Semua keindahan yang ada di dunia ini hanya sementara. Layaknya gelembung. Terlihat sangat indah saat di tiupan pertama kemudian akan pecah di peluk oleh angin sampai pada akhirnya tidak lagi terlihat. Senyum orang-orang yang menyaksikannya pun langsung lenyap begitu saja.
2006
Tahun itu adalah awal mula Maitaya menyadari betapa hancurnya keluarganya. Ayahnya terjerat sebuah kasus pencurian yang membuat pria memilih pergi meninggalkan kampung halaman mereka. Meninggalkan Maitaya, ibu dan kedua adiknya dalam sebuah penderitaan yang tidak bisa Maitaya lupakan sampai hari ini.
"Bapaknya maling. Nggak usah temenan sama dia nanti ketularan maling."
Keceriaan masa kecil Maitaya di renggut paksa begitu saja. Maitaya tidak lagi bisa hidup seperti anak-anak seusianya. Teman-temannya juga tidak bisa lagi melihat Maitaya sebagai Maitaya. Mereka hanya melihat Maitaya sebagai anak seorang pencuri yang melarikan diri.
Bullyan-bullyan tidak henti Maitaya dapatkan sampai pada akhirnya Maitaya benar-benar tidak memiliki teman. Dia hanya melewati hari-harinya sendiri. Penuh dengan tanda tanya. Kenapa dia harus mengalami hal buruk seperti itu?
Saat kepergian ayahnya dalam kegelapan malam. Hari itu Maitaya juga masih ingat. Keluarga ayahnya hanya memberikan uang dua puluh ribu pada ibu nya dari uang penghasilan ayahnya yang katanya empat ratus ribu rupiah.
Maitaya masih ingat betapa memilukan tangis mamanya malam itu. Uang dua puluh ribu tidak akan pernah cukup untuk menghidupi tiga orang anak perempuan yang memiliki kebutuhan walaupun mereka masih kecil saat itu. Namun uang dua puluh ribu bahkan tidak cukup untuk makan sekali bagi tiga orang.
"Maitaya, tolong bersikap lebih baik. Jangan terlalu banyak main-main."
Pesan dari ibunya itu sering kali Maitaya dengar. Dulu Maitaya berpikir ibu mengatakan itu padanya untuk kebaikan Maitaya namun pada kenyataannya itu untuk ketenangan ibunya dan adik-adiknya.
Mereka tidak pernah memikirkan perasaan Maitaya. Tidak sekalipun mendengar mereka bertanya tentang keadaan Maitaya.
Semua orang hanya berusaha untuk melindungi diri mereka sendiri.
Pada akhirnya Maitaya juga terbiasa untuk tidak mengatakan apa yang dia rasakan. Maitaya memilih untuk menikmati rasa sakitnya sendirian sampai rasa itu menggerogoti tubuhnya dan membuat Maitaya ingin menghilang sepenuhnya dari dunia.
Maitaya menarik nafas pelan. Setiap kali dia menoleh ke arah masa lalu. Maitaya menyadari dia tidak pernah sekalipun memikirkan tentang kebahgiaan nya sendiri.
"Mai, akhir pekan mau ikut volunteer bareng kita nggak?" Seorang teman satu jurusan menghampirinya. Namanya Novita. Orangnya ceria dan sangat aktif dalam banyak kegiatan sosial. Tipe orang yang kehidupannya sangat nyaman. Tidak lagi memikirkan cara bertahan hidup namun tinggal memikirkan cara menjalani hidup.
"Hari minggu ya?"
"Iya hari minggu. Ikut Mai?"
"Novita, next time ya. Hati itu aku harus ke Rumah Elok. Sudah janji sama anak-anak untuk main voli di Pantai."
Novita menghembuskan nafasnya namun tetap tersenyum. Dia memeluk lengan Maitaya.
"Oke deh, tapi hari ini kita makan malam bareng ya. Aku juga mau tanya beberapa hal tentang matkul hari ini."
"Boleh, mau makan dimana Nov?"
"Bebek bakar di kantin ujung aja. Katanya enak banget."
"Oke"
Maitaya memilih menuruti keinginan Novita kali ini karena Maitaya sering kali menolak ajakan Novita namun gadis itu juga tidak pernah menyerah untuk mendekatinya membuat Maitaya merasa tidak enak hati. Maitaya memang sangat membatasi interaksinya dengan orang-orang disekitarnya karena Maitaya takut terjadi sesuatu pada mereka.
"Maitaya, kenapa selalu membatasi interaksi sama orang-orang padahal banyak sekali orang yang mau berteman dan ngobrol sama kamu karena menurut mereka kamu orang yang sangat enak diajak bicara, berwawasan luas dan menyenangkan."
Novita menatapnya penuh dengan tanda tanya. Maitaya tersenyum.
"Tidak memiliki banyak waktu untuk itu Novi. Harus kerja, harus nugas, harus ke Rumah Elok. Waktuku sudah habis untuk itu."
Maitaya memilih jawaban paling aman tapi jawaban juga tidak sepenuhnya bohong. Karena itu memang bagian dari rutinitas Maitaya.
"Lain kali volunteering bareng ya Mai."
"Kamu aja yang datang ke Rumah Elok gimana? Anak-anak disana menyenangkan. "
"Boleh juga."
Obrolan Maitaya dan Novita mengalir begitu saja. Mereka membicarakan banyak hal. Terutama kuliah mereka. Sudah semester akhir. Tesis menjadi perhatian utama mereka.
"Maitaya, kalau butuh sesuatu atau teman untuk ngobrol. Jangan segan buat menghubungi aku ya."
"Terima Kasih Novita."
Maitaya suka menghabiskan waktu dengan seseorang. Suka mengobrol namun sejak dulu Maitaya selalu membatasi dirinya untuk melakukan hal itu karena Maitaya takut dia terlalu over sharing sampai orang-orang betapa gelapnya masa lalunya kemudian mereka perlahan akan menjauhinya seperti yang terjadi saat dia masih kecil.
Maitaya sangat takut dibenci oleh orang lain.
***
"Kak Mai, kita harus menang!" seruan penuh semangat Yaya dari pinggir lapangan membuat Maitaya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Akhir pekan saatnya bersenang-senang dengan anak-anak Rumah Elok. Salah satu kegiatan yang sering mereka lakukan adalah bermain voli di pinggiran pantai.
"Kak Mai memang cantik tapi hari ini aku dan mami Lara yang akan menang!" seru Hanif tidak mau kalah.
Mereka memang terbagi menjadi beberapa tim hari ini. Akan bermain secara bergantian sampai menemukan pemenangnya.
"Nggak ada. Aku sama kak Mai yang akan menang hari ini." Yaya berteriak tidak mau kalah. Suasana pinggiran pantai itu semakin ramai. Maitaya dan Larasati hanya tertawa sambil menggelengkan kepala.
Anak-anak ini memang sangat cocok sebagai obat penghilang lelah.
Pertandingan voli mereka berlangsung dengan sangat menyenangkan walaupun pertandingan itu bukan dalam arti yang sebenarnya karena mengingat para pemainnya masih kecil. Jadi mereka menyesuaikan dengan tinggi badan anak-anak Rumah Elok.
Mereka bermain cukup lama sampai anak-anak Rumah Elok merasa puas dan bundo Nurhayati datang menjemput mereka untuk beristirahat. Saat itulah hanya tersisa Maitaya dan Larasati di pinggiran pantai. Duduk disana sambil menikmati air kelapa yang dibawakan oleh bundo Nurhayati.
"Mbak, menurut kamu kenapa orang tua dari anak-anak menyenangkan itu tega membuang mereka di tempat yang tidak layak?"
Larasati tiduran di samping Maitaya. Hari memang sudah sore. Sunset sebentar lagi juga akan menyapa mereka membuat Maitaya dan Larasati semakin enggan untuk beranjak dari posisi mereka sekarang.
"Mereka hanya ingin menyelamatkan diri sendiri Lara. Karena itu mereka memilih menyingkirkan sesuatu yang mereka anggap sebagai beban mereka."
Larasati memeluk lengan Maitaya.
"Mbak Mai, bagaimana perasaannya sekarang?"
Larasati memang seperti ini. Gadis itu bisa sangat profesional saat bekerja namun juga bisa bersikap sangat manja ketika sedang bersantai berdua dengan Maitaya. Larasati benar-benar gambaran seorang gadis yang tumbuh dan dibesarkan oleh keluarga cemara.
"Sudah lebih baik. Besok aku berencana kembali ke kos. Tugas kuliah sudah menumpuk begitu pula dengan pekerjaan yang sudah hampir mencapai deadline."
Selain kuliah dan menjadi sukarelawan Rumah Elok. Maitaya juga seorang penulis lepas. Maitaya juga memiliki beberapa jenis pekerjaan freelance lainnya yang kadang itu sangat menyita waktu Maitaya dan membuat Maitaya absen dari Rumah Elok.
"Jangan lupa kabarin aku kalau merasa tidak enak." Larasati duduk. Menepuk-nepuk pasir di bajunya sambil mengambil ponsel dalam tas.
"Aku pasti melakukan itu Larasati."
Maitaya tersenyum.
"Mbak, aku harus pergi sekarang. Ada pasien dadakan. Nggak papa aku tinggal ya?"
"Hati-hati menyetir Larasati."
Sekarang hanya tinggal Maitaya sendiri. Maitaya dan kecintaannya pada senja dan pantai. Masih enggan beranjak meninggalkan kenyamanannya. Masih dengan posisi yang sama. Tiduran di pinggiran pantai dengan alas selendang yang tadi dibawakan oleh Larasati.
Alunan musik dari ponsel Maitaya terhenti membuat Maitaya langsung mengambil ponselnya. Memeriksa notifikasi.
Rimba Darma Sakti: Maitaya, sampai kapan kamu akan tiduran disana?
Maitaya mengerjapkan matanya berulang kali. Kembali membaca pesan yang dikirim oleh Rimba.
Maitaya Azyumardi Piliang: Mas Rimba, kenapa bisa tahu?
Maitaya duduk. Menatap sekelilingnya namun dia tidak menemukan sosok Rimba dimanapun.
Rimba Darma Sakti: Kamu terlalu menikmati waktu libur tanpa mengirimi saya foto sunset. Maitaya, kamu benar-benar perhitungan ya?
Maitaya Azyumardi Piliang: Aku kirim sekarang Mas
"Saya bisa ambil fotonya sendiri Maitaya."
Maitaya tersentak ketika Rimba muncul di hadapannya dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancung pria itu.
"Ketemu lagi Maitaya."
Rimba melambaikan tangannya. Maitaya beringsut duduk. Memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.
"Mas Rimba, kenapa bisa ada disini?" Maitaya masih menatap Rimba tidak percaya. Pria itu langsung duduk disamping Maitaya. Meletakkan beberapa kantong belanjaan di hadapan Maitaya.
"Makan malam. Ayam bumbu sama sambal teri."
Maitaya masih menatap Rimba tidak percaya. Mereka masih sering bertukar pesan walaupun itu hanya sekedar mengirim foto sunrise atau sunset. Maitaya benar-benar tidak tahu Rimba akan kembali ke Padang.
"Mas Rimba, kenapa tiba-tiba banget pulang?"
"Kamu kangen sama saya?"
"Nggak sih."
Rimba menggelengkan kepala. Menatap Maitaya sinis.
"Kamu benar-benar perhitungan ya Maitaya."
Maitaya hanya tersenyum. Memeluk lututnya sambil menatap langit yang sudah sepenuhnya berubah menjadi jingga.
"Mas Rimba, kenapa bisa ada disini?"
"Kangen sama kamu."
Maitaya mendengus. Menatap Rimba dengan malas.
"Mas Rimba, bisa serius dikit?"
"Serius mencintai kamu?"
"Mas Rimba!"
"Gimana kabar kamu, Maitaya?"
Rimba membuka kaleng kopi yang juga dibawa oleh pria itu. Rimba sepertinya sudah sangat prepare untuk menikmati pantai di malam hari.
Langit jingga sudah berubah menjadi gelap. Lampu-lampu yang melingkari pohon kelapa yang menjulang tinggi mulai menyala. Membuat suasana semakin syahdu.
"Jakarta memang nggak ada pantai Mas sampai harus jauh-jauh ke Rumah Elok?"
"Kamu belum jawab pertanyaan saya Maitaya."
"Baik. Aku sangat baik."
"Saya dengar kamu sudah hampir sebulan tinggal disini tanpa pulang ke indekos. Apa yang terjadi Maitaya?"
Maitaya menoleh.
"Larasati?"
Rimba tersenyum sambil mengangguk.
"Saat itu kondisiku sedang tidak memungkinkan untuk tinggal sendiri tapi setelah pulang dari sini aku akan kembali ke indekos."
"Kamu sakit?"
"Sehat Mas. Cuma lagi nggak mau kesepian aja."
Rimba tidak lagi bersuara. Yang terdengar hanya deru ombak yang memecah keheningan. Saat Maitaya menoleh. Dia menemukan Rimba yang sedang menatapnya.
"Kenapa mas Rimba?"
"Luka di sudut mata kamu meninggalkan bekas ya?"
Maitaya memegang bekas luka di sudut matanya Maitaya pikir Rimba sudah melupakan hal itu.
"Sebentar lagi juga hilang Mas."
"Maitaya."
"Hm?" Maitaya menoleh. Rimba lagi-lagi menatapnya.
"Kalau sakit dan sedih. Kasih tahu saya ya. Walaupun saya hanya seperti gelembung. Setidaknya saya bisa membuat kamu bahagia walaupun sebentar."