Nasi goreng dan telur ceplok. Menu makanan itu menemani Maitaya dan Rimba di tukang nasi goreng di pinggir jalan. Tidak jauh dari indekos mereka. Hanya berjarak satu gang lebih tepatnya dari indekos Rimba. Rimba lebih aktif berbicara dengan penjual nasi goreng itu sedangkan Maitaya hanya menjadi pendengar.
Melihat Rimba yang begitu mudah berinteraksi dengan orang-orang yang baru pria itu temui membuat Maitaya merasa sedikit iri. Itu harapan Maitaya sejak dulu. Maitaya ingin berinteraksi dengan orang-orang yang berada di sekitarnya dengan sangat mudah namun ketika dia ingin mencoba entah kenapa semua terasa begitu sulit. Maitaya hanya bisa duduk kaku tanpa melakukan apapun.
Dengan sikap dan kemampuan Rimba yang luar biasa itu membuat Maitaya tidak berani berekspektasi apapun pada pria itu. Rimba bisa dengan begitu mudah membuat orang nyaman. Rimba memiliki kemampuan public speaking yang sangat bagus. Rimba benar-benar sosok yang sempurna yang membuat Maitaya takut kehilangan dirinya sendiri.
Maitaya bahkan sering kali berpikir bagaimana caranya menjadi Rimba Darma Sakti? Bagaimana caranya supaya dia berada di level yang sama dengan pria itu? Namun semakin Maitaya mencoba melakukannya. Maitaya merasa berada di titik paling jauh dari jangkauan Rimba. Mereka benar-benar tidak setara.
"Habisin makanannya Maitaya." Rimba berbisik padanya. Maitaya mengangguk walaupun rasanya perut Maitaya sudah sangat penuh. Porsi nasi gorengnya terlalu banyak. Maitaya sama sekali tidak bisa makan banyak. Namun bersama dengan Rimba. Maitaya harus mengahbiskan makanan. Jika tidak pria itu akan tetap menunggu Maitaya sampai makanan habis setelah itu mereka baru bisa pulang.
Obrolan Rimba dan tukang nasi goreng itu masih mengalun. Maitaya masih berusaha keras menghabiskan nasi gorengnya sampai akhirnya Maitaya menarik ujung hoodie yang dipakai oleh Rimba.
"Mas Rimba, perut aku benar-benar sudah penuh. Tidak sanggup menghabiskan makanan lagi."
"Maitaya—"
"Kali ini benar-benar sudah tidak bisa Mas." Maitaya menatap Rimba penuh dengan permohonan. Pria itu menatapnya cukup lama. Menarik piring nasi goreng Maitaya kemudian mulai memakan nasi goreng itu dengan begitu santai. Ingat Rimba memakan nasi goreng itu menggunakan sendok yang sama dengan Maitaya membuat Maitaya menahan tangan Rimba.
"Mas Rimba, itu sendok aku."
Rimba hanya tersenyum. Tetap memakan nasi goreng sisa Maitaya dengan begitu lahap. Maitaya meringis pelan. Tidak percaya Rimba benar-benar melakukan itu.
Mereka hanya dua orang yang kebetulan saling mengenal dan mengobrol. Memakan sisa nasi goreng serta menggunakan sedok bekas rasanya benar-benar tidak etis.
"Mas Rimba lain kali tidak perlu seperti ini lagi. Aku nggak enak."
Rimba mengabaikan ucapan Maitaya. Pria itu membayar nasi goreng. Maitaya mengekori Rimba dari belakang.
"Mas Rimba, nasi goreng aku berapa?"
Rimba menghentikan langkahnya. Memutar tubuhnya. Menatap Maitaya cukup lama.
"Maitaya, kamu yakin akan membahas hal seperti ini terus-menerus?" Satu alis Rimba terangkat. Menatap Maitaya malas namun Maitaya sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan Rimba. Maitaya tetap pada pendiriannya.
"Itu makananku, Mas. Aku wajib bayar. Mas Rimba nggak memiliki kewajiban untuk membayar makananku."
"Tapi saya mau melakukannya. Maitaya bersikap santai sedikit saja sama saya bisa?"
Maitaya mengepalkan kedua tangannya. Maitaya ingin melakukannya namun rasanya sulit. Benar-benar sulit sampai Maitaya merasa tidak tenang setiap kali Rimba melakukan sesuatu untuknya. Baik membayarkan makanan atau mengantarnya pulang.
"Kalau suatu hari nanti terjadi sesuatu di antara kita. Mas Rimba minta kembali semua uangnya ke aku. Aku nggak akan bisa ganti Mas. Aku bayar sekarang aja ya."
"Maitaya dengan kamu memberikan waktu kamu untuk saya. Saya membayar makanan kamu. Artinya sudah impas Maitaya. Kenapa kamu selalu membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit?"
"Mas Rimba, aku tetap nggak bisa." Maitaya mengambil tangan Rimba. Menaruh uang untuk membayar nasi goreng disana. "Kedepannya kalau mas Rimba masih bersikap seperti ini. Lebih baik kita nggak ketemu aja ya Mas. Aku benar-benar nggak bisa."
Setelah mengatakan itu Maitaya meninggalkan Rimba. Mengabaikan Rimba yang memanggilnya berulang kali.
Anggap saja Maitaya sangat kekanakan namun Maitaya benar-benar tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
Dalam hidup Maitaya selalu ada untung dan rugi. Sejak kecil Maitaya hidup dengan penuh perhitungan. Orang-orang yang bersikap baik padanya. Saat Maitaya beranjak dewasa. Orang-orang itu menuntutnya untuk balas budi. Walaupun secara tidak langsung namun sindiran-sindiran itu bisa Maitaya rasakan.
Jangankan orang lain. Orang tuanya sendiri bahkan sering kali mengatakan Maitaya adalah beban. Beban yang merepotkan mereka dan tidak bisa membalas apa yang mereka berikan pada Maitaya. Apalagi dulu saat Maitaya baru saja lulus kuliah dan dia tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Orang tuanya lebih sering mengatakan hal yang sama.
Baru-baru ini saat adiknya merencanakan pernikahan. Orang tuanya juga sering mengatakan hal yang sama. Mereka seolah-olah mendorong Maitaya untuk segera bertemu dengan jodoh kemudian menikah. Padahal sudah dua tahun Maitaya meninggalkan rumah tanpa meminta tolong pada mereka namun bagi mereka Maitaya tetap beban.
"Kamu akan tetap jadi beban kami sampai akhirnya kamu menikah. Maitaya tolong berhenti egois. Kami juga ingin memikirkan diri sendiri."
Maitaya berharap mendengar kata tanggung jawab dari kedua orang tuanya namun mereka sama sekali tidak mengatakan itu. Mereka lebih memilih mengatakan Maitaya adalah beban.
Maitaya hanya bisa tersenyum getir. Menikah. Maitaya tidak pernah memiliki keyakinan untuk melakukan hal itu. Maitaya tidak yakin dia mampu.
Pertanyaan Maitaya tetap sama. Jika suatu hari nanti dia menikah. Apakah dia bisa menjadi istri dan ibu yang baik? Apakah dia bisa menemukan suami yang baik yang bisa terus membimbingnya menjadi perempuan yang baik? Bisakah Maitaya melewati badai pernikahan disaat Maitaya sudah sangat muak dengan masalah yang terjadi dalam hidupnya sejak ia kecil.
Bisakah laki-laki yang akan menikah dengannya menerima segala kekelaman dalam hidupnya?
Setiap kali Maitaya memikirkan tentang hal itu. d**a Maitaya terasa begitu sesak. Kepalanya berdenyut pusing dan pada akhirnya Maitaya memilih untuk menarik diri dari semua hal.
Rimba. Maitaya berencana untuk menarik diri dari Rimba. Pria itu memiliki power yang sangat besar. Maitaya takut. Jika terus-menerus berada di samping Rimba. Maitaya benar-benar kacau dan melupakan apa yang seharusnya dia lakukan.
Maitaya takut dia akan kehilangan dirinya sendiri kemudian tidak bisa bangkit kembali saat Rimba tiba-tiba pergi meninggalkannya.
Rimba Darma Sakti: Maitaya, saya minta maaf kalau membuat kamu merasa tidak nyaman. Saya hanya ingin melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk kamu
Rimba mengirim pesan namun Maitaya memilih mengabaikan pesan itu dan memilih mengirim pesan pada bundo Nurhayati.
Maitaya Azyumardi Piliang: Bundo, Mai izin tidak datang ke Rumah Elok sementara waktu. Nanti setelah Mai selesai dengan urusan Mai. Mai akan mampir lagi. Terima kasih.
Bundo Nurhayati: Mai, kalau ada apa-apa kasih tahu bundo
Maitaya menutup ponselnya. Mematikan daya. Maitaya tidak ingin diganggu oleh siapapun untuk sementara waktu.
Maitaya ingin mendapatkan kembali dirinya sendiri. Maitaya ingin berpikir kembali tentang apa yang ia inginkan dan apa tujuan hidupnya.