Chapter 2 : Perampok yang Sial

1069 Words
Empat orang bertopeng karakter badut dengan bentuk raut wajah yang berbeda dan bersenjata api memasuki sebuah bank. Security bank itu di giring ke dalam di bawah todongan senjata. Kedua security tadi disuruh untuk tiarap di lantai dengan tangan ditekuk di kepala. Para perampok itu lantas menyuruh para pengunjung dan nasabah bank itu untuk diam dan berkumpul di lobi yang berada di tengah-tengah bank tersebut. Mereka juga menyuruh semua orang yang berada di sana untuk tiarap dan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh kedua security tadi. "Mana Manajer bank ini!?" tanya salah satu perampok sambil mengarahkan senjata kepada mereka semua yang sedang tiarap. Dia melihat seseorang yang memakai baju kemeja putih lengkap dengan dasi serta memakai kaca mata. "Hai! kau yang di sana,cepat bangun dan kesini!" perintah rampok dengan topeng badut berwajah sedang marah yang tak lain itu adalah Raymond,pimpinan para perampok. Orang itu segera bangkit dan menghampiri perampok yang memanggilnya tadi. Tubuhnya gemetaran karena merasa takut. Rampok bertopeng badut dengan wajah sedang marah itu pun bertanya, "Apa kau Manajer bank ini?." Dengan rasa takut dan tubuh gemetar,orang itu lalu menjawab, "I,iya,saya Manajer dan kepala cabang bank ini." Rampok bertopeng badut dengan raut wajah marah itu pun mengangguk-angguk. "Bagus,bagus," katanya. "Nah,sekarang tolong bawa kami ke ruangan di mana brankas bank ini berada?" pinta si rampok. Manajer bank itu terdiam sejenak. "Heh,kenapa kau diam!" bentak si rampok. "Anda terlambat tuan," kata Manajer itu setengah ketakutan. "Apa maksud mu?" tanya si rampok heran. "Pagi tadi orang-orang dari kantor pusat telah mengambil uang yang ada di bank ini," Manajer menjelaskan. "Dan sekarang di bank ini benar-benar tidak ada uang sama sekali" sambung Manajer bank. "Apa!?" seru perampok itu setengah tak percaya. "Kau mencoba bermain-main dan berbohong dengan ku?" tanya perampok itu sambil mengarahkan senjatanya di kening Manajer bank. "Aku tidak berbohong,kalau kau tidak percaya,mari ikut aku," ajak Manajer bank tersebut. "Heh! Badut sedih,ayo ikut aku!" ajak badut marah. Tony diam saja di tempatnya karena dia tak mengerti kalau dia di panggil oleh Ray,yang mengenakan topeng badut dengan wajah sedang marah. Karena Tony masih belum bergerak,lantas dia di hampiri oleh salah satu kawannya dan menepuk bahunya. "Dia memanggilmu," bisik orang itu. Tony masih tak mengerti,lalu orang itu berbisik lagi, "Kau memakai topeng dengan raut wajah sedih,ingat! tadi sudah di beri tahu kalau kita tidak boleh memanggil nama masing-masing,tapi dengan sebutan karakter topeng yang sedang kita pakai." Tony tersentak dan akhirnya menyadarinya. Dia lantas berjalan menghampiri Raymond alias badut marah. "Kalian tetap di sini,awasi mereka semua!" Raymond memberi perintah. "Beres!" seru mereka secara bersamaan. Ray menyuruh Manajer bank tersebut berjalan duluan,sementara dia dan Tony mengikuti dari belakang. Manajer bank menuntun dan membawa mereka ke dalam suatu ruangan. Sang manajer menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu. "Apakah ini ruangan brankas itu?" tanya Ray. Manajer bank menjawab dengan anggukan kepala. "Cepat buka pintunya!" perintah Ray. Manajer itu menuruti perintah perampok itu. Pintu ruangan terbuka,lalu Ray mendorong manajer itu agar segera masuk ke dalam. Ruangan itu tidak cukup besar,dan ada sebuah lemari besi di dalam ruangan itu. "Cepat buka pintu lemari besi itu!" kembali Ray memberi perintah. Manajer bank mengeluarkan sebuah benda dari dalam kantong celananya. Ray memperhatikan dengan seksama gerak-gerik sang Manajer sambil bersiaga dengan senjatanya jika suatu saat sang Manajer melakukan gerakan secara tiba-tiba. Ternyata Manajer itu mengeluarkan sebuah kunci,kunci dari brankas atau lemari besi. Tanpa menunggu perintah sekali lagi,langsung saja Manajer itu memasukan kunci brankas itu dan mulai memutar kuncinya. Klik...!! "Minggir kau!" seru Ray tak sabaran. Pintu brankas itu langsung di buka olehnya. "b******k,!" Ray berseru dan memaki. Setelah pintu terbuka,ternyata memang betul kata sang Manajer bahwa brankas mereka sudah tidak ada isi karena sudah di ambil oleh orang-orang dari kantor pusat. Plak!!! Ray menampar wajah Manajer bank tersebut untuk meluapkan rasa kesalnya. Manajer bank itu jatuh terjerembab,namun Ray yang belum merasa puas langsung menendang dan menginjak-injak sang Manajer yang sedang tergelatak di lantai. "Ampun,ampun," cuma kata-kata itu yang keluar dari mulut sang Manajer sambil merintih kesakitan. "Sudah,sudah bang" ujar Tony sambil menarik Ray agar menjauh dan tidak lagi menganiaya Manajer bank tersebut. "Sial!! Sial!!" serunya sambil berteriak-teriak di dalam ruangan itu. "Celaka!!" seru Alvarez sambil berlari menghampiri mereka di dalam ruangan brankas. "Ada apa?apa yang celaka?" tanya Ray penasaran. Alvarez tak kalah terkejutnya saat mendapati lemari besi yang berada di ruangan itu sudah kosong. "Apa-apaan ini!," serunya tak percaya. "Lemari besinya kosong?" tanyanya seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ray dan Tony hanya terdiam melihat reaksi Alvarez ketika itu. "Heh! kau bilang tadi celaka,apanya yang celaka?" tanya Ray. "Kau,kau lihat saja sendiri," ujar Alvarez sambil mengajak Ray ke lobi bank di depan. Ray segera berlari ke arah lobi bank tersebut yang di ikuti oleh Alvarez dari belakang. Sementara itu Tony menarik Manajer bank itu untuk berdiri dan kemudian menggiring Manajer itu kembali ke lobi bank. Alvarez mengajak Ray menuju pintu masuk bank yang terbuat dari kaca. "Kau lihat saja di luar." kata Alvarez sambil menunjuk ke luar. Di luar sana ternyata sudah banyak Polisi yang bersiaga dan mengepung. "Polisi," desis Ray saat dia melihat ke arah luar. Karena di awal tadi sesaat setelah masuk ke dalam bank,Ray sempat melepaskan dua tembakan. Dan saat itu dia baru menyadari kebodohannya. Dan kemungkinan besar orang-orang yang berada di sekitar bank itu lah yang melaporkan kepada Polisi setelah mereka mendengar suara tembakan dari dalam bank. "Hei..! kalian yang di dalam bank,kami Polisi,kalian sudah terkepung! menyerah lah!!" begitu suara himbauan dari luar melalui Megaphone yang di pakai oleh Polisi itu memberi tau mereka agar segera menyerah saat itu juga. "Bagaimana sekarang?" tanya Alvarez. Ray diam sejenak dan mencoba untuk tenang dan tidak panik menghadapi situasi saat itu. Ray memperhatikan sekeliling bank itu dan juga memperhatikan para sandera yang sudah mulai gelisah. Satu hal yang baru dia sadari adalah saat suhu di dalam bank itu menjadi meningkat dan terasa cukup panas dan membuat dia dan para sandera menjadi gerah. "Kenapa suhu di dalam bank ini menjadi panas?" tanyanya dalam hati. Apa lagi saat itu dia sedang memakai topeng dan tentu saja dia merasakan kegerahan yang sangat luar biasa di balik topengnya itu. "Sini kau!!" seru Ray memanggil Manajer bank yang saat itu baru saja sampai dan tetap di kawal oleh Tony. Manajer bank berjalan berlahan dan sedikit ragu untuk menghampiri Ray yang memangilnya. "Kenapa bank ini menjadi sangat panas?" tanya Ray saat Manajer bank itu sampai di hadapan Ray. "AC di bank ini sudah dua hari rusak," jawab Manajer bank. "Hah? rusak!?" Ray melotot tak percaya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD