ISI PESAN GRUP WA KELUARGA ISTRIKU (5)
"Tapi Haris membeli rumah ini dengan uang perusahaan Mah, dan disertifikat juga terdapat nama perusahaan. Maafkan Haris Mah, Haris benar-benar menyesal. Haris telah gagal menjadi menantu idaman Mama!" sahutku.
"Turus setelah ini kita bakal tinggal dimana? Dikolong jembatan. Cahhhh .... Lu Ris kenapa begok banget sih jadi lakik. Seharusnya lu teliti dulu sebelum menerima kerjasama sama seseorang dan sekarang lihat kita bakal jatuh miskin gara-gara lu. Gue sih mah ogah, mending lu aja sendiri yang jatuh miskin! Dari pada gue ikut-ikutan mending gue pergi aja dari rumah ini!" Suara Yoni yang tiba-tiba menyela, pria itu bangkit beranjak masuk kedalam kamarnya.
Aku tersenyum kecil, wau perkataan yang liar biasa. Satu persatu mereka mulai menampakan jati diri mereka, hah Yoni benar, aku begok, aku memang begok. Kenapa baru sekarang aku menyadari kebohongan mereka kenapa tidak dari dulu.
Haning, kami sama-sama saling diam membisu.
"Bang, bang Yoni mau kemana?" Tanya Maya spontan berdiri melihat Yoni sudah hendak keluar rumah dengan koper ditangannya. Pria itu sepertinya tidak main-main dengan ucapannya barusan.
"Abang mau pergi, Abang rasa Abang gak bisa lagi tinggal bersama kalian. Jadi biarkan Abang pergi, dari pada merepotkan. Nanti kalau Abang udah kaya Abang nanti pasti akan kembali lagi, jadi kalian tenang saja. Bang Yoni titip Mama dan Sindi!" Sahut Yoni setelah itu dia melengos pergi bergitu saja tanpa berkata apapun lagi.
"Bangs** selama ini aku menafkahi ular berkepala dua!" batinku memaki kesal.
***
Pagi hari, suasana pagi terlihat terang, cahaya sinar matahari menelisik masuk kedalam kamarku. Aku menggeliat diatas tempat tidur. Setelah kurasakan seluruh alam kesadaranku terkumpul barulah aku beranjak keluar dari kamar.
Terlihat sepi, aku mengerutkan keningku. Kemana semua orang? kenapa sepi sekali!
Aku mendekati meja makan, membukakan tudung saji yang ada disana. Entah kenapa perutku rasanya sangat lapar pagi ini.
Namun apa yang ada disana tidak seperti apa yang aku harapkan, hanya nasi putih dan itupun cuma sedikit. Maya dan Ibu tidak memasak?
"Terimakasih nak Burhan, lain kali harus mampir dulu ya!" Suara ibu mertuaku terdengar jelas didaun telingaku.
"Burhan!" Aku bergumam, bukankah itu sosok nama yang ada di grup keluarga istriku. Tanpa pikir panjang aku langsung melayangkan langkah kakiku yang jenjang menuju pintu utama.
Disaat bersamaan aku tiba disana Maya dan Ibu memasuki rumah dengan satu kantong plastik ditangan mereka masing-masing. Aku menaikan alisku, dari mana mereka pagi-pagi sekali.
"Maya, Ibu, Kalian habis darimana?" Tanyaku, ekor mataku menelisik kearah luar berharap aku bisa melihat siapa sosok laki-laki yang di panggil Burhan tadi. Tapi nyatanya sudah tidak ada.
"Mas Haris," bukanya menjawab tapi sepertinya Maya terkejut melihatku.
"Kami habis dari warung, cari makan. Belanjaan dirumah habis jadi Mama gak bisa masak!" kali ini ibu yang menyahut sesaat sebelum ia pergi masuk kedalam kamarnya. Sekarang hanya tinggal aku dan Maya.
"Kamu gak Belanja dek, kan Mas udah menyisakan uang lima juta di ATM!" kataku.
"Gak ada, uangnya habis. Tadi malam aku belanja di toko online, skin care-ku habis. Jadi uang itu habis buat beli skin care!" Kata Maya menyahut cepat dia juga hendak melewatiku, namun sebelum itu aku mengenggam erat tangannya, membuat Maya seketika berhenti.
"Siapa dia, siapa laki-laki tadi? Burhan?" tanyaku, aku mengeras, entah kenapa menyebutkan nama laki-laki itu membuatku emosi.
Maya terdiam, ia tiba-tiba saja begitu kaku. Cengrama tanganku semakin kuat, sesaat tak berapa lama Maya langsung merintis kesakitan.
"Agr ... Sakit, mas!"
Aku melepaskan tangan Maya. Jujur aku tidak berniat menyakitinya tapi entah kenapa pikiranku langsung kemana-mana gara sosok nama itu.
"Jawab pertanyaanku, siapa dia. Ada hubungan apa dia denganmu?" aku kembali bertanya, namun kali ini dengan suara sedikit melunak.
"Dia, dia keponakan Mama. A-Aku tidak tau hubungan apa yang mas Haris maksudkan!" jawab Maya kedua bibirnya bergetar, bahkan ia tidak menatap ke arahku.
"Tatap aku Maya?" Aku mencoba mengangkat dagu Maya, namun sebelum itu dia terlebih dahulu menepis tanganku.
"Aku capek, mau istirahat. Kita bicara lain kali saja!" Kali ini Maya benar-benar melengos pergi.
"Aagrr ... Sial, aku harus tau siapa laki-laki itu!" Umpat ku kesal.
"Apa kamu pikir aku percaya May, kalau Burhan keponakan ibumu. Cih ... Mau dia lari ke ujung dunia pun aku akan tetap menemukannya!"
Kevin, dia pasti bisa membantuku dalam hal ini.
***
"Mas minta uang, data ponselku habis!" Suara Maya yang tiba-tiba datang saat diriku sedang berurusan dengan laptop didalam kamar. Aku sedang melakukan rapat saham dengan beberapa anak buahku yang berada di kantor cabang, karena drama pura-pura miskin yang aku lakukan terpaksa membuat aku harus melakukan apapun secara diam-diam mulai sekarang.
Beruntung, sebelum Maya melihatku rapat aku terlebih dahulu menutup laptopku.
"Mas, gak ada uang dek. Mas aja belum makan dari tadi pagi. Kamu juga tidak masak apapun buat mas makan!" jawabku.
"Ya makanya beli makan, aku kesini mintak uang mas buat beli kuota ponselku habis, sini beri aku lima ratus ribu! Sekalian beli cemilan, aku sentuk" ketus Maya ia menodongkan tangannya kehadapanku.
"Astaghfirullah Maya, suamimu ini lagi lapar, seharusnya kamu buat sarapan kek, bubur kek apa kek yang bisa menganjal kan perut suamimu, Ini malah--" perkataan ku terpotong kerena Maya terlebih dahulu menyela.
"Ya kalau mau dibuatkan sarapan sini kasi uang. Emang beli bahan pakek daun!" sela Maya keras.
Dugg .... Jantungku tiba-tiba saja berdesir mendengar perkataan Maya barusan. Baru kali ini aku di abaikan olehnya seperti ini, Maya sungguh benar-benar keterlaluan. Jadi beginilah sikap aslinya jika aku tidak memandikannya dengan uang.
"Maya, kamu membentak Mas?" Aku bertanya seakan tidak percaya. Maya spontan terdiam, sejenak dia menundukkan kepalanya menatap bawah.
"Apa begini sikap aslimu May, ketika aku bukan lagi Haris yang selalu memenuhi kebutuhanmu, kamu bahkan tidak mempedulikan diriku lagi?" Sambungku.
"A-Aku---"
"Haris, Maya cepat keluar!" Suara ibu berteriak keras dari arah luar. Membuatku dan Maya saling menatap dan tanpa menunggu lagi kami buru-buru keluar rumah.
"Hentikan, siapa kalian hah, beraninya kalian datang ke rumahku dan berencana ingin membawa pergi mobil anakku, hentikan sekarang juga. Atau aku akan melaporkan kalian kepolisi"
"Ada apa ini!" Aku menaikkan sebelah alisku, terdapat beberapa orang berseragam hitam berdiri didepan ibu mertuaku. Sepertinya sedang menghalangi beberapa pria itu.
"Haris, cepat kemari hentikan mereka. Mereka mencoba hendak masuk kedalam rumah kita dan membawa pergi mobilmu!" Panggil ibu.
Bersambung ....