"Mbak Mai sejak kapan mulai makan cokelat?" Maitaya menoleh. Tersenyum ketika menemukan Larasati yang muncul di dapur Rumah Elok pagi ini. Terlihat sudah sangat rapi dengan pakaian kerja. Larasati memang sering singgah di Rumah Elok sebelum berangkat bekerja. Larasati juga cukup sering mengantar anak-anak Rumah Elok berangkat sekolah. Salah satu yang sering di antar itu adalah Yaya karena gadis itu sudah masuk sekolah dasar. Yang lain masih belajar di Rumah Elok dibantu bundo Nurhayati.
"Dari Mas Rimba. Aku nggak bisa makan." Maitaya kembali fokus pada sarapan yang sedang ia masak. Pagi ini menunya simpel sekali. Nasi goreng dengan beberapa macam sayuran yang merupakan salah satu favorit anak-anak Rumah Elok. Setiap kali Maitaya memiliki kesempatan. Maitaya akan selalu menyempatkan diri untuk memasak sarapan untuk anak-anak.
"Mas Rimba?" Larasati melangkah medekat dengan nada yang terdengar begitu penasaran. Gadis itu berdiri disamping Maitaya dengan memainkan cokelat pemberian Rimba. Senyumnya terlihat begitu menggoda Maitaya.
"Jadi orang yang mau dia ajak makan dendeng batokok semalam itu Mbak Maitaya?"
Kening Maitaya berkerut. Rimba ternyata se terbuka itu pada keluarga. Memang berbeda sekali ya kehidupan anak yang tumbuh di keluarga cemara dan keluarga berantakan.
Maitaya mematikan kompor ketika nasi goreng sayurnya sudah matang. Maitaya mulai menyajikan nasi goreng itu ke piring agar anak-anak Rumah Elok bisa segera sarapan dan melanjutkan aktivitas masing-masing.
"Dia minta ditemani makan dendeng batokok. Aku nggak enak kalau nolak."
"Memang mbak Mai seharusnya nggak nolak. Gimana mbak makan malamnya?"
"Seharusnya lancar. Mas Rimba menyukai rasa dendeng batokok di restoran itu."
Larasati mencolek lengan Maitaya. "Setelah itu apa yang terjadi mbak Mai?"
"Nggak terjadi apapun Lara."
"Lalu darimana datangnya cokelat ini? Seingatku restoran dendeng batokok itu nggak menjual cokelat?"
"Katanya mas Rimba beli karena ada diskon potongan harga saat dia beli rokok di minimarket."
"Diskon potongan harga sama beli rokok ya?" tanya Larasati. Nada suara gadis itu terdengar tidak begitu yakin membuat Maitaya menoleh. Larasati sedang menahan senyum sambil mengambil foto cokelat itu.
"Diskon potongan harga sama beli rokok ya Mbak." Larasati mengangguk berulang kali sambil tersenyum penuh arti. Maitaya menatap gadis itu bingung namun juga tidak bertanya banyak lagi karena merasa tidak heran. Larasati memang sangat ekspresif.
"Sebentar, kenapa aku merasa ada yang aneh. Kalian nggak makan bareng sampai selesai?"
Tatapan Larasati berubah menjadi penuh selidik. Maitaya menyajikan sarapan di meja makan panjang yang ada di Rumah Elok. Memanggil anak-anak untuk sarapan. Bundo Nurhayati langsung menertibkan anak-anak supaya duduk di tempat masing-masing.
"Sarapan kali ini di masak sama kak Mai lagi. Cepat ucapkan terima kasih sebelum makan."
"Terima kasih kak Mai." Anak-anak Rumah Elok mengucapkan dengan penuh semangat.
Maitaya tersenyum sambil mengangguk. Walaupun kehidupannya begitu berantakan. Sangat jauh dari kata baik-baik saja setidaknya sekarang Maitaya memiliki tempat untuk beristirahat sejenak. Di tempat ini segala sesuatu yang Maitaya lakukan sangat dihargai. Ditempat ini Maitaya tidak pernah lagi berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
"Sama-sama. Selamat sarapan semuanya!" Maitaya dan Larasati juga bergabung di meja panjang itu. Sarapan bersama dengan anak-anak Rumah Elok merupakan salah satu kegiatan yang Maitaya sukai karena di rumah sangat jarang sekali bisa menikmati sarapan bersama keluarga.
"Kak Mai, semalam abang tampan itu datang untuk apa?" Maitaya terbatuk menatap Hanif penuh peringatan. Larasati yang sudah menunggu jawaban dari Maitaya tersenyum semakin menggoda.
"Abang tampan?" tanya Larasati. Sengaja memancing anak-anak Rumah Elok untuk mengatakan dengan jujur apa yang mereka lihat semalam.
"Abang yang membantu Hanif dan ibu. Semalam datang kesini. Malam-malam. Duduk di bawah pohon ketapang sama kak Mai. Lama sekali sampai Hanif tidur duluan."
"Mbak Maitaya?" Larasati menatap Maitaya menggoda. Maitaya gelagapan. Berusaha untuk bersikap biasa saja namun sudah keburu ketahuan.
"Anak-anak makan sarapan kalian. Jangan sampai terlambat pergi ke sekolah."
Maitaya menepuk paha Larasti. Mengingatkan gadis itu untuk tidak bebicara lebih lanjut lagi. Untung saja Larasati mengerti. Gadis itu bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya macam-macam sepanjang sarapan. Perhatian anak-anak Rumah Elok juga mulai teralihkan ketika bundo Hayati mengajak mereka berbicara.
"Dari restoran dendeng batokok kemudian bang Rimba menyusul ke Rumah Elok. Sebenarnya semalam apa yang terjadi mbak Maitaya?"
Bukan Larasati namanya jika tidak mencari tahu sesuatu dengan detail. Saat sarapan sudah selesai dan tinggal mereka berdua di meja makan. Larasati kembali bertanya tentang apa yang terjadi semalam.
"Aku pulang lebih dulu dari restoran karena beberapa hal kemudian mas Rimba menyusul sambil membawakan makanan yang belum sempat aku makan. Setelah itu dia pergi."
Masih berat rasanya bagi Maitaya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Larasati. Maitaya masih ingin menyimpan semuanya sendiri. Masih ingin mengelola rasa takutnya sampai ia menemukan keberanian untuk memberitahu Larasati apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Hanya itu?"
"Hanya tu. Mas Rimba pergi setelah aku menghabiskan makanan. Kita nggak banyak bicara. Cuma menikmati deru ombak dan langit malam yang kebetulan sangat bagus."
"Menurut mbak Maitaya, bagaimana bang Rimba?"
"Baik. Baik sekali. Dengan dia mengusahakan keadilan untuk mbak Hannah dan Hanif dan menjadi donatur tetap Rumah Elok sudah membuktikan semuanya."
"Maksudku. Secara personal setelah mbak Mai makan bersama dengan bang Rimba?"
"Baik Larasati."
Menurut Maitaya. Rimba memang sosok pria yang baik. Sangat pandai menempatkan diri. Maitaya juga sangat yakin sosok Rimba akan sangat mudah di sukai oleh orang-orang diluar sana.
"Mbak siang ini jangan lupa datang ke rumah sakit ya."
Setelah selesai mencuci piring bersama dan meninggalkan area dapur. Maitaya mengangguk. Ini memang jadwalnya Maitaya melakukan konsultasi rutin dengan Larasati.
"Oke."
Maitaya berharap kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya walaupun Maitaya tidak terlalu yakin tentang itu karena perasaan Maitaya justru memburuk beberapa minggu terakhir.
"Aku akan datang ke rumah sakit setelah menyelsaikan kelasku hari ini. Nanti aku kabari lagi."
***
Duduk lebih lama di pinggir pantai sembari menikmati sunset adalah salah satu dari banyak hal yang Maitaya sukai. Dengan cara seperti ini Maitaya mencari sebuah ketenangan yang sangat sulit untuk dia dapatkan. Namun sore ini dengan langit jingga namun perasaan Maitaya tidak tenang setelah mendengar penjelasan Larasati tentang kondisinya yang tidak kunjung membaik. Jangankan membaik. Kondisi Maitaya justru semakin memburuk. Larasati bahkan melarang Maitaya tinggal sendirian di indekos untuk sementara waktu. Jadilah Maitaya tinggal di Rumah Elok sampai emosinya kembali stabil.
Maitaya masih tidak mengerti kenapa kondisinya bisa seburuk sekarang. Tenang yang selalu berusaha Maitaya usahakan pada akhirnya sia-sia saja.
Maitaya mendongak menatap langit jingga di atasnya. Berusaha berpikir positif. Berusaha bersyukur atas segala hal yang terjadi dalam hidupnya namun saat Maitaya membayangkan apa yang sudah ia lewati. Air matanya mengalir begitu saja. Perasaannya terasa begitu hampa.
Sampai pada akhirnya notifikasi ponselnya. Menarik Maitaya dari kalutnya pikirannya.
Rimba Darma Sakti: Maitaya, saya sudah sampai di Jakarta dan beraktivitas seperti biasanya. Bagaimana dengan kamu, pantai dan Rumah Elok?
Maitaya mengusap air matanya. Membanca pesan yang dikirm oleh Rimba berulang kali. Maitaya berpikir pria itu tidak akan pernah lagi menghubunginya namun ternayata Rimba masih melakukannya. Menepati janji.
Maitaya Azyumardi Pilliang: Alhamdulillah mas Rimba. Selamat kembali beraktivitas seperti biasanya ya. Mengenai pantai. Langitnya cerah seperti terakhir kali mas Rimba ada disini. Rumah Elok. Para penghuninya sangat senang memiliki seorang donatur yang baik hati seperti mas Rimba.
Rimba Darma Sakti: Lalu bagaimana dengan kamu, Maitaya?
Maitaya terdiam cukup lama. Jemarinya begitu ragu saat ingin mengetikkan balasan untuk Rimba. Berbohong atau mengatakan yang sebenarnya. Rasanya sama saja beratnya.
Maitaya Azyumardi Piliang: Tidak secerah langit sore hari ini namun masih bisa bertahan untuk meraih sunrise esok hari
Maitaya mengambil beberapa foto sunset kemudian mengirimnya pada Rimba walaupun Maitaya yakin pria itu juga bisa menyaksikan sunset dari gedung pencakar langit tempat pria itu bekerja.
Rimba Darma Sakti: Maitaya, saya boleh mengatakan sesuatu sama kamu?
Kening Maitaya berkerut dalam.
Maitaya Azyumardi Piliang: Tidak ada batasan hak untuk bicara disini Mas. Silahkan ingin bicara apa saja.
Rimba Darma Sakti: Saya merasa kamu terlalu pandai dalam seni menyiksa diri sendiri. Maitaya dalam hidup. Kamu bebas mengatur temperaturmu sendiri. Tidak perlu menyesuaikan dengan orang lain.
Pesan yang dikirim oleh Rimba itu terasa sangat tiba-tiba namun sangat tepat sasaran. Maitaya terdiam cukup lama. Apakah perasaannya semudah itu di tebak oleh orang lain?
Temperatur. Maitaya sejak dulu selalu ingin melakukan itu. Mengatur temperaturnya sendiri namun Maitaya selalu memikirkan bagaimana jika suhunya tidak cocok dengan orang lain sampai pada akhirnya Maitaya lupa akan kenyamanan nya sendiri.
Rimba Darma Sakti: Kedepannya jangan terlalu banyak berpikir untuk kebahagiaan diri sendiri. Maitaya, perempuan baik seperti kamu sangat pantas untuk bahagia.
Deg!
Perempuan baik. Tidak pernah ada yang mengatakan hal seperti itu padanya.
Jantung Maitaya tiba-tiba berdetak lebih kencang setelah membaca pesan dari Rimba. Rasanya begitu di perhatian. Begitu diapresiasi.
Maitaya Azyumardi Piliang: Bagaimana dengan Mas Rimba? Apakah temperatur nya sudah sesuai?
Rimba Darma Sakti: Tidak selalu tapi juga tidak sampai membuat saya kedinginan.
Itu adalah poinnya. Tidak selalu sesuai namun tidak sampai kedinginan.
Rimba Darma Sakti: Maitaya jalani hari-hari kamu dengan baik. Jika masih kebingungan dalam mengatur temperatur. Tunggu saya pulang lagi ke Padang. Saya akan membantu kamu cara mengaturnya.
Maitaya kembali terdiam. Pesan yang dikirim oleh Rimba membuat Maitaya seperti menggenggam sebuah harapan namun Maitaya juga sadar. Rimba hanya sedang berusaha menyemangatinya.
Maitaya Azyumardi Piliang: Terima kasih mas Rimba. Sampai jumpa lagi di Padang
Rimba Darma Sakti: Jangan lupa kirim saya foto sunrise besok Maitaya
Maitaya Azyumardi Piliang: Mas?
Rimba Darma Sakti: Kamu mulai perhitungan lagi sama saya?
Maitaya menarik nafasnya perlahan. Pria ini benar-benar sangat tahu cara membuat orang lain menuruti perkataannya.
Maitaya Azyumardi Piliang: Oke, besok aku kirim mas Rimba.
Rimba Darma Sakti: Terima kasih Maitaya.