BAB 4

1002 Words
Isi pesan grup wa keluarga istriku (4) Haris POV Aku menungging kan senyuman kecil disudut bibirku, sadari tadi aku tidak berhenti tersenyum melihat sebuah video yang diabadikan oleh orang suruhanku untuk mengikuti kemanapun Maya pergi. Untung tadi pagi aku sempat berpikir menyuruh orang untuk mengikuti Maya, kalau tidak aku pasti tidak akan melihat kejadian langka ini. Tidak ku sangka ternyata selama ini mereka memanfaatkan kebaikan yang aku berikan, padahal aku selalu royal berbagai kepada mereka. Tapi mereka malah memanfaatkan itu. Untung saja aku sempat membuka ponsel Maya. Kalau tidak, aku pasti akan jatuh miskin karena keserakahan keluarga istriku. "Kevin, kamu siapakan saja jadwal meeting untuk besok. Aku mau pulang, mereka pikir cuma mereka yang bisa bersandiwara. Aku juga bisa, mari kita lihat siapa yang lebih padai!" Kataku, Kevin mengerutkan keningnya, sepertinya dia tidak paham apa yang aku katakan barusan. Tepat jam lima sore aku pulang ke rumah, namun bukan ke rumah yang menjadi tempatku dan Maya bernaung selama pernikahan kami. Melainkan rumah yang aku belikan untuk keluarga istriku, mereka semua hidup atas belas kasihan yang aku berikan. Bahkan setiap bulan aku selalu memberikan mereka uang bulanan. "Cihhh ...." Aku tersenyum kecil membayangkannya. Tiba di pintu gerbang aku menekan pedal rem mobil yang hendak melaju kedalam pakarangan rumah. Aku memicingkan tatapanku, ekor mataku tanpa sengaja melirik sesuatu yang membuat keningku berkerut dalam melihatnya. Sosok laki-laki yang sepertinya seumuran denganku keluar dari rumahku. Aku semakin memicingkan tatapanku saat Maya ikut keluar mengantar laki-laki itu keluar rumah. Dalam pikirku, siapa laki-laki itu, aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Maya tersenyum manis kepadanya, senyuman yang penuh dengan arti. Bahkan denganku sendiri dia sangat jarang tersenyum seperti itu. Aku mengambil ponselku, membidikkan camera kearah mereka berdua. Setelah beberapa gambar aku dapatkan dan pria itu menaiki motor lalu berlalu pergi barulah aku masuk kedalam pakarangan rumah. "Ma-mas Haris!" Ucap Maya yang sepertinya terkesiap melihatku. Entah kenapa rasa kecurigaanku semakin meningkat, otakku tiba-tiba saja teringat nama Burhan. Nama misterius yang belum aku temukan siapa pemiliknya. Apa laki-laki yang barusan keluar dari rumah ini, apa dia yang bernama Burhan. Aku harus menyelidikinya. Maya menghampiriku, mimik wajahnya seketika berubah sedih. Dia langsung menghamburkan pelukannya kepadaku. "Hikkk .... Kamu jahat, kenapa kamu menghentikan kartu kreditku mas. Kamu tau, aku hampir saja dipermalukan, semua orang pasti menertawakanku karena tidak sanggup membayar tagihan belanja!" Adunya dengan suara selembut mungkin. Aku menunggingkan senyuman kecil, tanpa kamu beritahukan pun aku sudah tau Maya. Aku sudah menebaknya kamu akan seperti ini saat aku pulang, tapi kamu tenang saja. Aku sudah mempersiapkan kejutan yang akan membuat kamu dan keluargamu terkejut hebat mendengarnya. Aku yakin akan hal itu. "Maafkan mas dek, mas tidak bermaksud mempermalukan mu, tapi mas tidak punya pilihan lain saat ini. Selain melakukan hal itu," kataku kali ini aku membalas pelukan Maya. "Nak Haris, kamu sudah pulang. Ayo masuk kenapa diluar, ini udah mau Magrib. Mama buatkan kamu kopi ya," ucap ibu mertuaku yang berdiri diambang pintu. Senyuman khasnya, raut wajahnya masih terlihat seperti biasa, namun aku tidak yakin nantinya apakah dia akan tetap seperti itu Kepadaku atau sebaliknya. "Iya, tidak perlu repot-repot Mah. Air putih saja,"balasku merenggangkan pelukan Maya lalu menuntun masuk. Ruangan keluarga yang sudah dipenuhi oleh keluarga istriku. Yoni, dan Sindi terlihat duduk bersantai disana. Apa mereka semuanya menungguku pulang. Aku menjatuhkan punggungku disofa empuk bertepatan didepan Abang ipar ku. Wajahnya terlihat jelas masam, senyuman paksa ia sungging kan kepadaku. Hening .... Hingga beberapa saat kemudian suara Ibu mertuaku terdengar memecahkan kecanggungan diantara kami. "Minum dulu nak!" kata ibu mertuaku sembari menyodorkan gelas berisi air putih sesuai yang aku pinta kan tadi. "Ibu dengar kamu menghentikan kartu kredit istrimu, apa ada masalah?" timpal ibu ikut bergabung dengan kami. Dia memposisikan dirinya sebelah Sindi. Seluruh pasang mata menatap intens kepadaku. "Maya, ibu, mas Yoni, Sindi!" Kataku, tergantung. "Haris minta maaf, Haris tidak bisa menjadi anak atau Abang yang berguna lagi buat kalian. Haris tau mungkin ini sesuatu yang berat, tapi mau bagaimana pun Haris harus tetap mengatakannya. Sebenarnya salah satu investor asing mengajak Haris untuk ikut gabung di perusahaannya dengan berinvestasi. Dia berjanji akan memberikan dua puluh persen sahamnya di perusahaan Haris. Namun, karena tergiur apa yang di janjikan klien asing itu membuat Haris mempercayainya. Tanpa Haris sadari Haris telah ditipu oleh mereka. Dan kerugiannya mencapai ratusan milyar!" jelasku panjang lebar bahkan manik-manik mataku berkaca-kaca, menatap kearah mereka secara bergiliran. "Apa?!" ibu mertuaku memegang dadanya, mungkin dia terlalu terkejut dengan apa yang aku katakan barusan. "Mas, kok bisa!" Mata yang berada di sampingku berperihal sama. "Jadi kita bangkrut?!" sambung Maya. Ia bahkan tidak mengedipkan matanya. "Iya, sayang, maafkan aku. Aku juga dipecat sebagai CEO oleh pihak komisaris!" aku menundukkan tatapanku. Dalam hati aku tertawa ria melihat ekspresi mereka semuanya. Aku ingin lihat apa yang akan kalian lakukan jika aku miskin, kuyakin sifat asli mereka pasti akan keluar setelah ini. "Apa?!" Mereka semua sangat terkejut. "Jadi sekarang kita akan jatuh miskin, terus iPhone Sindi gimana dong. Kak Maya ..." suara Sindi mengeluh. Aku mendongak kepalaku menatap mereka semuanya, sangat jelas terlihat kekecewaan dalam wajah mereka. Terutama Maya, yang sudah menatapku dengan tatapan tidak bisa diartikan lagi. "Jangan bilang apa yang dikatakan Sindi itu benar Mas, kita gak bakal jatuh miskin kan?" Tanya Maya, ia menelisik menatap dalam kearahku. "Maafkan aku sayang, tapi sekarang aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Rumah dan bahkan mobilku maupun mobil kamu pasti akan disita perusahaan besok. Untuk menutup kerugian yang ada, termasuk rumah ini!" Jawabku. Sebisa mungkin aku memasang mimik sesedih mungkin. "Hahhhh!" Lagi lagi Maya syok mendengarnya. "Tidak Haris! mereka tidak bisa menyita rumah ini, ini rumah Mama! Mereka tidak akan pernah bisa menyitanya!" Seru Mama dengan nada tinggi, aku memalingkan tatapanku dari Maya. Menatap ibu mertuaku yang kini menatap tajam kearahku. Tatapan yang belum pernah sama sekali aku dapatkan selama aku menikah dengan Maya. "Kamu tidak bisa berbuat seenaknya, rumah ini dari awal sudah menjadi milik Mama. Kamu yang memberikannya, jadi mereka tidak berhak menyitanya!" Sambung Mama lagi. Aku hanya bisa tersenyum hambar ternyata aku salah orang selama ini. Mereka hanya akan berkata manis kalau ada uangnya. Bersambung .....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD