"Ayam bumbu dan sambal teri. Buatan sendiri, Mas?"
Maitaya dan Rimba masih duduk di pinggiran pantai. Masih dengan alunan musik diputar lewat ponsel Maitaya. Suasana pesisir pantai di malam hari seperti ini sudah sepi. Hanya ada segilintir orang yang sibuk dengan aktivitas mereka. Maitaya dan Rimba termasuk golongan orang gabut yang tidak punya kepentingan apapun di pinggir pantai ini selain lihatin ombak dan menikmati semilir angin yang terasa syahdu.
"Buatan ibu saya." Maitaya baru akan menikmati ayam bumbu itu menghentikan gerakannya. Menatap Rimba tidak enak hati.
"Buat mas Rimba aja kalau gitu."
Maitaya kembali ingin menutup kotak bekal itu namun Rimba menahan tangannya.
"Buat kamu, Maitaya."
"Mas Rimba jarang banget bisa pulang kampung. Setiap hari pasti kangen masakan ibu. Buat mas Rimba aja."
Rimba terkekeh membuat Maitaya kebingungan.
"Maitaya, saya memang nggak suka kamu begitu perhitungan tapi saya juga nggak suka kalau kamu begitu memikirkan orang lain."
"Mas Rimba. Ibunya mas Rimba masak banyak pasti karena mas Rimba pulang. Tidak baik jika di berikan pada orang lain."
"Maitaya, saya sudah makan di rumah bersama kedua orang tua saya. Makanan yang di bawa kesini memang buat kamu. Saya juga sudah izin sama ibu. Beliau mengizinkan saya untuk memberikannya pada kamu."
"Izin?"
"Betul. Saya bilang sama ibu. Ada seorang gadis penuh perhitungan di Rumah Elok sampai jarang makan. Ibu saya kemudian mengizinkan untuk membawakan makanan untuk gadis itu."
Mata Maitaya terbuka lebih lebar.
"Mas Rimba—"
"Apalagi. Makan Maitaya. Keburu dingin di tiup angin pantai."
Maitaya menatap makanan yang di bawakan oleh Rimba. Ayam bumbu dan sambal teri. Menu itu salah satu favorit Maitaya. Neneknya sering memasak dua menu itu untuknya. Maitaya terkadang juga membeli menu yang sama di rumah makan tidak jauh dari indekosnya. Maitaya tidak percaya malam ini dia juga akan menikmati ayam bumbu dan sambal teri yang di masak oleh ibu nya Rimba.
"Gimana rasanya masakan ibu saya?"
Maitaya mengangguk. Menatap Rimba dengan senyum cukup lebar sampai Rimba terkejut melihat reaksi gadis itu.
"Saya kayaknya baru lihat kamu senyum selebar itu. Kamu suka masakan ibu saya?"
Maitaya mengangguk. Bahkan lebih bersemangat. Dia juga menyendokkan makanan ke mulutnya lebih cepat.
"Enak banget Mas. Aku suka banget masakan rumahan. Suka makanan ibu. Enak banget. Terima kasih Mas Rimba." Akhir suara Maitaya bergetar. Gadis itu menunduk saat merasakan matanya memanas.
Sejak Maitaya memutuskan untuk hidup mandiri dan lebih berani di Padang. Maitaya tidak pernah lagi makan masakan ibunya. Dan sekarang Maitaya merindukan masakan wanita itu.
Keluarganya memang berantakan namun masakan ibunya tidak pernah absen seharipun di rumah mereka. Maitaya yakin karena masakan ibunya itulah ia bisa bertahan hidup sampai sekarang.
"Maitaya, kamu baik-baik saja?" Rimba menyentuh pundaknya lembut membuat Maitaya tersentak. Maitaya mengusap air matanya cepat kemudian mengangguk dan kembali makan.
Maitaya terus menunduk sampai akhirnya perasaannya terasa lebih stabil barulah Maitaya menoleh dan tersenyum pada Rimba.
"Mas Rimba, tolong sampaikan terima kasih ya sama ibu nya."
Rimba menatapnya cukup lama. Maitaya tetap tersenyum. Takut Rimba menyadari kalau dia menangis. Maitaya lebih takut lagi jika Rimba bertanya tentang sesuatu yang tidak bisa Maitaya jelaskan.
"Maitaya, selain perhitungan kamu juga sering kali jadi tukang bohong ya?"
Maitaya gelagapan. Dia meneguk air mineral cepat.
"Maitaya kamu tahu orang paling jahat di dunia ini?" Maitaya tetap diam. Menunggu ucapan Rimba selanjutnya. "Orang kayak kamu ini. Suka membohongi perasaan sendiri. Maitaya bisa nggak kalau lagi sama saya. Kamu mengatakan apa yang kamu rasakan dengan jujur. Sakit ya bilang sakit. Senang ya bilang senang. Begitupun seterusnya. Maitaya membohongi diri sendiri tidak akan membuat kamu terlihat keren."
"Mas Rimba nggak ngerti. Nggak semudah itu Mas." Maitaya menantang Rimba dengan tatapannya. Matanya kembali memanas. Nasi yang Maitaya makan belum sepenuhnya turun namun dadanya terasa begitu sesak.
"Sekarang belajar untuk membuat semuanya lebih mudah. Maitaya jangan berpikir terlalu banyak. Lakukan saja semua hal yang kamu sukai."
"Dan pada akhirnya akan menyebabkan keadaan memburu?"
"Dunia nggak akan runtuh kalau kamu keluar sedikit dari zona aman kamu."
"Rimba, gue nggak hidup dengan cara yang sama kayak lo ya. Zona aman gue hanya sedikit . Kalau gue keluar dari sana. Semuanya akan berantakan. Siapa sih yang nggak mau bahagia. Siapa yang nggak mau hidup nyaman dan tenang. Itu semua impian aku sejak aku punya akal dan menyadari apa yang terjadi dalam hidupku. Jadi berhenti mengatakan hal seperti itu. Jatuhnya lo kayak orang nggak punya hati!"
Rimba mengerjapkan matanya. Menatap Maitaya takjub sedangkan Maitaya menutup mulutnya sendiri karena terkejut dengan apa yang dia katakan. Biasanya Maitaya hanya akan mengatakan hal seperti itu dalam hatinya. Tidak percaya sekarang dia justru mengatakannya pada Rimba. Dengan sangat lantang dan jelas.
"Maitaya, kamu ternyata bisa seperti ini juga?"
Maitaya merapatkan bibirnya. Menatap Rimba tidak enak hati. Seharusnya Maitaya tidak lepas kendali namun ucapan Rimba benar-benar menekannya.
"Mas Rimba, maaf. Aku nggak maksud ngomong kayak gitu. Serius."
Maitaya sangat takut citranya jelek. Takut Rimba akan berpikir dia adalah gadis yang kasar atau semacamnya namun Rimba justru tertawa sambil mengacungkan jempolnya.
"Mantap. Saya pikir kamu nggak bisa ngomong lepas kayak gitu. Bisa lo gue juga ya ternyata Maitaya. Sekarang kamu lebih kelihatan alumni Jabodetabek."
Maitaya meringis pelan. Selama dia tinggal di Bogor dan bersosialisasi di sana. Maitaya tidak pernah sekalipun berbicara seperti itu. Maitaya sangat pandai mengontrol dirinya. Pengendalian diri Maitaya juga sangat bagus.
"Janji itu yang pertama dan terakhir Mas."
"Setiap kali bicara sama saya kayak gitu juga nggak masalah. Kamu kelihatan lebih lepas."
"Nggak deh Mas. Nggak mau."
Maitaya menarik nafasnya perlahan. merapatkan kemeja yang dia gunakan saat angin bertiup semakin kencang dan ombak terlihat jauh lebih besar.
"Mas Rimba, sebentar lagi ombak akan tinggi. Kita pulang."
Maitaya memasukkan barang-barangnya ke dalama tote bag. Mematikan musik dari ponselnya kemudian berdiri sambil mengambil selendang milik Larasati yang sudah penuh dengan pasir.
"Mas Rimba, kenapa tiba-tiba ada di Padang. Bukan seharusnya ini masa-masa sibuk orang kantor?"
Maitaya dan Rimba melangkah pelan meninggalkan pantai. Rumah Elok sudah terlihat dari titik mereka sekarang. Anak-anak sudah tidak terlihat lagi. Sepertinya sudah beranjak tidur.
"Itu juga alasannya Maitaya."
"Mas Rimba punya pekerjaan disini?" Maitaya mendongak untuk menatap Rimba mengingat Rimba jauh lebih tinggi dibandingkan dirinya.
"Hmm, selama tiga bulan ke depan. Setiap akhir bulan saya akan kembali ke Jakarta untuk melaporkan pekerjaan kemudian kembali ke sini."
Maitaya mengangguk mengerti. Mendengar berberapa cerita dari Larasati. Maitaya cukup memahami pekerjaan Rimba. Pria itu tidak selalu di kantor. Rimba akan menemui kliennya secara langsung untuk menyelesaikan konflik yang terjadi.
"Kamu punya banyak waktu untuk ketemu sama saya. Jadi kamu bisa jadi Maitaya yang kamu impikan selama ini."
Maitaya terdiam. Rasanya apa yang dilakukan oleh Rimba padanya sudah melewati batas seorang teman yang selalu ada.
"Mas Rimba. Kenapa aku merasa mas Rimba sedang berusaha melewati batas?"
Maitaya tidak menahan dirinya tentang hal ini karena Maitaya tidak ingin salah mengartikan sesuatu yang pada akhirnya akan menjadi beban sendiri untuknya.
"Batas toleransi kamu untuk seorang teman sampai dimana, Maitaya?"
"Hanya sebatas ngobrol dan berdiskusi tentang pekerjaan. Nggak sampai di tahap di bawakan masakan ibu."
Rimba tiba-tiba menghentikan langkahnya. Maitaya melakukan hal yang sama. Lampu di halaman Rumah Elok juga sudah menyala.
"Jadi saya sudah melewati toleransi kamu?"
"Mas Rimba sudah melewati itu. Aku yakin mas Rimba juga tidak ingin melewati itu. Jadi mari kita tetapkan batasannya mulai sekarang."
Maitaya sangat serius mengenai hal ini. Baik dia maupun Rimba. Mereka ada di usia yang sangat matang. Usia yang pas untuk menikah. Jadi mereka tidak mungkin membuang waktu untuk sesuatu yang tidak jelas tujuannya.
"Kalau saya ingin melewati batas itu bagaimana Maitaya?"
Maitaya terkekeh mendengar ucapan Rimba.
"Mas Rimba nggak usah ngelawak. Perempuan yang mas Rimba temui di kota besar sana sangat banyak. Sangat sebanding dengan mas Rimba. Jangan mengatakan sesuatu yang tidak mungkin."
"Maitaya, bagaimana kalau kamu perempuan yang saya mau?"
Maitaya kini tertawa. Dia menggelengkan kepalanya.
"Mas Rimba mau pulang kemana?"
Maitaya memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka yang rasanya tidak wajar.
"Kamu mau pulang kemana?"
"Aku pulang ke indekos Mas. Motorku juga sudah ada di sini."
Maitaya menunjuk motornya yang terparkir disamping mobil Rimba.
"Motornya kamu taruh disini saja. Saya antar kamu ke indekos."
"Mas Rimba nggak perlu."
"Saya antar Maitaya. Lagipula kita searah."
"Sejak kapan searah?" Maitaya menatap Rimba bingung. Pria itu membuka pintu mobil.
"Sejak hari ini. Indekos saya nggak jauh jaraknya dari indekos kamu. Mohon bantuannya Maitaya."
Rimba tersenyum. Maitaya masih menatap pria itu tidak percaya namun ia tetap masuk ke dalam mobil.
"Kenapa nggak tinggal di rumah sendiri aja sih Mas?"
"Cukup jauh dari tempat kerja. Jadi nggak efisien waktunya."
Rimba ikut masuk ke dalam mobil. Duduk di balik kemudi sedangkan Maitaya masih menatap pria itu.
"Mas Rimba ini nggak mungkin kalau nggak punya pacar kan?"
"Mungkin Maitaya. Buktinya sekarang saya deketin kamu."
"Nggak masuk akal."
"Kenapa nggak masuk akal Maitaya?"
"Kalau serius. Lebih baik jangan Mas. Hidupku berantakan. Nggak cocok sama hidup mas Rimba yang sudah tertata dengan sangat rapi."