2. Awal Mula

1497 Words
Pernah merasakan jet lag? Perut serasa mual ingin muntah. Kepala pusing hebat. Tubuh lemas sulit untuk bergerak. Begitu juga yang sekarang dirasakan Lili, gadis dengan penampilan acak-acakan itu. Karena pengaruh jet lag yang berlangsung selama tiga jam, sanggup membuat gadis yang berjalan sempoyongan dengan meyeret koper itu serasa ingin pingsan. Tapi dia harus kuat menahannya, karena kalau tidak, saudara kembarnya, Lala, pasti akan mengejeknya habis-habisan. Dengan mata sembab seperti habis menangis, karena terlalu sering muntah di pesawat tadi, gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan mencari sesuatu. “Dimana sih bocah kampret itu? Kenapa gak keliatan batang hidungnya? Dasar tukang molor.” Si gadis terus saja ngedumel dengan mata yang terus saja menjelajah di setiap sudut bandara. Tak mendapatkan apa yang dia cari, gadis itu mulai lelah dan ingin duduk. Diseretnya kembali koper besar dan terlihat berat itu ke arah ruang tunggu, tanpa menyadari ada dua pasang mata yang terus menerus mengawasi setiap gerak geriknya. Masih sambil berjalan, tentu saja masih dengan menarik kopernya yang besar dengan satu tangan, tangan yang bebas digunakannya untuk merogoh saku celananya. Mengambil handphone dan mengotak-atiknya dengan cepat. Setelah itu meletakkan benda pipih nan canggih ke telinga kanannya. Tut Tut Tut Tut “Hallo.” Di dering keempat panggilan Si Gadis dengan wajah lelah itupun akhirnya diangkat. “Baru bangun kamu?” Cecarnya gak sabar. “Ah … apaan sih nelpon pagi-pagi. Ganggu orang tidur saja.” Gak mau kalah, suara gadis diseberang telpon juga protes. “Enak ya lo ngorok sedangkan gua nungguin lo ampe lumutan di sini.” “Lah, lo balik hari ini?” Kini suara protesan itu berganti nada kaget. “Gak, tahun depan.” “Maaf. Maaf banget, Gua berangkat sekarang.” Dan telpon terputus begitu saja membuat gadis yang sedang jengkel setengah mati itu, semakin kesal. “Kalau bukan saudaraku, gua bunuh juga lo.” Masih dengan sisa-sisa kesal yang menumpuk, Lili memaki hpnya sendiri. Tanpa gadis itu sadari, semua gerak geriknya, semua percakapannya diperhatikan oleh seseorang yang sangat mencurigakan. Seorang pria yang mengenakan jaket hitam dan topi hitam, serta kacamata hitam pula, yang berdiri tak jauh dari Lili. Sedangkan dirinya sendiri masih sibuk mencari tempat duduk untuk beristirahat. Lili heran, apa dia salah memilih waktu untuk pulang. Kenapa dia merasa sangat begitu sial sejak keberangkatannya dari Italia. Dari mabuk di pesawat. Kembarannya yang lupa menjemput. Sampai gak dapat tempat duduk untuk istirahat gara-gara bandara yang penuh. Tempat itu begitu sangat ramai. Dan itu membuat kesialan Lili semakin sempurna. Melihat Lili yang masih sibuk dengan kebingungannya, pria berjaket hitam yang sedari tadi memperhatikannya, mulai berjalan semakin dekat sambil merogoh sesuatu dari saku dalam jaketnya. Dalam setiap langkahnya, tampak pria itu semakin serius, matanya menatap semakin dalam dan gerakannya juga semakin cepat. Dan ketika tinggal dua langkah lagi sampai di tempat Lili berdiri, sebuah tangan terulur menangkap tangan gadis itu dan menariknya cepat. Tubuh Lili pun tertarik ke arah orang yang meraihnya. Karena terlalu kuat tarikan, tubuh gadis itu sampai menabrak sedikit keras ke arah si penarik. Bruk! Kaget karena kekesalan dalam dirinya semakin menumpuk dan kembali ingin marah, Lili menatap orang yang menariknya secara mendadak dan ingin memakinya. Kepalanya mendongak dan bibirnya sudah siap melnacarkan segala sumpah serampah. “KAU …” Tapi tiba-tiba segala makian yang hampir meluncur dari bibir cantiknya tertelan kembali begitu saja. Matanya melebar, raut wajah yang tadinya ingin marah langsung berganti dengan kekaguman. “Che-Chef Aditya?” Saking kagumnya, Lili sampai tergagap menatap cowok yang menariknya tadi. Tapi cowok yang dipanggil Chef Aditya itu hanya diam. Matanya menatap tajam pada sosok pria berjaket hitam yang gagal melancarkan aksinya. Mungkin karena merasa gagal, pria itu hanya berjalan melewati dua insan yang masih berpelukan dan berdiri agak jauh dari keduanya. Nampak jelas sekali di mata Aditya, terlihat dari gestur tubuhnya, pria itu sangat kesal pada cowok bermata elang itu. Entah kenapa, tatapan kedua pria itu seperti tatapan yang begitu benci dan saling mewaspadai. “Anda benar Chef Aditya kan? Benar kan?” Suara Lili yang tampak sekali kekagumannya, mengalihkan perhatian Aditya. Matanya beralih menatap datar pada gadis yang berada dipelukannya saat ini. Melihat mata Lili yang sangat senang dan kagum, sama sekali gak membuat Aditya senang. Cowok itu langsung saja melepas pelukannya dan mundur dua langkah. Menjaga jarak dari Lili. Mengamit kopernya, kemudian berbalik, berjalan pergi. Tapi gagal, karena dengan sigap Lili langsung menangkap tangan cowok itu. Pada akhirnya Chef itu kembali berbalik dan kembali menatap Lili. “Anda benar Chef Aditya kan?” Aditya sama sekali tak memberi jawaban. Cowok itu masih dengan ketenangannya. Menatap Lili dengan ekspresi tak terbacanya.. “Saya Lalika Bramantyo.” Gadis itu mengulurkan tangan. “Anda bisa memanggil saya dengan nama Lili aja biar enak.” Dengan senyum lebar dan wajah yang bersinar, Lili sama sekali gak peduli dengan sikap cuek Chef idolanya itu. Aditya hanya menatap tangan yang menjulur itu sejenak, lalu menatap wajah Lili dan diteruskan mengamati seluruh tubuh gadis itu dari atas ke bawah lalu dari bawah ke atas, lalu kembali ke wajah kucel itu. Merasa aneh dengan sikap cowok di depannya ini, Lili menarik lagi tangannya. Senyumnya yang lebar kini berubah menjadi senyum samar yang aneh. “A-apa ada yang salah dengan tubuh saya?” Tak sesemangat tadi, suara gadis itu berubah menjadi cicitan. Kepalanya menunduk, melihat ke arah tubuhnya sendiri. Dres selutut yang dikenakan sangat lecek disemua bagian. Tangannya terangkat meraba rambutnya. Dan seketika itu juga, matanya membelalak, menyadari gaya rambutnya yang terkuncir acak-acakan. Sial. Batinnya memaki. Dia sangat yakin, penampilannya saat ini pasti tak jauh beda dengan orang yang sepuluh hari belum mandi. Apalagi tadi dia muntah berkali-kali, dan itu pasti bau. Sekarang ganti gadis itu yang mundur dua langkah dari Aditya. Takut jika cowok itu sampai menghirup aroma tubuhnya yang tidak enak. “I-Ini tidak seperti yang anda pikirkan, Chef. Saya bukan orang gila.” Cowok itu malah mengerutkan dahinya mendengar pembelaan Lili. “Tadi saya kena jetlag. Jadi penampilan saya agak sedikit … berantakan.” Lili tersenyum ambigu. Gadis itu mengutuk dirinya sendiri karena pembelaannya yang konyol. “Apa Anda anak konglomerat?” “Ha? Apa?” Lili tak mengerti arah pertanyaan cowok di depannya ini. “Apa Anda seorang artis?” Lili langsung terkekeh. “Ah … tidak, Chef.” Wajahnya memerah. “Saya tahu kalau saya memang cantik, tapi saya bukan artis ataupun anak dari konglomerat. Saya hanya gadis biasa yang suka memasak seperti Chef Aditya.” Dan mimik wajah itu semakin tersipu. Tak ada sahutan. Sorot mata Aditya malah berpindah pada pria berjaket hitam yang berdiri tak jauh dari posisi mereka. Aditya sangat yakin, pria itu masih mengawasi walau tidak terlalu kentara. Merasa aneh karena pandangan Aditya malah berpindah tempat, Lili pun mengikuti arah penglihatan si cowok. Pria? Batin Lili tak mengerti. Kenapa Chef Aditya malah memperhatikannya? “Pria itu sejak tadi mengikuti Anda.” “Ha? Apa?” Reflek, Lili langsung kembali menatap Aditya begitu mendengar informasi yang dikatakannya. “Pri-pria yang anda lihat sekarang … mengikuti saya?” Ulangnya dengan takut-takut. Matanya tidak berani menatap kembali pada sosok pria itu. Aditya hanya mengangguk. Wajah Lili langsung pucat seketika. “Ke-kenapa dia mengikuti saya? Tapi saya tidak membawa barang berharga. Saya hanya membawa pakaian saja.” Tak ada sahutan. “Apa dia mau menculik saya karena saya cantik dan mau dijual?” Kini, mata Aditya ganti menatap Lili dengan ekspresi heran. “Atau dia mau menculik saya karena mengira saya anak pembisnis kaya raya? Seorang konglomerat?” Masih dengan ekspresi sedikit panik, Lili menatap pakaiannya sediri. “Tapi baju saya biasa saja. Hanya gaun seharga dua puluh dollar. Apa ini terlihat mewah ketika saya yang memakainya?” Aditya memutar bola matanya malas. Satu kata yang cukup untuk menggambarkan gadis yang baru saja ditemuinya ini. Narsis. “Apa Anda dijemput?” Tak tahan, cowok itu mengalihkan pembicaraan. Sedikit mengerjap, Lili menatap ke arah Chef kebanggaannya. “Saya?” Aditya tak menjawab, hanya menatapnya dengan sorot tanya. “Ti-tidak.” Bohong Lili. Menunduk dengan wajah malu-malu. Apa Chef Aditya mau mengantarku pulang? Batinnya berbunga-bunga. “Ayo!” “Ke mana?” “Saya carikan taksi untuk Anda. Sepertinya tak aman jika Anda pergi seorang diri dibawah intaian pria tak kenal.” “Ta-tapi, saya kira …” Dan wajah yang tadinya berseri-seri langsung berubah terkejut. “Kenapa?” “Ah … tidak.” Dan didetik berikutnya. keterkejutan di wajahnya langsung berubah kecewa. Harapan yang sempat melonjak tinggi tadi langsung pupus seketika itu juga. “Baiklah, ayo!” Dan merekapun berjalan pergi. Sebelum keluar dari bandara, mata Aditya sempat melirik ke tempat pria mencurigakan tadi. Tapi hilang. Pria berjaket hitam itu sudah tidak ada. Entah mengapa perasaan Aditya sangat tdak enak tentang hal ini. Tapi dia mencoba membuang kecurigaannya itu. Bukan urusanku. pikirnya menenangkan dirinya sendiri. Dan satu lagi, aku juga gak akan bertemu dengan gadis ini lagi. Jadi ini bukan urusanku. Dan itulah kesalahan terbesar Aditya. Karena, kedepannya, Lili bukan hanya akan menjadi urusannya. Tapi gadis itu akan menjadi beban rasa bersalah terbesar yang dipikulnya. Rasa bersalah, yang bahkan tidak bisa dibayangkan oleh orang biasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD