Masih Ingatkah Kalian?

1390 Words
“DASAR KURANG AJAAARRR!” Tiba-tiba sebuah makian menggelegar ketika pintu baru saja dibuka. Seorang gadis yang masih memakai piyama tidur menerjang masuk ke rumah, mengambil bantal sofa ruang tamu dan melempar kuat apa gadis lain yang duduk dengan seorang wanita setengah baya. Tentu saja si gadis yang dilempar itu langsung berdiri dan menghindar. Lari ke balik sofa karena si gadis pemarah ingin menghajarnya. “Lo tahu, gua langsung lari gitu aja habis lo telpon.” Omel Lala, gadis pemaki. “Bahkan gua gak sempat cuci muka saking tergesanya. Gua udah kayak orang gila aja nyari-nyari lo di bandara. Mana gua masih ileran lagi. Tapi lo … lo …” Tak sanggup melanjutkan kisah deritanya, Lala hanya bisa menunjuk-nunjuk si tersangka. Lili mengatupkan kedua tangannya di d**a dan menggosok-gosoknya. “Sorry, La. Sorry banget. Tadi ada cowok cakep yang nganter gua makanya gua langsung ngikut gitu aja. Kalau terlewat kan sayang.” “APA?” Mata Lala sudah seperti orang struk. Melotot saking geramnya. “Gara-gara cowok, lo bikin gua kalang kabut kayak orang sinting. Lo sudah bosen hidup ya.” Lala kembali mengejar Lili. Bersiap ingin mencabik gadis itu. “Sorry, La. Sorry banget.” Tentu saja Lili menghindar dan berlari ke belakang wanita setengah baya yang masih duduk di kursi sofa. “Ma. Tolong minggir dech. Lala udah gak sanggup punya saudara kayak gitu. Pengen Lala pites aja tuh bocah.” Masih geram, Lala mencoba meminta wanita berumur tapi masih terlihat cantik itu, Mamanya sendiri, untuk tidak melindungi Lili. “Jangan, Ma.” Lili langsung menahan bahu Yani, sang Mama, dari belakang begitu mendengar ancaman kembarannya. “Jangan biarkan Lala bunuh Lili.” “Biarin aja, Ma. Biar aku potong-potong tuh bocah, aku cincang-cincang, aku geprek-geprek.” “Jangan, Ma.” “Tolong minggir, Ma.” “Jangan, Ma.” “Tolong minggir, Ma. “Ja- …” Ctak. Ctak. “Aduh.” Dan si kembar pun mengaduh bersamaan sambil mengelus jidat mereka. Karena kesal, Yani menjitak keduanya. Greget, karena baru bertemu, keduanya sudah bertengkar. Wanita itupun menatap bergantian kedua putrinya. “Kalian sudah pada gede, memangnya gak capek bertengkar terus?” Interupsi Yani. “Sudah dari bayi lho kalian kayak gini. Gak bosen?” Keduanya hanya bisa terdiam sambil tertunduk. “Baru ketemu bukannya saling peluk, kangen-kangenan, eh ini malah bertengkar terus.” Tak ada yang berani menyahut. Jika sang Mama sudah bertindak, tak akan ada yang berani membantah. “Kamu, Lili.” Yani menatap anaknya dengan tajam. “Kalau memang ada yang nganter kamu pulang, kamu harusnya ngabarin dong, Jangan mentang-mentang sudah jalan pulang, kamu gak ngasih tahu orang rumah.” “Iya, Ma.” “Dan kamu, Lala.” Yani beralih ke putri satunya. “Seterburu-buru apapun kamu, paling gak, mandilah. Kamu mau membuat orang sebandara mabuk aromamu. Kamu ini, anak gadis lho.” Lala menunduk semakin dalam. “Iya, Ma.” Melihat kedua putrinya yang menunduk merasa bersalah, sebagai seorang ibu, pada akhirnya, dia tidak tega juga. “Satu lagi, Leo mau ke sini.” Nada yang tadinya tinggi kini sudah turun tiga oktaf. Satu kalimat ini langsung saja membuat Lala menegakkan lagi kepalanya dan melotot ke arah Sang Mama. “A-apa? Kak Leo mau ke sini?” “Ya.” Dan seketika itu juga gadis itu langsung heboh. “Gi-gimana ini? Aku belum mandi.” Lala serentak berdiri dan malah menatap tubuhnya yang kucel. Mengangkat tangan kanan setinggi bahu dengan kepala tertunduk dan miring sedikit, mengendus ketiaknya. “Hoek. Bau.” Matanya merebak ingin menangis begitu sadar akan kondisinya sendiri. “Ya sudah. Cepetan mandi sana. Sepuluh menit lagi, katanya Leo nyampe sini.” Tak menunggu peritah dua kali, Lala langsung berlari ke kamarnya. Meninggalkan Mama dan saudara kembarnya. Amarah yang sempat membludak tadi langsung menguap begitu saja, hanya dengan mendengar nama Leo disebut. “Memangnya si Lala masih bucin banget sama Kak Leo, Ma?” Lili menatap kepergian saudara kembarnya dengan tatapan sedikit melongo. “Menurutmu?” “Bukan bucin lagi itu sih namanya, tapi gila.” Dengus Lili. “Bukannya dulu kalian sama-sama bucin sama Leo?” Yani memancing, teringat bagaimana keduanya begitu menyukai Leo ketika mereka masih kecil. “Itu dulu, Ma. Karena kayaknya Lala lebih menyukai Kak Leo, makanya aku mengalah dan kuliah ke luar negeri.” “Mengalah atau karena memang sudah punya target cowok lain?” Lagi, Yani memancing. Kaget, Lili langsung menatap Mamanya dengan mata yang membulat. “Siapa namanya, Chef Aditya?” “Kok Mama tahu?” “Kamu kira Mama gak bakalan tahu kenapa tiba-tiba kamu minta kuliah ke luar negeri dan ambil jurusan Culinary arts, padahal kamu ngupas bawang aja gak bisa.” Lili tersenyum kecut, sadar kalau dia gak akan bisa bohong pada orang tua, apalagi Mama. Pada akhirnya niat terpendamnya ketika ingin kuliah ke luar negeri ketahuan juga. “Jadi … sekarang kamu mau cerita ke Mama apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kamu bisa menyukai anak laki-laki itu?” “Bukankah Kak Leo sebentar lagi akan datang? Bukankah kita harusnya bersiap-siap?” Lili masih mencoba mengelak. Yani menyilangkan tangan ke d**a dan menatap putrinya dengan senyum sedikit misterius. “Tenang saja. Leo sampai sini masih sejam lebih. Katanya, dia masih harus menunggu temannya. Jadi kamu masih punya banyak waktu bersama Mama dan bercerita.” Sebuah senyum kemenangan langsung tercetak jelas di wajah cantik wanita itu. “T-tapi, Lala …” “Apa menurutmu Lala akan siap cuma dalam waktu lima menit?” Yah … tak bisa dipungkiri, gadis itu pasti akan berdandan sangat lama. Apalagi Leo akan datang. Bisa-bisa bocah itu bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berhias. “Sekarang coba ceritakan, bagaimana kamu bisa begitu suka dengan Chef itu hingga ingin mengikuti jalannya?” “Mmmm … itu … itu …” Yani mengangkat alis, menatap putrinya dengan sorot mata menuntut. “Mmm … itu … apa Mama mash ingat waktu Lili wisuda kelulusan SMA?” “Ya. Mama ingat.” “Ketika Lili hilang waktu itu?” Seketika itu juga, wajah Yani langsung terlihat sangat pucat. Mata yang tadinya menatap Lili jenaka karena ingin menggodanya, kini berubah menjadi kaget. Tapi Lili sama sekali gak sadar dengan perubahan wajah sang Mama. “Nah, waktu itulah Lili pertama kali ketemu sama Chef Aditya. Dia yang menemukan Lili waktu itu dan nganter Lili balik ke tempat wisuda.” “A-anak laki-laki itu ada di tempat kamu hilang?” Entah mengapa Yani nampak agak syok dengan cerita Lili. “Iya, Ma. Aneh kan.” Tapi Lili sama sekali tak menangkap nada bicara yang beda dari sang Mama. Gadis itu masih begitu senang mengenang pertemuan pertama mereka. “Mungkin karena sudah jodoh kali ya. Padahal Lili hilangnya di tempat terpencil banget tapi Chef Aditya bisa menemukan Lili. Hihihi.” Dan gadis itu malah terkikik geli. “Waktu itu Lili langsung bisa mengenalinya, karena Chef Aditya pernah masuk TV. Dia pernah ikut lomba memasak di MasterChef Indonesia dan sempat viral karena sangat ganteng. Tapi entah mengapa, tiba-tiba dia mengundurkan diri begitu saja. Katanya sih dia pergi ke Swiss untuk memperdalam keahlian memasaknya. Tapi, setelah Lili kejar ke sana, ternyata kami malah gak bertemu. Hiks. Hiks. Miris kan nasib putri Mama ini.” Niat hati ingin mengadu, tapi ketika Lili menatap Mamanya setelah bercerita panjang lebar, fokus Yani seperti berada di dunia lain. Wanita setengah baya itu seperti memikirkan hal lain, bukan cerita anaknya. “Ma.” Lili menyentuh pundak Yani dengan lembut. “Eh … ya, bagaimana?” Tergagap, Yani kembali menatap sang putri. “Mama gak dengerin cerita Lili?” Sang putri pun merajuk. “De-dengar kok. Mama memperhatikan ceritamu.” “Terus, kenapa Mama malah ngelamun?” “Itu …” Berusaha mencari topik untuk mengalihkan pembicaraan, ditengah kegalauan yang melandanya, Yani berpikir sangat keras. “Oh ya, kenapa kamu gak cerita jika kamu bertemu dengan anak laki-laki itu?” “Soalnya, ketika Lili balik ke tempat wisuda, Mama sudah menangis histeris saat melihat Lili. Bahkan Mama sampai hampir pingsan. Makanya Lili gak bisa cerita sama Mama. Lili takut Mama semakin khawatir.” Yani mendengarkan dengan seksama alasan sang putri dan mengingat-ingat tentang kejadian dahulu. Ya, memang. karena saking takutnya kehilangan Lili, Yani sampai gak bisa mengontrol emosinya dan menangis sangat histeris begitu Lili ditemukan. Kejadian yang sangat mengguncang Yani kala itu. Kejadian yang juga membuat ibu itu terpaksa terjun ke dunia yang sekarang digelutinya. Dunia seorang Tuan Takur. Masih ingatkah kalian dengannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD