BAB 3

1001 Words
ISI PESAN GRUP WA KELUARGA ISTRIKU (3) Aku memutar bola mataku menatap kearah Mama, lalu manik-manik mataku tertuju pada sesuatu yang menarik perhatianku saat ini. "Mah, bagaimana kalau ini--" aku menyentuh kalung emas yang ada dileher Mama. Secepat kilat Mama menepisnya. "Tidak Maya!" Mama spontan mendengus. "Kita tidak punya pilihan lain Mah, jual saja kalung Mama ini, besok Maya janji setelah Maya minta limitednya diaktifkan kembali kepada Mas Haris Maya ganti. Maya akan membelikan yang lebih mahal dari pada ini!" Kataku menyakinkan, sebenarnya aku tidak terlalu yakin dengan diriku sendiri. Mendengar bagaimana perkataan mas Haris tadi aku tidak yakin uang belanjaanku akan dikembalikan oleh mas Haris. "Kamu yakin May?" tanya Mama. "Iya, percaya sama Maya. Besok kita akan membelikan yang lebih dari ini!" sahutku lagi. Mama sejenak diam tidak berbicara apapun lagi lalu beberapa detik kemudian Mama langsung melepaskan kalung emasnya. "Ini!" Kata Mama menyerahkan. "Gelang juga Mah, ini pasti tidak cukup," Ucapku melirik gelang emas dipergelangan tangan Mama. "Ini--" Mama terlihat sangat tidak iklas menyerahkannya. "Sudah Mah percaya saja sama Maya, Maya bakal ganti semuanya. Lagian juga emas ini beli dari uang pemberian mas Haris!" "Tapi May--" "Mama mau kita lebih malu lagi, kalau kita berlama-lama disini semua pengunjung toko akan menertawakan kita karena tidak mampu membayar, jadi sekarang cepat berikan!" Selaku. Mama menghela nafas panjang. "Haris, kamu harus mengantikan semua perhiasan Mama!" Gumam Mama sembari melepaskan gelang emasnya. "Iya, nanti Maya yang akan berbicara sama Mas Haris!" Sahutku cepat. "Pak sebentar saya jual emas ini dulu, nanti saya balik lagi!" Sambungku pada pria berseragam itu. "Mamah ikut!" "Mama disini saja, supaya lebih menjaminkan kalau kita tidak kabur. Dari pada kita dilaporkan ke polisi, Mama mau!" Mama menggelengkan kepalanya cepat. *** Pukul sepuluh siang aku dan Mama akhirnya tiba di rumah yang menjadi tempat teduh keluargaku. Rumah ini bahkan mas Haris yang membelinya dua bulan lalu sebagai hadiah ulang tahun Mama. "Mama, kakak, lama banget sih pulangnya. Dari tadi ditungguin juga!" Dengus Sindi sebal menghampiriku dan Mama yang baru saja masuk kedalam rumah. "Dek, sudah pulang. Uang yang Abang minta semalam udah di TF ke rekening Abang belum. Abang butuh uang itu sekarang juga, mau beli--" "Nggak ada!" Potongku sebelum sesaat aku menjatuhkan barang belanjaan diatas meja dan mendaratkan tubuhku di atas sofa. "Lah, kok nggak ada? Kamu bercanda, kan Abang udah bilang semalam dan kamu jawab iya. Kok sekarang gak ada!" kata bang Yoni terkejut. "Mama aja bayar belanjaan ini dari hasil juga kalung emas Mama, sekarang kamu malah mintak uang kepada adek kamu. Kalau ada uang mana mungkin Mama pulang jam segini, mana nanti siang Mama ada Arisa lagi. Mau taruh dimana wajah Mama nanti gak ada uang pergi kesana! Perhiasan Mama juga gak ada," timpal Mama. "Loh, loh, loh, kok bisa gini. Kenapa perhiasan Mama, Mama jual sih? Terus kenapa gak dibayar sama kak Maya?" Sindi mengerutkan keningnya, bang Yoni sama Sindi semakin penasaran mendengarnya. Adik dan abangku itu menatap kearahku, menunggu jawaban dari perkataan Mama barusan. "Kartu kreditku tidak bisa digunakan!" "Apaaaa!" Sindi dan bang Yoni cukup terkejut "Kenapa bisa!" Suara Sindi setengah berteriak. "Sindi kamu bisa enggak tidak usah berteriak, ini kita bukan di hutan. Mama lagi pusing mikirin arisan Mama beberapa jam lagi tambah suara kamu itu bikin otak Mama sakit!" Seru Mama tak kalah keras dari Sindi. "Dek, Abang butuh uang itu. Abang udah janji sama pacar Abang, gak mungkin kan Abang gak nepatin janji, nanti dia bilang Abang tukang bohong lagi, terus dia gak mau lagi sama Abang gimana!" suara bang Yoni menimpali. Aku mengusap wajahku kasar, sekarang dalam pikiranku mas Haris benar-benar keterlaluan. "Gak, gak ada, beli iPhone Sindi dulu. Sindi malu sama teman-teman, mereka semuanya sudah pada punya sementara Sindi belum. Kakak beliin Sindi iPhone dulu, baru boleh kasi uang kepada bang Yoni setelah," ucap Sindi kini dirinya memposisikan duduk di sampingku. "Lah gak bisa gitu dong Sindi. Kan Abang lebih perlu ketimbang dirimu, Lagian ponsel kamu juga masih bagus kenapa ngotot banget sih. Disini Abang yang lebih perlu, dek kamu punya tabungan kan, kasi Abang. Abang butuh banget!" "Gak, gak bisa. Sindi duluan kak, Lagian semalam Sindi yang pertama kali minta bukan Abang dan Mama. Jadi kak Maya harus memenuhi permintaan Sindi terlebih dahulu!" "Diammm!" Akhirnya suaraku lepas juga. Kedua ekor mataku menatap kearah mereka berdua secara bergiliran, lalu tanpa basa basi lagi aku langsung mengeluarkan semua isi dompetku diatas meja. Membiarkannya berhamburan. "Lihat, aku tidak punya uang sama sekali, uangku sudah habis buat belanja tadi. Kenapa kalian terus menerus meminta uang kepadaku sih, Kalian seharusnya sadar diri. Masih untung sampai saat ini kalian masih bisa menikmati semua fasilitas yang diberikan mas Haris. Kalau sampai mas Haris tau selama ini kita berbohong kepadanya, kita bakal diusir dari sini. Apa kalian lupa rumah ini pemberian mas Haris, sertifikat rumah ditangan mas Haris, kalau kalian mau menjadi gembel terus meneruslah meminta uang kepadaku. Semakin sering kalian meminta uang kepadaku semakin cepat kita bakal didepak keluar." Dengusku panjang lebar, aku membuang nafasku tak beraturan, memikirkan ini rasanya otakku hampir pecah. "Seharusnya kalian itu tau diri, kalian masih sehat, tidak berpenyakitan seharusnya kalian cari kerja tidak mengemis Mulu!" sambungku lagi, lalu setelah itu melengos pergi menuju kamarku. Kamar yang memang dikhususkan untukku dan mas Haris ketikan kami pulang kerumah ini. "Lihat, gara-gara Abang sekarang kak Maya jadi marah. Ini semua salah Abang. Coba aja Abang gak ikut-ikutan mintak uang pada kak Maya. Pasti kejadiannya gak bakal kek gini." Sinis Sindi masih terdengar jelas ditelinga ku. "Lah kok nyalahin Abang, Mama yang seharusnya salah, kan Mama yang ngajak Maya shoping tadi ngabisin duit aja!" celutus bang Yoni tak terima. "Enak aja salahin Mama, Mama itu gak tau kalau Haris sudah memblokir kartu kredit Maya!" Sahut Mama tak mau disalahkan. "Sial, Haris pakek memblokir kartu kredit Maya lagi. Apa jangan-jangan dia sudah tau lagi kalau selama ini kita memeras hartanya?" gumam bang Yoni berasumsi. "Mas Haris tau!" Batinku seketika saja aku mengerutkan keningku. Apa mas Haris sudah tau kalau selama ini aku membohonginya masalah uang. Aku meneguk air ludah dengan kasar. Matilah aku! Bersambung .....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD