"Terlalu pemilih tidak akan membuat kamu terlihat lebih baik dari siapapun."
"Bapaknya bisa mendapatkan wanita dalam sekejap mata namun anaknya memilih untuk tidak dekat dengan laki-laki manapun. Merasa terlalu sempurnakah?"
"Orang diam-diam kayak dia gimana mau ketemu jodoh?"
"Seharusnya sadar diri untuk menikah jauh lebih cepat. Dia nggak kasihan sama orang tuanya apa ya harus selalu menanggung beban menghidupi dia."
"Anak yang hanya memikirkan dirinya sendiri memang seperti itu. Terlalu egois."
Maitaya duduk tidak jauh dari ibu-ibu yang sedang berbicara tentangnya. Maitaya seharusnya tidak pulang ke rumah neneknya minggu ini. Namun dia tidak punya pilihan lain. Sudah terlanjur janji untuk menemani neneknya. Lagi pula salah satu tujuan Maitaya kembali ke Padang untuk menebus waktu yang ia lewati tanpa nenek dan kakeknya. Maitaya ingin membalas kebaikan keduanya yang telah membesarkannya. Memberikan apa yang seharusnya didapatkan saat ia masih kecil walau sebesar apapun usaha keduanya. Tetap ada ruang kosong dalam diri Maitaya. Ruang hampa yang jika dilihat lebih dalam akan membuat orang berteriak mengerikan.
"Mai, adik perempuanmu mau menikah?" Maitaya tersenyum ketika salah satu tetangganya menghampiri tempat duduknya. Raut wajah wanita paruh baya itu terlihat sangat santai selolah pertanyaan itu adalah hal yang biasa. Maitaya tersenyum seadanya kemudian kembali fokus menikmati cendol emping. Salah satu minuman favoritnya ketika dia sedang kembali ke kampung halamannya.
"Nggak baik Mai dilangkahi adik menikah. Kamu mau jadi perawan tua?"
Suara lain terdengar. Kini kursi panjang yang awalnya hanya Maitaya duduki bersama dengan neneknya penuh. Kebanyakan dari tatapan mereka terlihat begitu penasaran. Maitaya menggenggam sendok jauh lebih erat. Tatapan mata Maitaya tidak lagi fokus.
"Semua teman-teman sekolah dasar kamu juga sudah menikah bahkan sudah punya anak. Kamu kapan menikah? Menikah di umur yang sudah tua juga tidak bagus. Nanti sulit punya anak."
Maitaya menatap sekelilingnya. Berharap neneknya segera kembali namun wanita tua itu masih sibuk memesan makanan.
"Teman-temanmu yang sudah menikah bahkan sudah memiliki rumah sendiri. Kamu sampai kapan mau tinggal sama nenekmu dan merepotkan orang tua?"
Maitaya benar-benar sudah tidak tahan lagi. Maitaya berdiri. Tersenyum sekilas kemudian meninggalkan kedai yang ramai pengunjung itu tanpa mengatakan apapun namun orang-orang disana tetap sibuk mengomentari kehidupannya.
Adik perempuannya akan menikah. Kabar tentang itu ternyata sudah menyebar begitu luas. Maitaya menghampiri neneknya. Berpamitan untuk pulang lebih awal dengan alasan memiliki tugas kuliah yang harus diselesaikan. Tinggal di kampung halaman tempatnya dilahirkan lebih dari sehari memang tidak pernah menjadi pilihan yang baik. Maitaya lebih baik kembali ke indekosnya di kota Padang. Mengasingkan dirinya dari orang-orang yang selalu menuntut banyak hal padanya namun pada kenyataannya mereka tidak pernah tahu apa yang sudah Maitaya lewati selama ini.
Maitaya berhasil bertahan hidup sampai hari ini sudah menjadi hal yang sangat luar biasa.
***
"Saya sudah lahir dengan penuh ketampanan dan kemampuan yang sangat memukau sejak kecil. Jadi tolong jangan terlalu mengagumi saya, Maitaya."
".... "
"Saya dengar kamu baru pulang dari kampung halaman. Bawa apa untuk saya, Maitaya?"
Kening Maitaya berkerut dalam. Menatap pria yang kini melangkah ke arahnya dengan penampilan yang jauh terlihat santai dibandingkan pertama kali bertemu. Rimba Darma Sakti dengan kaos polos pas di badan dan celana training ternyata jauh lebih menarik. Pria itu terlihat jauh lebih fresh.
"Maitaya, kamu kembali tidak bisa bicara?"
Maitaya mengerjapkan matanya. Sejak awal Maitaya selalu berpikir. Rimba bukan orang yang mudah untuk diajak berbicara karena pria itu terkesan sangat dingin dan serius namun apa yang Maitaya pikirkan nyatanya tidak benar. Rimba memiliki kepribadian yang hangat dan penuh percaya diri seperti yang terlihat sore ini di bawah sinar matahari yang hampir tenggelam dalam gulung ombak yang tidak jauh dari posisi duduk mereka.
Maitaya menggeser posisi duduknya. Memberikan jarak yang cukup luas dengan Rimba. Maitaya tersenyum seadanya pada Rimba. Tidak tahu harus menanggapi pertanyaan Rimba yang mana terlebih dahulu.
"Maitaya, saya perlu memperkenalkan diri sekali lagi?" Rimba melambaikan tangan di depan wajahnya. Maitaya menggelengkan kepala. Maitaya bukan orang yang cepat dekat dengan orang lain. Maitaya bahkan membutuhkan beberapa kali pertemuan terlebih dahulu dengan seseorang baru dia benar-benar bisa menerima seseorang dalam hidupnya.
Dengan kepribadian Rimba yang seperti ini. Rasanya sangat mustahil jika seorang Rimba Darma Sakti tidak memiliki kekasih. Rimba sangat supel, pandai berkomunikasi dan mencairkan suasana. Tipe pria yang sangat mudah untuk disukai oleh kebanyakan perempuan.
"Dari tadi kamu memperhatikan saya tanpa berkedip. Sekarang saya sudah duduk di samping kamu. Kamu pura-pura tidak melihat saya. Maitaya kamu sejahat itu?"
"Mas Rimba habis lari?"
Maitaya bertanya dengan penuh keraguan bahkan Maitaya menatap Rimba hati-hati.
"Kenapa, saya bau keringat?"
Maitaya menggelengkan kepala cepat bahkan sampai berdiri.
"Sama sekali nggak. Wangi parfum mas Rimba masih nempel banget. Saya bahkan penasaran mas Rimba pakai parfum apa."
Rimba terkekeh. Pria itu menepuk kursi kosong yang Maitaya duduki sebelumnya. Walaupun Maitaya begitu ragu namun Maitaya tetap kembali duduk di sana.
"Bvlgari Aqva Marine. Itu parfum saya, Maitaya."
Maitaya menoleh sedikit kemudian mengangguk. Tidak heran lagi kenapa wangi parfum Rimba masih awet walaupun pria itu sibuk berlari menelusuri pantai sejak tadi bahkan tubuh Rimba sudah dibanjiri keringat.
Hening menyelimuti keduanya. Suara ombak terdengar dari kejauhan. Angin berhembus cukup kencang menyapa lengan mereka mengingat keduanya duduk dengan jarak yang cukup lebar. Maitaya memainkan jemari tangannya. Maitaya bukan orang yang pandai membuka pembicaraan namun Maitaya juga tidak nyaman dengan suasana canggung antaranya dan Rimba.
Harapan satu-satunya. Rimba kembali membuka pembicaraan diantara mereka.
"Maitaya, kamu bisa menanyakan apapun sama saya kalau sekiranya informasi yang tertulis di LinkedIn saya tidak cukup."
"Eh?" Maitaya terkejut mendengar ucapan penuh percaya diri Rimba.
"Aku belum lihat informasi LinkedIn mas Rimba."
"Belum?" Rimba menatap Maitaya. Pria itu tersenyum miring. Satu alisnya terangkat. Terlihat menyebalkan namun sialnya pria itu justru terlihat semakin menawan.
Rimba seolah memang dilahirkan dengan segala bentuk kesempurnaan yang ada di muka bumi ini.
"Berarti kamu memiliki niat untuk mencari informasi lebih lengkap tentang saya?"
"..... "
Maitaya gelagapan. Tidak tahu harus menanggapi Rimba seperti apa. Pria itu benar-benar memiliki tingkat percaya diri yang luar biasa.
"Mau jalan-jalan di pantai sambil menikmati sunset dengan angin sepoi-sepoinya?"
Maitaya mengangguk tanpa menolak. Tujuan Maitaya mengunjungi Rumah Elok sore ini memang ingin menikmati sunset dengan angin sepoi-sepoi pesisir.
Maitaya ingin menenangkan diri dari ketegangan yang tercipta di rumah neneknya.
Maitaya melangkah selangkah di belakang Rimba. Menatap punggung tegap pria itu yang Maitaya yakin terbentuk karena pola hidup yang sehat. Mulai dari makanan sampai olahraga.
"Maitaya, saya bukan atasan kamu. Kenapa berjalan di belakang saya. Cepat datang kesini. Jalan di samping saya."
Maitaya mempercepat sedikit langkahnya. Menyusul langkah lebar Rimba. Mensejajarkan langkahnya dengan pria yang baru ditemui untuk kedua kalinya.
"Aku tidak mengira akan bertemu dengan mas Rimba sore ini."
"Kalau kamu tahu saya akan lari disekitar Rumah Elok sore ini. Kamu memilih mengurungkan niat kamu untuk berkunjung bukan?"
Maitaya speechless namun dia tetap menggelengkan kepalanya walaupun apa yang dikatakan oleh Rimba tidak sepenuhnya salah. Maitaya memang memiliki kebiasaan untuk menghindari resiko apalagi saat Maitaya menyadari lawannya berada di level yang lebih kuat dibandingkan dirinya. Maitaya sangat takut ia akan kalah. Maitaya tidak ingin orang benar-benar tahu siapa dirinya.
"Saya besok kembali ke Jakarta." Maitaya menghentikan langkahnya. Menatap Rimba namun menyadari respon berlebihannya itu. Maitaya kembali melanjutkan langkahnya.
"Hati-hati kalau begitu mas Rimba." Lagi-lagi kalimat seadanya. Terkesan sebagai formalitas namun kalimat itu memang formalitas Maitaya saja. Cepat atau lambat Rimba pasti memang akan kembali ke Jakarta karena kehidupan pria itu berpusat di kota besar itu.
Kota besar yang membuat Maitaya merasa tidak cocok hidup disana. Terlampau berisik dan serba cepat. Maitaya tidak memiliki banyak tenaga untuk mengejar segala jenis duniawi yang terbentang disana.
"Kamu tahu tempat makan malam yang enak di dekat sini?"
"Larasati yang tahu banyak. Mas Rimba bisa tanya sama dia."
"Saya tanya sama kamu, Maitaya."
Rimba menghentikan langkah saat mereka berada di tempat yang paling indah untuk menikmati indahnya sunset.
"Aku jarang pergi ke tempat makan malam. Benar-benar tidak tahu tempat makan yang enak."
"Lalu biasanya kamu makan apa Maitaya?"
"Masak sendiri. Lebih hemat."
"Kamu nggak berniat menawarkan masakan kamu ke saya?"
"Eh?"
Maitaya panik. Menatap Rimba bingung namun Rimba justru terkekeh sambil menepuk batu karang. Meminta Maitaya duduk di sana.
"Saya bercanda Maitaya tapi nanti malam kalau kamu punya waktu. Boleh temani saya makan malam?"
Maitaya mengerjapkan matanya. Berusaha mengingatkan dirinya. Menemani seorang donatur Rumah Elok makan malam sepertinya tidak masalah.
"Mas Rimba mau makan dimana?"
"Dendeng batokok yang rasanya super otentik. Saya kangen makan itu."
"Hanya dendeng batokok?"
"Kamu mau masakin saya?"
"Enggak mas Rimba. Lokasi restorannya nggak jauh dari kosanku nanti aku kirim alamatnya."
"Kamu sudah punya w******p saya, Maitaya?"
Maitaya mengerjapkan mata. Menggelengkan kepala.
"Boleh minta w******p nya mas Rimba?"
Maitaya menatap Rimba dengan raut wajah polosnya membuat laki-laki itu tertawa gemas.
"Maitaya jangan mengambil bagian saya."
"Bagian?"
"Seharusnya saya yang melakukannya. Boleh saya minta w******p kamu, Maitaya?"