bc

Pergi Menjauh, Bos Me-sum!

book_age18+
14
FOLLOW
1K
READ
one-night stand
family
age gap
fated
opposites attract
second chance
friends to lovers
pregnant
arranged marriage
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
kicking
bold
city
office/work place
childhood crush
disappearance
enimies to lovers
lies
secrets
affair
friends with benefits
assistant
like
intro-logo
Blurb

Bagi Amara, Radith adalah bos yang menyebalkan. Ganteng, kaya, tapi tatapannya selalu "m***m" dan penuh maksud terselubung.

Masalahnya, Amara punya pertahanan diri setebal baja. Dia tidak akan membiarkan dirinya luluh hanya karena tatapan lapar pria itu di setiap rapat direksi.

Radith sendiri tidak pernah repot-repot menyembunyikan ketertarikannya.

Baginya, Amara adalah teka-teki yang harus ia pecahkan.

Semakin Amara bersikap dingin dan profesional, semakin Radith tertantang untuk meruntuhkan tembok gengsi gadis itu.

"Berhenti menatapku seperti itu, Pak Radith," tegur Amara tajam.

"Seperti apa? Seperti aku ingin memakan mu hidup-hidup sekarang juga?"

Satu kantor mengira mereka saling membenci, padahal di balik pintu tertutup, ada hasrat yang siap meledak jika salah satu dari mereka mau mengalah.

chap-preview
Free preview
Presdir Edan
Siang itu, saat cuasa sedang teriknya, Radith dan sekretarisnya sedang membahas strategi baru untuk meningkatkan penjualan perusahaan. Mereka berdiskusi serius di ruang rapat, saling bertukar pikiran, dan menganalisis data pasar. Amara sang sekretaris, dengan kecerdasannya, memberikan masukan-masukan berharga yang membuat Radith semakin yakin dengan rencana yang akan mereka jalankan. “Apa yang ini masih bisa kita jalankan, Ra?” Radith bertanya dengan sedikit melirik ke arah Amara yang fokus dengan layar laptopnya. Gadis itu begitu menarik hatinya, tapi sayangnya dia masih memiliki seorang kekasih yang hampir saja akan dinikahinya. “Amara ... aku bertanya,” ucapnya dengan sedikit menegur, cukup halus dan sedikit mencari perhatian gadis itu. Amara Gladys, gadis itu tampak menawan dengan lesung di pipinya, senyumnya yang manis membuatnya ingin mencium bibirnya yang merekah, dengan ketebalan di bibir bawahnya yang menimbulkan gairah di dadanya. Ia berdiri dan meraih tangan halus nan kecil milik Amara. Gadis itu tersentak kaget. “Pak! A-apa yang Bapak lakukan?” tanyanya terkejut dengan wajah penuh ketakutan. Radith, dia seorang pria yang haus akan kasih sayang yang jarang dia dapatkan dari seorang Bianca yang selalu mementingkan uangnya ketimbang memberinya perhatian sebagai seorang kekasih. Dia memiliki kekasih tapi rasanya tak ada yang membuatnya nyaman dalam hubungan percintaan. Bianca yang cuek dan tak pernah tersenyum tulus saat bersamanya. Ia tak bisa berlama-lama, malah merasakan bosan. Apalagi Bianca kini lebih sering bersama teman sosialitanya. “Pak! Lepas tanganku, i-ini …” Belum sempat Amara mengatakan lagi protesnya, Radith sudah menarik tubuh Amara ke dalam dekapannya. Pria yang tengah tertarik pada sekretaris barunya itu kini meraih tubuhnya dalam dekapan dan melumat bibirnya dengan cukup ganas. Amara tak kuasa melawan keganasan bibir dan lidah atasannya yang mencium dengan brutal dan mendadak. Cukup ganas dan bibirnya terasa sakit karena ciumannya yang tiba-tiba. Amara tak bisa berteriak, tangannya memegang erat sandaran kursi yang ada di belakangnya. Dia terkunci tak bisa bergerak. Tangan sang presdir menahan kedua tangannya agar tak bisa menolak dekapan erat tubuhnya. “Mmpphh … Pak, apa-apaan ini? Aku ..” Radith tak kuasa menahan gejolak hasratnya. Bibirnya yang haus karena selama ini hanya memandang saja dari kejauhan kini berada dalam rengkuhannya dan dia melumatnya dengan sangat hati-hati dan penuh perasaaan. Tangannya meremas area b****g milik Amara yang indah yang selalu dilirik dengan pikiran mesumnya. Amara, dia mencoba berontak dan melawan tubuhnya. Lalu, mendorong kuat namun tak bisa hingga akhirnya menendang cukup keras di k*********a. “Aw! Ra, ini … ahhh, sakit!” rintih Radith. Amara berlari keluar dan meninggalkan sang presdir yang kesakitan. Ia tak peduli dengan barang-barang miliknya yang tertinggal di kantor. Diminta lembur malah diajak m***m, pikirnya Presdir Radith tak akan berani melakukannya tapi ternyata gila juga pria itu. Amara bergidik ngeri saat membayangkan tadi jika dia tidak berontak pasti sudah terjadi hal yang diinginkan pria itu. Ia merasa kesakitan di bagian kakinya, tadi kakinya terantuk kaki meja saat berlari cepat agar bisa menjauh dari rengkuhan pria itu. Dengan langkah cepat dia berjalan menyusuri jalanan yang cukup ramai. Tangannya masih tampak gemetar dengan sikut yang juga kesakitan karena ia berlari tak melihat jalan dan menabrak dinding ruangan pria itu. “Presdir edan!” gumamnya kesal. Ia melangkah perlahan sambil mencari nomor Yudhis. Kekasihnya itu pasti kini sedang berada di rumah bersiap akan menunaikan shalat maghrib. Pria itu merupakan tunangannya dan selalu rajin beribadah. Pria yang merupakan impiannya dan juga kesayangan mamanya. Sedangkan dia sendiri malah sering bolong-bolong dalam menunaikan shalat. Ia meringis saat merasakan sakit di kakinya yang ternyata sepatunya terlepas tanpa dia sadari. “Ya, ampun dari tadi aku nggak pakai sepatu, sialan memang Pak Radith!” ia melempar sebuah batu ke arah selokan dan duduk sambil menunggu Yudhis menjawab panggilannya. Nut … nut … nut … “Aduh, Mas … kok kamu nggak mau angkat sih, aku kan butuh dijemput,” Ia menangis, matanya memerah, menahan sakit dan mungkin juga malu. Karena tak mau menunggu panggilannya dijawab, dia mengirim pesan untuk di jemput di jalan Mawar sebelah supermarket BITA. *** “Kok, Mas yang jemput aku?” Amara merasa tidak enak karena yang menjemputnya adalah Mas Danu, kakaknya Yudhis. “Iya, Yudhis sedang ada pekerjaan,” “Tapi, Mas …” “Ayo, naik saja lah, kaya sama siapa. Aku sekalian mau ke pasar, ibu menyuruhku membeli buah,” Amara menggaruk kepalanya, rasanya dia ingin menghilang dari pandangan kakaknya Yudhis. Tidak enak rasanya menyuruh calon kakak iparnya ini sampai harus memboncengnya. Apa kata Mbak Yola kalau tahu calon suaminya ini membonceng calon adik iparnya. “Sepatumu mana, kok nyeker?” Amara merasa kikuk, dia gugup dan menahan malu. “Anu, ini ehm … tadi sepatuku rusak, jebol, Mas,” Kakaknya Yudhis tampak menahan tawa, tapi memilih diam saja mungkin agar dia tidak merasa malu. “Ya, sudah naik, ayo!” “I-iya, Mas,” Ia menghela napas panjang dan menjaga jarak agar tidak terkena sentuhan dengan calon kakak iparnya itu. Baru kali ini dia merasa gugup karena baru pertama kalinya diboncengkan oleh calon kakak iparnya ini.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
219.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.3K
bc

TERNODA

read
200.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook