Chapter 3 : Ada Wanita Hamil Di Sini!

1025 Words
AC bank yang dua hari lalu rusak dan cuaca di luar sangat terik,membuat ke empat perampok dan para sandera yang berada di dalam bank menjadi sangat kepanasan. "Tuan rampok,kami sangat kepanasan dan susah bernafas karena dari tadi di suruh tengkurap terus!," kata salah satu sandera memberanikan diri buka suara. "Lagi pula di sini juga ada wanita yang sedang hamil" sambung sandera tadi. "Apa?wanita hamil?" tanya Ray sambil berjalan menghampiri orang yang tadi bicara. "Mana wanita yang sedang hamil itu?" tanya Ray saat dia berada di tempat sandera yang tadi berbicara. "Ini,istriku" kata si sandera sambil menunjuk ke arah wanita yang ternyata adalah istrinya. "Sudah berapa bulan istrimu mengandung?" tanya Ray. "Sekitar lima dan akan masuk bulan ke enam" jawab si suami wanita yang hamil tadi. Ray berdiri dan memperhatikan seluruh sandera yang sedang telungkup di lantai itu,dan dia pun ambil keputusan dengan cepat. "Baiklah,dengarkan kalian semua! kalian boleh balik badan dan menelentang,ingat hanya telentang!bukan yang lain!!" perintah Ray. Kemudian orang-orang yang di sandera tadi segera berbalik dan telentang,mereka merasa lega untuk bernafas karena d**a mereka tidak lagi tertekan dengan lantai. "Dan kau! ibu hamil,boleh duduk dan bersandar di sana" seru Ray sambil menunjuk ke satu sudut di lobi bank tersebut. "Terima kasih," kata wanita hamil itu kemudian dia berjalan ke arah yang di tunjuk oleh Ray tadi. Raymond memperhatikan jam di dinding bank,waktu itu jam sudah menunjukan pukul dua siang. Sudah hampir 2 jam mereka di dalam bank dan sekarang mereka sudah terkepung oleh Polisi bersenjata lengkap yang berada di luar. Dan sialnya bank yang mereka rampok tidak memiliki uang simpanan sama sekali,benar-benar perampok yang sial!. Raymond memerintahkan Sosa untuk memperhatikan keadaan di luar bank dari satu tempat untuk mengetahui berapa banyak Polisi yang mengepung mereka. Selain Polisi,di luar sana juga sudah banyak wartawan yang berdatangan untuk meliput dan menjadikan kejadian itu sebuah berita hangat dan headline di media mereka masing-masing. "Selain Polisi,di luar sana juga ada Wartawan yang meliput kejadian ini," Sosa melaporkan apa yang telah dia amati tadi. Ray berpikir keras bagaimana caranya agar bisa keluar dan meloloskan diri dari tempat itu diantara kepungan Polisi yang berada di luar. Belum lagi suhu yang cukup panas di dalam bank itu membuat suasana menjadi sedikit panik karena para sandera terus mengeluh kepanasan. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Raymond dalam hati. Tony dan Alvarez sedari tadi hanya diam dan mengawasi para sandera agar tak berbuat macam-macam atau pun gerakan-gerakan yang mencurigakan. Raymond menyadari satu hal yang bisa membahayakan kelompoknya. "Badut sedih!," serunya memanggil Tony. Tony yang sudah paham dengan panggilan untuknya lantas berjalan menghampiri Ray. "Ada apa bang?" tanya Tony. "Kau periksa mereka satu per satu,ambil ponsel mereka,jangan sampai mereka melakukan atau menghubungi pihak luar secara diam-diam tanpa sepengetahuan kita!" perintah Ray. Tanpa di perintah dua kali,Tony pun segera melakukan apa yang di perintahkan oleh Ray. Dia memeriksa dan mengambil semua ponsel milik para sandera dan memasukan ponsel itu kedalam aquarium yang ada di dalam bank itu agar ponsel itu rusak dan tidak berfungsi lagi. Si suami wanita hamil itu sangat khawatir akan keselamatan istri dan calon bayi mereka. Dia sendiri merasa tidak tega memperhatikan istrinya yang sedari tadi resah dan ketakutan. Takut hal yang buruk terjadi,si suami memberanikan diri mengangkat tangan dan berseru ke arah badut bertopeng marah,yang dia rasa badut itulah pimpinan para rampok itu. "Tuan!" seru suami wanita yang hamil tadi. Ray menoleh dan berkata, "Ada apa?" tanya Ray. "Istriku sedang hamil,dan ini adalah kehamilan anak pertama kami" "Terus?" tanya Ray. "Aku mohon bebaskan istriku,aku tak ingin dia keguguran karena ketakutan yang dia alami saat ini" pinta si suami. Ray diam dan berpikir sejenak. Lantas Ray pun bertanya kepada kawan-kawannya yang lain perihal wanita hamil itu. "Bagaimana menurut kalian?apakah wanita itu kita biarkan pergi keluar dari sini?" tanya Ray. Alvarez menoleh ke arah Sosa,sedangkan Sosa menoleh ke arah Tony dan memberi isyarat dengan gerakan kepala sebagai tanda minta pendapat. "Dari pada kita ambil resiko,lebih baik kita biarkan saja wanita itu pergi bang,dari pada terjadi hal yang tidak di inginkan dengan wanita itu dan juga bayinya" Tony memberi pendapat. Ray mengangguk paham. "Baiklah," katanya. "Kau sendri yang mengantarkan wanita itu keluar,Badut tertawa akan melindungimu" sambung Ray. Tony merasa sedikit ragu untuk melakukan hal itu mengingat begitu banyak Polisi di luar yang di lengkapi dengan senjata dan suatu waktu bisa menembak mereka kapan pun. Melihat Tony sedikit ragu,Ray pun kembali berseru, "Apa lagi yang kau pikirkan?!." Mau tak mau Tony segera bergerak dan membantu wanita hamil itu untuk berdiri. "Badut tertawa,kau bawa suaminya juga,jadikan suaminya sandera agar Polisi-Polisi itu tidak berbuat nekat terhadap kawan kita!" perintah Ray. Badut tertawa alias Alvarez pun menyuruh si suami dari wanita hamil tadi untuk segera berdiri dan mengikuti Tony yang sedang memapah istrinya. Alvarez berdiri di belakang suami dari wanita hamil itu dan menempelkan senjatanya di punggung si suami. Tony membuka pintu bank yang terbuat dari kaca yang cukup tebal. "Jangan tembak!!," serunya saat sudah berada di luar. "Tolong siapkan Ambulans dan Tim Medis! ada wanita hamil di sini!!" serunya lagi. Komandan Polisi itu memberi isyarat agar anak buahnya untuk menurunkan senjata dan menahan diri untuk tidak menembak. Komandan Polisi itu lalu memerintahkan Tim Medis dari Ambulans yang dari awal sudah di persiapkan untuk menjemput wanita yang sedang hamil itu. Para wartawan yang meliput tentu saja tidak mau ketinggalan,mereka lalu mengarahkan kamera mereka ke arah dimana para perampok dan para sandera itu berada. Tony melepaskan wanita hamil itu ketika para Tim Medis datang menjemput dengan sebuah kursi roda. Si wanita di dudukan di sana,dia sempat menoleh ke arah suaminya saat hendak di bawa pergi oleh para Tim medis "Pergilah,aku akan baik-baik saja dan kembali ke rumah tepat waktu," ujar suaminya untuk menguatkan sang istri. "Bagaimana pun juga,dirimu dan bayi kita jauh lebih penting untuk saat ini" sambungnya. Alvarez kemudian memberi isyarat agar mereka kembali masuk ke dalam bank. "Jangan ada yang menembak!!atau pria ini akan mati!!" ancam Alvarez sambil berjalan mundur dan kembali masuk ke dalam bank. Saat para Tim Medis itu sampai di Ambulans dan ingin membawa wanita itu ke rumah sakit,ternyata di sana sudah banyak Wartawan yang menunggu dengan berbagai macam pertanyaan. Dan hal itu tentu saja membuat para Polisi sedikit sibuk untuk membubarkan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD