Part 3: Makan Malam

1323 Words
Rimba Darma Sakti: Maitaya, saya sudah di depan gerbang indekos kamu Rimba Darma Sakti: Boleh turun sekarang? Maitaya menatap notifikasi di layar depan ponselnya. Membaca pesan dari seorang yang baru menghiasi w******p nya. Rasanya sangat asing sekali melihat nama itu menjadi bagian dari kontak ponselnya sejak tadi sore. Orang baru kembali datang dalam hidupnya. Namun mungkin hari ini akan menjadi hari pertama dan terakhir Maitaya mendapatkan notifikasi dari nomor itu. Saling bertukar pesan. Sisanya hanya menjadi netizen saja. Dalam sejarah kehidupan Maitaya. Ini untuk pertama kalinya Maitaya memberikan alamat tempat tinggal bahkan nomor ponselnya pada seseorang dengan begitu cepat bahkan tanpa banyak pertimbangan. Namun sekarang Maitaya sedikit menyesal telah melakukan hal itu. Maitaya seharusnya memikirkan semuanya seperti yang sudah-sudah. Terlalu merepotkan jika harus membiasakan diri tanpa kehadiran seseorang itu lagi. Sepanjang hidupnya yang tidak menarik. Maitaya baru dua kali pergi makan berdua bersama dengan seorang pria. Pertama saat dia sedang menunggu kelulusan sekolah menengah atas dan yang kedua saat ia sedang menunggu kelulusan sarjana. Dan jika malam ini Maitaya benar-benar melangkah keluar dari indekosnya. Ini akan menjadi kali ketiga Maitaya makan malam bersama seorang pria saat dia sedang sibuk menyusun tesisnya dan menyelesaikan pendidikan magisternya. Maitaya menarik nafasnya perlahan. Memberanikan diri untuk membuka layar ponselnya. Mengetikkan balasan untuk Rimba yang sudah menunggunya di bawah sana. Maitaya Azyumardi Piliang: Sebentar mas Rimba Maitaya memeriksa penampilannya satu kali lagi. Memastikan penampilannya malam ini cukup nyaman untuk di lihat. Setidaknya dia tidak akan membuat Rimba merasa malu saat pergi bersama dengannya dan lebih penting lagi Maitaya tidak akan mempermalukan dirinya sendiri. "Mas Rimba." Maitaya menghampiri pria yang berdiri tidak jauh dari mobil. Menjadi pusat perhatian para penghuni kos yang sedang duduk santai di lobi kosan yang memang sangat nyaman. Tatapan mereka jelas sangat mengagumi sosok tinggi dengan tubuh proposional itu apalagi malam ini Rimba menggunakan kaos dan celana pendek. Aura Rimba benar-benar tumpah kemana-mana. Rimba terlihat santai namun sangat sulit untuk digapai. Maitaya sangat bersyukur dia tidak menggunakan pakaian berlebihan malam ini. Maitaya menggunakan celana bahan semata kaki yang di padukan dengan kaus yang cukup pas ditubuhnya. Simpel. Sedikit bisa mengimbangi Rimba walaupun tidak benar-benar setara mengingat wajah Rimba itu berada di level yang tinggi. Jenis wajah yang sekali lihat saja sudah bisa menarik perhatian banyak orang. Pakaian yang mereka gunakan malam ini juga sangat cocok dengan cuaca kota Padang yang begitu panas sejak siang. "Sudah siap?" Rimba tersenyum sambil menghampirinya. Maitaya mengangguk kaku sambil tersenyum seadanya. Rasanya awkward sekali. Dengan banyaknya tatapan mata yang tertuju pada mereka membuat Maitaya semakin tidak bisa tenang. Detak jantungnya Maitaya menggila. Maitaya sangat takut wajahnya berubah pucat seperti mayat hidup jika ia tidak bisa mengendalikan diri. "Silahkan masuk Maitaya." "....." "Maitaya?" Rimba melambaikan tangan di depan wajahnya. Saat itu Maitaya tersadar sepenuhnya. Dia mengerjapkan mata kemudian masuk ke dalam mobil Rimba. Wangi parfum khas Rimba langsung menusuk indra penciuman Maitaya. Aromanya segar dan tenang. Maitaya sangat menyukai aroma parfum itu. "Bisa pandu jalannya Maitaya?" Maitaya mengangguk. Kali ini Maitaya memilih untuk menyingkirkan segala kemungkinan buruk yang menghantuinya. Maitaya berusaha untuk menikmati perjalanan menuju restoran dendeng batokok itu sesantai mungkin. "Tinggal lurus saja dari sini Mas. Nggak jauh. Lokasinya sebelah kanan jalan." Maitaya bicara dengan santai dan duduk dengan nyaman di kursinya. Suasana mobil itu menjadi sangat hening. Maitaya menatap lurus ke depan menikmati suasana jalan di malam hari yang penuh hiruk-pikuk. Suasana yang jarang sekali Maitaya nikmati karena jika tidak ada jadwal mengajar atau mengunjungi Rumah Elok Maitaya akan lebih memilih menggunakan waktunya untuk beristirahat atau memasak atau mencuci dan menyetrika pakaiannya sendiri. Tidak sampai sepuluh menit. Mereka pada akhirnya sampai di restoran dendeng batokok favorit kebanyakan orang itu. Parkirannya hampir penuh seperti yang sudah-sudah. Maitaya memesan beberapa jenis dendeng batokok yang biasa dinikmati karena Rimba menyerahkan semua padanya sedangkan pria itu bagian membayar. "Mas Rimba nanti kita bagi dua bayarnya." Setelah memesan. Mereka mencari tempat duduk yang nyaman. Rimba menatap Maitaya dengan senyum santai. "Saya yang mengajak kamu makan malam hari ini. Saya yang bayar Maitaya." Maitaya duduk gelisah. "Mas Rimba, jujur aku nggak enak. Bagi dua aja ya Mas?" Maitaya senang seseorang melakukan sesuatu untuknya namun Maitaya juga sering merasa terbebani oleh hal itu. Takut ia tidak bisa melakukan hal yang sama untuk orang tersebut. "Tidak perlu Maitaya. Saya yang traktir kamu malam ini." Rimba tetap pada pendiriannya. Maitaya menatap pria di hadapannya itu penuh dengan keraguan. Mencoba mencari celah agar Rimba menyetujuinya namun semakin di lihat. Rimba sama sekali tidak membutuhkan uang. "Maitaya, saya bisa minta tolong sesuatu sama kamu?" "Apa mas? Mas Rimba mau minum sesuatu atau mau diambilkan cuci tangan? Mau di kasih jeruk limau atau jeruk nipis di tempat cuci tangannya?" Maitaya bersiap untuk berdiri namun Rimba menggelengkan kepala. "Nikmati makan malamnya tanpa merasa terbebani. Saya ingin kamu melakukan itu." Maitaya kembali menatap Rimba begitu lekat. Maitaya lupa kapan terakhir kali seseorang mengatakan kalimat seperti itu padanya. Dalam perjalanan hidupnya yang begitu berat. Maitaya nyaris menghadapi semuanya seorang diri. Maitaya menjadi kesulitan memberikan respon jika orang memperhatikannya namun malam ini saat Rimba mengatakan itu entah kenapa Maitaya tiba-tiba ingin menangis. Mungkin saja karena suasana hatinya yang kurang baik akibat ucapan ibu-ibu di kampung halamannya. Rumah neneknya. "Bisa Maitaya?" Maitaya menggenggam pergelangan tangannya erat kemudian mengangguk bahkan beberapa kali dengan mata yang memanas namun Maitaya jelas tidak akan menangis di hadapan Rimba. Itu akan sangat memalukan. "Maitaya sejak kapan kamu tinggal?" Rimba bertanya bertepatan dengan pesanan mereka disajikan satu persatu. "Kampung halamanku hanya berjarak empat jam dari sini Mas." "Dengan kamu memanggil saya mas dan bagaimana cara kamu berbicara. Saya yakin kamu tidak tumbuh dan besar di kampung halaman. Saya benar?" Maitaya lagi-lagi menatap Rimba. Pria itu ternyata menyadari semuanya. "Mas Rimba benar." "Kamu tumbuh dan besar dimana Maitaya?" "Jawa Tengah kemudian pindah ke Bogor kemudian kembali ke sini sejak dua tahun yang lalu." "Kamu berencana menetap disini atau akan kembali ke Bogor?" "Aku akan menetap disi—" Ucapan Maitaya terhenti ketika tatapan matanya menatap sosok yang paling ia hindari. Dari banyaknya tempat. Maitaya tidak mengerti kenapa harus melihat pria itu. "Mas Rimba, aku ke toilet sebentar." Maitaya langsung pergi tanpa persetujuan Rimba. Maitaya tidak ingin pria gila yang duduk di antara orang-orang yang tidak jauh darinya mengacaukan makan malamnya hari ini. Maitaya tidak ingin berdebat. Maitaya tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan orang yang baru dia kenal. Maitaya berdiri di toilet sampai tiga puluh menit sampai pada akhirnya dia memilih mengirim pesan pada Rimba. Maitaya Azyumardi Piliang: Mas Rimba maaf aku punya urusan mendadak. Tidak bisa menemani mas Rimba sampai selesai. Maitaya Azyumardi Piliang: Selamat menikmati makan malam Mas Rimba Maitaya segera keluar dari toilet saat suasananya sudah sepi namun langkah Maitaya terhenti saat sosok yang sangat dia hindari itu berdiri tepat di hadapannya. Tersenyum miring. Menakutkan. "Mau menghindari gue, Maitaya?" Suaranya berat. Terdengar begitu mengerikan. Maitaya mundur. "Bagi gue duit atau gue akan berteriak di hadapan semua orang kalau lo itu anak seorang maling yang sedang melarikan diri." Maitaya terus mundur saat pria yang sekiranya dua tahun lebih tua dibandingkan dirinya itu terus bergerak maju. Maitaya ketakutan dengan tubuh gemetar. "Kalau bapak lo nggak maling karet bapak gue malam itu. Gue masih punya ibu Maitaya. Lo berhutang nyawa sama gue. Bayar!" Maitaya menggelengkan kepala. Ini bukan pertama kalinya Maitaya bertemu dengan Galih namun setiap bertemu dengan pria itu Maitaya selalu ketakutan. "Aku nggak punya uang." "Nggak perlu bohong sama gue. Lo punya Maitaya." Dengan tangan gemetar dan keringat dingin yang mengalir di tubuhnya. Maitaya mengeluarkan dompet dari dalam tasnya. Galih merampas dompet itu. Merampas seluruh uang cash yang Maitaya miliki. "Ingat lo harus tetap membayar ganti rugi atas hilangnya nyawa ibu gue seumur hidup lo. Gue nggak akan melepaskan lo, Maitaya." Galih melemparkan dompet itu ke wajah Maitaya membuat Maitaya tersentak. Tubuhnya luruh ke lantai. Tangisnya pecah. Maitaya sudah berusaha untuk menghadapi semuanya. Mencoba menyelesaikan masalah. Namun kenyataannya. Tidak ada satupun yang berubah. Maitaya tetap putri dari seorang maling yang membuat seseorang harus kehilangan ibu. Maitaya sangat pantas menerima kebencian itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD