"Maitaya." Maitaya melangkah mundur ketika melihat Galih muncul di hadapannya. Pria itu sudah cukup lama tidak terlihat namun malam ini saat Maitaya baru selesai belanja bulanan dan ingin kembali ke indekos. Galih justru muncul di hadapannya.
"Kita nggak bicara malam ini Galih." Maitaya ingin melarikan diri namun Galih sudah lebih dulu mencekal pergelangan tangannya yang memegang dua kantong belanjaan.
"Lo masih berusaha kabur dari gue? Maitaya ingat bapak lo itu penyebab ibu gue meninggal. Lo tahu dirilah. Kalau gue berteriak lo anak maling dan pembunuh. Lo yakin pandangan orang-orang di sekitar lo masih sama? Setelah lo nggak diterima di tempat ini. Lo mau lari kemana lagi?" Cekalan tangan Galih semakin erat. Maitaya meringis berulang kali karena rasa sakit di pergelangan tangannya.
"Galih lo mau apa?" Maitaya menatap Galih penuh peringatan. Pria itu tertawa.
"Lo sudah semakin berani sekarang Maitaya? Lo mau ngelawan gue?"
Galih menyentak tangan Maitaya sampai membuat Maitaya berteriak kesakitan.
"Lo nggak boleh ngomong kasar ke gue. Ingat Maitaya, lo punya hutang nyawa yang tidak akan pernah bisa lo bayar seumur hidup lo!" seru Galih. Pria itu menatap Maitaya penuh amarah. Kemudian melepas tangan Maitaya kasar sampai membuat Maitaya hampir terjatuh.
"Lo mau apa?" Walaupun nafas Maitaya memburu dan tubuhnya gemeteran. Maitaya masih berusaha menatap Galih dengan berani.
"Kasih gue uang!"
"Gue nggak punya Galih."
"Lo bisa belanja sebanyak ini dan lo masih mengatakan nggak punya uang. Lo gila?" Galih berteriak keras di depan wajah Maitaya.
Maitaya menaruh dua kantong belanjaannya di aspal. Mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. Memberikan sisa uang nya yang ada disana pada Galih tanpa menyisakan sedikitpun.
Uang itu sebenarnya akan Maitaya gunakan untuk kepentingan penelitiannya yang membutuhkan banyak uang namun jika tidak menuruti keinginan Galih. Pria itu bisa melukai Maitaya seperti terakhir mereka bertemu.
Setelah melempar dompet ke wajah Maitaya. Galih pernah memelintir pergelangan tangan Maitaya sampai terkilir.
"Jangan lupa transfer sesuai tangan yang sudah kita sepakati setiap bulan."
"Galih—"
"Nggak usah ngeluh lo. Banyak bacot. Tinggal transfer aja susah amat hidup lo."
Galih melangkah pergi meninggalkan Maitaya. Transfer setiap bulan dan di palak di waktu yang tidak pasti. Galih benar-benar membuat Maitaya kesulitan dalam menghadapi hidupnya.
Maitaya sering kali kesulitan uang. Maitaya berusaha hidup hemat namun Galih selalu mengacaukan itu. Menghabiskannya uang Maitaya dengan tidak tahu diri.
Maitaya berjongkok. Mengambil kembali belanjaannya yang berserakan di aspal. Maitaya menarik nafasnya pelan. Berusaha mengusir rasa sesak yang menghantam dadanya sampai akhirnya sebuah mobil berhenti di sampingnya. Membunyikan klakson beberapa kali. Membuat Maitaya menoleh.
"Maitaya, kenapa?" Rimba turun dari mobil. Menghampiri Maitaya.
Maitaya membereskan barang-barangnya dengan cepat ke dalam kantong belanjaannya kemudian berdiri
Saat Maitaya ingin mengangkat kembali kantong belanjaannya. Kantong itu terlepas. Maitaya meringis. Merasakan sakit di pergelangan tangannya.
"Maitaya, kamu oke?" Rimba mengambil kembali belanjaan Maitaya. Memasukkan ke dalam mobil kemudian menatap Maitaya lekat.
"Mai?" Rimba melambaikan tangan di depan wajah Maitaya membu Maitaya kembali sadar sepenuhnya. Maitaya berusaha mengukir senyum sebaik mungkin untuk menutupi rasa sakit di tangannya yang mungkin kembali terkilir karena Galih memang mencengkram dan memelintir tangan Maitaya dengan kasar.
"Masuk mobil."
Maitaya kali ini mengangguk patuh. Maitaya juga tidak mengerti dengan Rimba. Maitaya sudah berulang kali mengusir Rimba untuk menjauh darinya bahkan dengan cara yang cukup kasar namun Rimba seolah-olah tidak terpengaruh sedikitpun. Pria itu tetap muncul di hadapan Maitaya. Tetap peduli pada Maitaya. Mengabaikan semua penolakan Maitaya.
"Apa yang terjadi Maitaya?" Rimba masuk ke dalam mobil. Menyalakan lampu. Memeriksa tangan Maitaya. Pria itu berdecak pelan saat menemukan pergelangan tangan Maitaya memerah bahkan hampir membiru.
"Siapa yang melakukan ini sama kamu?" Rimba menatap Maitaya tegas. Maitaya ingin menyembunyikan tangannya namu Rimba menahan tangan Maitaya membuat Maitaya meringis kesakitan.
"Kamu nggak punya kesempatan untuk mengatakan tangan kamu baik-baik saja. Kita ke rumah sakit."
"Mas Rimba nggak perlu." Maitaya menatap Rimba penuh permohonan namun pria itu mengabaikannya. Rimba mengendarai mobil meninggalkan komplek indekos mereka yang sudah dekat.
"Mas Rimba."
"Kamu bahkan nggak bisa menahan beban belanjaan kamu yang nggak seberapa. Maitaya kalau tanganmu itu tidak di obati sekarang. Besok di pastikan tangan kamu tidak bisa di gerakkan. Kamu nggak akan bisa beraktivitas seperti biasanya. Kamu sendiri yang akan rugi. Berhenti keras kepala!"
Maitaya pada akhirnya merapatkan bibirnya namun tetap melirik ke arah Rimba takut-takut.
"Aku takut rumah sakit, Mas."
Rimba hampir saja mengerem mobilnya secara mendadak saat Maitaya mengatakan kalimat itu.
Maitaya juga tidak tahu kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutnya padahal Maitaya cukup sering datang ke rumah sakit untuk bertemu Larasati. Melakukan kontrol rutin untuk kesehatan mentalnya.
"Maitaya, kamu nggak perlu alasan."
"Aku takut jarum suntik." Kali ini Maitaya jujur. Maitaya memang sangat takut pada jarum suntik. Membayangkan jarum kecil itu menusuk kulitnya sudah berhasil membuat Maitaya meringis ketakutan.
Rimba hanya menggelengkan kepala mendengarkan itu seorang apa yang di katakan Maitaya hanya candaan belaka.
"Mas Rimba, ke tukang urut aja nggak sih Mas?"
"Rumah sakit aja Maitaya. Kamu visum aja sekalian. Saya yakin malam ini bukan pertama kali tangan kamu terkilir."
Maitaya menarik nafasnya. Dia memalingkan wajahnya ke jendela. Menatap jalanan gelap di luar sana.
"Saya benar, ini bukan pertama kalinya tangan kamu terkilir?"
"Iya, benar. Sebelumnya juga pernah."
"Kamu ini kenapa sebenarnya Maitaya?"
Pertanyaan Rimba itu berhasil membuat Maitaya menoleh.
"Sejak pertama kali saya melihat kamu. Saya yakin kamu ini menyembunyikan banyak hal yang sangat sulit tapi setiap kali di tanya. Kamu selalu bersikap seolah-olah kamu baik-baik saja. Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini?"
"Jadi sejak awal mas Rimba menjadikan aku bahan penelitian?"
"Tidak sampai sejauh itu Maitaya."
"Tapi tetap melakukan analisis tentang bukan. Sudah sejauh mana mas Rimba menemukan betapa buruknya kehidupanku?" Maitaya menatap Rimba semakin sinis namun Rimba masih terlihat sangat tenang menyetir mobil.
"Keburukan kamu itu hanya tidak mencintai diri kamu sendiri. Sisanya sangat bagus. Kamu itu perempuan tangguh Maitaya."
"Perempuan tangguh atau perempuan yang sangat cocok dengan pekerjaan kasar?"
"Maitaya, kamu mau sampai kapan menganggap saya saingan kamu?"
Maitaya mengerjapkan matanya. Tidak percaya Rimba akan menanyakan kalimat itu padanya.
"Sejak saya datang ke Rumah Elok kamu selalu merasa terganggu sama kehadiran saya karena kamu menganggap saya saingan kamu bukan?"
"Mas Rimba nggak usah sok tahu."
"Jawab iya atau bukan Maitaya."
"Kalau iya kenapa? Kalau bukan kepala?"
"Nggak kenapa-napa karena dimata saya kamu tetap gadis yang baik dan pekerja keras."