Part 4: Dibawah Langit

1223 Words
"Langit cerah. Bintang bertaburan. Bulan bulat penuh. Tapi kenapa kamu murung sekali Maitaya?" Maitaya tersentak. Mengusap air matanya begitu cepat saat sosok Rimba melangkah santai ke arahnya. Maitaya tidak menyangka Rimba akan muncul di Rumah Elok malam ini di saat Maitaya mati-matian menghindari Rimba. Tidak ingin Rimba melihatnya dalam keadaan yang begitu buruk. "Urusan yang kamu hadapi terlalu berat?" Pria itu duduk di sampingnya. Menaruh kantong belanjaan berlogo restoran dendeng batokok yang mereka kunjungi sekitar dua jam yang lalu. "Mas Rimba kenapa datang kesini? Bukan seharusnya istirahat karena besok akan kembali ke Jakarta?" Maitaya berusaha bicara sesantai mungkin. Menjaga suaranya untuk tidak bergetar. Maitaya sangat berharap Rimba tidak menyadari betapa kacaunya wajahnya saat ini. "Kamu kabur meninggalkan restoran tanpa makan apapun. Sekarang saya berharap kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu pesan." "Mas Rimba." "Sudah dibawa pulang. Makan Maitaya. Saya akan menunggu kamu sampai selesai." Rimba melirik kantong belanjaan berlogo restoran dendeng batokok itu. "Mas Rimba." "Tadi kamu mengatakan saya harus istirahat karena besok harus kembali ke Jakarta. Saya akan segera pulang kalau makanannya sudah habis." ".... " Maitaya menatap pria yang duduk di sampingnya. Entah sudah berapa kali Maitaya menatap Rimba hari ini namun rasanya Maitaya tidak pernah bosan melakukannya. Setiap kali menatap Rimba. Perasaan Maitaya selalu campur aduk. Maitaya juga sedikit takut namun lebih banyak tidak enak hati. "Waktu istirahat saya sekarang tergantung kamu, Maitaya." Maitaya terkejut. Dia membuka kantong restoran dendeng batokok itu. Mengeluarkan dinner box dari dalam sana beserta minumannya namun tatapan Maitaya justru salah fokus pada sebatang cokelat yang juga tersimpan disana. "Saya beli rokok di minimarket. Kasirnya menawarkan diskon potongan harga. Sayang kalau coklatnya tidak di ambil." Rimba kembali bicara seolah pria itu menyadari arti tatapan Maitaya. Maitaya menaruh coklat itu tepat di samping Rimba namun pria itu justru menaruh coklat di samping Maitaya. "Saya nggak makan coklat. Buat kamu aja." "Mas Rimba, seharusnya nggak seperti ini kan?" "Makan Maitaya." Maitaya menarik nafasnya pelan. Rimba sepertinya memang bukan orang yang mudah untuk di tolak. Pria itu punya banyak cara untuk membuat lawannya pada akhirnya menurut pada pria itu. Memakan dendeng batokok setelah menangis tidak berhasil membuat perasaan Maitaya membaik. Maitaya justru merasa semakin menyedihkan. Maitaya merasa tidak pantas untuk menikmati makanan enak. Rimba tidak bicara. Hanya duduk tenang tanpa melakukan apapun. Memegang ponsel saja tidak. Tatapan Rimba hanya tertuju pada pantai yang saat malam hari ombaknya semakin besar. Sesekali mendongak. Menatap indahnya langit malam. Maitaya makan secepat mungkin. Tidak ingin membuat Rimba menunggu terlalu lama. Membuang waktu yang seharusnya Rimba gunakan untuk beristirahat. "Saya meminta kamu menikmati makan malam bukan maraton makan Maitaya." Maitaya terbatuk. Rimba membuka tutup air mineral. Memberikannya pada Maitaya. "Nggak perlu buru-buru." Maitaya mengambil botol air mineral itu. Mengusap sudut bibirnya kemudian minum namun Rimba tiba-tiba menahan bahunya. "Kenapa sama sudut mata kamu?" Maitaya menggelengkan kepala. Sedikit menggeser tubuhnya. Memberikan jarak yang lebih luas dengan Rimba. "Kenapa Maitaya? Sebelumnya saya nggak melihat itu." "Kebentur saat di toilet. Bukan luka serius. Rasanya juga nggak sakit." Maitaya kembali menyuapkan nasi ke mulutnya. Mengunyah makan malamnya itu lebih cepat. Maitaya tidak ingin Rimba bertanya lebih banyak lagi. Maitaya tidak ingin siapapun tahu tentang kenyataan buruk yang selalu mati-matian dia sembunyikan. Maitaya bahkan belum pernah bicara pada Larasati sebagai dokternya. Rimba juga tidak bertanya lebih jauh. Pria itu mengangguk pelan setelah mendengar jawabannya. Rimba kembali menikmati langit malam dan deru ombak yang terdengar dari kejauhan. Maitaya tetap berusaha keras menghabiskan makanannya. "Maitaya, kamu pulang?" "Nggak, Mas. Aku menginap disini. Mau nemenin anak-anak tidur." Maitaya selalu melewati banyak harinya seorang diri namun pada kenyataannya Maitaya sangat benci sendirian. Semenjak Maitaya menjadi relawan Rumah Elok. Maitaya tidak pernah merasa sendirian lagi. Sedikit lebih kurang lebih tepatnya. Setiap kali dia kesepian. Setiap kali dia ketakutan. Setiap kali dia mendapatkan ancaman. Maitaya akan lari kesini. Tidur bersama dengan anak-anak Rumah Elok. Menghangatkan dirinya dengan energi positif anak-anak yang tinggal di Rumah Elok. "Kamu tunggu disini sebentar." Rimba tiba-tiba bangkit dari kursi. Berjalan cepat ke arah mobil yang terparkir di halaman Rumah Elok. Maitaya menutup dinner box nya setelah menghabiskan makan malam. Mendongak menatap langit malam yang benar-benar indah. Entah hal apa yang akan Maitaya hadapi esok. Maitaya hanya berharap dia bisa melewatinya. Maitaya ingin bertahan. Maitaya tidak ingin pikiran mengakhiri hidup dengan tangannya sendiri kembali. "Ambil ini." Rimba kembali duduk di sampingnya. Memberikan kotak obat. "Salah satu luka paling sakit itu luka yang ada di sudut mata Maitaya. Obati dengan rutin supaya tidak meninggalkan bekas." Mata Maitaya kembali memanas. Dia mengambil kotak obat itu. Tersenyum sebaik mungkin pada Rimba. "Mas Rimba maaf terlalu merepotkan hari ini. Aku janji ini yang terakhir kalinya." Masih dengan senyum yang sama dan mata yang semakin memanas. Maitaya berdiri. "Terima kasih sudah membawa aku jalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati sunset. Terima kasih sudah traktir makanan favoritku. Terima kasih cokelatnya. Terima kasih obatnya. Mas Rimba terima kasih atas semuanya." Maitaya menunduk. Air matanya jatuh namun mengusapnya cepat. "Semoga perjalanan mas Rimba lancar. Selamat sampai tujuan." Maitaya lagi-lagi tersenyum namun tatapan matanya perlahan hampa berbanding terbalik dengan tatapan Rimba yang terlihat sedalam samudra. "Makananku sudah habis. Mas Rimba sudah bisa pulang untuk beristirahat. Aku juga ingin masuk. Ingin memeriksa anak-anak. Selamat malam Mas Rimba." Maitaya tahu dia banyak bicara malam ini namun Maitaya tidak tahu harus melakukan apalagi selain itu. "Selamat malam Maitaya. Kamu boleh masuk." Maitaya kembali menatap Rimba. Melangkah dengan ragu meninggalkan pria yang masih bertahan di tempat duduk. "Maitaya." Suara itu membuat Maitaya menoleh ke belakang. "Jangan hapus kontak saya. Tetap bertukar kabar." Maitaya hanya mengangguk. Kali ini langkah Maitaya semakin cepat. Tetap bertukar kabar. Itu hanya terdengar seperti basa-basi di telinga Maitaya karena pada kenyataannya itu tidak akan benar-benar terjadi. Maitaya sudah tidak mempercayai kalimat penenang itu lagi. Setelah melangkah keluar dari Rumah Elok. Baik Rimba maupun Maitaya akan kembali fokus pada kehidupan masing-masing. Mereka pada akhirnya juga akan menjadi orang asing. Apalagi untuk mereka yang baru bertemu dua kali. Obrolan mereka tidak banyak. Akan sangat aneh jika harus bertukar kabar. "Kak Mai, Abang tampan itu sudah pergi?" Maitaya tersentak dari lamunannya. Dia menutup menjela kamar cepat. Menoleh kebelakang. Menemukan sosok gadis mungil dengan senyum seindah langit malam ini. "Yaya, kenapa belum tidur?" Maitaya menghampiri tempat tidur Yaya. Maitaya selalu berpikir takdirnya sangat buruk namun kenyataannya takdir gadis mungil ini jauh lebih buruk. Yaya dibuang sejak kecil oleh orang tuanya. Di temukan di pinggir pantai oleh kepala Rumah Elok. Namanya Bundo Nurhayati. "Nunggu kak Mai kembali ke kamar. Aku ingin tidur sama kak Main malam ini, boleh?" Maitaya mengusap rambut anak itu lembut sambil menganggukkan kepala. "Tentu saja boleh. Kak Mai akan memeluk Yaya malam ini." Maitaya menoleh kembali ke arah jendela saat mendengar suara mobil Rimba yang menjauh meninggalkan Rumah Elok. Pria itu sudah benar-benar pergi. Maitaya harus kembali terbiasa. Harus menyingkirkan Rimba dari pikirannya. "Dia benar-benar sudah pergi?" Yaya memeluk perutnya. Maitaya tersenyum. "Sudah pergi. Urusannya sudah selesai." "Aku berpikir dia akan menetap lebih lama disini." "Kenapa Yaya berpikir seperti itu?" "Dia tampan. Sangat cocok jika terus berada di samping kak Mai yang cantik." Maitaya terkekeh pelan. Menjawil hidung Yaya gemas. "Yaya sudah saatnya tidur. Besok mamih Larasati akan datang menjemput untuk berangkat sekolah." "Baik kak Mai. Aku akan tidur dengan banyak harapan." "Apa harapan Yaya?" "Ingin melihat kak Mai dan Abang tampan itu duduk kembali di bawah langit. Kak Mai dan Abang Tampan itu terlihat sangat indah saat berdampingan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD