean seperti engah bahwa ada seseorang yang memerhatikannya dari luar kedai itu, ia menoleh ke arah Clair De Lune. Mata mereka berdua bertemu dan terikat untuk waktu yang sangat lama.
Clair tersenyum saat menyadari Sean sedang menatapnya. Ia seperti merasa jatuh cinta kembali untuk kedua kalinya. Lamat-lamat memandanginya di bawah lampu jalan yang redup akibat kabut setelah hujan yang mulai turun menyelimuti senja. Dengan payung yang masih digenggamannya, Clair melambaikan tangan ke arah Sean, hendak ingin memanggilnya. Namun Clair tidak ingin merasa tergesa-gesa seperti wanita lainnya. Ia ingin tetap terlihat elegan dalam jatuh cinta, meskipun hatinya sudah luluh lantak akibat pertemuannya dengan Sean. Clair memutuskan untuk pergi dari tempat berdirinya itu, meninggalkan Sean yang mulai menaruh rasa penasaran padanya.
Sebuah taksi berhenti menghampirinya, mengantar Clair untuk pergi ke hotel di dekat kampusnya. Sepanjang perjalanan, pikiran Clair campur aduk antara senang dan ketakutan yang tiba-tiba membayanginya. Senang pada akhirnya dia bisa bekerja dan mengenal Sean, dan ketakutan jika Sean juga merasa jatuh cinta padanya.
“Mbak, kita sudah sampai di Hotel Royal De Luxe. Mbak mau turun di mana?” ujar supir taksi.
“Eh?” Clair tersadar dari lamunannya, “Oh iya, Pak, saya turun di depan lobi utama saja,” lanjut Clair sambil mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dompetnya.
Clair membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur di kamar nomor 208 di hotel itu. Ia memesan kamar dengan ukuran besar, hanya karena wine favoritnya yang disediakan sebagai minuman utama bagi tamu yang menginap. Perasaannya masih terpaut pada Sean, yang kemungkinan akan ditemuinya lagi di acara hasil perekrutan esok hari. Clair membuka satu botol Arbella Artois. Ia ingin tertidur pulas untuk menenangkan tubuh dan pikirannya, setelah satu hari penuh beraktifitas.
***
Ruangan aula utama di Universitas Zeeskatania pagi itu sudah mulai ramai didatangi oleh para mahasiswa yang sudah mendaftarkan dirinya untuk bergabung ke dalam tim perusahaan Roosevelt Corp dan SEMA Capital Corp. Beberapa satpam juga sudah terlihat sibuk untuk memberikan arahan parker kepada mobil-mobil yang sudah menyesakkan area parkiran.
Lany dan Clair jalan berdampingan memasuki aula. Mereka juga melihat Amanda Roose dan ayahnya, Joseph Roose, memasuki aula tersebut dari pintu VIP. Lany berbisik ke telinga Clair dan menunjuk ke arah Amanda Roose.
“Lihat tuh, idolamu sedang berjalan masuk,” candanya.
“Aku kemarin melihatnya di sebuah kedai, dia sedang berbicara pada Sean,” jawab Clair santai, “Dia lebih cantik aslinya, daripada melihatnya di foto-foto sosial medianya,” lanjut Clair yang memuji Amanda Roose.
“Kalian berdua itu sama cantiknya, beda denganku yang biasa-biasa saja,” ujar Lany memelas.
Clair yang mendengar itu, mencubit pelan kedua pipi Lany.
“Siapa yang bilang begitu? Biar nanti aku marahin orangnya,” tanya Clair yang menghibur sahabatnya. Lalu mereka berdua tertawa sambil meneruskan langkah kakinya untuk masuk ke dalam aula.
Dosen-dosen yang terkait dengan proses seleksi dan perekrutan program internship, memimpin pembukaan acara itu. Diselingi dengan sambutan oleh Amanda Roose selaku direktur utama SEMA Capital Corp, dan pidato oleh Joseph Roose selaku pemilik Roosevelt Corp. Mereka berdua memberikan banyak arahan kepada mahasiswa, untuk menghadapi dunia kerja di Meeskatania yang sudah memasuki era baru dalam teknologi yang mutakhir.
Clair sibuk mengunyah roti di mulutnya, dan memilih-milih makanan ringan yang dibekalkan untuk para peserta selama acara berlangsung. Lany menepuk pundak Clair untuk menasihati agar tetap fokus pada pembicaraan siang itu.
“Aku belum sempat sarapan, tau,” ujar Clair dengan mulut yang penuh dengan makanan.
“Iya, aku tau, tapi ini belum jam untuk makan siang. Sekarang semua dosen di atas panggung itu sedang memerhatikanmu,” jawab Lany sambil tertunduk, diikuti oleh Clair, karena kini dosen pun melihat ke arah mereka berdua.
Clair dengan terpaksa menelan semua makanan di mulutnya.
**
Para mahasiswa dikejutkan dengan kedatangan seorang laki-laki dari pintu masuk VIP di sebelah kanan barisan duduk mereka. Seluruh pandangan di ruangan itu tertuju pada laki-laki yag berjalan menuju panggung. Badannya tegap, cara berjalannya seperti seorang militer, namun ia mengenakan jas hitam lengkap dengan setelan berwarna hitam. Potongan rambutnya yang disisir rapih ke bagian kiri, sangat cocok dengan bentuk mukanya. Sepatu dan jam tangannya berkilau terkena pantulan cahaya dari lampu sorot di lantai 2 aula itu.
Clair kembali melihat Sean. Kali ini ia melihatnya dalam jarak yang sangat dekat, karena hanya berbeda beberapa kursi saja dari karpet merah yang dilewati oleh Sean. Tanganya menyilang sambil melihat Sean berjalan menaiki atas panggung untuk memberikan beberapa kata sambutan.
Tepuk tangan dari semua yang hadir di aula itu untuk Sean ketika menaiki panggung, tak terkecuali Clair De Lune.
Sean mulai memberikan beberapa ucapan selamat datang kepada para mahasiswa yang hadir. Sosoknya yang kharismatik, membuat apapun yang diucapkannya seperti hujan di padang pasir. Clair dan Lany yang saat itu melihat Sean sedang berpidato di atas podium, tidak berbicara sedikitpun. Mereka hanya satu kali saling bertatapan mata, selebihnya hanya diam dan mendengarkan apa yang Sean katakan.
Di tengah-tengah pidato Sean, Clair tertegun, hatinya berdebar-debar karena pandangan mata Sean kini kembali melihat ke arahnya. Sama seperti hari kemarin, di mana tatapan mata mereka saling terpaut satu sama lainnya. Namun hari ini, Clair benar-benar dapat merasakan Sean seperti berbisik di telinganya, “Hai, Clair De Lune, saya juga ingin mengenalmu.”
Orang yang hadir di ruangan itu merasa keheranan, sebabnya, Sean cukup lama menghentikan pidatonya. Clair bangun dari tempatnya duduk, ia lebih memilih untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Lany menyusulnya dari arah belakang, diikuti oleh beberapa pasang mata yang memerhatikan gerak-geriknya.
“Kamu kenapa, Clair?” tanya Lany yang mengikuti Clair ke luar aula.
“Tidak, aku tiba-tiba merasa tidak enak badan saja,” jawab Clair.
“Benar hanya tidak enak badan? Sebelumnya, kamu terlihat b*******h sekali. Mau beli beberapa minuman di kantin? Supaya badanmu terasa lebih baik.”
Clair tersenyum dan mengangguk mengiakan pertanyaan Lany, kemudian mereka berjalan menuju kantin yang tidak jauh dari aula utama kampus.
“Sebenarnya, aku merasa aneh dengan pikiranku,” ujar Clair mencoba mencairkan suasana di meja kantin.
“Sean?” tanya Lany singkat.
“Bagaimana kamu tau?”
“Aku melihatmu bertatapan dengan Sean, caramu memandangnya tidak bisa membohongi siapapun, bahkan dirimu sendiri,” jelas Lany.
“Tapi ketakutanku justru lebih besar kalau sampai ia mengenalku,” ucap Clair sambil meminum sebotol air mineral yang dibelinya.
“Maksudmu? Bukankah itu malah bagus untukmu nanti jika sudah bergabung di perusahaannya?”
“Untuk itu, aku setuju, tapi ada hal lain yang membuat ketakutanku terasa seperti menutupi jalan berpikirku.”
“Cepat atau lambat, kamu akan menemukan jawabannya, Clair,” bisik Lany memeluk Clair dan mencoba untuk menenangkan perasaan hatinya yang gundah.
Clair dan Lany menghabiskan waktu yang cukup lama di kantin, saling berbicara mengutarakan rahasia-rahasia di dalam hatinya. Tak lama, terdengar suara dari pengeras suara di sekitar kantin yang berasal dari dalam aula utama kampus itu. Berkali-kali terdengar panggilan nama ‘Clair De Lune’ yang disebut oleh Amanda Roose. Clair yang mendengarnya, langsung panik dan menyeret tangan Lany untuk segera lari ke dalam aula. Lany mengetahui bahwa Clair adalah salah satu mahasiswi yang lolos dalam proses seleksi perekrutan tim internship di perusahaan itu. Kemudian ia melepaskan genggaman tangan Clair, dan menyuruhnya untuk segera mungkin masuk ke dalam ruangan.
“Masuklah, aku tidak kuat untuk berlari,” ujar Lany.
Clair mendobrak pintu utama dan masuk ke ruangan itu dengan berlari menuju podium untuk mengambil sertifikat dan penandatanganan kontrak dengan SEMA Capital Corp.
"Maaf aku terlambat menaiki podium, aku baru saja menemui seseorang di luar gedung," ujar Clair.
Amanda Roose yang tak jauh dari tangga panggung, menghampirinya lalu menanyakan namanya itu.
"Siapa nama kamu?" tanya Amanda.
"Aku Clair De Lune," jawabnya, dengan senyum yang merekah lebar.
Bersama lima orang lainnya, Clair bersanding dengan mereka untuk berfoto dengan para pemilik perusahaan itu. Ia tepat di samping Amanda Roose yang mencoba untuk merangkul pundaknya. Matanya sesekali mencuri-curi kesempatan untuk melihat Sean yang berdiri tidak jauh darinya.
“Dia ternyata lebih tinggi daripada yang kukira,” gumamnya dalam hati.
*
Hari itu sudah selesai dijalani oleh Clair, ia segera bergegas untuk pulang ke rumahnya di Buitenkatania dengan menggunakan taksi. Di perjalanan, Clair terdiam di jok belakang, mencoba menahan rasa kantuknya, hingga ia tidak kuasa lagi untuk terjaga.
Taksi itu baru saja menepi di depan sebuah rumah di Jalan Cornelis 1, persis di depan pagar rumah Clair. Nampak Clair masih pulas dalam tidurnya, supir taksi itu mencoba untuk membangunkan Clair. Ia melihat sesorang ke luar dari arah rumah tersebut. Seorang asisten rumahnya, Emma, datang membuka pintu taksi di bagian belakang.
“Mbak Clair, kamu sudah tiba di rumah. Ayo segera masuk, tidur di kamarmu,” ujar Emma sambil menepuk bahu Clair.
“Di..di..ma.na in…i” tanya Clair dengan suara yang terdengar samar-samar.
“Sudah di rumah, sini aku bopong bahumu menuju kamar,” ujar Emma, mengeluarkan beberapa uang dari dompetnya untuk membayar tumpangan taksi itu.
Emma berjalan ke dalam rumah, membopong Clair yang masih sempoyongan karena baru terbangun dari tidurnya. Ia mengingatkan Clair agar tidak seperti itu lagi, tertidur pulas di perjalanan bersama orang yang tidak dikenalnya. Bisa saja hal buruk terjadi padanya, tidak ada yang tahu. Clair mengangguk mengiakan nasihat Emma yang terlihat sangat khawatir pada dirinya.
Clair terduduk di sofa ruang tamunya ia meminta Emma untuk mengambil handphone miliknya, yang kemarin tertinggal saat pergi menuju Zeeskatania. Banyak sekali notifikasi pesan dan juga beberapa panggilan tidak terjawab dari nomor yang tidak ia simpan di handphone itu. Clair mengambil sebuah roti yang sudah disiapkan oleh asisten rumahnya, memakannya sambil berjalan menuju tempat istirahat di lantai dua.
Di kamarnya, Clair menghela napas panjang saat mengingat hari kemarin sebelum ia pergi ke gedung kantor Roosevelt Corp. Meskipun itu bukan kali pertama baginya melakukan hal itu, Clair merasa bahwa tidak semua orang mampu menerimanya dengan akal logika, tentang apa yang dilakukannya. Hanya seorang Emma, salah satu asistennya yang bekerja sejak awal kepindahan Clair ke kota Buitenkatania, yang memahami Clair De Lune dengan segala rahasianya. Karena itu, Emma adalah salah satu orang yang sangat menyayangi Clair, ia berjanji pada Clair akan menjaga dan merawat Clair sebaik mungkin. Meskipun saat pertama kalinya Clair memberitahu kepadanya, Emma sempat berpikiran untuk tidak meneruskan pekerjaannya, tapi melihat kebaikan dan sifat seorang Clair, mampu membuat Emma untuk mengurungkan niatnya. Emma sudah terasa seperti kakak perempuan sendiri bagi Clair, dengan usia yang hanya berbeda 5 tahun lebih muda dari Emma.
***