Part 10: Ombak

1088 Words
Maitaya memilih untuk menyibukkan diri dengan penelitiannya beberapa minggu terakhir. Lebih banyak mengambil pekerjaan sebagai asisten dosen dan les privat. Maitaya benar-benar berusaha untuk tidak datang ke Rumah Elok dan kembali indekosnya hanya untuk tidur. Maitaya masih menghindari Rimba. Maitaya juga masih tidak ingin pikiran buruk menghantuinya. "Terima kasih kak Mai." Maitaya mengangguk. Meninggalkan kelas terakhirnya hari ini. Kelas budgeting yang baru selesai saat sore menjelang. Maitaya melangkah keluar dari ruang kelas. Menelusuri lorong yang sudah sepi karena memang hanya beberapa kelas di lorong ini dan kelas terkahir adalah kelas Maitaya. Maitaya sedikit mempercepat langkahnya saat langit terdengar bergemuruh. Gumpalan awan gelap mulai terlihat dari jendela yang Maitaya lewati. Ombak di pesisir dekat Rumah Elok pasti akan tinggi. Anak-anak mungkin juga akan ketakukan. Bundo Nurhayati pasti akan kerepotan jika tidak ada siapapun di sana yang menemani wanita itu. Maitaya tanpa berpikir panjang langsung mengendarai motornya. Meninggalkan kampus walaupun gerimis mulai melanda. Rumah Elok adalah tujuan Maitaya. Maitaya tidak bisa mengabaikan anak-anak yang sudah memberikan harapan baru dalam hidupnya itu ketakutan. Maitaya membuat mereka jauh lebih tenang walaupun rasa takut Maitaya jauh lebih besar ketika gemuruh langit terdengar semakin besar dan langit kian menggelap. Gerimis sudah berubah menjadi hujan deras. Mantel yang Maitaya gunakan mulai merembas. Kemasukan air. Namun Maitaya tidak memiliki niat untuk berhenti. Hanya Butuh beberapa menit lagi untuk sampai ke Rumah Elok. Maitaya langsung turun dari motor saat ia sudah sampai di Rumah Elok. Melepas jas hujan yang ia gunakan. Maitaya melihat ke depan. Air laut benar-benar terlihat tinggi. "Maitaya." Tubuh Maitaya menegang mendengar suara yang berusaha keras untuk ia hindari beberapa hari terakhir. Maitaya ingin menghindari Rimba namun saat ingin pergi suara petir terdengar sangat kencang membuat tubuh Maitaya menegang. Maitaya menutup kedua telinganya. Matanya terpejam erat. Maitaya takut petir. Maitaya takut kegelapan. Maitaya takut sendirian. Itu adalah fakta tentang Maitaya yang tidak pernah Maitaya beritahu pada siapapun. Semua bermulai sejak malam itu. Saat ayahnya pergi dalam kegelapan malam. Saat ibunya menangis karena di tinggal suami bersama dengan tiga anak perempuan dan uang dua puluh ribu rupiah. Hujan deras mengiringi perjalanan pulang Maitaya bersama dengan ibunya dari rumah nenek. Ibu dari ayahnya. Hujan itu bahkan bercampur dengan air mata menyedihkan ibunya. Dunia mereka hancur malam itu. Maitaya tidak berani lagi merengek pada mamanya. Tidak berani meminta apapun. Bahkan Maitaya masih ingat betul. Dulu Maitaya hanya memiliki dua pasang pakaian yang dia pakai berulang kali sampai benar-benar lusuh. Tidak ada pakaian baru. Karena itu Maitaya lebih senang pergi sekolah karena seragam sekolah berganti setidaknya sekali dua hari. Kegelapan malam itu pada akhirnya membuat Maitaya kehilangan senyum dan tawanya. Maitaya juga di kucilkan. Tidak ada yang mau berteman dengannya karena anak seorang pencuri. "Maitaya, kamu sudah basah. Kenapa hujan-hujanan?" Suara itu membuat Maitaya sadar dari lamunan panjangnya. Rimba sudah menggenggam lengannya. Menarik Maitaya masuk ke dalam Rumah Elok yang terasa begitu hangat. "Kak Mai, menerobos hujan lagi?" Yaya menghampiri Maitaya. Menggenggam tangan dingin Maitaya menggunakan tangan mungil hangat itu. "Sedikit bersenang-senang, " jawab Maitaya menenangkan. Yaya menggenggam tangan Maitaya kian erat kemudian menatap Rimba. "Abang, bantu kak Mai ya. Dia basah semua. Kak Mai gampang masuk angin dan sakit." "Kak Mai akan pergi membersihkan diri sendiri Yaya. Abang Rimba tetap disini untuk menemani Yaya dan teman-teman. Petir besar sekali." "Kak Mai lebih takut petir dibandingkan Yaya. Abang bantu kak Mai." "Kamu ikut saya." Rimba kembali meraih pergelangan tangan Maitaya. Membawa Maitaya ke ruang makan karena di sana memang jauh lebih hangat. "Ganti baju dulu dan kembali lagi kesini saat selesai." Maitaya menatap Rimba cukup lama namun pada akhirnya Maitaya masuk ke dalam kamarnya yang ada di Rumah Elok. Lebih tepatnya. Kamar Maitaya dan Larasati. Tidak butuh lama bagi Maitaya berganti pakaian. Maitaya keluar dari kamar dengan rambut terbalut handuk dan pakaian basah kemudian menaruhnya di ruang cuci pakaian. Maitaya akan mencuci setelah hujan reda dan tubuhnya hangat. Tatapan Maitaya lagi-lagi tertuju pada laut. Ombaknya terlihat sangat tinggi. Dulu saat Ayahnya pergi dalam kegelapan malam. Orang-orang mengatakan ayahnya pergi menyebrangi laut menggunakan kapal. Maitaya selalu membayangkan kapal itu akan terombang-ambing di lautan. Membawa ayahnya pergi. Maitaya semenjak hari itu selalu ingin pergi ke laut. Ingin menantikan kapal yang datang dengan harapan ayahnya ada di dalam sana. Namun kenyataannya itu hanya harapan Maitaya saja. Maitaya tidak pernah bisa pergi ke laut karena jarak laut dari kampung halamannya jauh. Ayahnya juga tidak pernah kembali selama bertahun-tahun tanpa kabar. "Maitaya duduk disini Mai." Rimba menepuk kursi meja makan yang kosong. Maitaya mentap Rimba ragu. Mereka tidak bisa di katakan baik-baik saja. Lebih tepatnya Maitaya yang tidak baik-baik saja dan memilih untuk menghindari Rimba. Belasan pesan Rimba menumpuk di ponselnya namun Maitaya memilih untuk mengabaikan. Ada beberapa panggilan tidak terjawab juga. Beberapa kali Rimba juga datang ke indekos untuk mengajak makan malam namun Maitaya memilih untuk tidak menemui Rimba. Membiarkan Rimba pergi dengan tangan kosong. "Maitaya." Rimba menegurnya. Maitaya tetap memilih duduk di kursi yang jauh dari Rimba. Ujung ke ujung. "Nggak perlu menemani aku. Mas Rimba bantu bundo Nurhayati untuk menenangkan anak-anak saja." Maitaya menatap Rimba lurus. Rimba terdiam cukup lama sampai akhirnya pria itu berdiri. Menaruh semangkok sup dihadapan Maitaya. "Hangatkan perut kamu sebelum masuk angin." Maitaya mengerjapkan matanya. Mendongak untuk menemukan wajah Rimba. "Saya nggak maksa. Kalau kamu maunya sakit tidak perlu di makan. Dilihat saja sampai dingin." Maitaya mengerjapkan matanya. Menatap Rimba sekali lagi. "Aku makan sup nya." Bagaimanapun Maitaya tidak ingin mengabaikan makanan hangat di depan matanya. Tubuh Maitaya kedinginan. Jika di abaikan. Maitaya benar-benar akan masuk angin dan bisa jatuh sakit keesokan harinya. "Maitaya, kamu masih marah sama saya?" Rimba menarik kursi di samping Maitaya. Duduk disana. Menatap Maitaya lekat-lekat. Maitaya mengerjapkan matanya berulang kali namun tetap duduk sambil memakan sup. "Maitaya." "Bukan marah tapi memang nggak mau ngobrol atau spending time aja sama mas Rimba." Maitaya mengangkat kepalanya menatap Rimba terang-terangan. Rimba terlihat speechless. "Maitaya!" Rimba tertawa sumbang. Mungkin Rimba baru bertemu dengan gadis sejujur dan seterang-terangan Maitaya. "Kamu sibuk apa belakangan ini? Saya dengar nggak pernah datang ke Rumah Elok." "Uangku menipis jadi harus kerja keras untuk mendapatkan uang. Kemudian sibuk penelitian." "Kenapa tidak membalas pesan saya?" "Sibuk mas Rimba. Bukannya aku sudah jawab sebelumnya." "Maitaya, kamu selalu punya kebiasaan menghindari orang?" "Benar, aku terlalu takut terbawa ombak. Aku tidak bisa berenang." Jawaban Maitaya mungkin terdengar ngawur dan sulit di mengerti namun jawaban itu memiliki arti yang mendalam. Bagi Maitaya, Rimba itu adalah ombak besar. Jika Maitaya tetap berusaha menerjang ombak sedangkan Maitaya tidak memiliki kemampuan berenang atau kemampuan melindungi dirinya sendiri jelas Maitaya akan tenggelam dan tidak akan pernah bisa kembali lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD