Jam makan siang pun tiba, Radith melalui pesan singkatnya mengingatkan untuk segera keluar dari kantor.
Amara membacanya sambil bermalas-malasan, ia enggan pergi tapi mau gimana lagi. Sang presdir pasti nanti tetap memaksa.
Dan keduanya berjalan bersama menuju ke restoran yang letaknya tidak jauh dari kantor.
Amara sengaja tidak ingin membersamainya. Ia tidak mau terlihat bersama-sama pria itu. Ia jengah dan tepatnya sebal.
Langkahnya berada tepat di belakang pria itu yang akhirnya membuat tangannya ditarik dengan cepat agar bisa lekas masuk ke dalam restoran tempat mereka akan makan siang.
Radith memesan makanan, sedangkan Amara … dia mengikuti saja maunya sang atasan.
Mereka menikmati hidangan sambil mengobrol santai tentang pekerjaan yang akan dihadapinya.
Pria itu seolah mengisyaratkan kalau ada ketertarikan dalam diri pria itu padanya. Amara tak mengindahkan, dia bersikap cuek karena dia tidak mau ada kesalahpahaman lagi.
Saat makan siang itu, ia mendapat pesan mesra dari Yudhis. Ia tersenyum, senyum yang dikira Radith sebagai senyuman untuknya.
“Kamu sudah punya pacar, Ra?”
“Apa, Pak, pacar?”
“Iya, pacar,”
Amara menghela napas , “Kenapa bapak tanya itu?”
“Aku cuma tanya, memang nggak boleh, ya?” keluh Radith dengan nada sesal.
Sikap keras Amara memang ditunjukkan semata karena ia kesal pada atasannya itu.
Ia tidak mau pria itu meremehkan dirinya dan dianggap sebagai wanita yang gampangan.
Selama mereka berbicara, pria itu tak berhenti menatap matanya. Malah sesekali memuji bola matanya yang katanya indah.
Benar-benar menjijikkan, ia hampir akan pergi meninggalkan pria itu tapi … demi gaji, lembur dan juga masa depannya bersama Yudhis, terpaksa ia tahan.
“Kalau punya emang kenapa, Pak?”
Radith tampak gelagapan. “Beneran? Kamu udah punya pacar?” tanyanya lagi.
Amara terdiam. Karena tidak mau terlalu dekat dan akrab, akhirnya perbincangan ia alihkan ke pembicaraan mengenai pekerjaan yang akan diselesaikan selama satu bulan ke depan.
Pria itu ternyata sedang mengerjakan proyeknya dan minta dia untuk membantu.
"Pak, itu ada nasi di bibir,"
"Mana?"
Pria itu bertanya dan minta ditunjukkan, mau tak mau Amara menyentuh bibir pria itu.
Tapi Radith malah memandangi dirinya dengan tatapan aneh.
“Ngeliatinnya jangan begitu, dong Pak,” ketus Amara.
Radith tertawa kecil. “Habis kamunya …”
Amara berdiri, ia telah menghabiskan seluruh makanan dan juga minumannya. “Pak Radith, kayanya kita sudah selesai. Aku ijin kembali ke kantor,” tukasnya cepat lalu pergi melengos meninggalkan pria itu.
Radith hanya menggelengkan kepalanya, ia merasa bersalah tapi sekaligus juga merasa senang. Ada perasaan aneh saat berhadapan dengan sekretarisnya itu.
Ia melihat kipas mini milik sang sekretaris. Ia menggenggamnya, bentuknya yang mini membuatnya teringat saat Amara menggenggam benda itu.
**
Pagi ini, Amara disibukkan dengan banyaknya kegiatan di rumah. Mamanya sedang mempersiapkan acara untuk sore ini.
Ada arisan teman-teman dari sekolah mamanya dulu. Arisan itu diadakan setiap 3 bulan sekali. Kata mamanya diadakan setiap 3 bulan sekali supaya tidak bosan dan tidak terjadi sesuatu seperti ribut atau kesenjangan sosial.
Amara menunggu Yudhis yang katanya akan datang siang ini. Namun, hingga siang jam setengah sebelas ternyata tunangannya itu belum juga datang.
Ia merasa penasaran dengan mobil yang kerap dibawa Yudhis.
Kemarin masih bisa menjemputnya dengan mobil.
Tapi hari ini katanya mobilnya sudah dibawa ke rumah atasannya.
Pukul sebelas, terdengar suara mobil dari arah depan. Ia mengintip dari balik tirai dan merasa senang saat tahu yang datang adalah Yudhis.
Pria itu tampak menawan dan satu hal yang paling dia suka darinya adalah, Yudhis selalu mengorbankan segalanya untuknya.
"Amara!"
Mamanya memanggil dari arah teras, bunga-bunga sedang diatur sedemikian rupa hingga terlihat cantik dan semua itu mamanya lakukan untuk menghadapi acara sore ini.
“Ya, Mah,”
“Ada Yudhis nih,” sahut mamanya.
“Iya, Amara udah tahu,”
Ia tersenyum merekah pada Yudis yang baru saja mencium tangan mamanya saat tiba di teras rumahnya.
"Mobilnya sudah dikembalikan, ya?" tanyanya.
"Sudah, Ra, jadinya pakai motor lagi," jawab pria itu sembari tersenyum.
Mamanya melirik ke arahnya, menimbulkan rasa malu pada diri Yudhis yang berdiri sambil menggaruk rambutnya.
Tangan Amara menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah. Mereka akan membantu mama menyiapkan acara sore nanti.
Yudhis tampak cekatan dalam mengurusi segala hal. Ia banyak membantu dan membuat senang hati Amara karena bisa berdekatan langsung dengan pria pujaan hatinya.
Semua beres setelah satu jam mereka mengurus semuanya di ruang tengah. Ponsel Yudhis berbunyi, pria itu kemudian berdiri, berjalan menjauh untuk menerima panggilan.
Amara mencoba mencuri dengar tapi Yudhis ternyata hanya menjawab ya saja lalu berpamitan pulang.
"Kenapa langsung pulang, Mas?" tanya Amara.
“Iya, ada panggilan mendadak. Kamu tahu sendiri, kan, pekerjaanku kadang musti dipanggil mendadak gini,”
Amara merasa kecewa, ia memegang tangan kekasihnya sambil meremasnya sebentar.
Ia masih ingin bersama kekasihnya itu, tapi ternyata Yudhis memiliki janji temu dengan seseorang.
Ia tak pernah mencurigainya. Baginya Yudhis tengah berusaha keras demi menghadapi pernikahan yang sudah di depan mata.
Amara melepasnya pergi setelah Yudhis berpamitan pada mamanya.
Kini ia sendiri di rumah dan memilih masuk ke kamar setelah semuanya beres. Mamanya juga masih berkutat di ruang belakang demi lancarnya acara sore ini.
Namun, seorang temannya memberitahu padanya kalau tadi melihat Yudhis memboncengkan seorang wanita ke arah supermarket.
“Aku kira itu kamu, Ra,” pesan temannya dalam sebuah chat.
Amara belum membalas, tahu-tahu temannya mengirim chat lagi. “Aku baru ngeh itu bukan kamu karena pakaiannya cukup rapi, dia pakai blazer yang … cukup mahal, juga tampak seksi. Kupikir, kalau kamu … kayanya ndak mungkin,” kata temannya dalam pesan berikutnya.
Amara menggigit bibirnya, besok akan ia tanyakan sendiri siapa yang dibonceng Yudhis.